Angin pertama
“Ttuut..ttuuttt.. Panggilanmu sedang dialihkan, silahkan coba beberapa saat lagi..”
Ini sudah panggilan ke-sepuluhku di sore ini. Sudah dua Sabtu berturut-turut Dimas tidak menjawab teleponku. Sudah lima belas hari berturut-turut Dimas tidak lagi menjawab pesan whatsapp seperti biasanya.
Aku cemas. Khawatir.
.
.
.
.
6 bulan yang lalu
“Al! Aliya!”
Kutolehkan kepalaku, mencari arah suara yang seolah memanggilku samar. ‘Tak pula kutemukan sumber suara tersebut, kembali aku sibuk dalam antrian loket check in penerbangan pagiku tujuan Jakarta. Loket check in terminal baru di Bandara Jogja ini sangat padat di pagi hari. Ditambah, setelah longweekend seperti kemarin. Bisa kumaklumi, karena memang Bandara Adisutjipto yang baru ini juga bukanlah bandara yang besar, sehingga antrian panjang seperti ini menjadi pemandangan biasa bagiku. Aku yang memang hidup berkelena, dari satu Bandara ke Bandara lain. Aku bekerja di Perusahaan swasta yang bergerak di bidang properti, posisiku sebagai Internal audit membuatku harus selalu berpindah tempat, dari satu Branch ke branch lain, dari satu kota ke kota lainnya setiap minggunya. Kadang rasa lelah menghampiriku, tapi itu semua terbayar, dengan banyaknya hal baru yang kutemui setiap aku singgah di suatu kota. Dan Jogja, memang akan selalu jadi tempatku pulang, selalu kusempatkan, setiap ada kesempatan untuk pulang ke Jogja seperti sekarang ini.
Kulangkahkan kakiku gontai melewati beberapa kursi tunggu, sambil mendorong koper ukuran kabinku yang berwarna biru tua ditangan kananku dan tas jinjing ukuran sedang menggantung di bahu kananku. Sedangkan punggung menahan beban leptop 12inch kesayangaku. Mataku berkedip-kedip mencari bangku kosong, untuk duduk sejenak. Flight-ku masih sekitar 30 menit lagi. Kupilih kursi yang dekat dengan gate 2, sambil kupandangi lembar check in ku, tertera bangku 8A. Syukurlah, aku bisa tidur dengan nyaman sepanjang perjalanan nanti. Pagi ini aku sudah ijin masuk setengah hari dengan Chief-ku, dan untungnya diijinkan, karena sepertinya Chief-ku sudah tau, beberapa hari kedepan selama di Jakarta aku akan banyak meeting, mengejar beberapa temuan di Surabaya dan Lombok bulan lalu, sebelum akan terbang ke Kuala Lumpur seminggu kemudian. Pikiranku melayang kesana kemari. Membayangkan seminggu saja waktuku bersama Mas Dimas. Kekasihku tercinta yang kantornya hanya beda 5 blok dari Kantorku di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Seniorku sejak masih duduk di bangku kuliah, kami sudah bersama sejak 2 tahun yang lalu, saat aku dipindahkan ke Jakarta oleh Kantorku, kami tidak sengaja bertemu di warung makan depan kantorku, dan, yaaa begitulah, kisah asmara kami bisa ditebak dengan mudah. Dan sampai hari ini, Mas Dimas, kekasihku yang hanya bisa kutemui 7 hari saja dalam sebulan, pesan singkatnya semalam mengatakan bahwa hari ini dia ada studi kasus di daerah Ancol, jadi malam nanti baru bisa bertemu after office. Biasanya kami bisa bertemu saat istirahat makan siang, secara kantor kami hanya dipisahkan 5 blok perkantoran lainnya.
Ugghhh, coba cek instagram, ada tempat makan hitz baru apa ya? Ngedate hari ini ga boleh boring, bahas kerjaanku aja. Hmm, apa nonton saja ya? Oke, film baru apa ya?
Benakku dipenuhi rencana-rencana manis nanti malam bersama Mas Dimas, sambil mengecek layar jadwal penerbangan. Terdengar suara riuh penumpang, disusul suara pemberitahuan bahwa aku sudah bisa mulai masuk untuk boarding.
Begitu masuk pesawat, dengan mudah kutemukan kursiku, 8A. Kusimpan tas leptop kedalam kabin diatas. Lalu kucoba mengangkat koper biru-ku, uggghhh, berat juga ya? Batinku dalam hati
“Biar saya bantu.” Suara seorang pria dibelakangku. Belum sempat kumenoleh, Pramugari didepanku sudah menginsturksikanku untuk masuk dulu dan duduk di kursi 8A, karena antrian penumpang cukup padat. Kemudian dengan buru-buru aku masuk dan duduk sambil memandangi pria yang tadi mengangkat koperku, lalu mata kami bertemu.
“Aliya? Astaga, ketemu disini?”
“Adit?”, seruku tak percaya dengan penglihatanku pagi ini.
“Iya, astaga, tadi waktu di loket check-in saya panggil kamu dari jauh, cuma saya kira saya salah orang, karena kamu diam saja.”
“Oh ya? Tadi saya juga dengar sih, tapi ragu, hehe, maaf ya.”, Hmm, jadi tadi benar ada yang manggil waktu antri check in.
“Santai Al!”, Adit tersenyum kepadaku, sambil memasangkan sabuk pengaman. Adit duduk di seat 8B, sebelahku.
“Anyway, makasih ya, sudah bantu angkat koper saya tadi, Dit.”
“Noprob Al.”
Hening cukup lama, karena, entahlah, aneh rasanya bertemu dengan teman kampusmu, bukan, bukan teman kampus, tapi temannya teman kampusmu.
“So, ke Jakarta kerja?”, Adit membuka pembicaraan saat pesawat sudah akan lepas landas
“Iya Dit. Adit habis liburan ini dari Jogja?”, tanyaku sambil memperbaiki posisi dudukku. Yang kutau, temannya temanku ini rumahnya di Jakarta
“Iya hahha, mumpung longweekend.” Jawabnya dengan senyum merekah, “Ga lihat ini, badan saya gosong begini, kemarin dua hari saya susur pantai di GunungKidul sana, bangun tenda, sama Restu, Gilang, Tri, masih inget kan sama mereka?”
Aku mengangguk perlahan. Satu per satu Adit menyebutkan nama teman-teman kuliahku yang memang lebih sering bermain bersama Adit dibandingkan denganku. Padahal Adit Fakultas Teknik, sedangkan aku, Restu, Gilang, dan Tri, kami fakultas Ekonomi. Hmm, bisa dibilang sebenarnya aku bukan sosok yang suka bermain sejak dulu, ya kebetulan dulu aku anak BEM, sehingga lumayan kenal beberapa orang dari Fakultas lain, Adit salah satunya.
Kemudian, dengan antusias Adit menceritakan pengalamannya kembali ke Jogja setelah hampir 3 tahun lamanya tidak pernah ke Jogja lagi semenjak lulus kuliah. Sampai entahlah aku tidak ingat lagi ada berapa nama makanan kekinian dan tempat wisata baru yang disebutkan oleh Adit, hingga saat aku tersadar ketika pesawat sudah akan landing di Soekarno Hatta. Kutengok sosok Adit disebelah, ternyata dia juga masih terlelap. Mungkin dia kelelahan menceritakan banyak sekali hal kepadaku, perjalanannya lima hari empat malam di Jogja. Kuperhatikan kostumnya menuju Jakarta pagi ini berbeda denganku. Dia hanya menggunakan jaket jeans warna hitam dengan kaos abu didalamnya, celana jins abu dan sneaker warna merah.
Dia kerja dimana ya? Bajunya bisa nyantai gitu
Mungkin nanti saat sudah mendarat bisa kutanya.
Berlanjut di angin selanjutnya..









