Diam-diam, di setiap malam ada saja yang berharap kantuk bisa datang lebih cepat, agar tidak ada celah bagi si overthinking datang untuk mengobrak-abrik jam tidurnya lagi.
—Prasetyani Estuning Asri
TVSTRANGERTHINGS

#extradirty
Cosimo Galluzzi

JBB: An Artblog!

Kiana Khansmith
he wasn't even looking at me and he found me
No title available
wallacepolsom
sheepfilms
Misplaced Lens Cap
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Jules of Nature

No title available
styofa doing anything

shark vs the universe
Acquired Stardust

blake kathryn
🪼
ojovivo
One Nice Bug Per Day

seen from Italy

seen from Canada
seen from Morocco

seen from Germany
seen from Italy
seen from Switzerland

seen from China
seen from Netherlands

seen from Australia
seen from Saudi Arabia
seen from Switzerland
seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
@prasasri
Diam-diam, di setiap malam ada saja yang berharap kantuk bisa datang lebih cepat, agar tidak ada celah bagi si overthinking datang untuk mengobrak-abrik jam tidurnya lagi.
—Prasetyani Estuning Asri
Seseorang yang hari ini kamu lihat paling malas bertemu orang itu dulunya adalah yang paling semangat mengupayakan temu. Paling antusias mengadakan acara temu kangen, paling siap jadi garda terdepan mencocokkan tempat, waktu, dan segala keribetannya.
Seseorang yang hari ini enggan membicarakan pernikahan itu dulunya pernah semangat sekali merancang pernikahan impiannya, yang sederhana tapi istimewa. Ia bahkan sempat digadang-gadang akan jadi yang pertama menikah di lingkungan pertemanannya.
Seseorang yang hari ini tidak banyak bercerita itu dulunya pernah paling semangat menceritakan segala hal dari yang paling remeh hingga yang paling serius ke teman-temannya, yang paling semangat bercerita bukan sekadar dari A ke Z tapi dari A ke A lagi.
Seseorang yang hari ini hidupnya seperti kosong itu ternyata dulu hidupnya benar-benar hidup. Beberapa orang bilang ia berubah, padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebagian dari dirinya sedang terluka, sebagian lainnya hilang, ia sedang berusaha mengembalikan dirinya kembali utuh dengan sebagian dari dirinya yang tersisa.
—Prasetyani Estuning Asri
Beberapa kali kacamata itu hilang, beberapa kali pula aku berusaha keras mencarinya agar kembali. Aku mau kacamata itu selalu ada bersamaku! Rasanya, kalau sampai kacamata itu hilang hidupku akan berantakan, semua buram, hilang arah. Iya, aku pernah setakut itu kehilangannya.
Tapi, tidak dengan hari ini, kacamata itu benar-benar kubiarkan hilang. Cukup, aku tidak mau mencari kacamata itu lagi, tidak mau memaksanya kembali lagi! Bahkan jika kacamata itu kembali dengan sendirinya kurasa sudah tidak ada ruang untukku menerimanya kembali seperti yang sudah-sudah. Belakangan kacamata itu benar-benar membuat kepalaku pusing, mungkin karena minusnya sudah bertambah, mungkin memang sudah tidak cocok, mungkin batas waktu bersamanya juga sudah habis, entahlah. Yang pasti, aku mulai menyadari, memaksa terus-menerus bersamanya hanya akan menambah luka, menyiksa diri sendiri.
Ya sudah, pergilah, sejauh-jauhnya, silakan.
Tapi ini bukan tentang kacamata.
—Prasetyani Estuning Asri
Ada kok yang pada akhirnya memilih untuk tidak terlalu merespon berlebihan sesuatu hal bukan karena sekarang jadi lebih penyabar bak ibu peri. Jujur, marahnya sih masih ada, tapi mulai sadar kalau pun mau memaki-maki sampai meledak-ledak pun kadang cuma capek sendiri. Sedangkan yang dimaki-maki tidak merasa, tetap enjoy menjalani hidupnya tanpa punya rasa bersalah. Ya, sia-sia! Jadi, di dunia yang makin ada-ada saja kejadiannya ini rasanya lebih memilih menghemat energi untuk hal-hal yang sudah jelas cuma bikin capek diri sendiri. Singkatnya, sikap bodo amat untuk beberapa hal itu memang perlu: tidak mendebat orang yang pandai sekali playing victim dengan cerita karangannya sendiri itu, misalnya.
—Prasetyani Estuning Asri
Ternyata, sudah sampai di fase ini, ketemu ya pokoknya ketemu saja. Tidak usah ribet cari makanan viral, tidak usah repot cari tempat estetik, tidak usah sibuk cari spot yang instagramable, pun tidak sempat pula foto-foto. Ketemu ya benar-benar hakikatnya ketemu, ngobrol panjang kali lebar memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada, saling mendengarkan dan bercerita satu sama lain.
Ternyata sudah di fase ini, menghargai betul setiap ada kesempatan untuk bertemu. Lalu di ujung temu selalu ada doa yang dirapalkan dengan khusyuk, "semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi dalam kondisi sehat dan lebih baik... "
—Prasetyani Estuning Asri
Saat rasanya hidup ya sekadarnya hidup aja, tidak punya antusias apa-apa, tidak punya greget apa-apa, mati rasa rasanya. Sudah mulai menarik diri dari lingkungan sekitar, jaga jarak aman dengan orang-orang yang dulunya terasa dekat bahkan dengan saudara sendiri. Mungkin ada sisa gelisah, takut kena prank lagi, takut kebaikan orang itu ada maksud dan tujuan lain, takut kecewa dan luka lagi. Bukan apa-apa, tapi jujur menyembuhkan luka batinnya benar-benar sampai jatuh bangun.
Dan, di saat semua rasanya hampa, kosong. Tiba-tiba bertemu dengan tiga sahabat lama, kalau dihitung-hitung ternyata kami sudah bersahabat 14 tahun. Dan temu kemarin rasanya kasih energi baru. Ternyata, mereka, di hari ini masih sama dengan mereka 14 tahun lalu. Kami bercerita panjang lebar tentang kehidupan masing-masing. Selama lima jam kami saling mendengarkan, tanpa menghakimi, tanpa menyudutkan, tanpa menyalahkan, rasanya perasaan ini dianggap ada. Terima kasih, di saat hidup rasanya lagi hampa-hampanya, mereka datang, kasih fakta bahwa tidak semua orang itu jahat.
Maka benar nasihat lama ini, kalau kamu disakiti satu atau dua orang terdekatmu, jangan langsung anggap semua orang punya watak yang sama. Selalu ada orang baik, selalu ada. Semoga kita semua, di kehidupan yang rasanya sering tidak baik-baik saja ini bisa diberi keberuntungan bertemu orang-orang baik untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik, untuk punyai perasaan yang lebih baik.
—Prasetyani Estuning Asri
Hidup dengan bayang-bayang kenangan masa lalu yang dipendam terlalu dalam ternyata menyesakkan juga, ya? Langkah menuju cerita selanjutnya jadi seperti tertahan di masa lalu, seperti ada cerita yang belum usai, seperti ada ketakutan jika luka di masa lalu yang belum benar-benar sembuh itu akan terulang lagi.
Yang lebih menyesakkannya lagi, kegelisahan tentang masa lalu yang tak kunjung usai itu bagi sebagian orang dianggap hanya perasaan yang terlalu didramatisir. Sedih, karena kemelut hatinya tidak pernah dianggap sungguhan ada.
—Prasetyani Estuning Asri
Apa yang paling tidak kamu sukai dari sebuah pertemuan?
Ya, benar, tentu saja kalimat di ujung pertemuan ini, "sampai bertemu lagi di libur panjang selanjutnya... "
—Prasetyani Estuning Asri
Kalimat perempuan dengan dua puluh ribu kata per harinya di telinga laki-laki dengan enam belas kata per harinya yang tidak pandai multitasking. Wajar saja jika empat ribu kata selisihnya rawan sekali membuat beberapa kalimat jadi tidak sengaja terabaikan, atau tidak sengaja terlewatkan, atau tidak sengaja terlupakan, atau tidak sengaja sebatas masuk kuping kanan lalu keluar kuping kiri.
Yang membuat makin rumit persoalan dan berujung mala petaka besar adalah, si laki-laki tidak punya inisiatif untuk membuka komunikasi untuk memperbaiki keadaan dengan sembunyi di balik kalimat, "aku sih pilih diam, supaya masalahnya tidak makin besar" Sayangnya, diamnya suka jadi kebablasan, tiba-tiba ngilang, tiba-tiba sama yang baru. Aduh. Aduh. Aduh. Nanti yang bikin makin kacau balau adalah, si perempuan sudah tahu lakinya tidak karuan masih menuntut minta balikan, ya jadi makin gawat sekali ujung masalah ini.
—Prasetyani Estuning Asri
Ternyata, beberapa orang yang memanfaatkan waktu liburnya yang tidak seberapa itu untuk lari, mendaki, bersepeda, atau berkegiatan lainnya bukan semata-mata karena produktif dan memaksimalkan setiap waktu luang yang ada. Pada kenyataannya, mereka hanya ingin membunuh waktu agar tidak terasa kosong setiap putaran detiknya. Kondisi diri yang kacau dan berantakan tidak pernah bisa bersahabat dengan waktu senggang, sebab dada bisa dibuat makin sesak, pikiran bisa dibuat makin tidak karuan.
Singkatnya, beberapa orang yang terlihat produktif itu ternyata hanya sedang mencari pelarian. Kabar baiknya, pelarian mereka adalah dengan hal-hal baik.
—Prasetyani Estuning Asri
Ternyata, sampai saat ini kamu masih selalu hadir dalam perayaan Idul Adha ku, dalam bentuk ingatan pertanyaan yang dulunya selalu berulang setiap tahun saat kita masih bersama, "apa menu daging kurbanmu hari ini?"
Kelihatannya hal kecil, sepele, sederhana. Tapi ternyata hal yang terlihat kecil jika dilakukan berulang pada akhirnya akan punyai kesan yang masih terus membekas.
Semoga tahun ini dan seterusnya sate kambingmu tetap lezat, nikmat, dan mantap. Selamat menikmati sajian kurbanmu dengan seseorang yang akan utuh menemanimu setiap tahunnya, yang tentu saja bukan aku orangnya.
—Prasetyani Estuning Asri
Kalau masih ada yang excited bercerita tentang seseorang di masa lalunya jangan buru-buru dijudge belum move on, ya. Barangkali ia sedang berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Barangkali ia sedang menata ulang hatinya yang sudah sekian lama berantakan. Barangkali ia sedang membiasakan diri mengingat berbagai kenangan itu dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Barangkali ia sudah selalu gagal melupakan, hingga pada akhirnya ia memilih membiarkan ingatan itu tetap ada, menjadi bagian dari cerita kehidupan yang tidak perlu disesali lagi.
—Prasetyani Estuning Asri
Kuceritakan tentang drama kopi susu yang tak kunjung menemukan ujungnya ini.
Jadi begini, tempo hari, ada yang membuatkannya kopi susu yang sedikit kurang manis. Solusinya jelas, tinggal tambah sedikit gula maka masalah beres. Tapi dia memilih membuang kopi itu. Aduh, mubadzir.
Hari ini, dia membuat kopi susu sendiri yang rasanya sudah tidak bisa didefinisikan lagi, hampir semua orang bilang rasanya aneh! Hanya beberapa orang yang bermuka dua dan punya kepentingan lain bilang rasanya enak. Dan dia dengan jumawa bilang bahwa ini rasa yang dia cari, kali ini dia tidak membuangnya, tidak mendengarkan masukan orang lain pula, justru membuat kopi susu serupa dengan jumlah yang lebih banyak. Jujur janggal.
Ada-ada saja jenis manusia model begini, yang mau cari benarnya sendiri dan tutup telinga dengan masukan orang sekitarnya. Repotnya lagi, apa-apa dilakukan semau-maunya sendiri, seolah hidup ini hanya berputar pada dirinya sendiri.
—Prasetyani Estuning Asri
Ternyata berulang kali aku diselamatkan oleh ketidakberuntungan.
Pernah suatu ketika aku gagal sampai ke puncak gunung, terhenti di pertengahan jalan. Beberapa orang menyayangkan karena sedikit lagi sampai puncak. Tapi kakiku yang cedera memang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Pun ternyata, di puncak terjadi badai yang hebat. Sesalku tidak bisa sampai puncak berubah menjadi syukur.
Pernah suatu ketika aku gagal makan bakso mercon super pedas karena sudah habis. Akhirnya aku memesan bakso biasa. Beberapa orang menyayangkan karena aku hanya terlambat lima menit sebelum bakso merconnya habis. Tapi aku baru ingat, perutku sedang tidak baik-baik saja, dokter mewanti-wanti agar menghindari makanan pedas terlebih dahulu. Bayangkan akan seporak-poranda apa perutku jika jadi makan bakso mercon super pedas itu. Sesalku tidak bisa makan bakso mercon berubah menjadi syukur.
Aku juga pernah gagal menjalani hubungan yang sudah dijalani bertahun-tahun. Beberapa orang menyayangkan karena hubungan sekian tahun itu rasanya sia-sia. Tapi aku baru ingat, toh pada kenyataannya hubungan kami tidak sesehat dan seharmonis kelihatannya. Tidak ada jaminan kalau kami melangkah ke jenjang yang lebih serius maka semua akan seindah yang dibayangkan. Sesalku jadi syukur, baik sangka pada-Nya tentang apa-apa yang menjadi ketetapan-Nya adalah baik.
—Prasetyani Estuning Asri
Sedang di titik kalau ketemu orang, yang pertama kali ditanyakan bukan kabar, tapi, "kalau kamu gimana, enggak pernah bermimpi pengen jadi kaya rayakah?"
—Prasetyani Estuning Asri
Kalau ada yang tiba-tiba sering sekali ke toko buku, biarin aja.
Kalau ada yang tiba-tiba mencoba banyak cabang olahraga, biarin aja.
Kalau ada yang tiba-tiba rajin travelling, biarin aja.
Kalau ada yang tiba-tiba suka memasak berbagai menu unik, biarin aja.
Kalau seseorang masih punya paling tidak satu hobi yang dia sukai dan sedang ia geluti dengan sungguh-sungguh, apalagi hal itu positif dah tidak membahayakan, jangan dikomentari ini dan itu. Barangkali ia sedang menyembuhkan luka hati yang hampir menghancurkan hidupnya dengan hobinya itu. Barangkali dia sedang mencari alasan untuk bisa semangat menjalani kehidupan di hari ini, besok, besoknya lagi, dan besok besoknya lagi.
—Prasetyani Estuning Asri
Sudah dihajar babak belur, fisiknya, psikisnya, ekonominya, semuanya! Sudah tukang selingkuh, kasar, mokondo, tapi masih dibela dengan alasan klasik: khilaf!
Aduh! Khilaf kok tiap hari????? Lalu dia tetap bertahan, yakin bahwa suatu hari pasangannya akan berubah. Sementara itu, pada kenyataannya, dirinya makin hancur, fisik luka parah, batin sengsara, ekonomi dihimpit. Heran, mau nunggu sampai sehancur apa lagi hingga pada akhirnya memilih pergi?
Menerima kekurangan pasangan memang hal baik, tapi kalau kurangnya kurang banget apalagi dalam segala aspek tentu saja kita boleh banget untuk menyudahinya. Jangan takut dilabeli tidak setia, lagipula setiamu terlalu berharga untuk diberikan pada orang yang menjalani hidup sesuka-sukanya sendiri dan menyia-nyiakan dirimu, sungguh! Segera pergi ya, sebelum dirimu makin memaklumi segala perilaku janggalnya hingga setiap perbuatan salahnya jadi terasa wajar-wajar saja.
—Prasetyani Estuning Asri