Rumah yang Akhirnya Bernapas
Akhirnya rumah itu berdiri. Bukan di Hiri. Bahkan bukan di tempat yang sejak awal kami bayangkan. Rumah itu berdiri di sebuah lereng yang setiap pagi diselimuti kabut. Tidak terlalu tinggi hingga menusuk dingin, tetapi cukup sejuk untuk membuat embun bertahan sampai matahari hampir naik sepenggalah.
Dari beranda depan, sawah-sawah bertingkat turun mengikuti lekuk bukit. Di kejauhan, hutan pinus menjadi garis hijau yang seolah memeluk langit.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya kayu. Lantainya sebagian semen yang dipoles sendiri setiap beberapa bulan sekali. Sebagian lagi tentu kayu yang bisa membuat rumah tetap hangat saat udara dingin datang. Atapnya seng, sehingga ketika hujan turun, suaranya menjadi lagu yang selalu membuat kami memilih diam, lalu saling tersenyum.
Tak ada pagar tinggi. Yang membatasi halaman hanyalah pohon-pohon kopi, beberapa rumpun pisang, tanaman cabai, tomat, serai, lengkuas, kunyit, dan bunga-bunga yang kamu tanam hanya karena ingin lebah tetap datang.
Di samping rumah ada kandang ayam. Tidak banyak. Belasan ekor saja. Sebagian besar ayam pedaging, sebagian lagi ayam petelur. Harapannya, ayam-ayam itulah yang sesekali memenuhi kebutuhan protein kami. Agar anak² tetap cerdas, katamu.
Di belakangnya, kolam ikan yang airnya mengalir langsung dari mata air kecil di atas bukit. Airnya begitu jernih hingga dasar kolam terlihat jelas. Ikan mas, nila dan gurami berenang tenang, seolah mereka pun tahu tak ada yang sedang mengejar waktu di tempat ini.
Di sisi lain sedikit agak jauh, berdiri kandang kambing yang bersebalahan dengan sepasang sapi sedang mengunyah rumput dengan sabar. Kamu pernah berkata, sambil tertawa, bahwa sapi mengajarkan satu hal yang tidak pernah diajarkan kota: menikmati waktu tanpa merasa bersalah. Aku tidak pernah lupa kalimat itu.
Rumah itu akhirnya ramai. Bukan karena tamu. Melainkan karena lima pasang sandal kecil yang selalu tertukar.
Setiap pagi dimulai jauh sebelum matahari muncul. Belum ada suara ayam kedua ketika lampu dapur sudah menyala. Seperti biasa, aku yang lebih dulu bangun. Membisikkan Kalimat sederhana setiap pagi dengan lembut ke kupingmu, "Bangun sayang, sebentar lagi subuh". Kamu pun selalu sama, agak manja untuk selalu kuajak bangun, tapi tetap beranjak menuju dapur.
Lalu, suara ulekan mengaduk cabai menjadi alarm paling setia di rumah itu. Tak lama kemudian aroma bawang putih yang ditumis bercampur dengan harum nasi yang baru matang memenuhi seluruh rumah.
Aku masih menyiapkan pakan ayam ketika satu per satu pintu kamar mulai terbuka. Anak pertama sibuk mencari kaus kaki. Anak kedua kehilangan buku matematika. Anak ketiga sudah selesai mandi, tetapi lupa menyisir rambut. Yang keempat masih mengucek mata sambil memeluk guling. Si bungsu... seperti biasa, sibuk mengejar anak ayam di halaman.
Rumah menjadi gaduh. Tapi gaduh yang membahagiakan. Tak ada pagi yang benar-benar rapi di rumah dengan lima anak. Dan kami tak pernah berusaha membuatnya begitu.
Sebelum berangkat sekolah, mereka mempunyai tugas masing-masing. Ada yang mengambil telur dari kandang. Ada yang memetik kangkung di belakang rumah. Ada yang mengisi tempat minum ayam. Yang paling kecil bertugas memberi makan ikan. Meski lebih sering makanan ikannya justru dilempar terlalu banyak hingga ikan-ikan itu terlihat kebingungan.
Kamu selalu tertawa melihatnya. "Biarkan saja," katamu. "Belajar mencintai itu memang sering berlebihan."
Selepas mengantar mereka ke sekolah, hidup kembali tenang. Aku menuju sawah. Embun masih menggantung di pucuk padi. Air mengalir pelan melewati pematang. Kakiku tenggelam dalam lumpur yang dinginnya selalu berhasil menghapus sisa-sisa penat.
Dulu aku mengejar angka di layar. Sekarang aku mengejar musim. Dulu satu sentuhan jari bisa menghilangkan tabungan bertahun-tahun. Sekarang satu genggam benih mampu memberiku harapan berbulan-bulan. Tanah tidak pernah menjanjikan hasil. Tetapi tanah selalu jujur. Ia hanya memberi sesuai apa yang dirawat.
Menjelang siang, dari kejauhan aku melihatmu. Topi capingmu terlalu besar untuk wajahmu. Di tanganmu ada rantang aluminium bertingkat. Langkahmu pelan menyusuri pematang, berhati-hati agar kuah di dalam rantang tidak tumpah.
Entah mengapa... aku selalu merasa pemandangan itu lebih indah daripada matahari. "Kemari," kataku sambil menunjuk saung bambu di tepi sawah.
Saung itu kecil. Lantainya masih dari bilah-bilah bambu yang kadang berbunyi ketika diinjak. Atapnya Dari rumbai jerami kering sisa panen tahun lalu. Angin bebas keluar masuk dari segala arah.
Di depan kami, hamparan padi bergoyang mengikuti arah angin, seperti lautan hijau yang tidak pernah selesai mengucapkan syukur.
Aku duduk. Bajuku penuh lumpur. Celana basah sampai lutut. Telapak tanganku kasar.bKamu hanya tersenyum. Lalu mengeluarkan satu per satu isi rantang. Nasi hangat.
Ikan nila bakar untukku dari kolam belakang rumah. Sepotong ayam bakar untukmu, karena kamu Masih tidak bisa makan ikan. Ikan Masih tetap teman, di mana pun ia berada, katamu. Tempe dan tahu goreng tak luput jadi sajian. Sepiring lalapan—kemangi, timun, daun singkong rebus, dan mentimun kecil yang pagi tadi kamu petik sendiri.
Terakhir...sambal. Masih segar. Masih hangat karena baru saja diulek. Aroma terasi bercampur cabai rawit dan tomat membuat perut yang sejak pagi bekerja akhirnya menyerah. "Pedas," katamu mengingatkan. Aku mencicipinya. Lalu tertawa. "Kalau sambalnya begini, sebakul nasi juga habis." Kamu ikut tertawa. Tidak keras. Hanya tawa kecil yang selalu berhasil membuat dunia terasa lebih pelan.
Kami makan dengan tangan. Tanpa tergesa. Sesekali angin membawa aroma padi. Sesekali terdengar burung pipit turun mencuri bulir yang mulai menguning. Tak ada restoran yang bisa menandingi makan siang itu. Bukan karena lauknya. Tetapi karena setiap gigitan terasa seperti hasil dari hidup yang kami bangun bersama.
Aku memandangmu yang sibuk menambahkan sambal ke piringku. Lalu berkata dalam hati, barangkali beginilah rupa bahagia selama ini. Ia bukan rumah besar. Bukan rekening yang terus bertambah. Bukan liburan ke tempat-tempat jauh. Bahagia ternyata duduk di sebuah saung bambu, dengan baju yang masih kotor oleh lumpur, tangan yang masih kasar oleh cangkul, dan seseorang yang tanpa diminta tahu bahwa sambalku harus sedikit lebih banyak.
Dan di bawah langit pegunungan yang teduh itu, aku akhirnya mengerti... kami tidak pernah benar-benar mencari tempat. Sejak awal, yang kami cari hanyalah cara hidup yang membuat kami tetap saling memilih, setiap pagi, sesederhana apa pun keadaannya.












