Mendefinisikan Jogja
Seseorang bertanya kepadaku, “Zy, kalo besok kamu udah bosen di jogja mau pindah kemana?”
Aku terdiam, tak ada jawaban keluar untuk beberapa saat. Kemudian aku menjawabnya, “Entahlah, rasanya aku belum dan tak pernah bosan hidup di sini, Jogja adalah satu-satunya alasan yang membuatku tetap menjadi manusia yang waras”, Setidaknya itu yang aku rasakan sampai saat ini.
Jogja adalah sebuah bagian besar yang mengajariku banyak hal sekecil apapun itu, Dia yang mengajariku tentang hangatnya sebuah sapa kepada siapapun yang bahkan tak kita kenal di tengah hiruk pikuk pagi, dia yang mengajariku untuk tetap tersenyum dan menyimpan umpatan di sela-sela macetnya jalan kaliurang waktu jam pulang kerja, dia yang mengajariku perihal mahalnya sebuah kesendirian saat kita duduk di pojokan meja KFC jenderal Sudirman sembari melihat puluhan anak-anak sekolahan bercengkerama mesra, Dia yang mengajariku arti sebuah persahabatan ketika pukul 2 pagi pulang mabuk dijemput teman karena hasil dari minuman yang dibeli di kios kecil depan kalimilk jalan kaliurang, dia yang mengajariku memahami setiap perpisahan dan pertemuan di stasiun tugu dan lempuyangan saat sore dan adzan maghrib bersahut-sahutan.
Oh iya, tunggu, kau mungkin tak pernah paham bagaimana puitisnya jogja sampai kau mengitari jalur lingkar dari ujung hingga ke ujung saat tengah malam tiba. Jogja tak pernah mengajariku tentang bagaimana kita dihadapkan pada pilihan, menjadi pecundang atau pemenang, yang aku tahu jogja adalah teduh bagi setiap pusaranya. Barangkali jika sempat, tengoklah ke tepian jembatan sungai code jika petang menjelang, kau akan melihat bagaimana cinta tak lebih sederhana dari dua orang yang ngobrol ngalor ngidul tanpa topik yang pasti, hanya ada mereka dan matahari yang menuju peraduannya saat itu juga.
Aku menemukan cinta pada setiap sudut kota ini, pada setiap anak sekolah yang berebut bis jurusan jogja-tempel, pada setiap umpatan ibu ibu yang tergesa-gesa berangkat ke pasar saat pagi buta, pun aku masih tetap menemukan raut lucu pada mereka, pada setiap macet di jalanan pinggir ruko-ruko gejayan, pada setiap peluh yang jatuh menunggu lampu yang tak kunjung hijau di perempatan tugu jogja, pada setiap kafe kafe yang bertebaran menyimpan berbagai macam kenangan di dalamnya, pada senyum bapak-bapak penjaga parkir di sepanjang malioboro yang mengajarkan kita sebuah arti keikhlasan ketika seribu perak mereka perjuangkan di bawah terik matahari, pada setiap legamnya aspal yang menari-nari dari jalanan kabupaten hingga provinsi.
Jogja, adalah sebuah melankoli sekaligus puisi bagi mereka yang mengerti.
















