Nasehat itu memang bisa datang kapan aja ya, lagi iseng-iseng buka youtube lalu menemukan Khutbah Nikah seorang muslim di Amerika Serikat.
Daaan, ternyata yang paling membutuhkan khutbah nikah selain si pengantin adalah justru mereka yang sudah lebih dulu membangun rumah tangga.
Kenapa? Sebab khutbah nikah itu bahan refleksi yang amat sangat dalam. Ia jadi pengingat alasan kita menikah, tujuan kita mengambil tanggung jawab ini, dan renungan panjang betapa (mungkin) kita —khususnya para suami— masih jauh dari ciri suami seperti Rasulullah, yang kalau pulang selalu tersenyum, memuji istrinya, menyimak keluh kesahnya, tidak pernah mencela masakannya, membantu pekerjaan rumah, memberi hadiah, senang bercanda, mengajak jalan-jalan, dan segala macam akhlak yang kalau disebutin malah makin jelas ga ada mirip-miripnya sama the prophet, the teacher, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Di akhir khutbah, Sang Ustadz mengajak para suami, supaya kalau pergi, entah berangkat kerja, atau naik pesawat atau kemanapun, katakanlah kalimat romantis untuk istri, supaya kalaupun itu menjadi kalimat terakhir yang ia terima, itu adalah kalimat terbaik yang mewakili segenap perasaan kita.
©achmadlutfi | 15 September 2019
Perempuan yang saya nikahi adalah perempuan yang dulunya memiliki kehidupan yang baik. Kemudian, membawanya ke belantara perjuangan yang mungkin tidak pernah mudah. Anehnya, dia bersedia.
Perjalanan pernikahan itu panjang, masalahnya beragam. Nasihat pernikahan yang saya ingat betul adalah hal yang paling mendasar dari pernikahan adalah komitmen. Karena cinta bisa naik turun, bisa kadang meluap kadang surut. Tapi, komitmen tidak boleh. Karena ketika setiap individu menjaga komitmennya, pada tanggungjawab pernikahan, kesadaran yang akan mengantarkan keluarga pada doa-doa yang selama ini diucapkan, semoga keluarga yang terbina menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Kalau boleh, kutambah satu lagi, amanah.
Pernikahan itu komitmen kepercayaan.
- KURNIAWANGUNADI -














