Bu, aku bangga kepada Bapak. Sangat bangga. Setelah ditinggalkanmu, Bapak tidak lepas tanggung jawab dalam mengurusi kami sebagai anak perempuan kalian. Bapak menggantikan sosok ibu, ya walaupun berbeda dalam cara merawatnya. Bapak tidak ingin anak-anaknya sakit, makanya Bapak selalu lebih bawel kalau kami susah sekali makan. Tetapi dibalik bawelnya kepada kami, tak jarang Bapak pun makan hanya sehari sekali alasannya karena tidak nafsu dll. Mungkin Bapak rindu masakkan Ibu, masakkan yang dibuat pake cinta dan kasih sayang buat suami dan anak-anaknya.
Aku bangga juga kepada Ibu. Sangat bangga. Ibu adalah sosok yang sederhana, Ibu tidak mengikuti trend social media pada waktu itu, cukup telfon dan sms. Istri yang tidak meminta hal macam-macam ke suaminya. Istri yang nurut sama suaminya. Istri dan Ibu yang selalu ada buat suami dan anaknya dalam keadaan apapun, selalu memberi semangat dan senyum yang tulus buat keluarganya, mengajarkan ke anak-anaknya, pentingnya ngaji, sholat dll meskipun Ibu juga dalam tahap belajar. Ibu juga menutupi kesakitan, sedihnya dia kalau dia sedang merasakan itu, yang Ibu tampilkan hanya keceriaan keceriaan di wajah Ibu terus, meyakinkan bahwa semua baik-baik saja padahal tidak. Ibu juga yang mengajarkan, tidak semua hal yang jahat harus dibalas balik dengan kejahatan, biarkan saja toh roda kehidupan selalu berputar, doakan saja. Ya dan itu benar sekali.
Bu, wallpaper hp Bapak masih terpampang foto Ibu di dalamnya. Mungkin ada semangat tersendiri kalau Bapak melihat foto itu. Ditinggalkan Ibu untuk selama-lamanya membuat kami semua sadar, bahwa kami tidak bisa hidup tanpa seorang Istri dan Ibu di dalam rumah. Kami merindukan sosokmu Bu, sangat rindu. Semoga kami selalu diberi keakuran, kekuatan, kesabaran dalam hidup bertiga di dalam rumah. Aamiin.








