“Aku Benci …”
“Tir, besok Sabtu temenin gue jalan yuk”.
“Hmm, ayo deh. Emang lo mau kemana Kak? Gue ngikut aja ya”, ucap Tiara setengah ragu.
Sebetulnya, pekan itu adalah pekan terberat dalam sebulan belakangan bagi Tiara. Pekerjaannya sedang datang bertubi-tubi, rutinitas akhir bulan. Dia ingin membayar hutang tidurnya di akhir pekan. Tapi apalah daya, teman baiknya di kantor memintanya untuk menemani berjalan-jalan.
Masih teringat bagaimana Riris pertama kali menyapa Tiara di hari pertamanya bekerja. Riris adalah seniornya, masuk dua tahun lebih dulu. Sapaannya renyah, membuat Tiara menemukan rasa nyaman saat bersamanya. Tiara tahu bahwa memasuki lingkungan baru bukan perkara mudah baginya. Ia terlahir dari keluarga kurang mampu, mengandalkan beasiswa di setiap jenjang sekolahnya. Bekerja di ibukota juga bukan perkara yang mudah. Ia tidak terbiasa dengan hiruk pikuknya, juga orang-orangnya yang terlihat mentereng. Keberadaan Riris adalah suatu hal yang berarti baginya. Dia tahu betul bahwa Riris adalah seorang anak dari pejabat daerah. Sekalipun demikian, Riris memang ramah kepada semua orang tak terkecuali. Tiara menemukan sosok yang jadi panutannya.
Tapi ia sedang merasa lelah. Ajakan Riris tak pernah berubah tiap pekannya.
Pikirannya berkecamuk sesaat sebelum menimpali ajakan Riris.
‘Capek banget minggu ini. Kenapa ya?’
-----------
Akhir pekan pun berlalu. Tiara telah melanglang buana hingga ke Bandung. Sesampainya di kos, ia termenung. Melamun, lama sekali. Dalam pikirannya hanya muncul satu kalimat.
‘Kenapa ya, aku tetep capek? Padahal aku baru jalan-jalan, sampai Bandung bahkan’.
Bisikan kecil itu muncul tiba-tiba di pikirannya, tapi ia masih bisa mendengarnya.
‘Tir, kamu terlalu takut ditolak. Setakut kamu mengingat masa-masa sekolahmu yang tidak pernah diterima karena kamu miskin’.
‘Dasar, people pleaser lu Tir!’
Air matanya menetes perlahan. Masih dengan ekspresi datarnya. Dia benci dengan dirinya sendiri. Dia benci terlahir dari keluarga miskin.
















