Takdir? Jodoh? Atau Kebetulan?
Hay tumblr.
Hari ini ada sesuatu yang terjadi.
Ini sudah lama sekali ya sejak aku terakhir menulis?
Hmm...jika aku melihat ke belakang, banyak sekali cerita tentang dia yang kutulis di sini.
Kemarin, tanggal 3 Februari 2016 terjadi sesuatu yang selalu aku harapkan.
Ini pertemuan tidak terduga kami yang ke sekian kalinya sejak 8 tahun silam.
Aku bertanya-tanya. Apakah ini takdir? Apakah ini jodoh? Atau hanya sebuah kebetulan?
Setelah tragedi kacamata, akhirnya aku mengganti frame kaca mata. Aku pergi ke ITC Depok ditemani Panjul. Awalnya kami janjian setelah dzuhur. Karena masih ada yang belum nemenin Eyang Uti, akhirnya jadwal janjian kami mundur sampai jam 2. Karena Uti–dia mau mengembalikan flashdiskku–diantar adiknya jam 4, akhirnya jadwal janjian aku dan Panjul mundur sampai jam setengah 3.
Aku sampai di ITC Depok sekitar jam 3an. Sebelum ke toko kacamata, aku mencari galeri indosat dulu karena ingin menukarkan chip kartu indosat yang lama dengan yang baru. Menurut google, galeri Indosat ada di lantai 2 ITC Depok atau di daerah Margonda. Aku mengecek yang ada di lantai 2 ITC Depok, ternyata tidak ada. Hufh! Aku melanjutkan pencarian dengan mencari toko kacamata. Setelah mendatangi beberapa toko kacamata, kuputuskan untuk memilih frame di salah satu toko. Bolak balik aku bertanya pada sang penjual, meminta pendapat pada Panjul, mencoba berbagai frame dan akhirnya pilihanku jatuh pada frame warna hitam dengan gradasi merah. Uti mengabari bahwa dia sudah sampai di ITC. Kami bertemu. Dia mengembalikan flashdiskku. Aku dan Panjul merayunya untuk ikut bersama kami ke Fat Bubble. Dia tergiur. Hahahha. Di ITC kami berpisah. Uti mencari sesuatu, sedangkan aku dan Panjul melihat beberapa mukena. Minggu depan adalah ulang tahun Umi. Aku dan adikku sudah sepakat untuk membelikan beliau mukena. Setelah tawar menawar dengan penjual, akhirnya kudapatkan mukena itu.
Oh iya, sebelum ke galeri indosat, aku sempat tertarik dengan beberapa sepatu. Sebenarnya sih tergiur karena harganya Rp. 100.000,00 dapat 3 :”))) Setelah mendapatkan mukena, aku kembali ke toko sepatu tersebut. Ukuran sepatuku biasanya 36, tetapi begitu dicoba 36 di toko tersebut masih kebesaran untuk kakiku dan ukuran terkecilnya 36. Akhirnya tidak jadi beli sepatu. Mungkin nanti aku beli crocs saja.
Destinasi selanjutnya adalah fat bubble, tetapi sebelum ke fat bubble aku ingin ke galeri Indosat dulu di daerah Margonda. Sepanjang jalan aku menengok ke kanan, tetapi tidak menemukannya. Huuuu...abang-abang konter bilang galeri indosat ada di sebelah kanan di daerah pesona kayangan. Karena tidak menemukan galeri indosat, aku fokus mencari fat bubble. Sampai detos terlewat, fat bubble masih belum kelihatan. Aku dan Panjul memang belum pernah ke fat bubble, yang kami tahu fat bubble sebelum detos. Jadi kemungkinan kami sudah melewati fat bubble.
Uti bilang Uti sudah sampai di fat bubble. Aku menanyakan lokasi fat bubble. Uti bilang dekat daebak fan cafe. Oke, kami langsung cus ke sana. Ternyata, kami memang tidak melihat fat bubble sebelumnya karena pada saat kami melewati fat bubble, kami sedang menengok ke kanan mencari galeri indosat.
Awalnya kami duduk di lantai 1, tetapi kemudian kami pindah ke lantai 2. Kami memilih bangku untuk 6 orang. Sambil memesan minuman dan deesert, kami selfie-selfie. Maklum, ini pertama kalinya kami ke fat bubble. Hahahaha. Pesanan kami datang. Aku memesan caramel kopi bla bla bla. Rasanya manis. Enak.
Beberapa saat kemudian, Indah datang. Dia langsung memesan dan kami menambah pesanan pizza. Kami menghabiskan cukup lama di fat bubble. Selain selfie-selfie, kami juga cerita-cerita. Sebenarnya aku sih yang cerita. Hahaha. Aku cerita tentang cowok yang buat aku baper dan cowok yang tidak bisa kumoveon hahahha!!!
Aku bertanya pada Uti, “Nyokap gue menikah umur 22 tahun. Kalau gue nggak bisa move on move on gimana ti?”
Uti menjawab, “Emang kalau nyokap lo menikah umur 22 tahun lo harus menikah umur 22?”
Uti tidak menanggapi pertanyaanku yang tentang move on. Hmm...sebenarnya aku sudah sering menanyakan pertanyaan itu.
Setelah makanan dan minuman habis, aku meminta bill. Kami menghitung makanan yang harus dibayar masing-masing. Karena aku belum bayar, aku memutuskan untuk membayar billnya. Dengan pedenya aku berjalan menuju kasir. Mas-mas pelayan di lantai 2 memberitahu bahwa kasir ada di lantai 1. Aku turun ke bawah. Belum sampai lantai 1, aku terpana. Aku melihat seorang wanita paruh baya. Wajahnya tampak familiar. Dan di depan beliau ada someone who I have crush for a long time!! Posisi dia pas sekali. Dia menghadap ke arahku. Seandainya dia menoleh, dia pasti melihatku. Aku terpaku beberapa detik. Setelah itu aku langsung berlari ke lantai atas. Suara sepatuku sepertinya bergema di tangga. Duh!!! Saat itu pasti aku terlihat memalukan, tetapi aku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun kecuali kabur dari situ. Supaya dia tidak melihatku. Huuuuh, aku payah ya :( Aku memikirkannya setelah kejadian itu berakhir. Aku masih seperti anak kecil. Aku masih belum bisa mengendalikan perasaanku. Aku melakukan sesuatu yang memalukan :(((
Aku kembali ke teman-temanku dan mengatakan bahwa di bahwa ada dia. Mereka tidak percaya. Tentu saja, aku juga tidak percaya kalau aku tidak menyaksikannya langsung. Ini...seperti drama. Pertemuan macam itu, bagaimana mungkin terjadi dalam kehidupan nyata? Aku menolak untuk bayar ke bawah. Aku takut dia melihatku. Uti menawarkan diri untuk membayar ke bawah, tetapi aku juga ingin ikutttt. Akhirnya, sebelum ke bawah, aku memutuskan untuk ke kamar mandi dan merapikan jilbabku. Well, what the hell I’m doing here!
Ketika aku dan Uti ingin turun, Panjul memanggil. Panjul bilang sekalian pulang aja. Huuuuu, sebenarnya masih mau bertahan tapi apa daya waktu sudah terlalu lama. Aku mengambil tasku. Aku memperingatkan Indah untuk tidak menyapanya. Pokoknya jangan menyapanya!!! Aku berjalan di belakang Indah dan dibelakangku ada Panjul. Sementara yang berjalan paling depan dan memegang bill Uti dan adiknya, Riyan. Dag dig dug!! Sebentar lagi aku akan melewatinya. Sekali lagi, aku memperingati Indah untuk tidak menyapanya.
Oke, aku harus pura-pura sibuk. Aku harus berpura-pura untuk tidak melihatnya. Aku mengambil hape di tas dan memainkannya sambil berjalan melewatinya. Drama abis kan!!!!! Begitu tiba di depan kasir, ekspreksiku kalang kabut. Huah!!! Rasanya mau teriak sekencang-kencangnya.
Aku bertanya pada Indah, “Waktu lo lewat, dia nengok nggak? Kalian saling liat-liatan?”
Aku juga menanyakan hal yang sama pada Panjul. Jawaban Indah dan Panjul sama, ya liat biasalah kalau orang lewat terus dia ngelirik gitu.
Aku menanyakan hal itu lagi. Sebenarnya bukan karena tidak percaya. Entahlah, aku hanya ingin menanyakannya lagi. Indah balik bertanya, “Emang penting banget ya buat lo?”
Iya penting banget! Hahaha.
Dan semua itu berakhir begitu saja. Setelah sekian tahun aku selalu berharap untuk pertemuan tidak terduga. Setelah 6 tahun menyimpan rasa. Setelah akhirnya kuungkapkan hati yang kujaga. Setelah akhirnya dia mengenalku. Setelah akhirnya kami temenan di path twitter ig facebook. Setelah semua itu, semuanya berakhir begitu saja. Sekarang berbagai pertanyaan datang menghantuiku. Kenapa aku tidak menyapanya? Kenapa aku harus melarikan diri seperti itu? Kenapa oh kenapa....
Dan tentang apa yang sudah terjadi, seperti pertanyaan yang sudah kuajukan di atas? Apakah ini takdir? Apakah ini jodoh? Atau hanya sebuah kebetulan?
Kalau aku berangkat setelah dzuhur, mungkinkah pertemuan ini terjadi?
Kalau aku mampir ke galeri indosat yang ada di jalan margonda, mungkinkah pertemuan ini terjadi?
Kalau aku tidak beli mukena dan tidak lihat-lihat sepatu, mungkinkah pertemuan ini terjadi?
Kalau aku tidak share momen ke path, mungkinkah pertemuan ini terjadi?
Kalau aku tidak bayar bill ke bawah, mungkinkah pertemuan ini terjadi?
Kalau aku tidak pergi pada hari Rabu 3 Februari 2016, mungkinkah pertemuan ini terjadi?
Perbedaan takdir, jodoh dan kebetulan adalah tentang bagaimana seseorang mempercayainya. Menurut kalian bagaimana?
Nb. Untung dia tidak pergi bersama pacarnya atau siapapun cewek yang sedang dekat dengannya. Karena kalau sampai itu terjadi, well oh well.....mungkin pipiku akan kebanjiran.















