yang melepas, tapi masih ingin berbincang yang melupa, tapi kenangan tak kunjung menyusut yang hilang, ingin memutar waktu

Kiana Khansmith
untitled

tannertan36
Not today Justin
đ
No title available
EXPECTATIONS
Fai_Ryy
taylor price
Xuebing Du
No title available

Andulka

izzy's playlists!

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Noah Kahan
Cosimo Galluzzi
Cosmic Funnies
Keni
No title available

seen from France

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Argentina
seen from Canada
seen from Brazil

seen from TĂźrkiye
seen from Brazil

seen from United States
seen from TĂźrkiye
seen from Indonesia
seen from Colombia

seen from Spain
seen from Greece
seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Venezuela
@oktoberduaenam
yang melepas, tapi masih ingin berbincang yang melupa, tapi kenangan tak kunjung menyusut yang hilang, ingin memutar waktu
Cerpen : Kita Pernah
Inspirasi cerita malam ini dari seorang teman yang katanya pengen kisahnya ingin dtuliskan.
Dua hari lalu seketika dia datang menemuiku, entah dengan alasan apa wajahnya terlihat tak bahagia. Tak ada senyuman, tak ada pelukan, dan tak ada pertanyaan tentang bagaimana hari ini. Dia seperti orang asing yang tanpa sengaja bertemu denganku di jalanan.
âTumben jemput.â Kataku saat dia membukakan pintu mobil untukku.
âPengen ngobrol.â
âSekalian makan malam diluar yuk!â Ajakku.
Kami hanya bertemu dua kali dalam seminggu, aku kerja pun dengannya. Tapi diluar dari itu komunikasi kami tetap jalan dengan baik. Dia sering sekali menelponku, menanyakan kabarku, membuatku bercerita tentang apa saja. Tapi entah kenapa aku merasa dia berbeda kali ini. Seolah dia akan pergi.
âGimana urusan kantor?â Aku mencoba membuka obrolan, jalanan cukup macet dan dia terlihat sangat pendiam hari ini.
âBaik.â Jawabnya singkat.
âKamu gak lagi ada masalah kan?â
âAda yang ingin aku sampaikan sih. Tapi mungkin kita makan aja dulu kali ya.â Ucapannya membuatku merasa apa yang pernah ku lalui kembali datang padaku.
âKalau terlalu membebanimu kita ngobrol disini saja, jalanan juga masih padat-padatnya.â Aku berusaha tenang, senyumku masih mengembang, jujur saja aku bahagia melihatnya setelah 3 hari dia tak ada kabar sama sekali.
âKita udahan aja ya.â Katanya setelah hening selama 2 menit.
âKamu capek banget ngurusin aku?â Aku tak melihat wajahnya, pandanganku ku alihkan. Alih-alih melihat kedepan, aku malah menatap pengendara motor melalui kaca jendela.
âIya.â Katanya.
Ku tarik nafas panjang, lalu ku hembuskan cukup lama. Dia tahu, saat aku seperti ini berarti aku tak ingin memperpanjang masalah. Dan aku tahu saat dia hanya menjawab sesingkat ini berarti benar ada apa-apa padanya. Tapi untuk mencari tahu aku tak bisa lagi, lebih baik pergi tanpa tahu alasannya dibanding tahu, rasa sakitnya akan bertambah dua kali lipat.
âDi depan ada ATM. Aku turun disana saja.â Aku masih belum bisa melihatnya, hancur rasanya. Dia seseorang yang berhasil membuatku kembali percaya justru lebih merusak kepercayaan itu. Untuk bangkit kembali aku tak akan tahu butuh waktu berapa lama.
âMaaf. Kita sepertinya gak cocok.â
âJangan memberi alasan. Kalau kita gak cocok dari awal, kenapa kamu mau bertahan? Aku tidak akan meminta alasan apapun darimu, keputusanmu aku hargai.â
âKamu boleh marah kok. Nampar aku juga boleh.â
âDan apa itu akan merubah semuanya?â
Dia diam, aku tersenyum. Mataku mulai panas. Aku ingin makan mie goreng pedas seketika.
âAku anterin sampai rumah.â Dia ngotot.
âGak usah, aku turun di depan ATM itu saja.â
âKalau kamu turun di jalan aku akan merasa sangat bersalah.â
âDan kau tak merasa bersalah menyakiti seseorang yang tulus menyukaimu bertahun-tahun?â Lagi, sekali lagi dia diam.
Mobil berhenti tepat di depan ATM, aku keluar dengan perasaan hancur. Laki-laki yang mengatakan akan membantuku menjadi lebih baik lagi justru lebih memilih pergi dibanding bertahan denganku sedikit lagi. Padahal kami pernah begitu saling menginginkan, tapi kata saling serasa hanya alibi untuk menutupi kebosanan yang lain.
Dua minggu setelah pergi dia kembali datang dalam sebuah pesan, menanyakan kenapa aku tak pernah menanyakan alasannya untuk berpisah.
âAlasan hanya akan membuatmu menjadi laki-laki ter-buruk yang pernah datang di hidupku. Aku hanya ingin mengingatmu dengan baik, bahwa kau pergi dengan alasan yang paling masuk akal dan paling baik untuk kita berdua.â
Kau tahu, dewasa bukan lagi tentang umur, tentang sikap, dan lainnya. Dewasa lebih kepada ikhlas pada apa yang Tuhan tarik kembali dari mu. Setidaknya Kita Pernah menjadi manusia yang mengetuk pintu rumah Tuhan untuk membuat kita tetap bisa saling menjadi kita.
"Kita sama-sama tahu kita tidak lagi saling mencinta"
"Lantas harus bagaimana?"
"Kita tidak harus bagaimana-bagaimana. Tidak apa-apa"
Dear Aku,
Mengapa kamu terlalu keras? Mengapa masa lalu masih terus menghantui? Tidak bisakah kamu hidup tenang dan bahagia seolah tidak ada satupun masa lalu yang telah menyakitimu itu mengganggu kehidupanmu sekarang? Bisakah kamu berbahagia dan melepaskan semua yang menyakitkan?
Dear Kamu,
Jika bersamaku masih memberi luka, apakah kamu masih mau berjuang bersama? Jika dalam diriku kamu menemukan kekurangan, apakah kamu mau menerima dan merasa cukup bersamaku?
Langit jingga itu terkadang lucu. Dia mampu membuat manusia menjadi rindu akan hal yang dulu pernah mereka benci.
TAKUT DALAM KENIKMATAN
Hari ini, hari minggu. Tepatnya di sebuah sore, di ruang depan rumah, seorang teman lama mengajak saya mengobrol. Ia teman lama, sengaja hari ini hadir, karena merasa bersalah, tidak bisa hadir di pernikahanku bulan lalu.
âHidup kamu nikmat yah. Urusan rezeki, urusan jodoh, urusan pertemanan, semuanya begitu lancar. Apalagi liat foto-fotomu waktu menikah bulan lalu, nampaknya kamu penuh kebahagiaan. Sungguh, Allah sayang banget sama kamu.â Ucapnya
âAlhamdulillah.â Saya tersenyum
âDengar-dengar, istri juga sudah isi yah? Wah, luar biasa, padahal baru satu bulan menikah. Luar biasa ya, hidup kamu itu emang bahagia banget. Enak yah.â
âRumah punya, mobil ada, rezeki lancar, jarang berkonflik, istri yang cantik dan salehah, sungguh luar biasa. Aku ingin sekali hidup sepertimuâ Dia menambahkan
Mendengar perkataannya, aku merenung, menundukkan kepala.
âLoh, kenapa kamu malah menjadi murung?â
âEntahlahâ jawabku
âEntahlah mengapa? Bukankah seharusnya kamu bahagia dengan segala yang kau dapatkan?â ia heran
âKau tahu? Hingga hari ini, aku selalu merasa, hidupku memang diberikan kemudahan. Ingin ini, ingin itu, nampaknya semua Allah mudahkan. Aku lahir dari keluarga berada. Sekolah, aku dapat beasiswa. Aku mendapat pekerjaan tanpa harus melamar, dengan gaji yang cukup lumayan. Bahkan, untuk urusan jodoh, ketika orang sangat galau, aku mendapatkannya dalam sekali coba. Mana cantik, salehah lagiâ Aku jawab, sambil tertawa dan menepuk pundaknya. Dua badan kami, saling bertolak ke arah berlawanan.
âTapi kau tahu?â
âApa?â Temanku memperhatikan serius, siap mendengar apapun yang akan kukatakan
âAku sungguh takut. Selama ini, hidupku sungguh nyaman. Aku tak pernah mengalami kesulitan. Aku selalu bahagia.â
âAku sungguh takut. Karena, yang ku tahu, bukankah setiap orang-orang yang beriman, akan mengalami ujian dalam hidupnya?â
âBukankah Nabi Ayub, yang serba memiliki segalanya, kehilangan segalanya dalam sekejap? Bukankah Nabi Muhammad, kehilangan banyak hal dengan cepat? Padahal, selama ini, mereka hidup dalam kebahagiaan.â
âHingga hari ini, aku merasa belum pernah mendapat ujian apapun yang begitu berat. Aku takut, Ujian ku, akan datang dalam sekali waktu, namun datang dengan bertubi-tubi. Aku takut.â
âKau tahu, kini semua yang kumiliki, membuatku bahagia. Tapi, ketika melihat istriku yang sedang mengandung anakku, aku khawatir. Bagaimana jika Allah mengujiku melalui Anakku?â
âBagaimana jika istriku kelelahan dan ternyata mengalami keguguran? Bagaimana jika istriku melahirkan, namun ternyata nyawa anak istriku tak terselamatkan? Bagaimana jika setelah lahir, anakku mengalami kelainan kesehatan? Bagaimana jika aku memiliki anak yang tak sesuai harapanku? Bagaimana? Sungguh, aku sangat takut. Aku takut, aku mendapatkan ujian dari siniâ
âAku tahu, sebagaimanapun, aku tak bisa menghentikan ujian dari Allah. Karena bagaimanapun, setiap manusia memang akan diuji. Dan yang kutahu, kita akan diuji, sampai titik dimana kita harus bersimpuh di hadapan Allah. Berdoa, memohon ampunan, bahkan meminta bantuan kepada-Nya. Aku takut, ujian nanti, sungguh akan menyakitkan hatikuâ
âJika kau pikir aku bahagia, tentu aku bahagia, karena itu bentukku bersyukur pada Allah. Namun, aku juga tidak akan lupa, bahwa Ujian akan selalu menimpa setiap orang. Karena itu, sejak dulu, aku selalu berdoa kepada Allah. Agar senantiasa diberikan kesabaran jika kelak aku mendapatkan ujian. Agar senantiasa, diberikan ketabahan jika kelak aku mendapatkan cobaan.â
âItulah kenapa aku merenung. Semakin banyak kebahagiaan yang kudapatkan, maka aku pikir, akan semakin berat pula ujian yang akan kudahapi. Tapi, bismillah saja, aku percaya, bahwa setiap ujian yang Allah berikan, pasti dapat dilewati oleh Hamba-Nyaâ
Aku menghabiskan beberapa menit untuk berbicara hal itu.
âAku tak pernah memikirkan hal itu. Ketika orang memikirkan kebahagiaan, kau malah memikirkan tentang ujian hidup. Sungguh luar biasa. Terima kasih, kau telah mengingatkankuâ
âYah, karena kadang orang lupa. Bahwa setiap orang, pasti akan diuji, oleh hal-hal yang akan memberatkannya. Mungkin sebagian sudah mengalaminya, sedangkan aku, aku belum. Itu kenapa, aku takut. Semoga saja, aku bisa melewatinya.
Temanku terdiam, mukanya agak sedikit murung, mungkin sebagai bentuk simpati atas apa yang aku rasakan.
âHey, kenapa jadi murung begitu? Bukankah kamu hadir kesini dalam kondisi berbahagia?â aku tepuk pundaknya. Ia terperanjat. Aku senyum, ia pun mulai kembali senyum.
Sore itu, suasana sungguh meriah, temanku pulang, sebelum maghrib menjelang.
Dalam kebahagiaan, kami tetap tak lupa, bahwa setiap dari kita, kelak akan mendapat ujian.
TAKUT DALAM KENIKMATAN BANDUNG, 27 DESEMBER 2017
Bapak, Pendiam Yang Menghanyutkan
Saya tidak pernah tahu apa yang dirahasiakan bapak pada kepalanya. Apa yang dipikirkan beliau tentang banyak kejadian.
Kami sama-sama pendiam, jarang sekali kami mengobrol. Kami hanya berbincang untuk hal-hal yang perlu saja.
Tanya sesuatu âkemudianâ> jawaban. Begitulah cara kami berkomunikasi. Kaku.
Bapak yang tidak pernah marah atas nilai-nilai buruk pada rapot sekolah saya. Bapak yang tidak pernah mengayunkan tangan ke badan saya, sejahat apapun saya pada beliau. Semembantah apapun saya pada beliau.
Bapak tidak pernah mematok sebuah kesuksesan kepada saya. Bapak memang diam, tapi beliau memperjuangan banyak hal atas apa yang saya impikan.
Saya kembali teringat pada hari-hari dimana beliau selalu mengantarkan saya ke terminal untuk berangkat sekolah (SMA). Bapak dengan jacket merk Hondah padahal motor yang dibawanya Suzukih. Sepenjang jalan kami saling diam. Jarang sekali ada obrolan, bahkan mendekati tidak pernah.
Saya juga kembali teringat pada hari-hari larut saat beliau sudah menunggu di masjid atau diemperan toko dekat terminal untuk menjemput saya (sudah tidak ada angkot ke desa kalau sudah sore). Bapak selalu datang jauh lebih awal. Ketika saya bilang sekitar jam 7, bapak sudah disana selepas maghrib. Bahkan ketika saya pulang dari jogja, beliau sering menunggu jauh lebih lama. Bapak terlalu rajin.
Saya juga kembali teringat pada hujan deras dimana bapak menyerahkan jas hujan kepada saya. âSudah dipakai saja, besok kan masih sekolahâ, begitu kata beliau sembari tenang membetulkan sepeda motornya. Sementara tetes-tetes air mulai membasahi bajunya.
Iya, kami memang jarang berbincang. Tapi saya baru mulai paham diam-diam bapak cinta saya dengan dalam. :)
Dalam hidup yang kita jalani ini, kita lebih sering âtidak siapâ ketimbang âbenar-benar siapâ.Â
Sebab kita memang bukan perencana ulung. Ada yang lebih ulung untuk itu, Yang Maha Merencanakan.
Bertemu orang baru, kadang kita tak betul-betul siap dengan konsekwensi bertambah ramainya kehidupan sosial kita yang artinya bertambah jugalah potensi untuk timbul masalah. Atau tidak benar-benar siap untuk berbasa-basi, memasang muka manis di tengah rasa lelah yang menggerogoti badan seharian.
Mencintai orang lain, kita mungkin sering merasa kaget dengan sifat-sifat unik yang Allah sertakan kepadanya sebagai tanda bahwa orang yang kamu cintai itu juga manusia biasa. Dia manusia biasa yang Allah pertemukan denganmu dengan cara yang tidak biasa.
Merencanakan cita-cita, seringkali jalan yang dilalui justru berbeda dari timeline yang kita susun rapi. Berkelok jauh dari harapan awal. Kadang, nampak-nampaknya malah tidak akan sampai ke tujuan.
Kita ini lebih sering âtidak siapâ daripada âbenar-benar siapâ. Tapi, Allah selalu punya obatnya.
âFaidza âazamta, fatawakkal âalallah.â (Apabila kamu sudah membulatkan tekad, berserah dirilah kepada Allah)Â â QS. Ali Imran: 159.
Selamat bertawakkal dan bersiap dengan kejutan-kejutan yang ada :)
ya Allah jaga hati kami. aku takut dengan kejutan-kejutanMu yang sulit aku tebak. hati manusiakan mudah berubah, lagipun Engkau adalah dzat yang membolak-balikkan hati, Ubahlah dan balikkanlah hati kami HANYA pada perubahan menjadi baik. aamiin
Semesta Sudah Tahu, Kalau Aku Mencintaimu
Jika kelak, aku berubah menjadi perempuan yang menyebalkan, tolong peluk aku kuat-kuat. Aku mungkin akan menangis atau memarahimu, tapi tetap diamkanlah aku; dalam pelukanmu. Diamkan saja.
Perlu kamu ketahui, bahwa aku memilihmu karena aku dianugerahi keyakinan bahwa kamulah tempat terbaik untuk memulangkan resah dan melabuhkan rasa. Jangan pernah berniat pergi. Yakinkan aku, hingga bara dan amarahku menyeruak menuju awan.
Ada masanya, kita hanya perlu rajin-rajin bersabar dan paham tentang satu hal, yaitu: mau dipandang dari penjuru mana pun, cinta adalah tentang salingâtidak membiarkan salah satu merasa lebih banyak berkorban dan berusaha.
Kamu selalu tahu, aku bisa saja berubah dari perempuan yang manis menjadi perempuan egois, lalu detik berikutnya menjadi menyenangkan kemudian berubah mengerikan. Tapi, pada akhirnya di antara konflik perasaanku sendiri, aku tetap ingin memandangmu sebagai rumah.
Aku selalu ingat perkataanmu yang satu ini: âkamu tuh bocah paling bandel yang selalu senang bermain-main dengan asumsi sendiri. Tolong, berhentilah menyakiti perasaanmu sendiri.â Iya, aku memang terlalu rumit, maafkan aku, karena aku selalu butuh sosokmu yang sabar.
Dulu, aku selalu tidak yakin bagaimana mungkin bisa; kita memercayai segenap hidup kita kepada seseorang yang dalam hatinya saja kita tidak tahu seperti apa. Tapi sepertinya, kini, prasangka itu tak berlaku padamu.
Rasa-rasanya, aku harus banyak-banyak bersyukur karena kamu masih bersedia memberikan kehadiranmu hingga detik ini padaku. Izinkan aku, di setiap hariku, aku ingin menengadah dan menyamakan pandangan matamu pada mataku, demi memberitahumu sesuatu, bahwa;
Semesta sudah tahu, kalau aku mencintaimu.
Melewatkan orang baik
Barangkali kita pernah..
Merasa begitu beruntung ketika diingini oleh seseorang yang begitu baik, didoakan dalam banyak kebaikan, diberi hadiah tanpa melewati batas syariat, saling tak bersua namun saling mengupayakan.
Barangkali kita pernah..
Menjadi begitu istimewa ketika diperjuangkan, begitu bahagia saat kita mengetahui kita adalah seseorang yang diperjuangkan diantara orang-orang baik yang mengupayakannya.
Barangkali kita pernah..
Menjadi satu diantara pilihannya, menjadi tujuan perjalanannya. Meski pada akhirnya ketetapan Allah yang menjadi pemenangnya..
Barangkali kita pernah..
Melepas seseorang yang baik itu, menabahkan diri atas keputusan yang kita pilih. Sebab memaksa berjalan pada tujuan yang sama tidak menemukan titik temunya.
Barangkali kita pernah..
Dibuat takjub atas perjalanan yang Allah kehendaki. Sesuatu yang kita tangisi dengan begitu, justru memberi lebih banyak arti atas serangkaian hidup yang kita jalani.
hanya karena
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena orang yang kamu harapkan akan ada di sanaâmenjadi penikmat pertama karyamuâtak ada di sana lagi.
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena kamu tidak sedang menjalani mimpimu bersama seseorang yang kamu harapkan akan menemanimu.
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena kamu meninggalkan atau melepaskan seseorang yang selalu menjadi semangatmu.
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena pecah perasaanmu, remuk hatimu.
kadang kita harus melepaskan seseorang, tetapi kita tidak pernah boleh melepaskan mimpi-mimpi kita. kadang kita harus kehilangan seseorang, tetapi kita tidak pernah boleh kehilangan semangat berkarya kita.
Menjauh
Akan tiba saatnya kita akan berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu tidak menyukai kita lagi. Melainkan kita sendiri yang menyadari bahwa orang itu akan jauh lebih bahagia ketika tidak bersama kita.
Beberapa orang benci ketika ucapan selamat tinggal itu tidak mampu terucap dan seseorang pergi pada saat yang tidak tepat.
Barangkali melepaskan seseorang tidak pernah seburuk itu. Aku tidak sepakat bahwa tidak ada perpisahan dengan baik-baik, pun aku tidak pernah setuju bahwa tidak ada pamit dalam sebuah perpisahan. Selalu ada berpisah dengan cara yang indah, terlihat membahagiakan, meski hati tetap saja menjerit kesakitan karena tidak sanggup merelakan.
Apabila masih berharap silahkan menunggu, toh jika memang takdir maka pasti akan kembali. Kalau memilih untuk melupakan lalu menjalani hidup ke depan, itu lebih baik.
Perpisahan tidak selalu buruk. Sebab barangkali, ketika sedang dijauhkan dari seseorang, kita hanya sedang didekatkan kepada yang lebih baik. Dan kita malah menganggapnya itu adalah perpisahan yang menjauhkan.
Padahal, Allah hanya sedang menampakkan sebuah kasih sayang.
Jogja, 22 Juni 2018 | Seto Wibowo
Berjalan Di Atas Impian
Setiap orang pasti pernah merencanakan sesuatu, hingga suatu hari keinginan yang telah lama terpendam itu tampak di depan mata akan menjadi nyata. Namun, karena satu dan lain hal terjadi, rencana itu luruh satu demi satu bersama dengan keinginan yang baru saja hampir terwujud.
Selepas itu hanya ada marah yang menggebu-gebu dalam batin, menyalahkan, bahkan mencela pada takdir yang ada. Padahal kita tidak akan pernah sedekat itu dengan impian kita seandainya tidak ada campur tangan Allah.
Kita mungkin tidak akan bisa menjadi seperti sekarang jika tidak ada pembelajaran yang keras dan cita-cita kita terlalu mudah untuk diraih, bahkan mungkin kita akan menjadi seseorang yang kurang bisa menghargai sebuah proses usaha.
Dan yang perlu diingat, nyatanya segala yang diberikan Allah adalah kebaikan, selalu. Kebaikan yang selalu disalahartikan. Kebaikan yang kadang terlambat untuk disyukuri, bahkan sering lupa.
Barangkali kita harus sedikit memahami, bahwa ada hal-hal yang tidak pernah akan kita dapati, sekuat apapun kita meminta, selelah apapun kita berusaha, dan selantang apapun kita berdoa. Tidak pernah akan kita dapati, namun selalu memperoleh ganti.
Setiap orang memiliki impian, dan itu biasa. Tapi saat kita tetap bisa bersemangat dan berbaik sangka saat impian itu tertunda, itu luar biasa. Bagai berjalan di atas impian kita sendiri, tidak peduli apa yang terjadi, kita akan meraihnya tanpa pernah khawatir akan gagal.
Jogja, 23 Juni 2018 | Seto Wibowo
Apakah kamu�
Apakah kamu tidak ingin menyapaku lagi, seperti sapaan waktu itu yang membuat kita memulai segalanya?
Apakah kamu tidak ingin memperjuangkanku lagi, seperti perjuanganmu waktu itu yang membuatku jatuh cinta padamu?
Apakah kamu tidak ingin merindukanku lagi, seperti rindu waktu itu yang membuatmu tahu aku juga merasakan hal yang sama?
Apakah kamu tidak ingin mencintaiku lagi, seperti cinta waktu itu yang membuat hari-hari kita terasa jauh lebih indah?
Apakah kamu tidak ingin mengenalku lagi, seperti perkenalan waktu itu yang membuat kita menjadi dekat?
Apakah kamu tidak ingin mencariku lagi, seperti pencarian waktu itu yang membuatku berdebar lugu padamu?
Seharusnya, aku berhenti bertanya. Karena mau sebanyak apa pun pertanyaannyaâaku sudah tahu, aku hanya akan mengumpulkan kata âtidakâ darimu.
Aku Pamit
Maafkan aku.
Rupanya segala ambisiku tentangmu harus kuakhiri sampai di sini saja.
Aku sudah terlalu jauh mengupayakan sesuatu yang sejatinya aku tahu tidak akan kudapatkan sehebat apapun aku berjuang.
Aku akan mengakhiri semuanya hari ini juga.
Kegilaanku pada sosokmu, kecintaanku pada tawamu, juga segala mimpi untuk dapat membersamaimu kelak di masa depan, rupanya harus kubunuh perlahan. Dan itu di mulai dari hari ini.
Aku mundur.
Aku telah gagal.
Aku kalah.
Memenangkan hatimu sungguh tidak pernah semudah itu.
Mulai besok, kau tidak akan lagi merasa terganggu oleh setiap tulisanku yang terkesan menyinggung perasaanmu.
Mulai besok, kau tidak lagi merasa risih dengan ejekan beberapa teman yang menjodohkan kita-sementara kau enggan.
Mulai besok, kau akan merasa tenang.
Mulai besok, kau akan tidur nyenyak.
Setelah tulisan ini mendarat di sosial media, saat itu pula segala perasaan tentang aku-yang mengagumi seorang kamu, akan kututup dengan bahagia.
Kuharap kau mau memaafkan aku.
Memaklumi perasaan ini yang lama-lama semakin mendalam jika dibiarkan.
Dengan berakhirnya tulisan ini, aku ingin memberitahu kamu satu hal.
Bahwa, rasa yang hendak kau bunuh dalam hatiku itu, sejatinya tulus tanpa ragu.
Kelak, jangan pernah menyesali karena telah membuang seorang aku-yang (pernah) mencintai kamu dengan begitu.
Terimakasih telah memenuhi halaman sosial mediaku selama ini.
Hari ini,
Aku PAMIT