sketch practice
Dunno but I kinda like the result..
Oh also I have another not so family friendly sketch click here to see
seen from Canada
seen from Brazil
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Russia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Russia

seen from Switzerland
seen from United States

seen from Australia

seen from United States
sketch practice
Dunno but I kinda like the result..
Oh also I have another not so family friendly sketch click here to see
roman picisan
tutorial sketchup tutorial sketchup pemula tutorial sketchup dasar belajar sketchup belajar sketchup pemula belajar sketchup dasar
no any part was more
what’s left, of Thomas Heaphy (1813-73 *), “Mr H’s Own Narrative” in Littell’s Living Age no. 912 (23 November 1861) : 353-360 (356) Harvard copy, digitized November 18, 2008 source 1.1MB originally appeared in All the World Round source at (University of Buckingham) Dickens Journals Online
landed via OCR misread of column cross-over; leading nowhere beyond what nowhat’s salvaged here
Juara itu dibuat.
2017
Cerpen: Gadis Kecil
Gadis kecil ini menggenggam erat tangan kananku dengan kedua tangannya. Ia membimbingku berjalan-jalan mengelilingi taman kota ini. Hari ini Sabtu, tak heran suasananya lebih ramai dibandingkan hari-hari lainnya. Taman kota memang menjadi tempat rekreasi pilihan bagi masyarakat kota di akhir pekan untuk istirahat sejenak dari rutinitas. Namun bagiku, taman memiliki makna yang lebih dari sekadar tempat liburan di akhir pekan.
Gadis kecil ini berjalan bersamaku dengan begitu tenang dan pelan. Padahal aku masih ingat betapa aktifnya ia beberapa tahun yang lalu bila kuajak ke taman. Ia senang berlarian kesana kemari, berbalik arah secara tiba-tiba saat sedang berjalan, dan sesekali terjatuh karena kurang memperhatikan jalan ketika tengah berlari. Ah, aku rindu melihatnya kembali seperti itu. Aku rindu meneriakinya dari jauh, “Alika, jangan lari-lari! Pelan-pelan saja!”. Setiap kali ia mendengarkan teriakanku, ia selalu menjawab, “Iya, Ayah!”. Jawaban itu sebenarnya hanya formalitas saja, karena justru ia semakin mempercepat larinya setelah itu. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
Kembang gula adalah jajanan favoritnya kala dulu. Jika melihat penjual kembang gula, ia akan merengek-rengek kepadaku untuk minta dibelikan. Kalau aku tidak membelikannya, rengekannya akan semakin keras, bahkan sampai menangis sekeras-kerasnya. Jadilah aku selalu tidak bisa menolak permintaannya yang satu ini. Ia sering batuk atau sakit gigi karena terlalu banyak makan kembang gula. Kupikir itu akan menghilangkan kebiasaannya, tapi ternyata hal itu tidak sekali pun membuatnya jera. Hanya waktulah yang sedikit demi sedikit mengubahnya. Saat ini, ia masih menyukai kembang gula, meskipun tingkat kecanduannya tidak lagi seperti dulu.
Napasku mulai tersengal-sengal setelah beberapa saat berjalan. Aku juga jadi lebih sering mencuri-curi kesempatan untuk berhenti sejenak. Alika memperhatikan tingkahku dan tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengajakku duduk pada sebuah bangku kayu yang kebetulan berada di dekat kami.
“Ayah udah jarang lari pagi, ya?” tanyanya.
“Masih rutin kok. Walaupun lebih banyak jalannya. Walaupun lebih banyak lagi diam dan ngobrolnya,” jawabku sambil tertawa kecil.
“Pantas baru jalan segini udah capek,” komentarnya.
“Kamu jarang ngajak Ayah lari, sih,” balasku.
Dia tersenyum kecut. Ekspresi yang paling kusenangi darinya sejak dulu kalau sedang kuledek—aku sering melakukannya.
“Nah, makanya aku ajak Ayah jalan-jalan sekarang. Mumpung aku lagi di rumah,” katanya.
Aku tersenyum mendengarkannya. Alika memang sangat sering kuajak jalan-jalan ketika ia masih kecil. Mulai dari taman kota, museum, pasar, toko buku, pantai, rumah penduduk desa, sungai, hingga ke puncak bukit. Sejak istriku meninggal ketika ia baru berusia empat tahun, ia sering terlihat murung dan kesepian. Karena itulah, aku berusaha memberikan banyak waktuku bersamanya. Syukurlah, ia sangat menikmati itu. Ia begitu penasaran ketika kuajak ke tempat-tempat baru. Tak henti-hentinya ia bertanya apapun kepadaku, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang ia tanyakan entah berapa kali. Ah, selain rupanya, sifatnya juga memang sangat mirip dengan ibunya.
***
Seorang pria tampan menghampiri kami bersama seorang gadis kecil yang sedang ia gendong. Gadis kecil itu awalnya tengah menyaksikan beberapa orang bocah perempuan sedang bermain lompat tali. Namun begitu matanya—yang cukup besar untuk ukuran kepalanya—memperhatikan aku dan Alika yang masih duduk, ia segera mengalihkan fokusnya kepada kami. Ia pun meminta diturunkan dari gendongan lelaki itu dan segera berlari menuju kami.
“Bundaaa!” serunya saat mendekati Alika.
“Eh, Fani udah balik. Gimana jalan-jalannya sama Ayah?” tanya Alika.
“Asyik banget, Bun! Tapi Ayah tadi pelit, gak mau beliin kembang gula!” jawab Fani dengan ekspresi sebal yang begitu lugu. Ia benar-benar mirip seperti Alika dua puluh lima tahun yang lalu.
“Duh, dasar Ayah pelit. Nanti Opa yang beliin, deh!” ujar Alika sambil menoleh kepadaku.
“Beneran, Opa?” tanya Fani dengan mata besarnya yang membelalak sehingga terlihat semakin besar.
“Iya, nanti Opa beliin. Tapi pakai uang Ayah Fani, ya,” jawabku sambil tertawa.
Pria tampan itu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kelakuan anak, istri, dan mertuanya. Enam tahun yang lalu, ia mengucapkan ikrar sakral di hadapanku untuk melanjutkan tugasku menjaga dan membimbing Alika. Ikrar yang dari hati kecilku tidak pernah ingin kudengarkan, karena itu berarti bakti Alika akan berpindah kepada pria itu. Tapi di sisi lain, ikrar itu juga yang paling kutunggu-tunggu, karena itu menandakan aku telah sukses mengantarkan Alika dalam menyempurnakan separuh agamanya. Semuanya kini aku syukuri, karena Alika hidup bahagia bersama suami dan putri kecilnya.
Di mataku, Alika tetaplah gadis kecilku yang lucu, sekalipun ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang tangguh. Walaupun ia dan keluarganya tinggal jauh dariku, tetapi hampir setiap hari ia meneleponku, sehingga aku tidak terlalu kesepian di hari tua ini. Jika ia pulang ke rumah, aku akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, seperti yang selalu kulakukan sedari dulu. Pernah ia menawariku untuk tinggal bersamanya di pulau seberang. Tapi kutolak secara halus dengan alasan aku masih ingin menikmati kehidupan di kota ini, tempat aku menyimpan kenangan membesarkannya.
(Jakarta, 2017)
Sama seperti kita yang sudah dewasa, anak pun butuh membiasakan diri untuk menghadapi hal-hal baru dalam hidupnya . Membiasakan diri butuh proses dan waktu, seperti Dayna yang saat ini sedang intens mencoba berlatih berenang . Bagi sayasama hal ini adalah sebuah proses belajar. Memang kita harus melawan "variable" waktu. Terkadang menunggu atau bersabar . Akan tetapi, terjadinya akselerasi sangat memungkinkan, walau tidak semua orang bisa tumbuh lebih cepat dari rata-rata . Adalah jam terbang, latihan, pengalaman dan kemauan belajar lebih keras yang menjadi kunci. Itulah yang menjadi pembeda setiap orang dalam mencapai cita-citanya. Itulah yang bisa membuat seseorang tumbuh di atas rata-rata standar orang seusianya . Teruslah belajar, rendah hati, dan latihan jauh lebih keras. Karena zaman semakin maju dan berkembang dan yang unggul bisa bertahan. Tetap tidak lupa untuk terus berbagi dan mengabdi pada orang lain. Karena akselerasi adalah titipan dari-Nya, yang pasti ada maksud untuk memberi manfaat ke sekeliling kita . #Belajar #Akselerasi #PercepatanPerubahan #SpiritBaru #Latihan #KerjaKeras #Bermanfaat #Pengabdian (at Rockstar Gym Bxc)
5 Pilar Menuju Menang
Berangkat dari pinta keseharian kita, “Ihdinash shiraathal mustaqiim”. Ya Rabb, tunjukkanlah jalan lurus itu. Beginilah manusia dengan keterbatasannya. Ia meminta, namun terkadang lupa hakikat apa yang diminta. Ia berharap, tapi tak mengerti upaya apa agar mampu meraih harapannya. Ia mengaku cinta, sayang tidak mengenal siapa dan apa yang dicintainya, bahkan bingung bagaimana mengungkapkan cintanya. Dari sini Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya, "Shiraathal ladziina an'amta 'alihim". Yaitu jalan yang Engkau beri nikmat kepadanya. Siapa? Berkata Al Maraghi dalam tafsirnya, "Adalah para Nabi, shiddiqiin, dan shalihin yang terdiri dari umat terdahulu". Lalu kita mencoba meneropong, apa sebenarnya yang dilakukan para pendahulu sehingga Allah menjadikan satu ayat doa bagi kita, agar senantiasa meminta petunjuk jejak mereka? Ternyata Islam telah hadir dengan sebaik-baik solusi. Mulai dari urusan duniawi, sampai pertanggung jawaban di akhirat nanti. Dari perihal sikap terhadap hewan, hingga perihal adab dalam kekuasaan. Demikian Islam datang menjadi penyempurna agama-agama sebelumnya. Kemudian langkah bertanya-tanya, ke mana ia akan menapakkan kakinya demi menjaga keutuhan agama ini? Bagaimana ia harus berjalan menjemput janji kemenangan, sedang di sekeliling bertabur duri fitnah di mana-mana? Berikut lima garis besar yang semoga bisa menjadi awal gerbang kita menyongsong kembali kegemilangan. 1. Tetaplah Belajar Sebagaimana yang telah kita tahu, Allah mengawali perintah membaca sebelum perintah yang lain. Bahkan untuk menyampaikan risalah ini, Allah tidak begitu saja memerintahkan Muhammad shallallahu 'alaihi was sallam mengembannnya. Melainkan ada Jibril yang senantiasa mengajarkan. Lihatlah kembali bagaimana Allah memuji para ahli ilmu dengan menyusul penyebutannya setelah persaksian Allah, "Allah menyatakan bahwa tidak ada Rabb selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Rabb selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." Bagaimana kita bisa menjaga Islam jika enggan mendalami ajaran-ajaran darinya? Bagaimana ia kerap mulia jika bertubi-tubi tuduhan, kita tak mampu membenahinya. 2. Tetaplah Berdakwah Inilah tugas utama para rasul. Inilah jalan mereka. Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, Muhammad, semua terkisah cerita perjuangan dakwahnya dalam Al Qur'an. "Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menyeru (mendakwahkan) kaumku malam dan siang." (QS. Nuh: 5) Alih-alih siang-malam, kita seringkali terlalu asik dengan aktifitas keseharian di siang hari. Dan ketika malam tiba, daya sudah tak kuasa. Berawal dari sini, ada baiknya kita coba meraba, adakah aktifitas keseharian ini berpengaruh untuk kebaikan agama? Jika belum, kita boleh mencoba menyisihkan beberapa jam saja untuk mengerahkan pikiran atau tenaga kita kepada permasalahan umat. 3. Tetaplah pada Jalur Iqomatuddin Agama ini sudah kokoh, sebenarnya. Hanya kita sebagai penganut belum pandai menjaga, sehingga ketika gelombang syubhat menenggelamkannya, yang terlihat dari permukaan adalah bengkok. Ada tiga hal yang mengantarkan kita pada jalur ini. Pertama, rapatkan barisan dalam jama'ah. Kita tahu, Allah mengecualikan orang-orang yang tidak merugi adalah mereka yang saling menasihati pada kebenaran dan kesabaran. Bagaimana hal itu bisa dilakukan jika kita tidak berjamaah? Kalau bingung harus berafiliasi ke jama'ah mana, maka melangkah ke cara kedua, bergabunglah dengan aktifitas sosial. Karena dengan terjun ke sosial, setiap hari akan ada waktu-waktu yang kita habiskan untuk kepedulian, kemanfaatan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Jika untuk beraktifitas sudah terbilang sulit. Sudah tidak sekuat masa muda, misalnya. Maka berangkat ke jalan terakhir, yaitu mendoakan dengan setulus-ikhlas doa. Ini ajaib. Orang yang begitu mengimani bahwa Allah Maha Mengijabahi, Penolong, apalagi mampu merasakan kenyamanan lahir batin dalam sujud, sesungguhnya ia telah menemukan kebahagiaan hakiki. Berapa banyak, doa-doa orang sholih serta air matanya yang tumpah di keheningan malam, mampu membuka pintu-pintu kemenangan? Kita butuh jiwa-jiwa ikhlas. 4. Tetaplah Bekerja Jika dengan belajar kita menggali makna, maka dengan bekerja kita berkarya nyata. Allah telah menganjurkan dalam ayat-Nya, "Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (QS. Al Jumu'ah: 10) Yang menjadi masalah, terkadang kita tidak perhatian terhadap hasil apa dari pekerjaan kita, sebagaimana nubuwwahnya shallallahu 'alaihi was sallam, "Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli apa yang dia ambil, apakah dari hasil yang halal atau yang haram.” (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa’i) Kemudian Allah berfirman, "Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." (QS. Al Maidah: 88) Sebab dalam kesungguhan mencari nafkah, ada kemuliaan nan kehormatan di dalamnya. Dan dalam rezeki yang halal lagi baik, ada keberkahan meliputinya. 5. Menjadi Teladan dalam Keluarga Sebagaimana kisah Ya'qub dalam Al Qur'an, di penghujung hidupnya, Ya'qub menyempatkan diri bertanya kepada putra-putranya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya." (QS. Al Baqoroh: 133) Dikatakan dalam tafsir Al Maraghi, maksud Ya'qub bertanya ini ialah membaiat anak-anaknya agar mereka tetap teguh pada pendiriannya di dalam Islam, ajaran tauhid dan segala perbuatan hanya karena Allah serta mengharap ridho-Nya. Lalu mengapa di sana anak-anak Ya'qub menjawabnya dengan rentetan nama para pendahulu mereka? Kenapa tidak cukup saja mengatakan, "Kami menyembah Allah dan kami berserah diri kepada-Nya"? Inilah teladan dari sisi keluarga yang dicontohkan para Nabi. Bagaimana Ibrahim berhasil menjadi teladan bagi Ismail dan Ishak, bagaimana Ya'qub menjadi panutan bagi putra-putranya. Pada ayat ini juga menjelaskan bahwa agama Allah itu tetap satu. Dalam ajaran Nabi mana pun, intinya adalah tauhid. Pada keseharian bisa kita perhatikan, mana anak yang berkata, " Ustadz, kata Ayahku begini dan begitu" lebih menyenangkan ketimbang anak-anak yang berkata kepada Ibunya, "Tapi kata Ustadzahku begini dan begitu". Mau menjadi yang mana? Hehe. Maka keluarga adalah umat terkecil yang perlu kita jaga keselamatannya. Semoga dari baiknya keluarga, berkembang pula kepada saudara, tetangga, hingga bagaimana Allah melimpahkan rahmat-Nya atas kemenangan. Setelah sama-sama mengingat langkah apa saja yang (semoga) mengantar kita pada shiraathal mustaqiim, kita kembali kepada penggalan surat Al Fatihah. Tentu kita berharap agar Allah teguhkan kaki-kaki kita menelusuri jalan tersebut. Menuntun tapaknya agar tak berbelok, menguatkan pijaknya agar atsar yang ditinggalkan menuai manfaat sebanyak-banyaknya. Mungkin ini pula, mengapa Allah ajarkan kalimat "ihdina" yang berarti "berilah kami petunjuk/hidayah". Bukan "allimna", atau "arrifna" yang berarti "ajarkanlah kepada kami". Sebab sebagaimana yang dicantumkan dalam tafsir, hidayah juga berupa ma'unah (pertolongan) dan taufiiq, artinya kekuatan yang memotivasi berbuat kebaikan. Maa syaaAllah. Maka yang kita pinta setiap harinya itu bukan sekadar meminta kearifan atau petunjuk. Tapi juga kekuatan agar senantiasa berbuat ketika petunjuk itu ada. Semoga benang-benang upaya kita berada dalam rajutan yang diridhoi-Nya. Sehingga mewujud bendera yang 'kan kita kibarkan sesuai janji-Nya; menang. Note: catatan ini terisnspirasi dari gagasan yang disampaikan pada Kajian Akhir Zaman, dengan penambahan yang sekiranya perlu dari penulis. Allahu ta'aala a'lam bish showab. Astaghfirullaha wa atuubu ilaih. Salam perjuangan, || Jakarta, 290417