Aku adalah apa yang akan kamu sesali kelak. Perihal hadirku yang berulang kali kau abaikan. Seindah itu karma memainkan perannya Tuan.

JBB: An Artblog!
cherry valley forever
hello vonnie
Stranger Things
No title available
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
we're not kids anymore.
h
RMH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

❣ Chile in a Photography ❣
Xuebing Du
Misplaced Lens Cap
Today's Document
YOU ARE THE REASON

oozey mess
Three Goblin Art
Keni
No title available

seen from Pakistan

seen from Malaysia
seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Norway
seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from India
seen from Lithuania

seen from United States

seen from Germany
seen from Switzerland
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Lithuania
@qkykiki
Aku adalah apa yang akan kamu sesali kelak. Perihal hadirku yang berulang kali kau abaikan. Seindah itu karma memainkan perannya Tuan.
Aku bertahan dan tak pernah berpaling bukan karena tak ada yang lebih menarik, melainkan karena sesuatu paling mahal yang pernah kumuliki adalah kesetiaan.
— Taufik Aulia
Satu alasan kau dimaafkan, adalah meskipun kau tidak akan pernah berubah, ia masih berharap dan berdoa untuk hal yang sama.
: Bahwa cintanya yang besar membuatmu tersadar.
Tia Setiawati
The way they leave, tells you everything.
Mungkin yang sedang terjadi sekarang adalah kebalikan dari kata-kata di atas.
Gimana sih rasanya ninggalin keluarga yang kamu sayang dan menyayangi kamu? Sediih. Pasti.
Campur aduk rasanya ketika mengambil keputusan yang membuat sedih orang lain. Hey, tapi kamu bukan alasan buat mereka bahagia. Jadi, keep calm, semuanya baik-baik aja.
Satu hari, saya mendapatkan wejangan dari orang yang berharga dalam hidup saya. Ingin rasanya ceritain dari awal sampai akhir cerita beliau, tapi ini akan sangat membosankan jika anda mengetahuinya lewat tulisan. Karena mendengarnya langsung dari sang narasumber yang penuh ekspresi dan hari2 padat membuat menjadi orang paling beruntung di dunia ini.
Saya coba merangkum satu per satu, detik per detik dari nasihat-nasihat menjelang pertemuan-pertemuan yang tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat.
Dek, kesuksesan pria itu tidak diukur dari seberapa cantik wanita-nya, seberapa pintar wanita-nya, pun seberapa kaya wanita-nya. Tapi,
kesuksesan seorang pria itu diukur dari seberapa tulus wanita-nya. Tulus mengajaknya berbuat kebaikan, tulus menemaninya bagaimanapun kondisi kehidupan mereka, dan tulus menerimanya seburuk apapun masa lalunya.
Saya punya teman. Pengusaha muda, keturunan jepang. Dia menceraikan istrinya yang sejejar dengan kehidupannya (dalam artian, istri yang sangat cantik, pintar, tamatan s2 luar negeri, kaya) demi menikahi seorang perempuan asal sukabumi yang rendah hati. Sang pria adalah muallaf yang tidak rajin beribadah, saat upacara pernikahan keduanya, tak ada satu pun wakil keluarga dari pihak pria, kecuali saya. Meski saya bukanlah keluarga sesungguhnya, dan entah apa alasan sang pria untuk tetap menikahi perempuan tsb, padahal sangat ditentang oleh pihak keluarga pria. Beberapa tahun berlalu, dan saya mulai kaget dengan perubahan dari pria tsb yang notabene adalah mantan atasan sekaligus teman akrab saya. Beliau menjadi rajin beribadah, rajin solat jumat dan sekarang menggunakan jenggot.
Akhirnya saya sadar, ternyata alasan beliau meceraikan istri pertamanya adalah karena sang istri sangat individualis. Bahkan untuk sekedar menjenguk sang Bapak yang sakit pun enggan. Ternyata setelah menikahi istri kedua, hdup sang prian berubah menjadi lebih dekat dengan Allah dan menjadi menantu kesayangan mertua.
Kamu tau kan sekarang, kenapa kebanyakan pria memilih wanita yang cantik hatinya untuk dijadikan istri?
Dan mungkin, kebanyakan pria juga akan memilih wanita yang cantik parasnya untuk dijadikan pacar.
Namun, sayang. Saya hanya mengenal satu wanita di dunia ini, istri saya.
TIDAK SEKUAT ITU
Orang yang kau pikir kuat itu, tak sekuat yang kau bayangkan.
Senyumnya di hadapanmu, bukan karena ia kuat, bukan. Ia hanya tidak senang saja, melihat orang lain sedih karenanya.
Ketabahannya di hadapanmu, bukan karena ia tangguh, bukan. Ia hanya tak mau saja, nampak lemah di hadapanmu.
Diamnya di hadapanmu, bukan karena ia tak punya masalah, bukan. Ia hanya tak mau saja, menambah beban pikiranmu yang nampaknya juga punya masalah.
Tapi, ia tak sekuat yang kau bayangkan.
Ia manusia biasa, ia juga merasakan kesulitan.
Banyak hal yang mampu membuatnya merasa bahwa dunia itu tidak adil, banyak hal yang mampu membuatnya merasa bahwa apa yang ia lakukan itu salah, banyak hal yang mampu membuatnya bersedih, bahkan untuk sekedar senyumpun, ia enggan.
Ia manusia biasa, ia juga berkeluh kesah.
Hanya saja, kau tak pernah tahu. Karena segala masalahnya, ia ceritakan hanya pada-Nya.
Di atas hamparan tempat ia bersujud, ia lampiaskan segala kesalnya, masalahnya, keluhnya, kesahnya, kekhawatirannya, kesedihannya, ia lampiaskan segalanya kepada Tuhan-Nya. Dinginnya malam selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengeluarkan segala hal yang mengganjal di hatinya.
Bukan, bukan karena ia tidak mau bersosial, bukan. Hanya saja, ia tidak mau menambah beban teman-temannya dengan menceritakan segala permasalahnya. Dan baginya, itu merepotkan orang lain.
Bukan, bukan juga karena ia sok suci, bukan. Tapi baginya, itu sudah cukup menenangkan jiwanya. Karena ia paham, Tuhan tidak membalas jawaban hamba-Nya dengan sebuah obrolan, tapi melalui cara-cara mengejutkan. Yang pasti, ia percaya, apapun bentuknya, pastilah jawaban Tuhan itu selalu terbaik.
Orang-orang yang nampak kuat itu, tidak sekuat yang kau bayangkan.
Ia manusia biasa, Ia juga seorang hamba, maka ia pun tak lepas dari ujian-Nya.
TIDAK SEKUAT ITU Bandung, 15 Januari 2018
TAK PERLU RISAU SAAT DOAMU BELUM DIJAWAB ,INI PENJELASANNYA!
Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga. Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang dia pengin, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran.
Akhirnya, dia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah dia permasalahan yang sedang dihadapi. Tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan.
Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana? Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula.
Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kamu suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela. Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz.
Pak ustadz pun tersenyum. begitulah nak. Allah ketika melihat engkau, yang sholeh, datang menghadap-Nya, Allah betah ndengerin doamu. Melihat kamu. Dan Allah pengen sering ketemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Allah, ngasih apa yang kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia pengen nahan kamu biar khusyuk, biar deket sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepet dikabulin, apa kamu bakal sedeket ini?
Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan kemungkinan besar jauh lebih besar dari apa yang kamu minta. Beda sama temenmu itu. Allah gak mau kayaknya, dia deket-deket sama Allah. Udah dibiarin biar bergelimang dosa aja dia ini. Makanya Allah buru-buru kasih aja. Udah. Jatahnya ya segitu doang. Gak nambah lagi. Dan yakinlah, kata pak ustadz, kalaupun apa yang kamu minta ternyata gak Allah kasih sampai akhir hidupmu, masih ada akhirat, nak. Sebaik-baik pembalasan adalah jatah surga buat kita. Nggak bakal ngerasa kurang kita di situ.
Saudaraku, mari beristighfar, jika kita sempat berprasangka buruk kepada Allah.
Padahal Allah betul-betul amat menyayangi kita, dengan caranya.
Yakinlah, saat doa kita belum dikabulkan hari ini, bulan ini, bahkan sudah beberapa tahun, itu karna Alloh masih pengin dengerin doa-doa indah kita. Dan tinggal kita tunggu, apa hadiah terindah yang sudah Alloh siapkan.
Tak usah bersedih saat belum diberi, karna yang telah diberi, belum tentu lebih indah
Sahabatmu Ayu Paramita
Drama Para Penuntut Ilmu
Pada dasarnya setiap manusia dipenuhi rasa “ingin” , baik diwujudkan dalam keinginan dunia maupun akhirat. Memiliki pendidikan tinggi adalah wujud keinginan yang kujaga semangatnya sejak 5 tahun belakangan ini. Keinginan itu menguat usai bertemu alumni yang bagiku memiliki prestasi gemilang, tak hanya dalam akademiknya saja namun juga pengalaman yang dia peroleh selama berjuang memperoleh gelar M.Sc. Cerita singkat tentang seorang alumni itu: dia berasal dari keluarga yang ekonominya biasa saja, puluhan tahun dibesarkan oleh seorang ibu yang luar biasa seorang diri. Kami pernah beberapa kali bertemu karena sempat diintensifkan oleh waktu untuk keperluan penelitian selama hampir 3 bulan. Kesan dirumah alumniku itu sangat hangat dan saling mendukung, kebiasaan shalat berjamaah di masjid dan hal-hal kecil yang saling mereka lakukan barangkali menjadi salah satu kekuatan yang mereka miliki untuk menjalani masa-masa sulit. Dia selalu menjadi inspirasiku dalam melangkah, mulai dari bagaimana menjadi mahasiswa bimbingan dosen killer jaman S1 yang kebetulan sama, berjuang mendapatkan beasiswa di UGM, sampai drama tesis yang berkepanjangan dan lagi-lagi dibimbing dosen yang sama. Sekarang aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi dia waktu itu yang sudah pasti tak mudah dan tak indah seperti orang-orang kebanyakan lihat. Walaupun pencapaianku hari ini belum seperti dia namun aku bersyukur memiliki kesempatan-kesempatan luar biasa menuju hal-hal yang kuingini dalam 5 tahun terakhir. Kami sudah tak lagi saling berkabar, terakhir kutahu dia sedang menjalani studi S3 di University of Cologne yang (mungkin) bersama istrinya.
Seandainya hari ini kami masih saling berkabar, akan kuceritakan bagaimana 5 tahun ini aku menjalani hari-hari. Emm mungkin lebih tepatnya mengeluhkan keadaan yang bisa jadi dia mengalami tekanan lebih berat dari apa yang kualami. Hal sulit itu bermula dari nilai modul metode penelitianku yang tidak sesuai harapan sehingga menghancurkan nilai IPK yang dari awal modul kupertahankan mati-matian diatas 3.5. Kekecewaan besar lagi-lagi terjadi akibat ketemu professor “killer” dan berujung pada lanjutan penelitian yang harus diobrak-abrik sesuai keinginan beliau. Cobaan? Aku mengerti semua adalah bagian dari proses belajar. Proses menuju kata “terima” dan melangkah lagi tidaklah mudah bagiku. Baru saja hampir berdiri tegak berdiri, kuingin berlari kencang mengejar ketertinggalan namun dipatahkan lagi dengan sebuah “perpisahan itu”. Namun Allah Maha adil mengatur hidupku dengan menggantikan semua kesedihanku dengan teman-teman baru dalam project pekakota, beasiswa tesis dan kesempatan conference ke Bali , walaupun sampai detik ini pun kewajibanku belum selesai juga. Allah memantaskanku memperoleh gelar M.Sc dengan berbagai cara. Tekanan tidak hanya berasal dari tuntutan akademik namun juga keluarga besar, masalah materi, juga asmara.
Ada masa dimana aku benar-benar merasa berjuang sendirian, tak satupun yang memahami jatuh dan bangkitnya aku menghadapi semua ini. Seorang kawan selalu meyakinkanku itu adalah prosesku dibentuk menjadi “sesuatu” yang tentunya pasti berharga sebanding dengan apapun yang telah kutempuh. Tekanan-tekanan yang menempa akan membentuk wujud terbaik untukku dikemudian hari. Aku lelah menanggapi pertanyaan kapan lulus? kok lama lulus? kuliah ngapain aja? bla bla bla….semua pertanyaan menyudutkanku dan banyak pula kalimat-kalimat negatif yang mau tak mau sampai juga ke hati. Mungkin memang dasarnya aku yang sangat perasa dan pemikir, benteng pertahananku untuk cuek terhadap pemikiran orang lain masih belum kokoh.
Gambar diatas adalah tiang-tiang kuat penyokong gedung perpustakaan. Beberapa bulan ini aku merasa kamar kosan adalah ruang paling tepat untukku melepaskan penat, ruang-ruang belajar di perpustakaan pusat adalah tempat paling nyaman untukku mengasah produktifitas. Bagaimana dengan rumah? Kepulangan adalah keinginan yang sengaja paling kuhindari. Bukan sekali, dua kali aku harus kembali ke jogja dengan airmata. Menangis disepanjang perjalanan sempat jadi rutinitas. Semoga Allah mengganti airmata yang jatuh bersama doa-doa yang kupanjatkan di setiap perjalanan.
Masjid Kampus, punya ruang tersendiri dalam perjalananku menuntut ilmu. Aku lelah menjalani perjuanganku yang hampir usai, sudah bosan dan kadang “masa bodoh” dengan apa yang terjadi pada hidupku setelah ini. Dan lagi-lagi Allah mengujiku dengan jadwal ujian yang sudah 3x gagal karena kesibukkan beliau dan lebih pahitnya lagi aku harus membayar SPP semester depan “padahal tinggal ujian”.
Aku lemas menghadapi kenyataan, aku tahu berapa orang akan kecewa menerima kenyataan ini. Terlebih aku, perjuanganku selama ini rasanya sia-sia demi mengejar ujian di bulan desember dan kemungkinan baru bisa ujian bulan depan. Soal materi aku percaya Allah akan memampukan, kalau memang ini adalah sebaik-baiknya hari dimana aku memang pantas dinyatakan lulus.
Di Masjid Kampus sore itu, aku ingat kembali perjalananku untuk sampai disini dan menuntut ilmu ditempat ini.
Dulu banyak orang meragukanku, meragukan kemampuanku (akal), meragukan kemampuan keluargaku (materi) untuk bisa masuk UGM dan lulus dari UGM. Perlahan aku membungkam perkataan mereka dengan apa yang bisa kulakukan, berjuang memperoleh beasiswa menjadi salah satunya, bukan tentang nominal uang yang kudapat namun “status” yang melekat mengangkat derajat orang-orang pejuang mimpi sepertiku ini, berangkat conference ke Bali “sendirian” juga bagian caraku meyakinkan anggapan yang salah karna telah meragukan kemampuanku.
Apalagi setelah ini?
Masih menjadi teka-teki mengapa Allah seolah-olah menahanku lebih lama dijogja?
Mengapa Allah masih menginginkanku memperoleh status mahasiswa?
Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan “mengapa” yang tidak bisa kusebutkan.
Aku yakin, semua akan diaturkan pada waktu yang tepat. Dan proses “menjadikanku pantas” diwujudkan dengan cara yang beragam. Sekarang saatnya merengek ke Allah bahwa aku pantas. Menjalani, menghadapi semua kenyataan ini adalah media untuk meyakinkan Allah bahwa aku pantas mendapatkan gelar M.Sc. Matematikanya Allah nggak ada yang tahu. Kalau mungkin besok aku harus bayar 5 juta cuma untuk sekedar penantian jadwal ujian saja, kan kita gatau lalu Allah ganti dengan apa. Pekerjaan yang mapan misalnya. Wallahualam.
Man Jadda Wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung)
Man Saaro ‘Alaa Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)
(Untukmu yang sama-sama sedang berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya, hadapi apapun yang sedang kau tempuh. Meski sulit dan sepahit apapun itu. Karna itulah caramu meyakinkan Sang Pencipta memperoleh apa yang kamu inginkan. Dan bagi para penuntut ilmu lainnya, mungkin ceritaku tak serumit yang kalian hadapi namun inilah sekiranya yang bisa aku bagi. Dari lembar-lembar referensi yang mungkin sedang kalian baca percayalah bukan semata-mata wujud isi otak mereka tentang konsep atau materi penelitian, didalamnya terselip cerita-cerita berharga yang dialami pembuatnya. Satu dengan lainnya tak akan sama kadar kesulitannya. Cukup hargai karyanya dengan tidak membandingkan tulisan A lebih baik dari B. Atau menilai tulisan orang dengan kalimat “penelitiannya cuma gitu?’ Percaya atau tidak itu sangat menyakiti hati penulisnya (curcol). Suatu saat akan kutularkan ilmu dan semangat ini kepada para mahasiswaku kelak, jika Allah mempercayakan tanggungjawab itu kepadaku)
Kurasa masa depan jauh lebih menyenangkan untuk dibayangkan jika kamu yang jadi terakhirku. Memelukmu, menciummu, memilikimu setiap hari tanpa harus takut akan kehilangan lagi.
(via mbeeer)
Tulus
Ada cinta yang jauh lebih tulus pada mereka-mereka yang mencintai padahal tidak bisa memiliki. Ada hati yang begitu besar mau berbagi pada mereka-mereka yang diam-diam mencintai hati yang telah dimiliki oleh orang lain. Ada juga jiwa-jiwa yang begitu ikhlas tak kunjung mendapatkan meski sehari-harinya menemani kemana pun tubuh itu pergi. Cinta terkadang memang seperti itu. Yang jauh lebih tulus ada pada mereka-mereka yang justru tak bisa untuk saling memiliki.
Seorang wanita memikirkan masa depan sampai mereka mendapatkan suami. Seorang pria tak pernah memikirkan masa depan sampai mereka mendapatkan istri.
Seorang wanita hanya perlu mengenal seorang pria dengan baik, untuk mengerti semua pria. Sedangkan seorang pria mungkin mengenal semua wanita, tetapi tidak mengerti satupun dari mereka.
— Allan & Barbara Pease, Why Men Lie and Woman Cry
Dunia tak boleh tau kamu sedang babak belur. Dunia hanya boleh tau kamu masih tegak dan tak hancur selepas badai menerjang.
— Taufik Aulia
Menemukan ini dari postingan teman, rangkuman salah satu kajian ustadz Adi Hidayat. Entah siapa yang buat ini, tapi MasyaAllah bermanfaat, semoga menjadi catatan amal kebaikan.
Tak akan ada wanita yang lebih tabah dalam mencintaimu selain aku. Yang rela mendengar kamu bercerita tentang semua senang sedihmu bersamanya di masa lalu.
Sesekali mungkin kau melihatku tersenyum getir, entah harus memberi respon seperti apa. (via lookitasari)
Selalu ingatlah, ketika kau memutuskan untuk mengabaikannya, berarti kau sedang mengajarkannya satu hari tambahan untuk bisa hidup tanpamu.
(via mbeeer)
Antusiaslah pada setiap liku perjalanan hidup. Sekalipun bertemu susah dan musibah, tetaplah antusias, tetaplah curiga, bahwa di depan sana ada kejutan yang entah apa, yang telah Allah siapkan sebagai buah dari kesabaranmu.
— Taufik Aulia
Terlalu banyak manusia yang usil ikut campur urusan orang lain di bumi tercinta kita ini, Kelana.
Mungkin aku dan kamu salah satunya.
Merasa berhak menilai, mengatur, hingga mendikte kehidupan mereka.
Padahal siapalah kita. Pemilik embus napasnya saja bukan. Yang membiayai keperluannya saja bukan.
Bahkan orang tua yang membiayainya sejak usia satu tahun saja belum, tidak memiliki hak untuk itu. Alih-alih bisa membeli hidup anaknya, lebih baik membukakan mata anaknya atas apa yang hedak ia jalani untuk meminimalisir penyesalan di kemudian hari.
Kita merasa memiliki kuasa untuk ikut campur. Angkuh berlagak sebagai utusan Tuhan untuk mengubah jalan orang lain, bagai pemain catur yang memindah-mindahkan buah caturnya.
Sedangkan ketika kita menjadi korbannya, kesal luar biasa.
Semoga ke depannya kita bisa mengurangi sikap-sikap yang ketika kita memosisikan sebagai korban pun kita tidak suka, seperti merasa terlalu berhak ikut campur dengan urusan orang lain.
Keinginanku takpernah banyak dari dulu. Bila takpercaya, boleh tanya orangtuaku. Saat yang lain mulai ramai dengan telepon genggam, aku mereka tawari pun, hanya diam. Termasuk tentang kamu. Di antara berisik, di antara marah-marah dan drama, pada akhirnya maksudku hanya satu; rindu.
(via kotak-nasi)