Never been as happy to look langit senja :)
(via https://www.youtube.com/watch?v=hRk1p5e34Ns)
$LAYYYTER

ellievsbear

tannertan36
Lint Roller? I Barely Know Her

❣ Chile in a Photography ❣
Doug Jones
RMH
tumblr dot com
No title available

titsay
cherry valley forever

No title available
Noah Kahan

roma★
untitled
ojovivo

Product Placement
Cookie Run:Kingdom Official!
todays bird
Misplaced Lens Cap
seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Lithuania

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from United States
@rara-ratna
Never been as happy to look langit senja :)
(via https://www.youtube.com/watch?v=hRk1p5e34Ns)
Makna 100 Years.. Makna Sebuah Ironi.. pesan utama perihal prinsip dalam pemanfaatan waktu…
Dalam salah satu buku yang berjudul, “7 Habits for Highly Effective Teens” karya Sean Covey, disana menerangkan perihal langkah-langkah bayi. Yakni langkah - langkah kecil untuk membentuk suatu kebiasaan. Sebuah panduan yang sangat bagus untuk menjadi pribadi yang efektif. Baiklah, saya masih belum dan sangat jauh untuk menjadi pribadi efektif, masih terus berusaha ke arah sana,, tapi tak ada salahnya untuk sedikit saya share bukan? Agar kita sama - sama bisa jadi pribadi yang lebih baik.
Nah, yang ingin saya share kali ini adalah langkah bayi untuk Langkah 0 -Paradigma dan Prinsip, langkah kedelapan: dengar lirik musik yang kalian senangi dan maknai dalam prinsip-prinsip hidup.
untuk kali ini saya tertarik Memaknai sepenggal lirik 100 years lagunya Five For Fighting… Sebuah lagu hits jadul tapi punya makna sangat dalam yang tak lekang oleh waktu, karena maknanya memang sangat berkaitan dengan waktu..
cekidootttt…
*I’m 15 for a moment Caught in between 10 and 20 And I’m just dreaming Counting the ways to where you are.
“Di sini, si someone (yang untuk mewakili “manusia berumur 100 tahun” yang jadi tokoh utama di lirik lagu) sedang berusia 15 tahun. Di umur segitu, sedang labil-labilnya lah ya kurang lebih.. makanya disebut “terperangkap antara umur 10 dan 20″.. 10 untuk mewakili unsur kekanakan, 20 untuk usia dewasa. Intinya, masih dalam fase mencari jati diri”
*I’m 22 for a moment She feels better than ever And we’re on fire Making our way back from Mars.
“Si someone udah berusia 22. sudah mulai dewasa, mulai galau untuk mencari pasangan hidup, diwakili dengan kata kias "she”. sedang semangat-semangatnya (on fire) dalam merancang masa depan".
*15 there’s still time for you Time to buy and time to choose Hey 15, there’s never a wish better than this When you only got 100 years to live.
“Nah, sudah masuk Reff untuk pertama kali,, dan karena ini inti pesannya.. jadi di loncat dulu lah ya.. kita bahas di akhir nanti”.
*I’m 33 for a moment Still the man, but you see I’m a they A kid on the way A family on my mind.
“Si someone udah masuk kepala 3. Masih menjadi seorang yang maskulin berjiwa matang dengan istilah "man”, tapi dengan tanggung jawab keluarga. Makanya disebut “you see I’m a they”. “They” adalah kata untuk jamak, maksudnya diliat sebagai seorang pemikul keluarga.. Sudah mulai dibebankan dalam kepengurusan anak (keluarga) dan pikiran mulai terfokus untuk kepentingan family".
*I’m 45 for a moment The sea is high And I’m heading into a crisis Chasing the years of my life.
“Then, si someone sudah berusia 45. Cobaan hidup mulai meninggi, terutama pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan ”(the sea is high)“, mulai menghadapi yang namanya krisis. Anak sudah beranjak dewasa, perlu biaya pendidikan dan uang saku yang tinggi. Sehingga setiap saat seperti dikejar waktu untuk menghadapi memuncaknya kebutuhan itu. Kalau dianalogikan, Dan ketika saya mendengar lirik ini dengan sedikit mengubah sudut pandang melihat dari sisi orang tua saya sendiri.. tak terasa menitikkan air mata. Ibu dan Bapak memang sepertinya sedang menghadapi kompleksitas masalah. Walaupun dari dulu saya tidak pernah meminta uang saku, tapi tetap saja orang tua akan selalu terpikir untuk memberi (tentu untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin besar)”.
*Half time goes by Suddenly you’re wise Another blink of an eye 67 is gone The sun is getting high We’re moving on…
“Nah, si someone sudah melewati setengah usianya. Tiba - tiba sudah jadi orang bijak yang sudah mengecap banyak asam garam kehidupan. Usia mulai beranjak, penglihatan (baik secara definitif kemampuan mata atau secara konotatif terhadap kehidupan) udah sedikit kabur. 67, jelas itu sudah memasuki masa pensiun. Si someone merasa pelita hidupnya (anak, cucu, keluargalah) sudah mulai meninggi, sudah menghadapi kompleksitas mereka sehingga terkadang merasa mereka sangat jauh (kesepian). Tapi waktu masih terus berjalan..”
*I’m 99 for a moment Dying for just another moment And I’m just dreaming Counting the ways to where you are.
“Si someone sudah 99 tahun. Yakni artinya???? tinggal 1 tahun lagi sisa hidupnya. Tinggal menanti datangnya ajal. Dan di saat seperti inilah, ingin rasanya mengulang lagi apa yang sudah diberikan oleh waktu,, menghitung jalan untuk bisa muda lagi, bisa menikmati hidup lebih baik lagi. Sudah hampir 100 tahun, tapi rasanya itu tak cukup. Ingin dan ingin rasanya hidup lagi. Sedih sekali ya kalau kita memposisikan diri kita sendiri didalam kondisi seperti ini??? Then, kita bahas "Reff” dari lirik lagu yang jadi pesan utama tentang prinsip pemanfaatan waktu…"
****** Reff *****
*15 there’s still time for you Time to buy and time to choose Hey 15, there’s never a wish better than this When you only got 100 years to live.
“Saat kita sedang terperangkap antara sifat kekanakan dan kedewasaan (digambarkan dengan umur 15), sebenarnya di situlah waktu krusial. Waktu di mana kita bisa memahami, mencoba dan memaksimalkan apa sih yang jadi potensi kita, then waktunya untuk memilih jalan hidup yang kita mesti jalani dengan penuh tanggung jawab. Agar tidak menyesal di kemudian hari, terlebih di hari tua. Bahkan ketika kita diberi umur 100 tahun sekalipun, kita akan sadar bahwa nikmat umur dan waktu sangatlah berharga… berapapun umur dan waktu yang diberikan Allah SWT…Kita tak tahu apakah umur kita 100 tahun, 63 tahun, 33 tahun, 22 tahun atau bahkan hanya 15 tahun. Semuanya akan sama saja jika kita tidak dapat memanfaatkan umur kita sebaik baiknya, Tentu saja kita akan “terjebak oleh kebutuhan” atau “terjebak oleh waktu” seperti deskripsi di atas, dikala begitu maka di akhir-akhir kita akan merasakan sebuah penyesalan. Akan menjadi suatu ironi tentunya. Detik ini adalah waktu terbaik… Hari ini adalah hari terbaik untuk kita bisa memanfaatkan waktu tentu dengan sebaik - baiknya… Prinsip yang semestinya kita pegang. Bismillah.. Semoga kita bisa jadi insan yang senantiasa menghargai dan memanfaatkan waktu” Aamiin.
100 Years | Five For Fighting
Time flies so fast like these, Everyday’s a new day!!
Sudah sangat lama suka lagu ini & baru sekarang benar-benar appreciate with this songs. No matter how many years we’re blessed by, live the best for today. Next question is what will I do When you only got a hundred years to live? #hardthings
It’s never easy to let go. Or is it? Most of us would agree that there are few things harder than letting go of what we love. And yet, sometimes that’s exactly what we have to do. Sometimes we love things that we can’t have. Sometimes we want things that are not good for us. And sometimes we love what Allah does not love. To let go of these things is hard. Giving up something the heart adores is one of the hardest battles we ever have to fight.
But what if it didn’t have to be such a battle? What if it didn’t have to be so hard? Could there ever be an easy way to let go of an attachment? Yes. There is.
Find something better.
They say you don’t get over someone until you find someone or something better. As humans, we don’t deal well with emptiness. Any empty space must be filled. Immediately. The pain of emptiness is too strong. It compels the victim to fill that place. A single moment with an empty spot causes excruciating pain. That’s why we run from distraction to distraction, and from attachment to attachment.
In the quest to free the heart, we speak a lot about breaking our false dependencies. But then there’s always the question of ‘how?’ Once a false attachment has been developed, how do we break free? Often it feels too hard. We get addicted to things, and can’t seem to let them go. Even when they hurt us. Even when they damage our lives and our bond with God. Even when they are so unhealthy for us. We just can’t let them go. We are too dependent on them. We love them too much and in the wrong way. They fill something inside of us that we think we need…that we think we can’t live without. And so, even when we struggle to give them up, we often abandon the struggle because it’s too hard.
Why does that happen? Why do we have so much trouble sacrificing what we love for what God loves? Why can’t we just let go of things? I think we struggle so much with letting go of what we love, because we haven’t found something we love more to replace it.
When a child falls in love with a toy car, he becomes consumed with that love. But what if he can’t have the car? What if he has to walk by the store every day, and see the toy he can’t have? Every time he walks by, he would feel pain. And he may even struggle not to steal it. Yet, what if the child looks past the store window and sees a Real car? What if he sees the Real Ferrari? Would he still struggle with his desire for the toy? Would he still have to fight the urge to steal it? Or would he be able to walk right past the toy—the disparity in greatness annihilating the struggle?
We want love. We want money. We want status. We want this life. And like that child, we too become consumed with these loves. So when we can’t have those things, we are that child in a store, struggling not to steal them. We are struggling not to commit haram for the sake of what we love. We are struggling to let go of the haram relationships, business dealings, actions, dress. We are struggling to let go of the love of this life. We are the stumbling servant struggling to let go of the toy…because it’s all we see.
This whole life and everything in it is like that toy car. We can’t let go of it because we haven’t found something greater. We don’t see the Real thing. The Real version. The Real model.
Allah (swt) says,
“What is the life of this world but amusement and play? But verily the Home in the Hereafter- that is life indeed, if they but knew.” (Qur’an, 29:64)
When describing this life, Allah uses the Arabic word for ‘life’: . But, when describing the next life, Allah here uses the highly exaggerated term for life, . The next life is the Real life. The Realer life. The Real version. And then Allah ends the ayah by saying “If they but knew”. If we could see the Real thing, we could get over our deep love for the lesser, fake model. In another ayah, God says:
“But you prefer the worldly life, while the Hereafter is better and more enduring.” (Qur’an, 87:16-17)
The Real version is better in quality ( خير) and better in quantity ( أبقى). No matter how great what we love in this life is, it will always have some deficiency, in both quality (imperfections) and quantity (temporary).
This is not to say that we cannot have or even love things of this life. As believers, we are told to ask for good in this life and the next. But it is like the toy car and the real car. While we could have or even enjoy the toy car, we realize the difference. We understand fully that there is a lesser model (dunya: coming from the root word ‘daniya’, meaning ‘lower’) and there is the Real model (hereafter).
But how does that realization help us in this life? It helps because it makes the ‘struggle’ to follow the halal, and refrain from the haram easier. The more we can see the Real thing, the easier it becomes to give up the ‘unreal’—when necessary. That does not mean we have to give up the ‘unreal’ completely, or all the time. Rather it makes our relationship with the lesser model (dunya) one in which if and when we are asked to give something up for the sake of what is Real, it is no longer difficult. If we are asked to refrain from a prohibition that we want, it becomes easier. If we are asked to be firm in a commandment that we don’t want, it becomes easier. We become the matured child who likes to have the toy, but if ever asked to choose between the toy and the Real thing, see a ‘no-brainer’. For example, many of the Prophet’s companions had wealth. But when the time came, they could easily give half or all of it for Allah’s sake.
This focus also transforms what we petition for help or approval. If we’re in desperate need of something, we will appeal to the servant—only when we don’t see or know the King. But if we’re on our way to meet that King and we run into His servant, we may greet the servant, be kind to the servant, even love the servant. Yet we will not waste time trying to impress the servant, when there is a King to impress. We will never waste effort appealing to the servant for our need, while the King is the One in control. Even if the King had given some authority to the servant, we’d know very well that the power to give and take rests ultimately with the King—and the King alone. This knowledge comes only from knowing and seeing the King. And this knowledge completely transforms how we interact with the servant.
Seeing the Real thing transforms the way we love. Ibn Taymiyyah (RA) discussed this concept when he said:
“If your heart is enslaved by someone who is forbidden for him: One of the main causes for this miserable situation is turning away fromAllah, for once the heart has tasted worship of Allah and sincerity towards Him, nothing will be sweeter to it than that, nothing will be more delightful or more precious. No one leaves his beloved except for another one he loves more, or for fear of something else. The heart will give up corrupt love in favor of true love, or for fear of harm.”
One of our greatest problems as an ummah is as the Prophet told us in a hadith: wahn (love of dunya and hatred of death). We’ve fallen in love with dunya. And anytime you are in love, it becomes next to impossible to get over that love or separate from it—until you are able to fall in love with something greater. It is next to impossible to dislodge this destructive love of dunya from our hearts, until we find something greater to replace it. Having found a greater love, it becomes easy to get over another one. When the love of God, His messenger and the Home with Him is really seen, it overpowers and dominates any other love in the heart. The more that love is seen, the more dominate it becomes. And thereby the easier it will be to really actualize the statement of Ibraheem (AS):
“Say, ‘Indeed, my prayer, my service of sacrifice, my living and my dying are for Allah, Lord of the worlds.’” (Qur’an, 6:162)
So in letting go, the answer lies in love. Fall in love. Fall in love with something greater. Fall in love with the Real thing. See the Mansion.
Only then, will we stop playing in the dollhouse.
NIKMAT SUJUD
By. Satria hadi lubis
Orang tua itu susah payah untuk bisa sujud. Penyakit punggung yg telah menderanya sekian lama membuatnya tidak bisa sujud saat sholat. Jika dipaksakan, ia akan kesakitan sampai mengaduh. Matanya berkaca-kaca karena tidak bisa sempurna untuk menjalankan sholat. Terlebih lagi, ia baru saja bertobat untuk menjalankan sholat lima waktu ketika usianya sudah senja.
Subhanallah. ..sungguh nikmat sholat itu justru ketika kita bisa berlama-lama sujud sambil berdoa dan meminta ampun kepada Allah swt. Menyungkurkan wajah yg angkuh ini sambil menangis mengakui kekurangan dan kebodohan atas rahmat-Nya yg tak terkira.
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (Qs. 17:107).
Namun lelaki tua yang saya jumpai itu tak lagi dapat melakukannya. Ia telah kehilangan salah satu nikmat Allah, bisa bersujud.
Padahal sujud adalah saat dimana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya. “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya)” (HR. Muslim).
Di saat sujudlah, seorang hamba bisa mengadu, berkeluh kesah dan meminta bantuan atas berbagai cobaan hidup yg dialaminya. Saat sujud, rasa galau berganti menjadi ketenangan. Pesimis berganti menjadi optimis. Tangis putus asa berganti menjadi senyum harapan.
Namun nikmat sujud itu hilang dari lelaki yang saya jumpai di mesjid itu. Posisi yang paling dekat antara dia dengan Tuhan yang Maha Pengasih telah hilang dan menjadi cobaan baginya. Walau dipaksakan sampai merintih kesakitan untuk sujud, tetap ia tak bisa melakukannya.
Sungguh manusia butuh sujud. Saya tak dapat membayangkan betapa sedihnya hati ini jika suatu ketika saya tak bisa sujud seperti lelaki tua itu. Hilang sudah saat-saat indah berdekatan dgn Allah. Hilang sudah kenikmatan berlama-lama menyungkur pasrah menguatkan jiwa seperti yg dilakukan Umar ra atau orang besar lainnya. Dengan berbekal sujud, mereka tampil perkasa di panggung dunia.
Sayangnya.. nikmat sujud ini justru sering diabaikan oleh mereka yang masih mampu bersujud. Sujud mereka kilat dan tak sempurna. Hal itu bukan saja membuat sholat tidak khusyuk, tapi juga membatalkan sholat. “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak mengenakan hidungnya ke tanah sebagaimana kenanya dahi.” (HR. Ad Daruquthni, no. 1335 dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalah).
Lebih celaka lagi jika ada orang yg mengabaikan kenikmatan sujud dengan jarang melakukan sholat. Sholat lima waktu diabaikannya. Inilah orang yang kufur atas nikmat sujud dan sombong terhadap Allah.
Wahai saudaraku ….belumkah tiba bagimu waktu untuk bersyukur dengan nikmat sujud? Apakah engkau baru sadar setelah tak mampu lagi bersujud? Atau baru menyesal setelah Allah memaksamu bersujud (dengan kematian yang menyakitkan)? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُون
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami) mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri” (Qs. 32:15).
✔️ MENGHUTANGI TERKADANG MELEBIHI PAHALA BERSEDEKAH
(Ustadz Abu Riyadl Nur Cholis Majid, Lc)
TAHUKAH ANDA…
BAHWA MENGHUTANGI TERKADANG MELEBIHI PAHALA BERSEDEKAH..
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. bersabda,
“Aku melihat pada malam aku diisro'kan, di atas pintu surga tertulis ‘Satu sedekah dilipatkan 10 kalinya, dan meminjami hutang dilipatkan 18 kalinya’.”
HR. Ahmad IV/296), At-Tirmidzi ibnu hiban (5074) dan dishahihkan Albani dalam Al—Misykah (1917).
Subhanallah..
Betapa besar keutamaan orang meminjami uang..
Karena meminjami uang itu resikonya didunia dengan tak dibayar.. (Dibawa kabur)
Namun diakhirat..anda dapat menagihnya jika belum dibayar. Entah dengan meminta pahala dia untuk anda atau menimpakan dosa anda untuknya.
Yang jelas uang anda tersebut pasti akan membuahkan hasil keutungan bagi anda diakhirat jika si penghutang tidak membayarnya..
Tanpa syarat ikhlas atau tidak.. Karena itu adalah hak.. Hak yang akan anda panen..
Tidak ada syarat ikhlas disini..
Beruntunglah mereka yg uangnya sampai di alam akhirat masih dihutang orang..
Dan sangat merana orang yang kembali kepada Allah tapi masih membawa hutang..
#SemogaBermanfaat
Jatuh Cinta Itu Tidaklah Mudah.
Jatuh cinta itu tidaklah mudah.
Kau harus mampu berdamai lebih dulu dengan masa lalu. Kau harus belajar menutup luka menganga yang berkali-kali terbuka hanya karena sebuah lagu, rintik hujan, atau bahkan kenangan yang sepintas lewat di kepala.
Setelah itu kau harus mengalahkan ketakutkan-ketakutan untuk jatuh di lubang yang sama. Membuang jauh-jauh praduga-praduga di kepala perihal ketakukan akan mengalami kegagalan yang serupa. Menyampingkan rasa sakit di dalam hati yang padahal selalu menusuk-nusuk di setiap detiknya.
Lalu kau mulai berjudi dengan diri sendiri, tentang sebuah rasa dalam taruhan besar yang bernama jatuh cinta. Berspekulasi tentang resiko-resiko jika kembali membuka hati kepada orang yang tak kau kenal sebelumnya.
Lantas setelah semua hal-hal itu berhasil dilalui, kau mulai berani untuk membuka hati lagi.
Maka janganlah seenaknya pergi setelah berhasil membuat seseorang kembali berani membuka hatinya. Perjuangannya tak sebercanda itu! Bagi sebagian orang, jatuh cinta itu tidaklah mudah.
Escape
Aku dah delete kebanyakan tulisan aku dekat tumblr ni. Termasuk asks asks dan sebagainya. Include all my stupid confessions about bitches,ex and so on.
Aku deactivated facebook. Block certain contacts and leave groups. All i need right now is a time and space for myself.
I’m now at the lowest bottom of the world,and please let me stay here. Just don’t pick me up to the real life because i don’t know where did i go wrong. Or i’m gonna do the same mistakes again. Let me stay here,back off from me. I’m broken,sick and nothing. Stop expecting high from me because i’m now ‘happy’ enjoying my catastrophe.
Leave me alone. Just let me be alone.
I need nobody to comfort me right now. I’ll be okay even i don’t know when it will be.
Just, Leave me alone.
Thanks 😔
Mempersoalkan takdir- Menjauhkan diri dari Tuhan- Sudah-sudahlah.. Cukuplah-cukuplah kita menzalimi diri sendiri.
Ya Allah, jika memang ada jalan buat saya, maka mudahkanlah
Mba Reisha Humaira
Ketika semua ikhtiar sudah disempurnakan, maka bersandarlah padaNya. Dan rasanya ketenangan seakan menjalar ke seluruh badan. Kita ikhlas dan kita lapang, hasil akhir, apapun itu, itulah yang terbaik. Yakin.
(via jurnalramadhan)
Do'a Minta Agar Diteguhkan dalam Islam INI DO'A PENTING! Kita lihat kenyataan banyak yang paginya islam kemudian sore dia kafir. Banyak yang siangnya islam malamnya sudah kafir dan mati dalam kekafiran… wal'iya dzubillah… Jangan merasa aman dengan diri kita… selalu minta pertolongan Allah… Agar tetap diteguhkan hati ingatlah sebuah do’a yang selalu dibaca oleh Nabi. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ » “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’ (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shohihul Jami’) Ya Hayyu, Ya Qoyyum. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin.
Selalu ada kemudahan untuk orang yang bersungguh-sungguh. Dalam hal apapun itu. Masalahnya, terkadang kita harus diuji dulu, untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan sesuatu dan mengusahakannya. Banyak orang yang gagal dalam ujian kesungguhan. Belum selesai, tapi terburu-buru menginginkan kemudahan. Padahal bisa jadi kita memang belum sampai pada puncak kesungguhan kita. Padahal bisa jadi, kita memang belum layak mendapatkan hadiah kemudahan itu. Saat suatu hari nanti hidup kamu terasa sulit, artinya pada saat itu kamu harus meningkatkan kesungguhan kamu. Karena kesungguhan adalah jembatan penyebrangan, dari kesulitan menuju kemudahan.
Nazrul Anwar
(via kurniawangunadi)
Bila segalanya masuk akal, doa bisa kehilangan dayanya.
Adimas Immanuel (via etyrd)
DOs & DON’Ts: Yang Harus dan Tidak Boleh Dilakukan Untuk Inspirasi Kreatif
Everyone of us is born creative. Setiap dari kita terlahir kreatif, tantangannya adalah menjadi tetap kreatif saat beranjak dewasa. But again, creativity is a set of skill. Kreativitas bisa dibentuk dengan kebiasaan dan kondisi tertentu.
Dalam melakukan proses kreatif, kita seringkali sangat tergantung dengan kondisi, dan kondisi ini bisa kita bentuk. Berikut adalah infografis dari Entrepreneur.com yang membahas pembentukan kondisi dari hal yang harus VS hal yang tidak boleh dilakukan untuk menjadi kreatif.
1. Be Mindful
Sebenarnya saya ingin menulis dalam bahasa Indonesia, tapi kesulitan mencari padanan kata mindful. Kata yang paling mendekati mungkin adalah khusyuk, terjemahan bebasnya fokus. Tentu kata meditate dalam infografis bukan hanya merujuk pada proses meditasi dengan duduk bersila sambil menutup mata. Sholat dan berdoa pun bisa masuk kategori ini; intinya adalah kegiatan ketika kita bisa sangat menyadari diri kita sendiri. Kegiatan seperti ini yang dilakukan secara rutin setiap hari mampu membantu kita fokus, sehingga proses kreatif dapat mengalir dengan lebih baik.
Dibandingkan harus bergadang semalaman atas nama “mencari inspirasi”, tidur yang cukup dan bangun di sepertiga malam lebih terbukti menghasilkan proses kreatif yang lebih baik.
2. Mencoba hal Baru, Bukan Menunggu
Tentu kita sering mendengar orang yang menunda pekerjaan lalu beralasan “nanti dulu, lagi nunggu inspirasi”. Inspirasi kreatif itu bukan ditunggu, tapi dicari. Caranya dengan melakukan hal baru. Jika kita seorang saintis yang mencari inspirasi penelitian, cobalah sesekali bermain game atau olahraga. Jika kita seorang penulis, cobalah sesekali traveling atau nonton film. Kebuntuan dalam kreativitas umumnya terjadi karena kita terlalu lama melihat masalah dari satu sudut pandang.
Jika mengalami kebuntuan, selalu luangkan waktu untuk melakukan hal-hal baru agar otak kita terbiasa mendapatkan sudut pandang baru.
3. Percaya Diri, Tapi Jangan Kerja Sendiri
Percaya pada kemampuan diri adalah salah satu komponen penting dalam kreativitas. Kreativitas dibutukan untuk memecahkan masalah, dan percaya pada kemampuan diri sendiri sudah menjadi setengah dari solusi masalah yang kita hadapi.
Tapi jangan kepedean, orang kreatif tak pernah bisa membuat karya besar dengan bekerja sendiri. Steve Jobs adalah contoh paling nyata; Jobs penuh percaya diri, tapi sejak awal dia bisa menghasilkan masterpiece karena dibantu Steve Wozniak, Mark Markkula, tim Macintosh, dan banyak orang lainnya. Biasakan bekerja dalam tim, karena dengan banyak sudut pandang kreativitas akan lebih berkembang dengan baik.
4. Meneladani, Bukan Berarti Meniru
Inspiration is not imitation. Banyak orang salah dalam menjadikan seseorang sebagai inspirasi. Kita tidak harus menjiplak mentah-mentah yang dilakukannya. Jika Mark Zuckerberg dan Bill Gates sukses karena dropout, bukan berarti kita harus dropout juga.
Yang perlu kita lakukan adalah meneladani, bukan meniru. Saya pernah menulis tentang hal ini di tulisan berjudul Cara Menjadi Kreatif Dengan Mencuri Dari Yang Lain.
5. Percaya pada Semua Kemungkinan
Seorang kreatif harus terbuka pada semua kemungkinan. Salah satu cara melatihnya adalah dengan berkata, “Ya, terus?”. Pertanyaan ini akan terus membuka pikiran kita untuk melihat angle baru dalam mencari solusi suatu masalah.
Yang harus dihindari adalah selalu mengatakan tidak pada suatu kemungkinan tanpa mengujinya terlebih dahulu. Hal ini akan mematikan kreativitas.
6. Eksplorasi, Bukan Berdebat
Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, pekerja kreatif harus berani bereksplorasi kepada berbagai kemungkinan. Bukan sedikit-sedikit mendebat dan menutup kemungkinan dalam menciptakan solusi atau karya.
Itu tadi 6 hal yang harus VS hal yang tidak boleh dilakukan untuk menjadi kreatif. Semoga bermanfaat, salam kreatif!
Menikah, Layak Diperjuangkan
Sungguh menikah itu sesuatu yang layak diperjuangkan. Bukan semata untuk menggenapkan tulang rusuk saja. Atau untuk menghiasi jari manis dengan sepasang cincin bertuliskan nama pasangan di belakangnya. Apalagi sebagai ajang unjuk gigi.
Tapi jauh di atas itu, menikah adalah perintah Allah. Satu alasan yang saya pikir cukup untuk dijadikan sebuah alasan. Karena ini perintah Allah, tentu tersimpan banyak kemaslahatan di baliknya. Dan yang saya rasakan, kemaslahatan-kemaslahatan tersembunyi di balik pernikahan sangat sangat banyak. Beneran.
Sepengalaman saya, menikah itu banyak mendatangkan kebaikan. Seolah pintu-pintu “ketidakmungkinan” yang sewaktu masih sendiri banyak terlintas, setelah menikah satu persatu terbuka dengan sendirinya. Dari arah yang tak disangka. Dan seringkali dari arah yang tidak diduga.
Saya menyaksikan dan merasakan sendiri, penggalan ayat “…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya…” itu benar adanya. Mata, hati, dan tubuh ini menjadi saksi. Bahwa benar, Allah takkan menelantarkan apalagi menyembunyikan apa-apa yang sudah menjadi rezekinya.
Jika rezeki itu berupa materi, sungguh, saya merasakan sendiri bahwa Alhamdulillah hingga saat ini, kebutuhan selalu saja tercukupi. Materi selalu muncul dari pintu yang tak terpikirkan sebelumnya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang dahulu menghantui pikiran, seolah kini berbalik menjadi sebuah pertanyaan: Apa benar dulu saya mengkhawatirkan ini sampai sebegitu khawatirnya?
Sekali lagi. Banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan sedikitpun, tiba-tiba Allah buka semua jalan keluar. Bahkan seringkali, membuat saya sendiri menganga. Dari situ saya belajar makna dibalik kata ‘yakin’. Dan saya juga mempelajari bahwa 'keyakinan’ adalah sesuatu yang sangat berharga.
Sepengalaman saya lagi, menikah juga menarik batas-batas potensi setingkat lebih atas. Saat 'tak boleh egois’, 'harus menjadi pasangan terbaik’, 'bagaimana makan esok hari?’, 'si kecil layak mendapat orang tua terbaik’ berpadu menjadi satu, seolah tulang-tulang yang sebelumnya terdiam kini jadi bekerja dua kali lipat dengan sendirinya. Entah dari mana juga datangnya energi penggeraknya.
Menikah juga mengajari arti empati, keteladanan, fastabiqul khairat, dan romantisme di level yang lain. Eksperimen-pembelajaran-evaluasi yang dilakukan setiap hari bersama pasangan, sedikit demi sedikit menaikan kapasitas diri, baik sebagai personal maupun sebagai pasangan.
Dan yang pasti, menikah itu menenangkan. Saat kamu tahu bahwa saling berpandangan itu berpahala, berpegang tangan berpahala, dan bercanda bersama pasangan itu berpahala, seger banget dah. Lebih seger dari sirup marjan.
Apalagi saat ada buah hati di sisi. Lebih memahami dan merasakan makna 'unconditional love’ dan kasih sayang orang tua. Kelelahan-kelelahan yang didapat saat mencari sesuap nasi seolah sirna seketika sesaat setelah melihat senyum si kecil. Satu senyuman yang menjadi penetralisir semuanya. Semua emosi-emosi negatif yang sedang bergemul dalam dada.
So, menikah itu layak diperjuangkan. Perjalanan hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan jangan dipandang sebelah mata. Serius. Ini bukan tentang harus cepat-cepat menikah atau menunggu keren dulu baru menikah. Ini tentang bagaimana dengan kapasitas yang dipunya, kita merencanakan, mempersiapkan sebaik mungkin, dan memperjuangkan segigih mungkin proses ini hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan suatu saat nanti.
Semangat berjuang.
Zaky Amirullah
Setiap hari Dia dalam kesibukan, mengurus makhluk-Nya, mengampuni dosa, mengijabah doa, meridhai hamba. Sibukkah jua kita pada-Nya?
Salim A. Fillah (via shintarahayu)
Mintalah hati yang lapang, agar seberat apapun titah-Nya, tidak menyisakan gerutu dari lisan kita. Sebab memang hanya mereka yang dilapangkan dadanya yang mau menerima cahaya itu sepenuhnya.
(via kurniawangunadi)
Menghargai Proses
Sadar atau tidak, sedari kecil kita selalu dihadapkan pada sebuah penilaian berbasis hasil. Dari mulai pola asuh orang tua hingga sistem pendidikan formal, seringkali mengaplikasikan penilaian berbasis hasil. Merasakah?
Karena memang, menilai sesuatu dari hasil akan jauh lebih mudah. Parameter-parameter yang dijadikan acuan penilaian pun lebih mudah ditentukan.
Namun tidak selalu menilai sesuatu dari hasil itu baik. Terkadang penilaian berbasis hasil seringkali malah membuat perkembangan diri menjadi stagnan. Terlepas dari hasil yang didapat itu baik atau buruk. Apalagi kalau hasil yang didapat dibanding-bandingkan dengan hasil orang lain. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak pas di hati.
Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dan bermakna dari sebuah hasil, yaitu proses.
Proses memiliki andil yang cukup besar dalam sebuah pencapaian. Dibalik satu hasil yang sempurna, pasti terdapat proses yang berdarah-darah. Bahkan tidak jarang waktu yang dihabiskan dalam berproses cukup lama. Sehingga tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa proses adalah yang sebenarnya patut dihargai. Karena melalui proseslah kemampuan pribadi kita terasah, pengalaman kita bertambah, dan pembelajaran-pembelajaran lain kita dapatkan.
Dan sepertinya, menghargai setiap proses yang telah kita lewati, sesedikit dan sekecil apapun itu, adalah tindakan yang cukup bijak.
© Zaky Amirullah