Bukan, buku bukan sebuah jendela dunia. Buku mempunyai ruang dunia sendiri, ruang berkelibatnya imajinasi. Itu menurut saya.
Saya berkenalan dengan salah satu penggarang perempuan: Leila S Chudori lewat karya-karyanya. Beberapa bukunya rampung saya baca. Kelopak- Kelopak Yang Berguguran, Laut Bercerita, kumcer Malam Terakhir, dan Pulang. Laut Bercerita dan Pulang membuat saya merenung usai membaca halaman-halaman terakhir bukunya, menutup bukunya seraya menghembuskan nafas seperti soerang penjelajah yang sedang istirahat setelah melalui perjalanan panjang. Menakjubkan.
âMatilah engkau mati, Kau akan lahir berkali-kali...â begitulah sepotong sajak dari prolog novel Laut Bercerita, novel terbaru Leila ini berlatar belakang rezim Indonesia pada tahun 1998-2000. Dalam novelnya Leila bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya, dan tentang cinta yang tak luntur. Ini merupakan novel yang mengambarkan potret pada masa silam Indonesia yang kelam, muram namun terkadang ada kehangatan hubungan, itulah hebatnya Sang Pengarang perempuan ini, mengajak pembaca mengerutkan dahi, menarik bibir tersemyum tipis. Karyanya seperti punya daya magnetik.
Indonesia begitu luas secercah sejarahnya saya dapatkan dalam buku ini. Potret rezim orde baru (bagaimana penyiksaan pada aktivis saat itu begitu keji dan menghilangkan rasa kemanusiaan). Desaparadio (Penghilangan orang secara paksa) merupakan bagian sorot dari buku ini yang membuat para tokoh seperti, keluarga, kerabat, pacar merasa kehilangan mendalam, jatuh tersungkur dilubang nihilnya setelah tokoh utama Laut hilang tak ditemukan.
Gaya kepenulisan Leila dalam buku LautBercerita maupun karya lainnya selalu menyelipkan beberapa unsur seperti: Sejarah, Sastra, Musik, SeniMural, Photography. tentu ini juga menjadi sumber referensi kecil untuk saya.
Syahdan, yang saya suka dalam buku ini selain perjuangan sang tokoh utama Laut (aktivis mahasiswa) adalah kegiatan rutinnya bersama keluarganya ketika minggu sore, berkumpul bersama untuk merayakan masakan Sang Ibu, pada sudut ruang makan itu Sang Ayah memasang Vinyl TheBeatles.
Saya merasa ada disana, dengan mata nanap menyaksikan setiap peristiwa berderet pada buku ini, begitu besar kah peran tulisan? seperti melempar imajinasi seseorang untuk dapat pula merasakan alur ceritanya. Mesin waktu.
âKarya-karya sastra yang selalu melekat pada benak adalah yang mengguncang batinâ