Laut Bercerita
“Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum itu terasa mencapai ujung saraf, aku sempat bertanya, apa yang sebetulnya kita kejar?” - Biru Laut
Sampai di bagian ini, aku bisa ngerasain sisi paling manusiawi dari seorang Biru Laut. Di balik keberaniannya, masih ada rasa takut: ‘gimana kalau kali ini aku nggak akan bisa pulang?’
Ini cerita tentang Biru Laut, aktivis yang jadi korban penculikan dan penghilangan paksa di masa Orde Baru, akhir 1990-an. Bareng teman-temannya, Laut memperjuangkan masa depan Indonesia yang lebih adil.
Bukan hanya kerasnya penyiksaan yang dialami para aktivis, penulis juga mengajak kita ikut merasakan pilunya jadi keluarga yang ditinggalkan. Mereka harus melanjutkan hidup dalam ketidakpastian. 😢
Rasanya sedih, nyesek, hancur jadi satu. Sulit rasanya nerima kalau cerita fiksi ini terinspirasi dari kisah nyata. Ternyata, kenyataan itu bisa jauh lebih kejam dari apa yang bisa kita bayangkan.
Kuatnya sosok Asmara, adik Laut, bikin ceritanya makin pedih. Dia nggak sanggup menunjukkan kesedihannya di depan kedua orang tuanya. Dia ingin bapak dan ibunya tetap bisa bertahan. 😣
Aku nggak bisa nahan air mata, tiap sampai di adegan Ibu masak makanan kesukaan Laut dan Bapak naruh empat piring di meja makan.
Ibu dan Bapak percaya, Laut pasti kembali. Laut akan datang buat makan malam bareng dan mereka akan ngobrolin banyak hal sampai lupa waktu. 🥺
Aku baca novel ini dua kali dan rasanya tetep sama. Perasaan sedih itu masih nempel kuat di dada. Tiap halamannya masih bikin sesak, kayak ngebuka lagi luka yang belum benar-benar sembuh. 😢
***
Judul: #LautBercerita Tebal: 373 halaman Penulis: Leila S. Chudori Penerbit: Penerbit KPG
















