Ldr
Kemarin ku tanya dia, masih ingin lanjutkah atau cukup disini saja? Dia bilang ingin bertahan hingga akhir meski akhirnya tak sesuai harapan setidaknya kami mencoba. Sebenarnya, aku sudah lelah. Bertahan sekian lama, menguras tenaga dan waktu saja, seperti bercinta dengan jarak lalu berselingkuh dengan mu.
Hari ini dia bicara teknologi “kan ada handphone, kamu bisa telpon tiap hari, ada videocall, semua udah serba canggih. Temenku aja bisa bertahan sampe nikah” ucapnya.
Ku tatap matanya, benarkah pria seperti mu semunafik itu? Mampukah tatapan mesra ini tetap hanya untukku walaupun terpisah ribuan kilo dari sini. Dia tidak sebaik itu.
“Hari pertama masih penyesuaian, minggu pertama kita mulai mengenal kondisi, bulan pertama kamu mulai yakin ini berhasil, 3 bulan pertama aku akan mengeluh kurang perhatian, 6 bulan kamu marah marah karena aku terlalu sering menelponmu saat sedang sibuk, setahun terpisah kita hanya komunikasi kalau ada hal penting saja seperti perayaan hari jadi, ulang tahun ibumu, pesta nikah kakak ku atau temanmu yang selingkuh dengan bosnya di kantor. Setahun dua bulan teman kerjamu mulai sering ngajak pulang bareng, kamu mulai membandingkan keberadaan ku lalu menganggap pertemanan mu dengannya sebagai ganti ketiadaan fisikku. Semua (seakan) berjalan sempurna sampai dua tahun terpisah kamu bilang kalau kita hanya buang waktu saja, bahwa kamu salah tentang ilmu teknologi dan teori ku benar.”
Kita akan berakhir seperti ini,sayang. Jarak itu memisahkan, mungkin mereka diluar sana bisa berhasil tapi kita? Ini bicara tentang kita.
Berakhirlah hari ini, dia bilang temukanlah kebahagiaanmu dan ku dapatkan keberhasilanku.
Jarak memang memisahkan tapi cinta akan mengembalikanmu untukku pada saatnya. Kecuali kau mencintai yang lain.
setiap kali baca tulisan ini, aku pengen kamu juga baca. .













