(32) (Bertahan dgn Api) Aku membuka mata dan melihat jarum jam mengarah keatas dan kebawah. Mereka berselisih, aku yakini bahwa ini pagi. Ingatku, malam kemarin aku menenggaknya terlalu banyak. Seketika saja aku tersenyum. Rasanya terlalu nikmat untuk aku rangkaikan kalimat. Rasanya begitu hangat sehingga anggapku air itu seperti keramat. Kau berkata dia jahat, bukankah lebih jahat ketika beranjak tanpa berujar atau hilang tak terlihat? Mereka bilang dia membakar, sekarang aku merasa dia lebih hangat dari peluk yg hanya sebentar. Kemudian khalayak berargumen bahwa dia membawa penyakit dgn sejuta muslihat yg membuat raga merasakan bebas, baiklah, aku mengiyakan ini. Tahukah bahwa nikotin mengandung 40 dan (bahkan) lebih penyakit berbahaya? Mereka cuma diam dan bersikeras bahwa minuman keras yg aku tenggak sangat menjerat. Ayolah, menjadi diri sendiri saja tak disukai,bagaimana berlakon menjadi org lain? Aku tak mau dianggap munafik. Aku akan memberi gambaran tentangku; pribadi yg ingkar dgn Tuhan. Aku tak mencintai Tuhanku dgn tulus, makanya Dia membuat siapapun perempuan yg (pernah) singgah hanya sebatas mampir. Bagaimana aku bisa menyayangi dan taat kepada Hawa, aku saja bukan hamba yg Taat. Begini saja, labeli saja aku apapun. Aku menerimanya dgn kerelaan walaupun setengah mabuk. Biarkan aku memanas dan melepuh tubuh bagian dalamku. Setidaknya alkohol tak membuatku jatuh tersungkur, berdarah perasaan dan menyakiti hati. Bukankah ketika kau lara, ada hati dan liver yg sakit (juga) . . .? #quote #quotes #katakata #kata #cumakatakata #cumakata #literasi #bukanpuitis #bukanpenulis #bukanmotivasi #bukanpenyair #bukansastrawan #bukanseniman #penikmatkata #penikmatseni #malang #puisi #sajak #cumapuisi #cumasastra #sastra #sastraindonesia #coretan #aksimenulis #ayomenulis #gerakanmenulis #tulisanamatir #belajarmenulis #serdaduaksara #raisme (di Malang)