Terhitung sudah berpuluh pekan saya tak mengisi tulisan di sini. Yaa, sekarang saya akan berbagi tulisan mengenai pekerjaan yang sedang saya jalani. Tak terasa sudah 2 tahun saya menjadi seorang Account Officer (AO). Setelah training selama 1 tahun saya dinyatakan lulus dan penempatan sebagai AO di salah satu kantor cabang di Jakarta. Banyak suka dan duka yang dilalui sebagai AO atau kita sebut saja sebagai marketing. Ya, seorang AO adalah marketing, tak beda dengan management account, atau istilah-istilah lainnya. Pada intinya sama yaitu bagaimana cara kita mencari nasabah sebanyak-banyaknya yang berkualitas untuk dapat meng-create laba perusahaan. Mulai dari mencari, memproses, memaintain dan menagih saat terjadi pembiayaan macet adalah merupakan serangkaian jobdesk dari AO. Kelihatannya simple tapi jadi tak simple lagi ketika setiap Senin diadakan meeting pipeline antara AO dan Pimpinan Cabang (Pinca). Berhubung cabang tempat saya penempatan tidak terdapat MM (Manager Marketing) jadilah Pinca bertindak sebagai Pinca sekaligus MM.
Setiap minggu setiap AO harus menyetorkan pipeline yang sudah didapat, berikut nominal pembiyaan yang akan diambil, kondisi calon nasabah, prospek ke depannya, maupun kendala yang dihadapi. Terkadang seorang AO harus pandai “mengarang” jawaban jika sewaktu-waktu ditanya soal pipelinenya. Mengapa saya sebut “mengarang” di sini karena memang terkadang calon nasabah itu baru pertama kita temui atau mungkin bahkan belum pernah bertemu sama sekali, cadeb tersebut kita dapat dari referensi teman maupun nasabah lainnya. Ya gimana AO kan bukan dukun, dan gak mungkin juga untuk menjawab “tidak tahu” karena itu berarti sama juga kita memperpanjang durasi meeting jadi lebih lama lagi.
Namun selain duka banyak juga rasa senangnya menjadi seorang AO. Apalagi untuk orang-orang yang tidak betah berlama-lama di kantor dan senang bertemu orang, job ini sangat cocok. Selain itu saya juga jadi tahu bagaimana belajar berkomunikasi lebih baik dari sebelumnya, melatih mental dan keberanian, serta rasa masa bodoh dan gak malu. Belajar bagaimana caranya analisa keuangan, mengetahui kondisi keuangan suatu perusahaan / usaha sedang baik atau buruk, meskipun terkadang sedikit “maksa”. Bagaimanapun tidak ada kondisi nasabah yang ideal, pasti ada kekurangan di beberapa sisi, nah disitu bagaimana si AO dapat meyakinkan komite calon nasabah ini akan dalam kondisi baik-baik saja selama 10 – 15 tahun mendatang meskipun ada kekurangan A B C dan lainnya. Bayangkan saja kita menilai kondisi nasabah saat ini untuk 15 tahun yang akan datang, yaa Wallahu Alam seandainya nanti terjadi kondisi yang tak diinginkan pun setidaknya resiko yang mungkin timbul sudah dimitigasi dengan baik, sekali lagi AO bukanlah seorang dukun.
Selama saya penempatan di cabang ini sudah beberapa kali berganti teman, mutasi karyawan di perbankan relative cukup tinggi, menurut saya. Tidak sampai genap 2 tahun beberapa posisi di cabang sudah berganti orang beberapa kali karena suatu dan lain hal. Namun masih banyak juga teman yang dari awal saya penempatan dan sampai sekarang masih saja di sini.
Saya memulai AO dari nol, dalam artian tidak ada warisan account kelolaan yang harus saya maintain setiap bulannya. Bersyukurnya saya tahu semua nasabah saya sendiri karena dari awal saya yang inisiasi, dan tidak ada cerita harus menagih sampai jungkir balik karena tak punya account warisan yang bermasalah. Dukanya angka yang saya peroleh masih jauh dari target tahunan, karena tidak ada angka dari account warisan.
Account Officer bukanlan cita-cita saya sebagai banker, di awal-awal pendaftaran saya sebagai pegawai bank saya bermimpi untuk bisa penempatan di bagian Treasury atau Risk Management, karena saat itu belum banyak tahu tentang bagian-bagian lain di perbankan. Tapi ya sudahlah syukuri saja yang sekarang didapat. Setelah 2 tahun menjadi AO saya merasa sedang berada di titik jenuh, apalagi saat mulai terdapat beberapa kebijakan-kebijakan perusahaan yang bertentangan dengan hati nurani, dimana AO adalah barisan terdepan yang berhadapan dengan nasabah. Sebut saja produk KMG Purna, merupakan produk pembiayaan bagi nasabah yang sudah pensiun dengan menggunakan jaminan SK pensiun. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 15 tahun atau sampai dengan usia nasabah 75 tahun. Saya tak tega untuk memberikan fasilitas ini ke kakek atau nenek yang seharusnya sudah hidup tenang tanpa memikirkan hutang, sedangkan management sedang gencar-gencarnya mempromosikan produk ini dengan spirit bahwa ini merupakan produk yang aman bagi bank, strategi yang ciamik untuk para AO dalam mencapai target dan sebagai media penolong bagi mereka yang membutuhkan uang. Yang saya pertanyakan adalah konsep menolong seperti apa jika mereka para orang tua dibebankan margin yang cukup tinggi?? Meskipun produk bank saya marginnya masih lebih kecil dibanding bank lain namun jika diakumulasikan menurut saya masih tinggi. Baik, ini hanya pemikiran saya pribadi, orang bank yang bahkan tak punya kartu kredit satu pun. Dan saya paham bank bukanlah organisasi nirlaba yang bisa membantu orang dengan cuma-cuma. Saat ini saya seperti AO yang bukan target oriented. Menurut saya yang kurang fair di sini adalah sekelompok orang yang masuk perusahaan dengan program yang saya ikuti tak punya kesempatan untuk mengikuti job opening di bagian lain, entahlah apa pasalnya.
Terlepas dari itu semua saya tetap berterimakasih dengan perusahaan dan orang-orang yang telah mensupport saya di sini. Terimakasih atas semua rezeki yang saya dapatkan, tidak hanya materi tapi juga pengalaman, ilmu, bimbingan, kekeluargaan dan hal lainnya yang mungkin tidak saya dapatkan di tempat lain.
Disclaimer : Tulisan ini murni opini dari saya berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan. Bisa berbeda dengan yang pihak lain alami sekalipun berada di kondisi yang serupa.