Menghindari Gaya Hidup Sosialita agar Menjadi Muslimah Sejati yang Bahagia
Muslimah merupakan sebutan bagi wanita yang beragama Islam. Sementara itu, dari sudut pandang yang lebih khusus, muslimah merupakan sebutan bagi wanita yang taat menjalankan segala bentuk perintah Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits. Muslimah yang hakiki adalah mereka yang selalu menjalankan kewajibannya, seperti melaksanakan salat lima waktu, menjalankan puasa di bulan Ramadan, serta istiqomah untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah.
Di era globalisasi saat ini, eksistensi muslimah cenderung banyak diperdebatkan karena munculnya sebuah istilah baru, yakni 'muslimah sosialita'. Istilah sosialita ini cenderung memiliki konotasi yang negatif karena sering dihubungkan dengan orang-orang yang cenderung menghambur-hamburkan materi yang dimilikinya demi mengejar gaya hidup yang glamor dan sesuai tren terkini. Padahal, istilah ini seharusnya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki jiwa sosial tinggi terhadap orang lain yang berkekurangan.
Istilah sosialita juga sering dikaitkan dengan sikap hedonisme. Hedonisme adalah doktrin di mana kebaikan pokok dalam kehidupan ini adalah kenikmatan (Darmawan & dkk, 2010). Hidup ini diyakini sebagai sebuah jalan yang diharuskan untuk selalu nikmat dan senang-senang. Sejalan dengan hal itu, Takariani (Felicia, Elvinawaty, dan Hartini, 2014) menyebutkan bahwa hedonisme adalah sebuah padangan hidup yang berbicara tentang kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup.
Sebagai sebuah konsep, hedonisme memiliki beberapa dimensi. Menurut Kotler (2005), dimensi tersebut antara lain adalah aktivitas, minat, dan kepentingan. Dimensi aktivitas berarti setiap perilaku yang muncul dari individu untuk mengejar perilaku hedonisme. Dimensi minat meliputi pusat perhatian/objek dari individu yang dapat disimpulkan sebagai objek dari hedonisme, misalnya barang-barang mewah atau jumlah followers di media sosial. Dimensi kepentingan meliputi sejauh apa suatu sebab dapat membuat seseorang pada akhirnya mencari kesenangan dalam hidupnya. Dimensi ini juga memiliki makna sejauh mana individu melihat perilaku hedonisme ini penting bagi hidupnya. Dari ketiga dimensi tersebut, perilaku hedonisme berpengaruh kepada kehidupannya yang sulit memilah antara keinginan dan kebutuhan.
Meninjau dari definisi muslimah dan sosialita, ternyata kedua kata tersebut mempunyai makna yang bertentangan. Sejatinya, perilaku berkehidupan sosialita tidak bisa diterapkan oleh seorang muslimah. Hal tersebut disebabkan, seorang muslimah harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai amar ma'ruf nahyi munkar. Sementara itu, perilaku hedonisme yang termasuk sosialita merupakan perilaku yang harus dihindari oleh seorang muslimah. Sulitnya menyadari bahwa apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh hidup telah menjadi faktor utama gaya hidup sosialita. Oleh sebab itu, bagaimana cara seorang muslimah bisa memilah antara keinginan dan kebutuhan?
Keinginan dan kebutuhan sering kali diartikan sama oleh banyak orang. Keinginan merupakan hasrat seseorang yang jika tidak dipenuhi tidak akan mempengaruhi kehidupan. Sementara itu, kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatukesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri (Mangkunegara, 2005:5).
Menurut Al-Ghazali, kebutuhan itu lebih didefinisikan sebagai segala keperluan dasar manusia untuk kehidupannya. Sementara itu, keinginan didefinisikan sebagai keinginan manusia atas segala hal. Jadi, ruang lingkup definisi keinginan akan lebih luas dari definisi kebutuhan. Contoh sederhana dalam menggambarkan perbedaan kedua kata ini yang berkaitan dengan seorang muslimah dapat dilihat dalam pemakaian pakaian pada wanita untuk menutup aurat. Kebutuhan muslimah untuk menutup aurat mungkin akan cukup dengan pakaian yang bisa menutup auratnya (seperti gamis dan kerudung yang biasa saja), tapi seseorang dengan kemampuan dan keinginannya dapat saja memenuhi kebutuhan itu dengan pakaian yang tampak modis yang tentu lebih mahal dan lebih memuaskan keinginan.
Sebagai seorang muslimah yang sepatutnya sudah mengetahui perintah-perintah Allah dan larangannya, menjauhi perilaku sosialita yang menurunkan sifat hedonisme, di mana hal tersebut merupakan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Isra: 26, yang artinya :
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; danjanganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."
Contoh yang lain dalam memilah antara kebutuhan dan keinginan sebagai seorang muslimah adalah ketika tidak cukup dengan satu barang, misal tas. Pada dasarnya, fungsi dan kegunaan tas adalah untuk membawa barang dan perlengkapan. Dengan memiliki satu tas saja, sudah cukup memenuhi kebutuhan. Lain halnya dengan seseorang yang berkeinginan untuk fashionable yang ingin terlihat selalu tampak modis, tentu ia akan membeli banyak tas untuk memenuhi keinginannya.
Seperti halnya salah satu istri Nabi, Aisyah Radhiyallahu Anhu, dalam salah satu riwayat disampaikan, Urwah bin Zubair, berkata, "Aisyah tidak suka memperbarui bajunya (menggantinya dengan baju baru) melainkan menambalnya atau membaliknya.” Hadis ini mengandung arti bahwa pakaian yang dikenakan Aisyah sangat sederhana dan tidak banyak. Beliau bahkan harus menambal atau menjahit ulang baju yang pernah dipakainya, agar bisa dipakai kembali. Oleh karena itu, kita harus mencontoh Ummul Mukminin, Aisyah Radhiyallahu Anhu, sebagai panutan hidup seorang muslimah.
Sering kali, keinginan itu datang dari hawa nafsu. Selaku seorang muslimah, tentu perlu dipahami dahulu bahwa mengikuti hawa nafsu itu dapat mengarahkan kita pada kerusakan. Nafsu jelek bisa mengantarkan pada kesyirikan. Nafsu jelek bisa mengantarkan pada malas beribadah karena lebih senang untuk tidur dibanding bangun untuk salat subuh.
Nafsu jelek juga bisa mengantarkan pada maksiat dan amalan yang tidak ada tuntunan.
Oleh karena itu, kita mesti mengendalikan hawa nafsu dan tidak mengikutinya terus.
Mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki akan dihisab di akhirat kelak
Perbaiki ibadah dengan terus melakukan amar maruf nahyi munkar
Menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah sementara
Berusaha untuk tidak tertarik terhadap segala sesuatu yang diinginkan
Bersyukur atas segala sesuatu yang telah dimiliki
Dengan demikian, eksistensi seorang muslimah sejati akan terus tertanam. Hidup seorang muslimah akan merasa tenang dan bahagia, jika tidak ikut memikirkan tren supaya tampak sosialita. Sebab pada hakikatnya, perbuatan sosialita sangat tidak cocok disandingkan dengan jati diri seorang muslimah.