6. Mimpi yang Hancur dan Harapan yang Masih Ada
Pernah nggak sih kalian merasa hidup ini seperti film yang skripnya ditulis oleh orang lain? Aku pernah. Dulu, aku punya mimpi besar—menjadi jurnalis antar galaksi, menjelajahi semesta, dan menceritakan kisah-kisah luar biasa yang tersembunyi di antara bintang-bintang. Aku pikir semua akan berjalan lancar selama aku berusaha keras. Tapi ternyata, kenyataan nggak sesederhana itu.
Sejak kecil, aku selalu hidup dalam bayang-bayang harapan ayahku. Dia adalah sosok yang keras, perfeksionis, dan penuh tuntutan. Baginya, hidup adalah tentang apa katanya dan kesempurnaan. Setiap langkahku diawasi, setiap kesalahanku diperbesar, dan setiap keberhasilanku dianggap biasa saja. Aku terus mencoba memenuhi ekspektasinya, berharap suatu saat dia akan melihatku dan berkata, "Kamu hebat, Bee." Tapi kalimat itu nggak pernah datang.
Puncaknya adalah saat aku mulai mengejar mimpiku di dunia jurnalisme antar galaksi. Alih-alih mendukung, ayah malah meremehkan pilihanku. Baginya, itu bukan profesi yang bisa membuatku "berhasil" dalam hidup. Dia ingin aku mengikuti jejaknya—masuk ke dunia bisnis dan politik antarbintang, sesuatu yang sama sekali nggak aku minati. Aku terjebak dalam konflik antara melakukan apa yang aku suka atau menjalani hidup yang sudah dia rancang untukku.
Tapi yang paling menyakitkan bukan hanya tentang ekspektasinya yang terlalu tinggi. Yang benar-benar menghancurkan semuanya adalah pengkhianatan yang datang dari orang yang seharusnya menjadi panutan. Ayah berselingkuh. Dan yang lebih menyakitkan lagi, dia berselingkuh dengan adik angkat ibuku.
Aku masih ingat malam itu, saat aku mengetahui semuanya. Aku duduk di pojok kamar dengan perasaan hancur yang nggak bisa dijelaskan. Semua rasa hormat dan kekaguman yang selama ini aku pendam untuknya seketika runtuh. Bagaimana bisa seseorang yang selalu mengajarkanku tentang disiplin, tanggung jawab, dan moralitas justru melakukan sesuatu yang bertentangan dengan semua prinsip yang dia paksakan padaku?
Saat itu aku sadar, semua yang aku lakukan selama ini bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk seseorang yang bahkan nggak bisa jujur pada keluarganya sendiri. Dan itu menyakitkan. Rasanya seperti semua harapan dan mimpi yang aku bangun selama bertahun-tahun ikut hancur bersama kepercayaan yang sudah aku berikan padanya.
Aku nggak bisa tinggal diam. Aku memilih pergi. Aku kabur dari rumah, mencari tempat di mana aku bisa memulai segalanya dari awal. Andromeda menjadi pelarianku, tempat di mana aku bisa bernapas tanpa bayang-bayangnya. Bersama Filotes, aku mulai menemukan arti kebebasan dan bagaimana rasanya hidup tanpa beban ekspektasi orang lain.
Tapi, meskipun aku sudah jauh dari rumah, rasa kecewa itu masih ada. Luka yang ditinggalkan oleh seseorang yang seharusnya menjadi pelindung itu nggak akan mudah hilang. Aku tahu butuh waktu untuk menyembuhkan semuanya.
Terkadang, saat malam di Andromeda yang begitu hening, aku masih berpikir, "Apa aku sudah mengambil keputusan yang benar?" Tapi kemudian aku sadar, meskipun masa laluku penuh kekecewaan, aku masih punya masa depan yang bisa aku ciptakan sendiri. Harapanku memang sempat hancur, tapi aku percaya, aku masih bisa membangun mimpi baru, dengan caraku sendiri.
Jadi, buat kalian yang pernah merasa kecewa dengan keluarga atau orang terdekat, aku cuma mau bilang satu hal: kalian nggak sendiri. Kita nggak bisa memilih di mana kita lahir atau siapa orang tua kita, tapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalani hidup kita ke depan. Aku memilih untuk tetap bermimpi, meskipun jalannya nggak lagi sama.
Mari kita terus berjalan, meskipun hati pernah hancur. Karena hidup adalah tentang menemukan cahaya di tengah kegelapan. 🦊✨
— Bee


















