Sebelum menikah aku menjalani sebuah hubungan spesial dengan seorang lelaki yang kukenal baik. Dua tahun hubunganku berlangsung baik meski dengan sedikit pertengkaran, itu hal biasa. Hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius.
Mengapa aku begitu yakin padanya? Karena aku melihat keberaniannya. Dia berbicara padaku jika ingin serius denganku dan dia membuktikannya dengan mendatangi kedua orang tuaku, tanpa aku di sana.
Nak, Rafa datang menemui Ayah dan Ibu, katanya dia mau serius denganmu. Dia bilang ingin melanjutkan hubungan denganmu ke jenjang yang lebih serius. Ucap Ayahku melalui telepon.
Aku berpikir dia adalah sosok yang pemberani. Dan aku merasa yakin kalau dia yang terbaik untukku.
6 bulan berlalu semenjak dia mendatangi orang tuaku, dia kembali datang bersama keluarganya untuk meminangku.
Pernikahan kami berlangsung dengan lancar. Setelah menikah kami berdua memutuskan untuk tinggal sendiri, mengontrak di dekat tempat kerja kami. Ayah dan Ibu serta mertuaku mengizinkan.
Lima bulan pernikahan berlangsung aku dan dia masih belajar untuk adaptasi satu sama lain. Aku mencoba memahaminya begitupun sebaliknya.
Perjalanan rumah tangga kami selama lima bulan tentu tidak semulus jalan tol, melainkan ada saja cobaan yang harus dihadapi.
Selama lima bulan ini aku melihat watak asli dari suamiku. Dia sedikit tempramental. Namun aku mencoba untuk memahaminya, selagi dia tidak melukaiku.
Enam bulan pernikahan berlangsung, aku menemukan sisi lain dari suamiku. Saat aku baru pulang kerja, hal tak biasa aku temui di rumah, ternyata suamiku sudah pulang. Biasanya yang pulang duluan selalu aku.
Aku melihatnya duduk terdiam di meja makan.
"Eh kamu udah pulang, Mas," tanyaku.
"Kamu gak lihat aku di sini? Kalau aku di sini berarti aku sudah pulang," jawabnya.
"Ya kan aku mancing nanya aja, soalnya aku lihat kamu kok diam saja, lagi ada yang dipikirkan?," tanyaku.
"Udahlah capek, aku laper. Kamu gak masak?"
"Belum, aku kan baru pulang kerja," jawabku.
Prangg. Dia sengaja menjatuhkan gelas yang ada di meja dan pergi ke kamar.
Aku yang tidak terbiasa melihat hal seperti itu merasa kaget, tanpa sadar air mataku menetes. Apa yang salah dariku. Tidak biasanya dia sampai seperti itu. Aku bingung harus bagaimana, sebaiknya aku diam saja dulu, takut memperparah keadaan.
Pagi harinya aku mencoba membuka pembicaraan.
"Mas, maaf ya atas kejadian kemarin,"
"Udahlah aku mau berangkat kerja dulu"
"Loh kamu gak sarapan, ini sudah aku masakin"
Tanpa dijawab, dia pergi begitu saja.
Aku kembali meneteskan air mata, mengapa dia menjadi seperti itu.
Seminggu semenjak kejadian itu, dia berbicara padaku hanya sekadarnya saja. Dia lebih banyak diam, ketika aku bertanya masalah dia selalu tidak menjawab dan meninggalkanku sendiri dengan pertanyaanku. Aku bingung berada diposisi seperti ini. Selama aku hidup bersama kedua orang tuaku, belum pernah aku menemui mereka dalam keadaan seperti ini. Jika ada masalah, mereka berdua selalu memecahkan masalah bersama. Namun di kehidupan rumah tanggaku, aku merasa gagal. Aku merasa sesak, tidak tahu harus berbicara pada siapa. Kepada kedua orang tuaku, pasti mereka akan marah. Apa aku harus tetap seperti ini. Berusaha mempertahankan rumah tangga yang mulai retak dan aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.