Kasih Tak Sampai
“Ma, bisa nggak sih gak usah ngomel melulu. Capek Papa dengernya!”.
Seakan sudah menjadi rutinitas harian, kalimat itu selalu Nala dengar setiap mereka bertiga duduk di meja makan. Makan malam bersama, berujung huru hara. Nala tak begitu menyukainya.
Di lain waktu, saat semuanya hening dan hanya terdengar denting alat makan, Nala melempar pertanyaan kepada Papanya. “Papa, besok Sabtu bisa dateng ke sekolah Nala nggak? Ada pertemuan wali murid”. Keduanya hanya diam.
“Pa, ditanyain anaknya tu”, ujar Mama menekankan.
“Hmm”, sambil mengangguk.
Nala adalah anak semata wayang di keluarga itu. Kelas tiga SMA saat ini. Terlahir seorang diri, sulit berteman. Nala sering merasa kesepian, orang tuanya sibuk bekerja. Hanya ingat Nala saat awal bulan, iya, memberi uang saku bulanan.
“Ma, sebenernya Nala ngerasa sendirian kalo akhir pekan nggak ada Mama sama Papa. Boleh nggak kalo sesekali kerjanya libur? Kita main ke Taman Safari Bogor yuk”.
“Mama kan kerja juga buat kamu, Nak. Besok Mama belikan dress warna lilac kesukaanmu ya. Mama sempetin pulang kerja”.
Papanya hanya diam, tidak merespon seperti biasa.
Nala ikut membisu.
-----------
Akhir pekan itu, seperti biasa, suram rasanya. Nala ingin membagi perasaannya kepada orang lain. Tapi ia bingung kepada siapa ia bisa menumpahkan isi pikirannya.
Saat sendiri, pikirannya ruwet, moodnya berantakan.
“Kok Mama sama Papa nggak kayak orang tuanya Lina ya”, ia mulai membandingkan nasibnya dengan milik teman baiknya.
Lantas teringat, di sebuah video yang dia lihat belakangan ini melalui media sosialnya, dia sadar bahwa dia butuh pertolongan professional. Sekalipun beberapa temannya juga datang ke psikolog, tapi dia terlalu takut untuk bercerita pertama kali kepada orang asing. Dia takut dinilai, dianggap tidak bersyukur terlahir dari keluarga yang kaya raya.
Dengan hati berdegup, Nala mulai membuka salah satu website biro psikologi yang berada di dekat rumahnya. Ia terenyuh, saat mendapati sebuah kalimat dari seorang psikolog bertengger di halaman awal website itu.
“Menerima itu tidaklah mudah, butuh proses untuk berani bertemu dengan diri sendiri. Saat kamu merasa tidak sanggup melaluinya sendiri, yakinlah ada tempat untuk berteduh dengan luasnya penerimaan”.
Tekadnya bulat.
Nala akan mencari pertolongan.















