"Morning New" by Lensa Kecil.

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from South Africa
seen from China

seen from Hong Kong SAR China
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
seen from China

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from Greece
seen from Germany

seen from Italy
"Morning New" by Lensa Kecil.
Baru beranjak dewasa.
Kedewasaan itu terlihat dari keputusan-keputusan yang telah dibuat. Bentuk tanggungjawab yang dilalukan setelahnya. Kata yang selaras dengan perbuatan. Hati yang sejalan dengan perkataan.
Tak perlu takut. Tidak semua orang harus kau bahagiakan.
resah adalah pintu untuk rasa berat lainnya. sialnya, akan sulit ditutup begitu terbuka. bahkan celah kecil sekalipun.
memelena
Gelap
Manusia selalu dihadapkan pada sisi gelap. Ketika kita kecil, kita takut gelap. Bukan karena kondisi gelapnya yang kita takutkan, tapi kita takut sama hantu atau monster yang ada dalam suasana gelap.
Gak beda jauh sebenernya ketika kita dewasa. Kegelapan itu masih menghantui kita. Bukan takut karena hantu atau monster lagi pastinya. Gelap dalam rupa kesepian, kekecewaan, penolakan, pengkhianatan, penyesalan. Bahkan jauh lebih menyeramkan.
Tapi, sekali kita berhasil melewati semua kegelapan itu, kita akan terbiasa menghadapi gelap, bisa mengontrolnya, bisa menemukan tombolnya. Kita tau cara menyalakan lampu, menemukan titik terang dari kegelapan. Hingga kita tersadar, bahwa kita gak sendirian menghadapi kegelapan ini.
Potret Memori | Jakarta, 14 September 2020
#79 Sebahagia Itu
Ya, sesederhana itu ternyata untuk menjadi bahagia
Tak harus selalu sempurna, tak harus selalu ideal sesuai rencana
Pada akhirnya, akan selalu ada titik yang mengingatkan kita kembali
Membuat kita kembali menenun definisi bahagia dalam hati
Bahwa bahagia selalu sederhana, selalu tentang apa-apa yang ada disekeliling kita
Entah itu keluarga, sahabat, atau bahkan hewan dan benda-benda yang kita punya
Karena bahagia sungguh tentang menikmati setiap prosesnya, menikmati tiap titik balik perjalanan yang ada
Meski banyak ketidaksempurnaan dibaliknya, dengan begitu banyak luka didalamnya
Dan yaaa, kadang menjadi orang yang sebahagia itu adalah tentang melihat kembali
Bahkan walau hanya sekadar melihat kebahagiaan orang lain yang amat sederhana
Yang membuat kita sejenak bertanya, "Hanya begitu saja bahagia?"
Ternyata, bahagia memang sederhana, mungkin kita yang terjebak dalam dilema sempurna untuk mendapatkannya
Bahkan walau hanya setitik kebaikan kita pada yang lainnya, sangat berarti dan menyenangkan tanpa kita sangka
Jadi, jangan meremehkan hal-hal sederhana ya, karena bisa jadi, ada begitu banyak 'rasa bahagia' dibaliknya
Mungkin masih terasa hambar untuk kita, tapi siapa tahu suatu saat nanti kita malah jadi pecinta kelezatannya
Ditulis di malam ke dua puluh sembilan Dzulhijjah 1441 H
Cilacap, 8 Agustus 2020 (22.45)
Mereka menyebutnya keluarga
Bagiku ini sebatas tinggal serumah
Dari kecil aku penasaran bagaimana kehangatannya
Bagaimana rasanya mengeluh, menyampaikan apa yg dirasa
Terkadang iri, melihat yg lain
Ingin juga dipeluk, didengarkan, ditenangkan, dihapus air mata
Tapi hanya diabaikan, dianggap remeh, disepelekan
Beranjak remaja aku berpikir
Ada, sebatas ada
Berjalan satu arah
Tidak hanya diperintah, juga ingin didengar
Tidak hanya dilarang, juga ingin diajak bertukar pikiran
Di lingkungan sekitar, tidak berani mengambil tindakan
Ingin berteman, tapi merasa dimanfaatkan
Ingin menjauh, tapi merasa sendirian
Ditertawakan, tapi tidak punya kekuatan melawan
Kini dewasa, aku lelah
Mencoba menjalin hubungan - percintaan
Merasa tidak percaya diri, merasa tidak pantas
Sulit percaya pada orang lain, sulit terbuka
Berulang kali mencoba namun kandas sebelum memulai
Beberapa kalipun kandas ketika masih seumur jagung
Apa ada yg sanggup menghadapi yg seperti aku?
Suatu ketika membaca tulisan
"Cara seseorang menjalin sebuah hubungan percintaan, mencerminkan bagaimana hubungannya dalam keluarga"
Ingin menyerah, bagaimana jika hidup sendiri saja?
.
Surat Cinta Untuk Adik-Adik Ku Tersayang.
Wahai adik-adikku tersayang, bisakah kalian duduk sejenak untuk membaca surat cinta ini? Sebentar saja, hanya sekadar berbagi isi hati.
Dik, tahu kah kau? Bahwa lebih kurang, 19 tahun yang lalu, telah lahir seorang anak lelaki tampan dari Rahim suci Ibunya. Pun sekitar 12 tahun yang lalu, dimana seorang anak wanita cantik hadir memberi keceriaan di dunia ini.
Hari terus berganti dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Mereka yang dahulu terlihat mungil, lucu dan seringkali tangisnya membawa kegemasan, kini telah tumbuh menjadi seorang lelaki remaja yang gagah dan juga gadis remaja yang begitu mempesona.
Dik, menjadi seorang Kakak merupakan salah satu anugerah terindah dan juga amanah besar yang telah Allah titipkan kepadaku.
Sebagai seorang Kakak yang lebih dahulu lahir di Dunia ini, membuatku lebih mengenal bagaimana gemerlap kehidupan bertebaran di luar sana, yang teramat sarat akan tajamnya taring-taring kehidupan. Taring-taring yang selalu menganga dan suatu waktu bisa saja menerkamu dengan penuh keberingasan.
Wahai adikku tersayang,
Jika suatu saat aku melarangmu untuk pergi sendiri dimalam hari, kumohon jangan merasa terkekang. Tersebab aku tahu betul bagaimana kegenitan dan mara bahaya tengah mengancam diluar sana.
Jika suatu saat aku memintamu berhenti untuk bermain handphone, kumohon jangan merasa kesal. Tersebab sungguh rugi mereka yang acap kali membuang-mebuang waktu untuk hal yang tidak berguna.
Jika suatu saat engkau sedang lelah, tertidur lelap kemudian aku membangunkanmu untuk menunaikan sholat, kumohon jangan merasa terganggu. Tersebab hukuman Allah itu sungguh berat bagi hamba-hambanya yang lalai.
Jika suatu saat aku memarahimu atas perbuatanmu, kumohon jangan merasa tersinggung. Tersebab aku tak ingin engkau terjerumus dalam jurang-jurang keburukan.
Dik, renungkanlah pesanku ini. Perhatikanlah fenomena-fenomena di seklilingmu. Sudahkah kau menyadarinya?
Tertanda, Kakak mu.
.
.
.
[Karawang, 22 Jumadil Akhir 1441 H]