Segala Hal yang Terus Berulang
Ada beberapa coffee shop dengan tema slow bar yang saya ikuti di media sosial. Bahkan ada yang hanya menerima beberapa pengunjung saja. Jika kuota pengunjung sudah ada di titik maksimal maka ia akan menutupnya.
Coffee shop dengan konsep seperti itu malah bertahan lama. Punya pengunjung tetap. Bahkan menjangkau pengunjung baru.
Oke. Itu adalah trigger dari keresahan saya.
Lalu di benak muncul pertanyaan.
Berarti mereka tiap hari nyeduh kopi terus ya? Dengan cara, teknik, tahapan yang sama setiap harinya?
Pertanyaan itu membawa ke pemikiran lebih jauh.
Saya kembali menelaah pertanyaan itu. Mengembalikan ke pekerjaan saya sendiri. Ternyata semua orang akan melakukan hal yang sama. Mengulang hal itu setiap hari. Seorang karyawan selalu mengulang pekerjaannya. Sepasang suami istri juga saling mencintai setiap hari. Fotografer juga selalu memencet shutter setiap memotret. Maka barista, juga demikian.
Lalu, apa yang membuat berbeda?
Pertanyaan itu muncul.
Karena,
Saya mulai menyukai kopi. Menikmati menyeduh kopi. Mencoba berbagai beans yang berbeda. Mencari resep seduhan supaya konsisten. Merekamnya. Melakukan editing. Lalu mengunggah di media sosial.
Pas dipikir-pikir, linimasa saya akan penuh unggahan seduhan kopi. Yang mana itu adalah hal yang sama. Hari ini. Kemarin. Besok. Lusa. Dst. Apakah aku bisa kuat? Apakah bisa melakukan terus menerus? Kalau muncul pikiran "ah, sama aja kaya kemarin kok" gimana?
Itu overthinking saya.
Akhirnya balik lagi ke paragraf pembuka di atas.
Ternyata bukan soal aktivitasnya. Melainkan perasaannya. Ikatannya dengan aktivitas itu. Mungkin bisa disebut passion (?)
Suami yang ketemu istrinya setiap hari juga nggak bosan. Barista yang nyeduh kopi merasa senang. Fotografer ada job juga tetap dengan kameranya.
Hobi. Tanggung jawab. Rasa penasaran. Tuntutan. Kepepet. Apa pun itu adalah ikatannya. Perbaiki ikatannya. Kuatkan ikatannya. Kencangkan ikatannta. Lanjutkan aktivitasnya.
Berulang. Kapan pun. Berapa pun. Bukan lagi soal.










