“sesuatu yang kau anggap baik belum tentu baik di depan Tuhan, juga sesuatu yang kau anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Karena Dialah sutradara terhebat sesungguhnya..” (QS. Al-Baqarah:216)
Siang yang sunyi dalam cuaca yang tidak panas dan juga tidak dingin memeluk daun-daun yang saling bergesek, pohon-pohon rindang di halaman panti asuhan itu saling merangkul, menyebarkan angin semilir dengan suara yang lembut berbisik membuat siapa saja yang menikmatinya enggan untuk berlalu….suasana yang begitu menyejukkan hati.
Terlihat putri yang sedang terdiam menikmati suasana siang itu sembari meletakkan kepalanya dimeja kerjanya. Hembusan angin dari jendela kaca, bisikan dedaunan membuat matanya terpejam.
“apa kamu tertidur put?”, suara lirih yang tak mengagetkannya itu tiba-tiba menghampirinya.
Putri membuka matanya, ia merasa tidak asing mendengar suara itu dan menoleh kearah suara itu.
“mbak raraaaaaa, ya allah mba aku udah kangen banget sama pean mbak, padahal baru enggak ketemunya 1 bulan. Mbak rara udah lama sampe disini?”
“iyah mbak juga udah kangen sama kamu dan semua yang disini, makanya mbak rencanya mau nginep semalem disini dan insya allah mulai sekarang mbak akan lebih sering ke panti karena mbak dan suami udah pindah rumah dekat dengan wilayah panti”.
“alhamdulillah, wahhh aku akan menjadi orang nomor satu yang selalu membuka pintu kamarku untuk pean mbak, hehehe”.
“ah kamu put bisa saja. Oia ngomong-ngomong tadi kamu kenapa, kamu kecapean atau memang ngantuk?”
“ohhh, enggak kok mbak aku cuma ingin memejamkan mata sebentar sembari menikmati hari ini, rasanya hari ini tenang banget ya mbak, merasa nyaman gitu”.
“iya alhamdulillah put, hari ini emang berasa tenang suasananya nggak bikin gerah. Yasudah, mbak mau keruang ibu dulu yah”
“mbak..mbak…tunggu! mbak, buru-buru nggak ketemu ibu? Aku udah lama enggak cerita sama mbak kan, biasanya setiap hari aku cerita tapi sekarang mbak udah nggak tinggal disini lagi, mbak udah punya kehidupan baru.
“enggak kok, tadi sebenernya udah ketemu ibuk dan bapak dihalaman depan, mbak cuma mau ngasih makanan aja buat nanti makan malam. Yowes sini, kamu mau cerita apa.”
“mbak ra, rasanya aku pengen keluar dari panti ini mbak, sudah 24 tahun aku disini, aku ingin segera bisa mandiri seperti mbak rara ini, aku membayangkan punya suami normal, walaupun kondisiku seperti ini, tapi mungkin nggak ya mbak ada laki-laki yang bener-bener serius sama aku. Apa aku nggak tau diri ya mbak kalau mengharapkan jodohku kelak adalah lelaki yang sempurna…? apa hidupku sampai tua hanya di panti ini ya mbak, sendirian tiap hari di meja ini?”
Pandangan putri kosong ke depan, mbak rara yang duduk di sampingnya berusaha jadi pendengar yang baik.
“put, harapanmu itu bener kok, setiap orang punya hak untuk bermimpi dan setiap orang punya kesempatan yang sama untuk dapatkan yang lebih baik. Mbak bisa sampai sekarang ini juga bukan karena hanya dari usaha mba aja, tapi berkat doa kamu, doa bapak ibu dan adik-adik disini dan tentunya atas campur tangan Allah SWT. Terus berdoa put, minta sama Allah langsung dan yakin terus aja sama Allah… Dia yang punya segalanya. Dia yang bisa merubah segalanya dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari yang susah menjadi mudah”
Terlihat putri menundukkan kepalanya untuk menutupi bahwa ia sedang meneteskan air mata. Ceritanya kali ini begitu dalam, mungkin karena putri hampir hampir menyerah dengan kondisinya saat ini.
Bulan berlalu…Mbak rara kini lebih sering datang ke panti 1 atau 2 minggu sekali.
Suatu hari dilihatnya putri senyam senyum sendiri di depan komputer. Jari-jari kakinya lincah mengetik keyboard.
“wahhh, kayaknya lagi ada yang kasmaran nih!” ledek mbak rara.
“ahhh mbak rara, bisa aja.” Jawab putri malu-malu
“kenapa…kanapa hayooo kok tumben nggak cerita sama mbak.”
“sebenernya mau banget mbak, tapi aku malu ceritanya, usiaku kan bukan remaja lagi nanti dibilang mbak rara lebay lagi.” Sambal meringis
“yowes sini, telinga mbak akan siap menampung ceritamu, insya allah.”
“dia bule mbak, tinggal di Kanada. Aku dikenalin sama temen dan akhirnya berlanjut lewat facebook, dia serius mbak mau ke Indonesia, mau ngelamar aku.. dia sering banget muji aku ‘Putri kamu itu hebat, kamu amazing, aku suka sama kamu’, katanya. Apa mungkin ini jalanku ya mbak untuk bisa pergi dari panti ini, aku benar-benar ingin mandiri, pergi jauh walaupun ke luar negeri..”
wajahnya lumayan sumringah ketika bercerita ini, seperti ada secercah harapan yang sangat dia tunggu. Mbak rara yang mendengarkannya sepenuh hati berusaha untuk menanggapinya tanpa merusak suasana hati putri.
“masya allah put, mbak seneng yo dengernya. Ada laki-laki yang berniat baik sama kamu. Eh…eh tapi yakin mau hidup diluar negeri, jauh dari ibu, mbak dan adek-adek? Nanti kamu telepon ke Indonesia mahal loh”, sambil bercanda meledek putri, mbak rara melanjutkan tanggapannya.
“put, mbak insya allah akan selalu dukung kamu tentang harapanmu dan dalam kondisi bagaimanapun kamu, kamu satu-satunya adik mbak yang paling besar, mbak ingin kamu dapat yang terbaik dan hidup bahagia dengan lelaki yang ikhlas mencintaimu lahir dan batin, ikhlas dan sabar membimbing kamu. tapi ini kan kita belum tau betul bagaimana pribadinya, latar belakang keluarganya, pekerjaannya, dan bagaimana agamanya, apalagi dia itu orang kanada, tempat yang jauh dari Indonesia. Begini saja, sebelum kamu sampaikan niatmu ini ke ibuk dan bapak, istikhoroh dulu yah, minta yang terbaik dari Allah, biarkan Allah saja yang memilihkan pilihan terbaik buat kamu yah, kalau kamu udah yakin dan mantap, mbak, bapak dan ibuk insya allah dukung.”
Putri sangat berharap pada kesempatan ini karena mungkin hanya laki-laki itu yang bisa menerima keadaanya tapi putri mencoba memahami apa yang dikatakan mbak rara
“iya mbak bener, aku kayaknya terlalu seneng dan berharap tanpa berfikir sampai sejauh itu.”
“put, seluruh yang terlihat dihadapan mbak sekarang adalah kamu yang telah Allah ciptakan dengan sebaik mungkin, DIA tidak mungkin salah dalam penciptaannya. Ada pesan yang mungkin Allah titipkan untuk semesta melalui kamu.”
Mbak rara yang terlihat serius dan mencoba menyemangati putri agar tetap optimis dalam keadaan apapun.
Berganti minggu dan bulan, perkenalan dan kedekatannya dengan lelaki dari negeri jauh berakhir indah. Bukan…bukan karena akhirnya mereka menikah tapi kedekatan mereka berakhir dengan menjadi sebatas teman. Ada banyak hal yang akhirnya menjadi pertimbangan putri untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan lelaki itu.
Senja sore itu membuat haru suasana, putri, bapak, ibu dan juga adik-adik terlihat sedih. Dengan berat hati mbak rara harus pamit karena harus ikut mendampingi suaminya yang dipindah tugaskan selama 1 tahun ke luar negeri, Malaysia.
Putri mencoba memahami kondisi, menahan emosi dan air mata. Mendukung sepenuhnya yang sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban seorang istri. Putri sadar bahwa orang yang telah menikah pasti akan berubah, tidak bisa sepenuhnya ada ketika dibutuhkan.
“padahal waktu itu kamu yang bilang ke mbak akan hidup diluar negeri, tapi sekarang malah mbak yang harus hidup dinegeri orang.” Ledek mbak rara kepada putri mencoba mencairkan suasana.
Mbak rara tahu bahwa putri seorang yang tak mudah menahan air mata, putri memiliki senstiifitas yang tinggi. Dipeluknya putri saat itu yang sedang berusaha tersenyum.
Tanpa hadirnya mbak rara yang selalu menemaninya, aktivitas putri berjalan seperti biasa, seperti pagi itu, panti mulai ramai berdatangan pemuda pemudi yang akan mengadakan sebuah acara bakti sosial, beberapa penghuni panti asuhan itu berlari-lari di sekitar halaman dengan gembiranya, mereka adalah anak-anak difabel yang dibuang orang tuanya. Sebagian dengan cacat di tubuhnya dan sebagian dalam kondisi normal. Bagi mereka yang sebagian cacat tetap mampu beraktivitas seperti yang dilakukan manusia normal pada umumnya, seperti putri yang terlahir dengan tidak memiliki kedua tangan namun ia mampu menjalani kehidupannya tanpa merepotkan orang lain. Hidup normal bersama, mengontrol adik-adiknya dan menghabiskan waktu bersama…itulah putri.
Panti sedang gaduh, beberapa anak menangis, yang lain berlarian tak beraturan. Berteriak dengan makanan yang belepotan di mulutnya. Mereka memang butuh perhatian ekstra dibanding anak lainnya. Putri yang ditakuti mereka, jika dia sudah ikut berteriak, anak-anak itu akan diam…“mbak Putri marah…” bisik mereka.
Dari kejauhan, terdengar teriakan anak -anak menyebut-nyebut nama mbak rara dan suara-suara saling berlarian. Begitu gembiranya anak-anak itu menyambut kedatangan kakak yang sudah lama tidak bertemu.
Hari itu, diakhir bulan ke 6, mbak rara kembali ke panti. Tak disangka mbak rara akan kembali ke Indonesia secepat itu. Setelah bertemu ibuk dan adek-adek, dicarinya putri.
Dilihatnya meja disudut ruang tamu yang biasanya Putri sendirian duduk disana, menanti tamu-tamu yang datang berkunjung ternyata kosong...dicarinya putri kesetiap ruangan tapi dia tak ada. Ternyata putri sedang sendirian dihalaman belakang panti.
Suara yang tak asing mengagetkan lamunannya, dan terkejutnya putri ketika menoleh kearah suara itu.
“mbak rara?” ini betul mbak rara, atau aku sedang dalam mimpi?” tanyanya
“iya ini mbak rara, put. Kamu sedang apa disini sendirian?”
Tiba - tiba menangislah putri, tumpah ruah air matanya seperti hujan yang turun dengan derasnya, entah karena bahagia bertemu kakaknya atau karena sesuatu. Mbak rara memeluknya, mencoba menenangkan hatinya.
Putri hanya terdiam sambill sesenggukkan tak ada cerita apapun yang disampaikan, dia terlihat seperti berada dalam puncak kejenuhannya. Seperti ada balon amarah dan kegalauan yang siap – siap meletus.
Pertemuan saat itu menjadi semakin menjadi haru, mbak rara hanya berusaha menenangkan putri. Tak enak hati ingin bertanya apa yang terjadi pada putri, tapi kekhawatiran mbak rara semakin besar, Mbak rara memberanikan diri bertanya.
“putri, ada apa dan kenapa, kok akhir-akhir ini jarang balas email mbak?”
“nggak ada apa-apa mba.” Jawabnya
“enggak ada apa-apa kok tiba-tiba nangis sampe sesenggukkan gitu. Tuh liat matanya tinggal segaris.” Ledek mba rara
“aku kangen mbak rara, seneng banget ketemu mbak rara lagi.”
“yakinnnnn? Ahhh kamu enggak bisa bohong dari mbak put.”
Dalam tangisannya, putri mencoba bercerita tentang kondisinya, mengeluarkan semua unek-uneknya, apa-apa yang membuatnya akhir-akhir ini sering menangis. Dan benar saja, dia sedang dalam puncak kejenuhan, harapannya belum juga terwujud, dia merasa putus asa, dia merasa belum ada takdir yang baik datang kepadanya.
Mbak ra mendengarkan sepenuh hati, tak banyak tanggapan yang diberikan hanya sebuah pesan,
“Jangan tinggalkan sholat ya Put, teruslah berdoa.. Allah yang akan mengatur rencana berikutnya untukmu.. jangan pernah berhenti berdoa”
Waktu terus berjalan tidak menyangka suasana lebaran telah berlalu beberapa hari yang lalu, makanan pun masih terlihat menumpuk dan tersisa di meja. Suara mobil terdengar berhenti di depan panti. Dilihatnya putri dari jendela ada seorang laki-laki berbadan tegap dan tinggi seorang diri. Putri merasa laki-laki itu tidak asing dilihatnya dan sepertinya hari ini tidak ada agenda sosial apapun. dalam hatinya bergumam, mungkin itu tamu bapak atau ibuk. Tidak lama kemudian terdengarlah suara salam…
“wa’alaikumsalam.” Jawab putri
Bukan bapak atau ibu yang ingin ditemui pemuda itu tetapi putrilah tujuannya. Putri ingat bahwa pemuda itu yang sering datang mengadakan bakti sosial dipanti bersama teman-temannya dan pernah terlibat dalam 1 project dengan putri namun putri tidak terlalu aware. Pertemuan hari itu menjadi awal terwujudnyaa harapan-harapan putri. Ternyata laki-laki itu bernama Rezaa. Tak disangka, ternyata selama ini reza telah memperhatikan kehidupan putri. Ia jatuh hati kepada sesosok gadis yang cacat. Bagi reza, cacat hati lebih menyedihkan daripada cacat fisik. Hari ini ia tak mau menunda lagi, ia beranikan diri menemui putri untuk menyampaikan maksud dan tujuannya bahwa ia ingin serius menjalin hubungan dengan putri.
Putri gemetar mendengar pernyataan reza, putri salah tingkah, putri terlihat gugup. Laki-laki yang belum terlalu dikenalnya itu tiba-tiba datang dan memintanya menjadi istrinya.
Berganti hari, dengan didampingi ibuk dan mbak rara, perkenalan putri dan reza semakin jauh. Saling mengenalkan keluarga dan sampai pada proses memperkenalkan kepribadian masing-masing. Perkenalan itu berjalan hampir 3 bulan sampai akhirnya reza mantap melangkah untuk menikahi putri.
Disebuah gedung, terpajang sebuah foto, foto yang seolah bercerita penuh makna, kisah panjang anak-anak manusia yang hidup dengan perjuangannya. Pengantin lelaki tegap disamping, memegang “tangan” pengantin wanita yang hanya tampak dalam pandangan mata hatinya.
Ruangan itu penuh haru, ketika Reza dengan tegas mengucapkan ikrarnya, menerima Putri Herlina secara sah menjadi istrinya.
Banjir airmata dari para tamu yang hadir, ibunda Reza tak henti-henti mengusap matanya, tamu yang hadir, seorang bapak di sudut dengan sapu tangan di wajahnya. Tak terkecuali kameramen dan fotografer dengan mata berkaca-kaca yang mengabadikan moment itu dengan penuh takjub tak berkesudahan.
Hari itu Allah membuktikan janjinya, derajat seseorang yang lahir di dunia dengan segala keterbatasan dan kekurangan diangkat tinggi di depan manusia lainnya. Kisahnya menginspirasi banyak orang yang lahir dengan sempurna, dengan limpahan harta dan kasih sayang orang tuanya.
Ketika prosesi sungkeman, ibunda Reza memeluk anaknya begitu lama, dengan terbata-bata seperti tak berkesudahan, menjadi pemandangan yang sangat mengharukan, seperti berkata:
“wahai anakku, engkaulah lelaki itu.. engkaulah yang dipilih Allah untuk menemani wanita luar biasa ini. Engkaulah yang Allah percaya duduk, berdiri, berjalan disampingnya selamanya. Jadikan ini sebagai ibadahmu, pahala tak berkesudahan hingga akhir hayatmu..”
Putri tertunduk haru di sampingnya, dan tau betul bagaimana perasaannya.. dia telah terlatih sejak kecil menghadapinya.
Usai sungkeman, adik-adik panti diundang semua di depan, berjejer menghadap ke pelaminan. Keluarga Reza memberikan tas penuh alat sekolah untuk mereka satu-satu. Putri dan Reza berjalan mendekati mereka, satu-satu mereka menyalami Putri, memegang tangan mungil yang ada di pundak Putri. Mereka melepas kakak yang selama ini menemani mereka, kakak yang hidup bersama mereka belasan tahun, menghadapi bersama-sama takdir mereka, lahir dengan hidup terbuang tanpa keluarga dan orang tua.
Usai acara itu, Reza menuntun istrinya kembali ke pelaminan. Dengan tegar mereka melangkah berdua, siap bersama menghadapi dunia. Satu persatu tamu memberikan selamat, beberapa orang menepuk pundak Reza, dan menyatukan tangannya di dada ketika di depan Putri, seolah memberikan penghormatan yang tinggi pada kisah mereka.
Siang ini pohon-pohon di halaman panti itu terus bergesekan bersama angin, suaranya berdesir menyapa siapapun yang berdiri dibawahnya, memberikan semilir angin yang menyejukan hati ditengah udara panas yang melintas.
Daun-daun itupun menjadi saksi, satu penghuni panti telah pergi…
dia yang dulu bermain-main dibawah rimbunnya, sekarang menjalani takdir baru hadiah terindah dari Tuhannya. Happy ending dari sebuah perjalanan...
Seperti itulah cara Allah mengatur jodoh untuk putri. Bagi Allah, sangat mudah membolak-balikan hati seseorang, melunakkan hati sekeras apapun, jika Allah sudah berkehendak.. Kun Fa Yakun begitu mudahnya skenario cantik dan indah terjadi di depan mata.
Akan sangat mudah bagiNya.