Pernah ada yang bilang bahwa real friends bakal menghargai boundaries yang kamu atur sedemikian rupa walau kamu ga menjelaskan detail alasannya. Kemarin waktu ngobrol sama Aish dan Etik, aku dengan cepat menolak sesuatu. Etik bilang aku 'genuine', bukan sombong. Suatu waktu, aku pernah menjelaskan salah satu boundaries-ku ke orang lain karena keadaan memaksa harus dikomunikasikan, tapi orang itu malah bilang aku sombong.
Dulu, aku cukup sering sulit menolak pada hal-hal yang sebenarnya uncomfortable atau aslinya aku tidak mau. Contoh: kalau ada permintaan meeting hari Minggu, aku akan cek jadwalku, dan kalau tidak ada acara aku akan bilang iya, padahal aku tidak suka bekerja di hari Minggu. Contoh lain, kalau ada ajakan undangan ke suatu tempat, aku cenderung merasa bahwa aku akan kehilangan kesempatan berjejaring jika undangan itu aku tolak, atau juga simply bilang iya karena menghindari dianggap sombong.
Setelah aku pelajari bahwa untuk menjadi sukses dan bahagia kita harus punya batasan, sekarang aku bisa bilang dengan jelas ke rekan kerjaku bahwa aku tidak bisa bekerja di hari Minggu kecuali emergencies. Aku bisa menolak undangan akhir pekan jika sedang ingin istirahat. Aku menyadari bahwa kita berhak (dan sudah seharusnya) bilang 'tidak', tanpa merasa tidak nyaman.
Awalnya aku merasa menjaga boundary ini tidak menguntungkan, entah karena aku jadi merasa bersalah, atau karena aku merasa kehilangan 'kesempatan'. Tapi semakin sering aku praktik menjaga boundary, semakin aku merasa aku lebih menghargai diriku sendiri dan orang lain, aku lebih love myself, dan yang tadinya aku pikir aku kehilangan 'kesempatan', justru kesempatan yang lebih aku butuhkan malah datang, karena energiku terpusat untuk hal yang aku suka dan inginkan, bukan ke hal-hal yang aku anggap 'kesempatan', padahal bukan.
Walaupun saat ini boundaries-ku belum sempurna, aku semangat mempraktikannya karena aku sudah bisa merasakan keuntungan dari, kalau kata bukunya Michelle Elman, The Joy of Being Selfish. Aku pun dalam beberapa tahun belakangan ini lebih sadar terhadap boundaries orang lain, dan praktik untuk lebih menghargai boundaries mereka.
Tentu semua ini bukan proses instan. Tapi setiap hari, aku harap semakin banyak orang di sekelilingku yang memahami pentingnya menjaga batasan, supaya semuanya bahagia. Karena boundary tidak sama dengan sombong, tidak sama dengan menarik diri, tidak sama dengan kemana-mana sendiri. Boundaries tidak bertujuan mengontrol orang lain. Boundaries adalah tentang bagaimana kita mengontrol perlakuan orang lain ke kita. Boundaries give you control over how someone treats you. Boundaries itu spesifik, ke orang tertentu, ke kasus tertentu, pada waktu tertentu. Boundaries kita ke teman dekat, bisa berbeda ke teman biasa. Boundaries kita di hari ini, bisa berubah di tahun depan. It's all coming back to ourselves, we control how someone treat us, we let people know how we want to be treated.
Contoh: Kalau kita punya teman akrab yang suka mengeluhkan berat badannya ke kita, tapi kita merasa keluhannya itu bisa membawa negative vibe, dan bertentangan dengan konsep body-positivity yang kita anut, kita bisa set boundaries dengan bilang "maaf ya, aku mengerti itu hak kamu untuk mengeluhkan badan kamu sendiri, tapi tolong jangan keluhkan ke aku karena aku tidak mau terpengaruh negatif dan malah jadi ikut-ikutan meragukan body-positivity. Kalau mau ngomongin hal yang lain, aku bersedia, tapi jangan ngobrol tentang keluhan berat badan ya."
Justru dengan mempunyai, dan saling menghargai boundaries, hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih baik. Kalau memang orang lain belum mengerti atau tidak menghargai boundaries kita, you can choose to wait because it indeed takes time, or you can let them go, prioritize your boundaries.
Butuh waktu lama untuk menguasai boundaries. Saat ini, bahkan setelah bertahun-tahun belajar sedikit demi sedikit, aku merasa belum cukup mahir. Bahkan pada hal-hal tertentu, masih ada kesamaran dalam membedakan boundaries dengan sesuatu yang menjadi kewajiban sosial. Tapi kalau terus dilakukan, pasti akan menyenangkan dan memberi energi positif ke kita dan orang sekitar kita.