“The quality of a leader is reflected in the standards they set for themselves”
Sebuah judul menarik terpampang di halaman muka koran yang saya baca beberapa hari lalu. Isi tulisannya menceritakan buruknya kinerja pegawai negeri yang mengabdi pada sebuah pemerintahan daerah. Disebut buruk karena dari pencapaian maksimal sebesar 100%, kinerja mereka hanya memenuhi setengah targetnya.
Menariknya, pimpinan daerah tersebut adalah sosok yang dikagumi khalayak seisi negeri karena keberadaannya terbilang mendobrak kesan walikota/bupati pada umumnya yang mungkin terlihat kaku, mengambil jarak dengan warganya dan kurang kekinian. Sementara beliau rajin muncul di kanal media sosialnya untuk menyapa semua pengikutnya lewat foto juga video siaran langsung dengan interaksi yang seru.
Di sana letak keunikannya, pemimpin yang dikagumi karena kesan yang positif di mata khalayak, belum tentu disebut berhasil dalam mengerahkan anak buahnya untuk berkinerja baik sesuai ukuran performa yang ada. Malah mungkin, pemimpin yang berhasil dalam menginspirasi anak buahnya untuk berkinerja baik enggak terlalu dikagumi banyak orang karena citranya biasa-biasa saja.
Dosen saya pernah berbagi opini tentang kepemimpinan. Katanya, “Kalau semua orang mau jadi pemimpin hebat, terus siapa yang mau jadi pengikut hebat? Kalau semua orang belajar leadership, siapa yang mau belajar followership?”. Saat setiap orang enggak mampu berdedikasi secara utuh sebagai pengikut, dapat dipastikan bahwa tugas pucuk pimpinan tertingginya akan terasa jauh lebih berat. Seolah ia tengah memangku tanggung jawab untuk menghidupkan visi-misi seorang diri.
Jadi, jangan heran kalau kita mendapati sosok-sosok pemimpin yang memikat hati sebagai “nakhoda” tapi kurang baik dalam mengerahkan “awak kapalnya” untuk melabuhkan kapal di tujuan. Toh beban kesalahan atas ketidaktercapaian tim tak sepenuhnya berada di tangan pemimpin. Tak jarang kita mendapati ada tim super yang berisikan orang-orang cemerlang dalam beraneka kecakapan berada di belakang pemimpin yang meraih pencapaian gemilang.
Tentu untuk mencapai tujuan yang besar, dibutuhkan upaya yang tak kalah besar dalam membangun kecakapan pengikut. Bukankah para pengikut mestinya memahami cara untuk memimpin dirinya menjadi sebaik-baik anak buah?
Sejatinya, setiap manusia dititipkan dua peran penting sekaligus yakni sebagai pemimpin sekaligus pengikut. Seorang guru memimpin dirinya sebagai pengajar juga dikepalai oleh kepala sekolah di sekolah. Seorang istri memimpin dirinya sebagai pasangan juga dikepalai oleh suaminya di rumah. Saat kesadaran tentang keduanya berjalan tidak sinkron, pemimpin sehebat apapun akan sulit mencapai tujuan dalam keselarasan kecuali sebatas terangkatnya citra baik diri sendiri.
Seperti halnya para pegawai pemerintahan di awal cerita, saat kita menentukan kriteria yang rendah sebagai pemimpin bagi diri sendiri, jangan berharap kita bisa menjadi pengikut yang berkualitas tinggi. Karena sejatinya, kita takkan bisa menghebatkan orang lain sebagai pemimpin saat kita tak bisa memimpin diri sendiri sebagai pengikut. Nyatanya, kita takkan pernah bisa dipimpin jika tak bisa memimpin. Ternyata, inti dari followership pun lagi-lagi adalah perkara leadership.
Bagaimana bisa berupaya memudahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama sementara kita masih kesulitan untuk memimpin diri sendiri? Pentingnya urusan kepemimpinan bergulir dari cakupan sekecil diri sendiri hingga cakupan sebesar ratusan juta umat manusia.
Di balik pencapaian unggul dari tim apapun, pasti hadir keselarasan antara pengikut dan pimpinan yang terlibat di dalamnya. Di balik kesuksesan sekolah, ada keselarasan peran antara guru sebagai fasilitator pembelajaran sekaligus guru sebagai anak buah dari kepala sekolah. Di balik keberhasilan rumah tangga, ada keselarasan peran antara istri sebagai manajer rumah tangga sekaligus istri sebagai tanggung jawab dari suami.
Saat kita terus memantaskan diri sebagai pengikut yang baik dengan kepatuhan juga keutuhan, kita juga tengah memudahkan para pemimpin untuk mencapai tujuan bersama dengan lebih baik di masa depan. Maka jelas, dengan peran sedemikian mendasar sebagai “ekor”, kita tak boleh sembrono memilih "kepala” untuk keperluan apapun. Salah-salah, kita bisa tiba di tujuan yang tak semestinya.