We want to be forgiven by God for the countless wrongs we do every day, and yet we are unwilling to forgive others for any wrong done to us.
Yasmin Mogahed (via islamic-art-and-quotes)
sheepfilms
Xuebing Du
almost home
Game of Thrones Daily

No title available
Three Goblin Art

@theartofmadeline
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her
macklin celebrini has autism

No title available
Misplaced Lens Cap
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

shark vs the universe
tumblr dot com

❣ Chile in a Photography ❣

#extradirty

titsay

tannertan36

roma★
seen from India
seen from Philippines

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Nepal

seen from United States

seen from Bangladesh

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@nurulfaizah
We want to be forgiven by God for the countless wrongs we do every day, and yet we are unwilling to forgive others for any wrong done to us.
Yasmin Mogahed (via islamic-art-and-quotes)
“The function of education is to teach one to think intensively and to think critically…Intelligence plus character—that is the goal of true education.” — Dr. Martin Luther King Jr.
Kesepian, ia akan bekerja pada jiwa-jiwa yang sedang Jauh dari Tuhannya
H.R (Hereuy Riwayat) @anwarrosyidin (via anwarrosyidin)
Pada akhirnya bagi seorang lelaki, persoalan pasangan bukan lagi tentang seberapa cantik parasnya, tapi tentang seberapa taat dan sabar dia dalam ketaatannya. Karena di banyak tempat, konflik terjadi bukan karena paras yang menua, tapi karena akhlak dan sabar yang kian terkikis.
— Taufik Aulia
Pengeluaran keluarga by teh patra
Dear all, kali ini saya coba beri contoh penghitungan pos pengeluaran untuk keluarga menengah, dengan penghasilan 10 juta rupiah. Buat yang masih bingung bagaimana membagi pengeluaran keluarga, ini beri contoh. Keluarga Pak Ahmad memiliki penghasilan bulanan 10 juta rupiah. Sesuai prosentase yang direkomendasikan sebagai berikut : • Zakat/shodaqah : 2% - 10% Dengan penghasilan 10jt rupiah, Pak Abu wajib zakat sebesar 2,5% yaitu 250 ribu rupiah. Untuk dana sosial, undangan, infaq majelis, infaq pada pengemis dan pengamen dan lain-lain dialokasikan sampai total pos infaq ini misalnya 5% (masih dalam range) yaitu 500rb rupiah. • Tabungan : 10% - 15% Tabungan dikeluarkan di awal sebesar 10% atau 1 juta rupiah. Simpan tabungan di tempat yang sulit diakses 😁 • Hutang/cicilan : 0% - 30% Dengan penghasilan 10 jt rupiah, cicilan total yang bisa dikeluarkan maksimal 30% atau 3 juta rupiah saja. Ini termasuk cicilan kendaraan dan cicilan angsuran/kontrak rumah. Dengan demikian tidak direkomendasikan membeli mobil atau rumah secara angsuran. Lebih baik menabung dulu untuk memperbesar DP. Jika angsuran sudah bisa dibawah 3 juta rupiah, baru mengambil angsuran. Lebih baik mengurangi angsuran misalnya 2 juta rupiah saja. • Kebutuhan rutin : 10% - 20% Kebutuhan rutin sebesar 1 juta rupiah harus cukup untuk membayar listrik, air, pulsa, transportasi termasuk antar jemput anak-anak. Jika dana tidak mencukupi, upayakan memilih moda transportasi yang lebih murah. • Konsumsi : 20% - 30% Belanja makanan maksimal 2,5 juta per bulan termasuk biaya catering/bekal anak sekolah. Pisahkan terlebih dahulu dana catering, bekal, makan di luar dll misalnya 1jt rupiah. Sisanya 1,5 jt rupiah untuk biaya konsumsi harian • Pendidikan : 10% - 20% Biaya pendidikan 2 juta rupiah, termasuk biaya membeli buku, mainan.kursus dan updating skill orang tua dan tabungan pendidikan. Jika ada kelebihan, tetap dialokasikan di tabungan pendidikan. • Kesehatan : 5 - 10% Biaya kesehatan 5% sebesar 500rb. Jika tidak terpakai dapat disimpan dalam tabungan • Lain-lain : 5 - 10% Biaya lain-lain sebesar 500rb. Jumlah 10.000.000 Note : * Jika biaya lain-lain tidak terpakai, atau jika ada sisa pada salah satu pos, boleh dipakai untuk pos lain DI BULAN DEPANNYA. JANGAN membiasakan mengambil pos lain di bulan berjalan. * Pos yang BOLEH TIDAK ADA atau diminimalisir adalah pos angsuran/cicilan. Jika pos ini bisa diminimalisir, maka dana yang tersedia dapat digunakan untuk menambah pos lain. *Jumlah dana bisa disesuaikan dalam range yang disarankan, disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dan kebutuhan masing-masing
Goals
Saya dibesarkan dengan tujuan. Ada target, ada finish line, ada goal. Tidak sekedar menjadi ‘anak shalihah yang berguna bagi keluarga, agama, dan bangsa’, seperti doa-doa umum yang sering kita katakan ketika mendengar berita kelahiran seorang bayi. Dari saya kecil, ibu saya tampaknya sudah mengikuti ‘developmental milestone’ yang menjelaskan bahwa anak usia segini, seharusnya sudah bisa begini. Kami dapat tugas khusus masing-masing, seperti kakak jadi tukang cuci baju, saya ahli cuci kamar mandi, dan adik sapu dan pel. Tugas tersebut berotasi sesuai usia, kebutuhan, dan (karena kami hidup nomaden) tempat tinggal. Tentunya rumah di Amerika, yang tertutup karpet dari ujung ke ujung, tidak membutuhkan sapu dan pel. Tugas juga di bagi sesuai dengan kebutuhan, jadi ketika ramadhan tiba, dan pembantu pulang, kakak bertugas menyiapkan sahur, saya dan adik merapihkan setelah sahur. Siangan dikit kakak memasak, adik mencuci, saya tukang setrika. Sampai kesepakatan rotasi berikutnya lagi. Kini ibu saya merumuskan prakteknya menjadi teori, bahwa pengasuhan juga harus memiliki tujuan. Ada goals-goals yang harus di raih, di pecah secara kertil dengan tata laksana yang jelas. Tujuan pengasuhan pertama anak laki-laki dan perempuan adalah menjadi hamba allah yang shaleh/shalehah. Dari poin itu, dipecah lagi, apa saja yang harus diajarkan agar tujuan itu tercapai? Ilmu tauhid? Hadist? Tafsir? Bahasa arab? Hafalan quran? Apa lagi? Siapa yang akan mengajarkannya? Apakah ibu dan bapak bisa? Kalau bisa, bagi tugas. Kalau tidak bisa, agar bisa, belajar dimana orgtuanya? Kalau anaknya sudah kadung cukup usia, maka cari guru dari mana agar bisa di bawa ke rumah agar bisa pintar bersama-sama, ga cuma anaknya saja? Poin ini harus kuat, kokoh dan stabil, karena ia akan menjadi fondasi dari poin-poin selanjutnya Tujuan pengasuhan kedua apa? Agar anak menjadi suami/istri yang baik. Bukan pekerja dan karyawan saja yang selama ini biasanya dipersiapkan oleh para orang tua. Hasilnya, gaji anaknya bagus, tapi keadaan rumah tangga carut marut karena tidak pernah di latih jadi suami dan istri. Apa saja yang harus di latih untuk menjadi suami dan istri yang baik? Itu di buat listnya lagi. komunikasi? Ketrampilan rumah tangga (seperti mencuci, memasak, dll)? Ilmu pengaturan keuangan? Pertukangan? Ketrampilan mengendarai kendaraan bermotor? Memijit? Potong rambut? Menjahit? Buat daftar anda sendiri dan di tentukan lagi belajar pada siapa dan berapa lama masing-masing item harus di pelajari. Setelah menjadi suami dan istri, logikanya akan menjadi ayah dan ibu. Menjadi ayah dan ibu saja mah gampang. Menjadi ayah ibu yang baik, benar dan menyenangkan itu yang setengah mati. Selama ini, saking gak taunya, kita berpikir memberi makan dan memberi tempat tinggal untuk anak-anak saja sudah cukup. Padahal kalau sesederhana itu, monyet pun bisa. Tugas ayah bukan hanya mencari nafkah. Quran (2:233) jelas-jelas menyebutkan makanan dan pakaian, jadi bukan hanya uang, karena uang tidak bisa di makan. Dan ibu pekerjaannya bukan hanya mengurusi rumah tangga saja. Anak tidak bisa hanya di kasih makan, sekolahin, trus udah. Ga bisa. Jadi di bikin, poin apa saja yang harus dilatih agar menjadi ayah ibu yang baik? Ketrampilan menjaga dan mengurus anak? Ketrampilan bercerita? Apalagi? Bikin lagi daftarnya, pecah lagi per item. Poin ke 4 baru menjadi professional yang baik. Yang bisa bersaing di dunia kerja, mendapatkan penghasilan yang memadai, dst. Biasanya, orangtua kita zaman dulu cuma memastikan bahwa ini terkembang dengan baik, jadinya pada cuma jago jadi karyawan saja, giliran jadi ayah, di alihkan ke gadget. Pegang anak sebentar, sabarnya ilang. Ketrampilan untuk telatennya, tidak pernah terlatihkan. Padahal ini juga biasanya di delegasikan ke sekolah, jadi biasanya orangtua gak ngapa2in, secara poin nomer satu di lempar ke TPA, dan poin ini di lempar ke sekolah. Sisanya apa? Cuma kasih makan saja? Enak bener. Tujuan pengasuhan yang lain masih banyak,..tapi saya Cuma cowel segitu dulu. Sgitu aja seabrek yang harus dilakukan. Jadi kalau dalam prakteknya misalnya, untuk poin pertama, bagi tugas: ayah bertanggung jawab untuk membahas hadist dan tafsir. Kalau ayah tidak mumpuni, panggil guru ke rumah, jadi ayah belajar juga. Ibu misalnya kena bagian quran, hafalannya, dan ilmu tauhid. Tidak mampu? Mau mengirimkan anak ke guru yang lebih mafhum? Tak apa. tapi jangan lupa ibu juga ikut belajar, tidak Cuma melempar anak keluar dan berharap pulang terima jadi. Enak bener. Untuk poin kedua, setelah terampil mengurus diri sendiri yang seharusnya sudah di kuasai di usia pra sekolah (mandi, makan, merapihkan, berpakaian dan ke kamar kecil sndiri, dll), anak SD sudah bisa dan boleh diberikan tanggung jawab yang melibatkan seluruh keluarga. Misalnya anak sulung saya bertugas mencuci pakaian sekeluarga dengan mesin cuci sebelum pergi sekolah. Tugas bisa berbentuk apa saja, mencuci piring, menyiram tanaman, menyapu rumah, ngepel lantai, apa saja yang di luar diri dan barangnya. Sepakati bersama. Apakah merapihkan mainan dan tempat tidurnya termasuk poin ini? Tidak. Karena itu ketrampilan diri, tidak berhubungan dengan orang lain. Tempat tidurnya ya tempat tidurnya. Kalau dia merapihkan semuaaaa tempat tidur dirumah, baru masuk ke poin ini. Saya memasukkan memasak ke dalam poin ini juga. Karena anak saya laki-laki dan menyediakan makanan adalah tugasnya kelak, maka mereka harus bisa masak juga. Lagipula bukankah koki-koki terkenal dunia umumnya laki-laki semua? Poin memasak di bagi 3 (kalau saya), dirotasi per tahun boleh, per 6 bulan boleh. Jadi misalnya kls 1: masak nasi, tempe dan pudding. Nanti kelas 2 beda lagi. Usahakan full meal, jadi 1 menu karbohidrat, 1 menu protein/lauk dan 1 menu pencuci mulut. Jadi misalnya nasi goreng, tomyam dan pisang goreng. Atau fetucini, telur dadar dan jus papaya. Mulai dari apa yang anak suka dulu saja. Kenapa di rotasi per 6 bulan? Karena harus bisa dengan lancar, tidak perlu ikut kejuaraan masterchef, tujuannya bisa bukan mahir. Tapi kalau Cuma latihan sekali.. mana mungkin? Terus bagaimana melatih anak kecil menjadi ayah yang baik? Dia harus bisa mengajak main adiknya, memandikannya, memakaikan pakaian, menyuapi, dll, anak sulung saya Alhamdulillah di karuniai 2 adik dengan usia yang berbeda, jadi dia bisa dilatih untuk mengasuh 2 anak yang berbeda karena ketrampilan mengeramasi anak usia 4 tahun dan menyuapi anak usia 6 bulan membutuhkan trik yang khusus pula. Hidup, harus punya tujuan, apalagi mengasuh, karena mengasuh itu ‘membentuk masa depan orang melalui tangan kita’, gak bisa ‘asal lewat’ saja. Ga bisa asal makan, asal sekolah, asal…gede. Ga bisa. Bikin rumah saja, harus punya blue print. Jelas dimana pintu, jendela, jelas berapa luasnya, bentuknya gimana, dimana letak taman dan kamar kecil, sebelum rumah itu jadi, orang sudah bisa membayangkan dimana ruang tamu dan ada berapa kamar, serta garasi muat berapa mobil. Main bola juga jelas, jelas gawangnya, goalie nya siapa, bek tengah nya siapa, bek sayap, penyerang, gelandang, semua tau tugasnya masing-masing, bekerja sama untuk satu tujuan. Ketika terluka dan tidak bisa melakukan tugasnya, di gantikan dengan pemain lain. Bayangkan kalau main bola, tidak ada gol? Muteeeeeerrrr aja itu bola, dari satu pemain ke pemain lain. Ga masuk akal kan? Itu MAIN bola. Pengasuhan bukan main-main, dan tidak bisa diserahkan semua ke ibu saja. Apakah dengan begini, di jamin anak kelak akan menjadi hamba yang shalih, suami/istri yang baik, orgtua yang hebat, pekerja yang kaya? Tidak ada jaminan apa-apa di dunia ini. Seperti main bola, setelah usaha maksimal, kita tidak pernah tahu apakah akan menang atau kalah. Urusan hasil, urusan entar. Kita hanya bisa berusaha, maksimal. Bekerjasama saja belum tentu menang.. apalagi kalau di kerjakan sendirian. Punya gol saja belum tentu masuk, apalagi kalau tidak punya tujuan. #sarrarisman **jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan tulisan ini.
Rejeki dari ALLAH itu pasti CUKUP UNTUK HIDUP tapi TIDAK akan CUKUP UNTUK MEMENUHI GAYA HIDUP
Kenalan saya seorang perencana keuangan di Jakarta punya banyak klien dari kalangan artis, dia cerita waktu itu pernah dicurhati seorang artis yang tiap hari nongol di tv, terkenal dimana-mana, tapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya.. Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya.
Saya pernah kenal seorang presenter TV nasional, kalo sedang tampil rapi pakai jas rapi sekali, hanya sekali ketemu di seminar, dia minta nomer HP. Sebulan kemudian dia SMS.. “Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa? Minggu depan saya kembalikan..” Walaaah..
Tahun 2009 malah ada vokalis band terkenal, saya kenal sejak 2003 ketika dulu masih kerja di EO sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager. Lagunya ngehits di semua radio, satu sore ngajak ketemu.. Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu.. Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu..
Kisah Ustad Luqmanul Hakim gak kalah unik, waktu masih kuliah S2 di Malaysia dia diundang makan di sebuah restoran mewah oleh salah satu kawannya. Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya. Usai makan, kawannya justru curhat dan minta nasehat, sambil menunjuk mobil mewah di halaman depan yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar..
Betul kan, rejeki dari Allah itu PASTI CUKUP untuk hidup, tapi TAK AKAN CUKUP untuk gaya hidup..
Kisah nyata sebaliknya dari Ustad Luqman, Seorang ibu tua dengan kain jarik datang ke sebuah masjid usai jumatan, panitia dan takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil infak jamaah hari itu. Ketika ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, salah seorang dari mereka berdiri, mendekati ibu itu sambil berkata, “maaf bu, disini tidak menerima sumbangan..” Ibu itu membuka lipatan kain jariknya, mengeluarkan uang berwarna merah, biru, merah, biru, merah, biru.. berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata “Maaf nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan masjid ini.. Ini uangnya mohon diterima..” Seketika para takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah ibu itu.. Salah tingkah dan menahan malu…
“Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur”
Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni: (1) jangan pernah menyakiti (2) hati-hati memberi makan istri.“
“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad. “Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?”. Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini.
Tukang becak ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya. Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.
Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya. Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.
Misalnya ada yang berkata, “Pak, terminal Rp 5.000 ya.“ Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.” Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif. “Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.“ Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.
Gusti Allah, manusia macam apa ini!
Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafidz Al-qur’an semua.
Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah. Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana.
Ini adab, tata krama.
Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis.
Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.
Ustadz Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis.
Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal.” Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.
Kawanku.. Hari terus berganti, matahari datang pagi ini, dan menghilang sore nanti.. Usia kita terus bertambah, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan hanya untuk mengejar dunia yang sementara.. Padahal esok pada waktunya, kita semua saat pulang ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku.. Tak ada bekal uang yang berlaku..
Semua harta yang selama ini kita kejar habis-habisan, ternyata semu belaka.. Pangkat, jabatan, kemewahan yang selama ini dibanggakan akan berakhir ditimpun tanah kuburan..
Banyak orang yang mengejar label kaya dengan menggadaikan dunianya, harga diri sudah musnah entah kemana.. Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya, dan lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya..
Benar kata kawan saya Mas Arief Budiman.. ORANG KAYA adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi..
ORANG MISKIN adalah orang yang selalu merasa kurang, hingga dia terus meminta-minta…
Salam, @Saptuari
Qanaah (merasa cukup) membuat kita kaya, sebaliknya dengan berlebih-lebihan (Israf) membuat kita selalu kekurangan. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang selalu Qanaah.
“Apabila kamu benar dan bersungguh-sungguh dalam niatmu, Allah akan menjadikan sebab-sebab yang boleh menghantarkanmu pada apa yang kamu niatkan.” — Hubabah Ummu Salim حفظها الله تعالى 💓🌸 @PencintaSayyidahFatimah
(via faten188)
Coconut Matcha Ice Cream with Black Sesame Brittle Chips
OREO CHURROS
JAPANESE HOTCAKES
Lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah daripada kehilangan Allah karena sesuatu.
- Mufti Menk
#nakindonesiaquote
Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia
JAPANESE HOTCAKES
Semangat pagi Semangat menjumpai mimpi2, semangat membersamai hari2 penuh syukur pd Illahi Semangat memaknai rajab hingga bertemu Ramadhan yang d berkahi
#ntms Rajab udah jalan ini, udah nyiapin aja buat ketemu ramadhan😢😢
Empat Hal Penghambat Rezeki
Pertama, Tidur Pagi.
Kedua, Sedikit shalat.
Ketiga, Malas-malasan.
Keempat, Sifat Khianat.
(Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma'ad, 4:378)
Rasa-rasanya kayak headshoot gtu :’
Hijrah belum berakhir sebelum berakhirnya taubat, dan taubat tidak akan berakhir sebelum matahari terbit dari barat
HR. Ahmad (via creativemuslim)
The Blue Mosque from Hagia Sophia