menutup babak
banyak orang bilang, butuh keberanian yang luar biasa untuk menutup satu babak dalam hidup kita. sebab, yang menakutkan dan mengkhawatirkan itu tidak hanya mengakhiri, tetapi juga memulai sesuatu yang baru. semuanya penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan pertanyaan, penuh dengan perubahan. di mana-mana, tentu perubahan menimbulkan ketidaknyamanan.
kadang keberanian itu perlu dipantik oleh sesuatu yang ada di luar. suatu kejadian besar, suatu pertanda yang nyata, atau sesuatu lain yang memaksa kita. mau tidak mau, suka tidak suka, terima tidak terima.
kadang keberanian itu datang tanpa aba-aba yang benderang. cukup berupa keyakinan yang bertambah-tambah setiap hari. cukup berupa kecenderungan hati. cukup berupa ketiadaan ketakutan dan kekhawatiran lagi.
tapi sini saya beri tahu sesuatu yang lebih mendasar. menutup babak memang memerlukan keberanian, tetapi melakukannya bukan indikator berani atau tidak. kadang tidak menutup babak justru memerlukan keberanian yang lebih besar. kadang, ketakutan, ketidakpastian, dan kekhawatiran justru lebih besar ketika kita bertahan.
kalau kamu punya niat menutup satu babak dalam hidupmu—dan memulai babak yang baru—yang lebih utama adalah bilamana Allah meridhoinya. bilamana jalan itu punya lebih banyak potensi manfaat dan lebih sedikit mudarat (ingat, menghindari mudarat lebih penting daripada mengejar manfaat). bukan hanya untukmu, tetapi juga orang-orang di sekitarmu.
kalau jalan itu adalah jalan yang Allah ridhoi, yakinlah bahwa keyakinan itu akan datang. tak perlu megah. tiba-tiba saja, suatu hari kamu terbangun dan meyakini, “sekaranglah saatnya.”
selamat menutup babak(-babak).




