Euforia rasa. Kolaborasi dua kata ini aku dapatkan dari seorang teman. Ketika diri ini sempat “jatuh” ke seseorang yang terjadi secara tiba-tiba. Hanya bertemu 2 hari dan tak pernah bertemu kembali.
Hal semacam ini biasa aku sebut dengan “klik”. Rasa yang tiba-tiba merasa cocok dengan seseorang. Tapi dengan logika aku berpikir, ini bukanlah rasa “klik”. Rasa ini berbeda dibandingkan yang telah terjadi sebelumnya. Ini adalah fase euforia rasa.
Aku adalah orang yang suka bertanya dan menggali makna. Bagi sebagian orang yang mungkin remeh, tapi bagiku itu menarik untuk digali. Tapi tentu bukan hal yang benar-benar remeh. Seperti halnya kenapa mantan tidak mengundang ketika pernikahan. Bagiku ini hal remeh yang tak perlu digali maknanya. Ya sudah, mungkin dia lupa. Sesimpel itu.
“Kamu kok antipati dengan pernikahan mantan.”
Well, pertanyaan menarik. Aku meyakini fase virus merah jambu antara aku dan kamu berbeda. Kamu bisa saja merasakannya beberapa waktu belakangan. Sedangkan aku? Masaku terjadi ketika SMP! Kamu tahu apa yang dilakukan anak alay masa SMP kalau pacaran? Nggak ngapa-ngapain. Walaupun mungkin ada yang entah karena motivasi apa manggil ayah bunda. Sedangkan aku? Ouh, terlalu jauh. Pacaranku nggak ngapa-ngapain. Ya udah, status aja Toh hanya sekian minggu lalu putus. Maka wajar saja ketika mantan nikah, ya biasa aja. Nggak diundang pun ya selow. Toh udah 9 tahun yang lalu. Cinta monyet adalah cinta yang dihadapi dengan tertawa geli ketika mengenangnya. Walaupun sebenarnya tak pantas juga dikatakan cinta. Tapi ya lebih kurang seperti itulah.
Masa-masa dahulu mungkin bisa dikatakan rasa yang dulu pernah ada. Tapi bagiku masa itu bukanlah fase euforia rasa. Itu hanya fase yang aku keliru menjalaninya. Kalaulah boleh kembali ke masa lalu, tentu aku tak ingin mengulangi hal yang sama. Tapi udah terjadi, ya sudahlah. Paling tidak dengan fase itu aku belajar untuk tidak mudah menghakimi masa lalu seseorang. Pelajaran yang terkadang sulit untuk kita petik maksudnya.
Euforia rasa. Fase yang bagiku begitu menarik. Termasuk rasa klik. Rasa yang hadir dan sulit untuk dilogikakan.
Aku penasaran dan mencari tahu, kenapa rasa klik itu hadir. Aku bertanya dengan banyak orang. Laki-laki dan perempuan. Teman SMA, teman kantor, dan teman organisasi. Kepada mantan, memang tidak aku tanya. Karena akan menjadi masalah ketika dia yang sudah menikah, malah memunculkan rasa yang dulu pernah ada. Hmm, sepertinya aku terlalu jauh berpikir.
“Karena kamu melihat ada sosok ideal dirimu padanya.”
“Ada kesamaan dan merasa dibutuhkan.”
“Rasa klik itu ada ketika banyaknya orang yang hadir, tapi kamu tetap memperjuangkan dirinya.”
Irisan jawaban aku dapatkan. Memperjuangkan sosok ideal yang saling memiliki persamaan.
Jawaban yang masih abu-abu dulunya kini tercerahkan dengan cara bertanya. Bertanya dengan orang yang pernah merasakan hal yang sama. Lantas apa yang harus dilakukan ketika rasa klik itu ada?
Rasa klik berbeda dengan fase euforia rasa. Aku pernah “jatuh” dengan sosok yang begitu baik fisiknya, lumayan hafalan qurannya, tapi itu hanya berlalu begitu saja. Pertemuan dua hari tak berubah menjadi energi untuk memperjuangkan dirinya. Fase ini aku namakan euforia rasa. Rasa yang hanya datang tiba-tiba. Rasa klik? Hmm, sepertinya tidak ada. Memperjuangkan sosok ideal yang saling memiliki persamaan tak aku temukan darinya.
Tapi tidakkah diri ini pernah merasakan klik lalu memperjuangkan seseorang?
Pernah. Aku memperjuangkan itu di awal tahun ini. Dengan seorang yang sudah kenal lama, lalu bertemu kembali. Sosoknya yang hijrah menjadi lebih baik adalah salah satu alasannya. Karena memang, aku melihat dan menjadi saksi perubahannya. Bahkan boleh dikatakan, ada titik yang aku hadirkan pada dirinya. Hanya titik, bukan peran yang begitu besar. Tapi dengan persaksian yang aku lihat, aku harus mengakui pernah memperjuangkannya.
Sepertinya ada. Tapi klik yang dahulu aku rasakan tak beralasan. Hanya terjadi begitu saja. Logikaku tidak bisa menjawab. Hingga akhirnya perjuangan itu kami hentikan karena berbagai perbedaaan yang sulit disatukan. Dan kini, dia pun sudah menemukan pangeran surganya. Sedangkan aku? Memperjuangkan bidadari surga yang entah dimana. Duh kan mellow.
Apakah ada rasa klik yang bisa dilogikakan?
Aku menjawab, ya ada. Sosoknya aku rahasiakan tapi nyata adanya. Hanya beberapa orang yang tahu. Terutama sosok yang menjadi perantara. Dan pastinya sosok bunda yang harus kumintai restu terlebih dahulu untuk memperjuangkannya.
Sosoknya aku perjuangkan dengan begitu gigih. Menjaga dan berjuang. Mengenali dan memahami. Bahkan meminta izin kepada keluarganya aku beranikan.
Lalu sekarang, dimanakah keberadaannya?
Karya ke 17, Kita Dalam Kata adalah jawabannya. Buku yang berangkat dari kisah nyata. Walaupun berbagai kisah dan episode yang tertulis tak bisa ditebak secara nyata oleh pembaca. Apakah itu fiksi atau non fiksi. Tapi yang jelas, rasaku tak hanya terhenti di rasa. Mengubah rasa menjadi asa. Memaknai dan menelusuri rasa menjadi karya.
Kelanjutannya bagaimana? Apakah aku masih memperjuangkannya?
Aku masih berjuang dan kami sepakat.
“Waaah, selamat ya. Jadi tinggal nunggu undangan ya.”
Terima kasih doanya. Tapi harapanmu mungkin keliru. Aku memang masih berjuang, tapi bukan untuknya. Kami sepakat, tapi untuk tidak sepakat. Aku melanjutkan perjuanganku bukan untuk dirinya dan sepakat untuk melanjutkan ke jalan yang lain. Alasannya? Terlalu indah untuk diceritakan di sini. Tapi harus kuakui, rasa klik itu ada di sosoknya. Kriteriaku ada dengan dirinya. Tapi siapa yang tahu rencana Allah? Bukankah Dia lebih tahu apa yang hamba-Nya tidak tahu?
Dalam hidup, pasti ada banyak sosok yang menghampiri hidup kita. Ada yang sekadar singgah, ada yang membuat diri gigih memperjuangkannya. Bahkan ada sosok yang hanya sebagai ‘teman’ tapi memberikan rasa yang bernilai kebaikan.
Ada seseorang yang pernah hadir, lalu sudah menikah.
Ada seseorang yang pernah singgah, lalu pergi entah kemana.
Ada seseorang yang diperjuangkan, lalu melanjutkan ke perjuangan yang berbeda.
Memang, begitu banyak orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Orang-orang yang memberikan banyak pelajaran jika kita merenungkannya.
“Kamu sepertinya mudah jatuh hati dengan seseorang ya. Kelihatan banget banyak kenangan yang kamu alami.”
Apakah dengan banyaknya kenangan berarti itu jatuh hati?
Sebagai orang yang tidak sholeh-sholeh banget, tapi semoga menjadi sholeh, aku harus mengakui banyak kesalahan yang dilakukan. Tapi tentang rasa, sepertinya kita tak bijak menyalahkan. Rasa itu fitrah adanya. Bahkan seorang teman berpesan,
“Akui lalu syukuri. Lalu selanjutnya kamu perjuangkan atau lepaskan.”
Setiap rasa bagiku tak semuanya bisa dilanjutkan. Ada memang masanya diperjuangkan, ada juga masa dilepaskan. Dan hasilnya pasti memberikan makna.
Bicara rasa bisa menjadi kisah yang tak berujung. Seperti halnya pembicaraan jodoh dan menikah saat memasuki usia 20an. Terutama bagi mereka yang menjaga diri untuk tidak pacaran dengan alasan syar’i. Dan itu terjadi padaku dan juga banyak orang di sekitarku. Dan ada kebiasaan unik yang aku perhatikan dengan orang-orang sekitarku. Mereka tidak pacaran, tapi mensiasatinya dengan cara baik, tapi menghadirkan ke-baper-an. Entah itu disengaja atau tidak.
Masih ingat dengan kisahku di awal tahun? Fase itu adalah salah satu fase yang memberikan banyak pelajaran. Termasuk fase saat aku belajar memaknai agama. Hingga suatu hari terjadi momen yang unik untuk dimaknai.
“Rez, ingat kamu lagi puasa.”
Teguran dari seorang teman membuatku tersentak, berpikir, dan semoga berdzikir. Aku menutup tab Youtube dan mengalihkan ke kegiatan lain. Coba tebak apa yang aku tonton saat itu?
Lantas kenapa seorang teman mengingatkanku?
Karena dia melihat dan merasakan bahwa bukanlah pesan kebaikan yang aku lihat, tapi tokoh yang bermain peran.
Belakangan, geliat pergerakan kebaikan bernapaskan Islami memang begitu kuat. Kajian offline, video dakwah, akun media sosial, dan pergerakan kreatif yang mengajak pemuda untuk menjadi lebih baik. Dan aku melihat, ada fase yang kira sering keliru ketika mengalaminya.
Ketika dulunya belum berhijab syar’i lalu mulai berhijab syar’i, apa yang harus dilakukan? Perbanyak ngaji atau model selfie?
Ketika hijrah apa yang harus dilakukan? Perbanyak menggali hikmah atau menuduh bid’ah?
Dan ketika rasa yang dianggap fitrah itu hadir, apa yang harus dilakukan?
Pertanyaan ini yang terkadang kita keliru memaknainya.
Pergerakan kebaikan berbalut godaan rasa.
Nonton video dakwah, apa yang yang dilihat? Pesannya atau tokohnya?
Datang ke kajian, siapa yang dinanti? Ustadznya atau akhi dan ukhti?
Berorganisasi dakwah karena apa? Karena beneran hijrah atau kebelet nikah agar bisa dapat jodoh yang sholeh dan sholehah?
Opiniku tentang rasa sepertinya akan terus berkelana. Dan kini, aku belum tahu akan terhenti dimana. Dan opini rasa itu akan tetap mencari sosok yang hanya mengalami fase euforia rasa atau “klik” yang berlanjut ke perjuangan yang gigih.
Bagiku, apa yang sudah terjadi tidak pernah sia-sia. Kegigihanku memperjuangkan seseorang yang berujung kepada sepakat untuk tidak sepakat misalnya. Bagiku itu adalah episode yang penuh makna. Rasa kecewa tentu ada. Tapi tak sebanding dengan rasa syukur dan hikmah yang diberikan oleh Sang Pemilik Hati. Jika itu memang yang terbaik dari Allah untukku dan juga untuknya, kenapa masih ngotot? Udahlah, gimana baiknya Allah aja.
Hingga akhirnya seorang teman berpesan,
“Nanti kalau aku carikan yang sholehah, kamu jangan merasa ‘aku mah apah ya’. Kalau emang mau yang sholehah, harus pede jadi sholeh sambil berbenah.”
Pesan menarik menjelang hari H ikrar janji sucinya.
Dan di hari yang sama, di malam harinya, seolah Allah ingin menjawab pertanyaan melalui perantara seorang guru.
“Jika kamu mengirim uang ke orang yang nun jauh di sana via mobile banking bisa sampai atau nggak? Lalu bagaimana dengan doa yang disampaikan ke Allah?”
Tentang fase euforia rasa, kita tidak bisa hanya mengandalkan logika dan bertanya kepada sesama manusia. Kita tentu boleh beropini. Tapi mari beropini yang mengarah ke berpikir dan berzikir. Apa makna atas rasa yang telah Allah hadirkan kepada sosok hamba-Nya. Bertanyalah kepada Allah yang memiliki hati ini. Hatiku yang berjuang, hatimu yang menanti, dan hati kita yang kelak akan bersatu dengan cara yang belum tertebak.