Bayangan semesta kala malam itu tampak menawan diterangi rembulan. Gemercik air dari hulu ke hilir seirama dengan angin malam yang menyejukan dan menghanyutkan perasaan. Sementara indahnya langit malam yang dihiasi ribuan gemintang dan sirius yang tak luput dari pandangan. Siapapun yang menyaksikan lukisan nyata itu tidak akan mudah untuk dilupakan.
Saat itu aku menikmati pemandangan malam dari balik jendela kamar, dengan pikiran dan hati kalut memikirkan sesuatu. Kemarin adalah hari yang tak terlupakan. Wisuda SMA di Pondok Pesantren Darussalam Tasikmalaya, lulus dengan predikat mumtaz dan dipanggil sebagai santri akhir KMI yang rajin setor hafalan Al-Quran. Menurutku itu semua adalah bagian dari prestasi yang sudah aku kerjakan semaksimal mungkin dan suatu kebanggaan yang aku persembahkan untuk kedua orangtuaku yang hadir waktu itu, bahkan ayahku berdiri dan memelukku sambil menangis bangga.
Aku terlahir dari keluarga sederhana tetapi penuh cinta. Untuk itu aku belajar keras supaya mendapatkan beasiswa dan terus melanjutkan sekolahku, sampai pada akhirnya aku mendapatkan beasiswa semenjak SMA. Setelah lulus, malam itu aku dilema, benar-benar dilema. Aku mempunyai cita-cita untuk kuliah di Mesir. Tetapi melihat perekonomian keluarga aku berusaha mencari cara agar bisa kuliah tanpa membebani keluarga. Tetapi Qadarullah orang tuaku bukan tidak mau mengupayakan agar aku bisa kuliah di Mesir, tetapi mereka khawatir karena aku anak perempuan satu-satunya dan pada saat itu memang lagi booming pemboman di sekitar Al Azhar di Mesir, padahal ketika itu sudah daftar untuk mengikuti pelatihan di Al Kuatsar dan izin dari orang tua menjadi syarat terakhir waktu itu.
Aku berpikir kita memang yang memiliki mimpi tetapi hasil bukanlah urusan kita. Kita memang yang memiliki dan menentukan takdir kita masing-masing tetapi kita mengetahui takdir setelah terjadi. Ketika keinginan tidak sesuai dengan keadaan pilihannya Cuma dua, pertama maju, bangkit dan terus berjuang untuk mewujudkan keinginan entah seberapa sulit rintangan yang dihadapi, keadaan memang tidak bisa diubah tetapi bisa dilewati. Kedua mundur terima apa adanya keadaan yang ada, pilihan ada ditangan kita.Yang terpenting dari itu semua adalah poroses dan apapun yang terjadi di masa depan adalah yang terbaik. Salah satu tujuanku ingin kuliah di Mesir adalah aku ingin belajar lebih dalam lagi tentang agama dan kehidupan, disamping itu aku ingin menghafal Al-Quran. Aku sadar aku perempuan, karena itu aku termasuk orang yang memandang pendidikan adalah penting. Tetapi aku juga tidak lupa kultur di masyarakat atau lingkungan dimana aku tinggal yang memandang wanita harus menikah di umur sekian, tidak usah sekolah tinggi-tinggi dan lain sebagainya. Tapi aku tidak ingin membahas itu sekarang. Yang ingin aku katakan adalah motivasi aku berpimpi sejauh ini yaitu kedua orangtuaku dan aku peduli masa depanku. Aku memikirkan duniaku dan juga akhiratku, untuk itu aku memutuskan mengejar akhirat terlebih dahulu dan dunia akan mengikuti, aku tidak melupakan dunia karena memang kita sekarang hidup di dunia tetapi memang rumusnya seperti itu ketika kita mengejar akhirat duniapun akan mengikuti.
Hingga akhirnya sampailah aku menjadi yang sekarang. Kuliah mendapatkan beasiswa dan aku Mahasiswi semester 7 di STIQ Al-Multazam. Aku asli Tasikmalaya dan kurang lebih tiga setengah tahun terakhir ini aku tinggal di Kuningan. Tepatnya di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Al-Multazam.
Anugerah dan rahmat Allah lah yang telah membawaku sampai di kuningan. Disaat doa, harapan dan impian selalu dilangitkan. Tidak peduli seberapa tidak mungkinnya impian, selama ada kemauan dan ikhtiar bahkan Allah akan memberikan lebih dari apa yang kita impikan. Termasuk impianku untuk menghafal Al-Quran semenjak SMP dan baru Allah kabulkan di saat yang tepat yaitu setelah lulus SMA dan pengabdian di pondok. Salah satu motivasi ingin menghafal Al-Quran adalah orangtuaku. Saat itu aku berfikir dan bertekad tidak hanya prestasi dan materi yang harus aku berikan kepada orangtuaku, lebih daripada itu tidak ada yang lebih baik untuk kedua orangtuaku selain surga.
Pendidikan adalah salah satu passion aku. Menurutku pendidikan sangat penting. Di samping itu juga menuntut ilmu adalah perintah Allah dan Rasulnya serta hakikat menuntut ilmu adalah ma’rifatullah. Sebelum mengetahui STIQ Al-Multazam, menggabungkan anatara menghafal dan kuliah adalah pilihan yang tidak mudah, dan ketika itu sempat berfikir “dimana ya tempat menghafal tapi sambil kuliah juga?” “eh kayanya ga mungkin deh ngafal sambil kuliah pasti susah plus ribet”. Lakin biidznillah, Allah SWT menunjukan jalannya hingga sampailah di STIQ Al-Multazam. Dan aku selalu setuju dengan selogan “ Where there is a will there is a way”. Ternyata menghafal sambil kuliah itu ada, ya disini tempatnya di STIQ AL-Multazam, selama menjalani proses keduanya ternyata “nothing is imposible” justru disitulah kita bisa merasakan nikmatnya proses. Sebagaimana perkataan imam syafi’i “Berusahalah, karena nikmatnya hidup ada dalam usaha”
Setelah melewati proses, pengorbanan, dan perjuangan barulah ingat kembali dengan mimpi masa lalu, ketika aku dilema pada malam itu kini terjawab sudah. Bahkan dulu sempat berpikir “ga papalah lanjut ngafal doang, mungkin kuliahnya nanti abis nikah” but see, sekarang aku mendapatkan dua-duanya, menghafal Al Quran sambil kuliah _mimpi aku yang dulu yang dirasa tidak mungkin_
Masa muda masanya berkaya, meniti mimpi, bergandengan banyak pengalaman, menciptakan prestasi baik orientasi duniawi maupun ukhrowi. Tetapi bukan berarti bermimpi terbatas usia dan kondisi, justru kita harus memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan masa muda kita dan belajar banyak hal sebelum menuju fase lainnya yang tentu akan berbeda cerita.
Kesempatan tidak akan datang kedua kalinya, begitulah statment yang sering kali kita dengar. Tetapi faktanya tidak sedikit dari kita selalu mengabaikan kesempatan yang ada karena tidak mau keluar dari zona nyaman.
Berani bermimpi berawal dari pandangan terhadap tujuannya, yang mana setiap dari kita mempunyai pandangan masing-masing. Dan yang terpenting setelah kita menyusun mimpi adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya entah itu berfikir keras, bekerja keras, dan berdoa keras.
Dan pelu diingat, tidak bisa kita melihat hasil sebelum berposes. Dalam berposes akan kita dapatkan banyak hal, hikmah, pelajaran yang bahkan bisa melebihi dari apa yang kita impikan. Karena itu nikmatilah prosesmu, saksikan dan bangga akan keberhasilanmu, serta jadilah isnpirasi bagi orang lain.
Shinta Dewi Fazriyanti. Lahir di Tasikmalaya (Jawa Barat) pada 3 oktober 1998. Suka membaca dari SD dan mulai suka menulis sejak SMA. Masih menempuh jenjang pendidikan strata satu. Shinta bisa dihubungi melalui instagram @Shintafaz