Pernah mendengar Istilah “Doughnut Economic Model”?, suatu hari senior saya di kantor membahas tentang “Doughnut Economic Model” yang dicetuskan oleh Kate Raworth pada tahun 2012. Kate merupakan seorang Senior Associate di Cambridge Institute for Sustainability Leadership. Pada konsep Doughnut Economic, Kate mempertimbangkan beberapa aspek dalam perekonomian antara lain peradaban manusia dan aspek lingkungan. Konsep Ekonomi ini tentu sangat berbeda dengan konsep Ekonomi Klasik yang terfokus pada pertumbuhan ekonomi saja. Konsep Doughnut Economic mempertimbangkan sustaiability peradaban manusia dan kualitas lingkungan yang suatu saat akan menurun seiring terjadinya kegiatan perekonomian. Banyak permasalahan yang akan timbul jika beberapa aspek dalam kehidupan yang sangat erat dengan aktifitas ekonomi tidak diperhatikan. Permaslahan tersebut antara lain degradasi lingkungan dan krisis sosial. Degradasi lingkungan yang dimaksud antara lain berkurangnya sumber daya alam, sumber air, udara yang bersih, serta penyempitan lahan serta rusaknya ekosistem lingkungan lainnya. Sedangkan permasalahn krisis sosial antara lain lebih mengarah pada berkembangnya kekerasan dan fragmentasi sosial, pelanggaran dan diskriminasi hak-hak dasar dari warga masyarakat. Konsep Doughnut Economic tidak mengenal istilah ‘membuang sisa produksi’. Setiap proses produksi, di akhir siklusnya akan digunakan menjadi materi dasar (raw material) untuk proses produksi selanjutnya.