Tetap masih ijo meski ada pengalaman
d e v o n
taylor price
todays bird

blake kathryn

izzy's playlists!
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

Andulka
Mike Driver
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
★
he wasn't even looking at me and he found me
Cosmic Funnies
NASA
YOU ARE THE REASON

No title available
Today's Document
untitled

oozey mess
seen from Germany

seen from Russia
seen from Canada
seen from United States

seen from Costa Rica

seen from Singapore
seen from Canada
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Germany
seen from Lebanon

seen from Bosnia & Herzegovina
seen from Germany
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Canada
seen from United States

seen from Poland

seen from Türkiye
@riyandeidara
Tetap masih ijo meski ada pengalaman
Mulai perang dingin antara rusia dan amerika terus perang dagang amerika vs china. Sepertinya emang manusia tidak bisa hidup tanpa perang/konflik sama sekali. Baku hantam terus
Ga Selalu
Kalo kita nganggep sesuatu itu benar, ya gak mesti yang lain itu salah dong?
Kalo kita nganggep nih, jadi pengusaha itu jalan yang baik, ga selalu jadi PNS atau karyawan swasta itu hina. Pun sebaliknya. Kan setiap orang punya jalan hidup dan jalan berkontribusi? Yang salah itu kalo gak pake pekerjaan untuk kebaikan.
Kalo kita suka tulisan yang ceplas ceplos, ga selalu juga yang nulisnya berhati - hati itu munafik. Bisa jadi dia cuma hati - hati dan mencoba menjadi baik. Yang salah itu kalo kita nulis hal - hal yang tujuannya jelek dan ngajarin orang berbuat jelek.
Kalo kita milih capres 01, ga selalu juga yang milih 02 itu salah, dan sebaliknya. Yang salah itu kalo saling nyalahin, nyinyirin, bacotin.
Kalo kita milih pasangan yang lebih tua, ga selalu dong orang yang milih pasangan lebih muda itu keliru, dan sebaliknya. Yang salah itu kalo ambil pasangannya temen. #eh.
Hidup itu gak selalu hitam sama putih doang. Sering banget kudu ada Grey 20%, 21%, 45%, dan persentase - persentase warna yang gak bisa dilihat cuma dari satu sudut pandang. Boleh nganggep pilihan kita benar, tapi bukan berarti nyalahin yang lain.
Hal ini berlaku juga kalo menilai orang lain, jika seseorang nganggep pilihan A benar, ga mesti juga dia akan nyalahin pilihan B, jadi jangan nuduh.
Kita nih banyak gak tahunya. Siapa tahu eh pekerjaan yang kita hina itu ternyata mendatangkan duit dan manfaat yang lebih gede? Siapa tahu eh pasangan yang kita anggap salah itu lebih bahagia dari kita? Setiap keputusan datangnya dari pertimbangan akan ilmu dan pengalaman.
Yang penting mah, semoga setiap sudut pandang kita menentukan pilihan, adalah sudut pandang yang Allah sukai.
Krisis
Kalau kita melihat media sosial, begitu banyak orang yang membahas soal Quarter Life Crisis beserta isunya. Mulai dari karir, sandwich generation, dsb. Banyak, dan pasti memang banyak di antara kita yang tidak pernah terbayang sama sekali; tidak bisa memahaminya, bingung ketika menyadari kalau dirinya adalah sandwich generation, resah karena karirnya disetir oleh orang tua, dan semua kegelisahannya.
Di antara kita ada yang sedang berjuang dengan pendapatan 300ribu sebulan. Di media sosial, kita melihat orang lain yang seusia kita pendapatannya sudah di angka 30 juta per bulan.
Kita bahkan tidak tahu dimana yang keliru. Apakah ikhtiar ini kurang? Dan juga sebenarnya kita tahu dimana letak masalah-masalahnya. Dari mulai bidang pekerjaan, orang tua yang tidak mengizinkan kita merantau, lingkaran pertemanan yang serupa, dan mungkin ada yang juga mengaitkan ke almamaternya, “ah dia kan lulusan ITB, lha ku…”.
Beberapa di antara kita juga ada yang sedang berjibaku, bekerja keras untuk ikut serta membantu ekonomi keluarganya. Menopang adik yang masih sekolah, ikut jungkir balik membayar cicilan hutang orang tua, dsb. Kita tidak tahu caranya menabung, sebab semua pendapatan selalu habis tak bersisa. Bahkan kadang kurang.
Memang, kita semua tidak pernah memiliki hidup yang ideal. Selalu ada letak ujiannya. Bahkan pada orang-orang yang kita kira selesai semua urusannya, mereka tetap memiliki ujiannya. Hanya saja, kita tidak tahu.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa dengan kondisi kita saat ini. Yang sedang galau karena gaji dibawah rata-rata, galau karena karir kita tertahan izin orang tua, galau karena bingung bagaimana menyiapkan masa depannya sebab kita ikut menanggung hutang dan biaya hidup keluarga.
Ujian kita tidak sama, maka jawabannya tentu tidak sama.
Hanya satu hal yang ingin ku bisikan lirih kepadamu. “Jangan kalah oleh keadaan, menangkan!”
©kurniawangunadi
Dua Jenis Kemandirian
Ada perbedaan yang jelas antara “Independence through struggle” dan “Independence through support”.
Atau lebih riilnya, “Menjadi mandiri karena tidak percaya bahwa ada orang lain yang akan membantu menghadapi tantangan hidup, sehingga ia merasa harus berjuang sendiri di dunia yang ia anggap keras ini”
dan
“Menjadi mandiri karena percaya bahwa kalau pun kelak akan ada kesulitan, kegagalan, ia percaya bahwa ia tetap memiliki orang lain yang bisa diandalkan untuk mendukung”
Cara pengasuhan membentuk bagaimana seseorang menjadi mandiri ketika dewasa.
Ada sebagian orang tua yang percaya bahwa anak harus dibiasakan untuk ‘mandiri’ bahkan sejak bayi. Kalau nangis jangan langsung direspon, nanti kebiasaan buat nangis. Biarkan anak berdamai dengan ketidaknyamanan. Biarkan anak menyamankan dirinya sendiri. Anak harus diajarkan sejak bayi, bahwa di dunia ini, tidak semua hal yg kita inginkan bisa kita dapatkan. Anak harus dipahamkan sejak dini bahwa dunia ini keras–dan kejam.
Mungkin masyarakat di Westernized culture tidak asing lagi dengan kepercayaan itu.
Tentu itu membuat anak 'mandiri’. Tapi, mandiri yang seperti apa?
Apakah mandiri karena dia percaya diri, yang lahir dari kepercayaannya pada orang tua sebagai caregiver utama. Atau justru, dia mandiri karena dia sudah tidak lagi berharap pada orang lain dan merasa bahwa di dunia ini dia sendirian–tidak ada cara lain untuk bertahan kecuali menjadi mandiri?
Di permukaan, keduanya mungkin terlihat sama saja. Namun, pangkalnya, yang ada di dasar laut, jelas berbeda.
Mengabaikan kebutuhan anak, membiarkan bayi menangis dalam waktu lama, adalah cara tepat untuk membuat anak tidak percaya pada siapa pun. Ketika dewasa, ia mandiri dgn kemandirian yang berlandaskan ketidakpercayaan pada dunia, kecurigaan pada orang lain, dan perasaan bahwa ia sendirian.
Sedangkan merespon kebutuhan anak dengan segera dan tepat, berkomunikasi dengan hangat dan menenangkan, adalah cara tepat untuk membuat anak percaya bahwa dunia ini aman, ramah, dan dia akan selalu mendapat dukungan. Ketika dewasa ia akan mandiri dengan kemandirian yang berlandaskan kepercayaan diri dan kepercayaan pada orang lain (pasangan, teman, keluarga).
Keduanya jelas berbeda.
(renungan ibu newbie yg anaknya lagi seneng bilang “Enggak” dan ingin melakukan semuanya sendiri)
Habis kesel, hilang capeknya
Kehidupan
Dari tadi ngapain aja ente ??
Sumber Suci xD
Diam dan dingin sikapmu mengundang tanyaku. Apa salah dan yang terlewat olehku? Atau hanya fikirku yang terlalu?
(via keringbungabicara)
Fikirku terlalu
Pikiranmu berlari, ragamu tetap disini. Ada yang ingin kau lepas tanpa berani kau tinggal ia terbang. Kesalahan yang rapat hanya kerat yang padat. Melemparnya hanya memberi bekas disisi atau sudut. Kita perlu berlutut. Meminta Tuhan turun, mengelus nadi untuk hidup normal kembali.
(via keringbungabicara)
Bersabarlah seperti air. Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya. Ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah kecil dia menyelip, ketemu batu dia menyibak, ketemu bendungan dia terus mengumpulkan diri sendiri, hingga makin banyak, semakin tinggi, penuh terlampaui bendungan tersebut; untuk mengalir lagi. Seolah dia tidak melakukan apapun, hanya diam, sabar, tenang, tapi sedang terus berusaha habis-habisan. Bersabarlah seperti air, ketika orang-orang tidak tahu betapa besar dan menakjubkannya rasa sabar tersebut.
Tere Liye (via putrinande)
A : kok gk suka kipas sih, katanya pecinta angin? B : Hey, gw ini penikmat angin, bukan penikmat kipas
Berada di zaman yg aplikasi editing fotonya ada dalam saku, mengalahkan aplikasi pc -_-")/
Aku sudah menjadi terlalu pasif di dunia nyata. Makanya aku jadi terlalu aktif di linimasa. Tapi, kalau keadaan berkata lain. Aku akan memilih jadi pasif aja -_-
Yang Ijo dari 2 dunia
We kill each other with words as sharp as swords. So shut up–then no one’s gonna die in vain.
Sometimes I miss talking to you, though. I bet you don’t and you’ll say “Meh.” With the sourest(?) face you can make if I tell you this. I’ll give it a laugh. Then we can avoid each other as we agreed to. As you were forced to agree to.
Mencari Ikhlas
Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas, yang tidak ada kata ikhlas di dalamnya. Selama ikhlas masih terucap, itu berarti belum ikhlas. Karena hanya dia yang ikhlas, yang senantiasa berbuat tanpa pernah menyebut keikhlasan-nya.
Terkadang saya berpikir, bagaimana mereka yang sudah mengalami kehilangan atas satu atau lebih orang tersayang mereka, menjalani kehidupan seperti sedia kala. Seperti saat semuanya belum berubah. Teman saya Muslim, sudah menyandang status yatim-piatu untuk waktu yang cukup lama. Bertahun-tahun, mungkin dari saat dia masih duduk di bangku sekolah. Pernah satu hari, saat mengumpulkan uang kas bulanan kalau tidak salah, Muslim dengan ringan bercanda “ih, kasian, lah. Aku, kan, anak yatim”, lalu tertawa lepas. Saya, yang waktu itu belum lama melewati masa duka, merasakan sesuatu yang aneh di hati ini. Bukan marah, tersinggung, sedih atau apa pun itu. Saya juga tidak mengerti, yang jelas tidak merasa biasa-biasa saja.
Lalu kemarin, waktu menginap di rumah saudara di kampung halaman, kami yang belum lama lepas dari masa duka setelah kepergian nenek kami, berusaha menjalani hari kemenangan dengan memaksakan diri untuk bersuka cita. Salah satu sepupu saya, yang sudah 3 tahun ini menjalani kehidupan tanpa sang ayah, juga mengucapkan guyonan yang sama dengan teman saya di atas. Jadi waktu itu, adik sepupu saya membuka make-up pouch saya dan tertarik dengan lipstik di dalamnya. Dia ambil lipstik itu dan saya ngedumel, bilang jangan. Tapi kakaknya lalu sambil tertawa mengatakan, “Biarin aja kenapa, sih. Kasihan lah dia sebentar lagi wisuda nggak ada bapaknya. Wisuda, neneknya juga gak ada”, lalu mereka berdua tertawa. Sekali lagi perasaan itu muncul. Bukan marah, tersinggung, sedih atau apa pun itu. Tapi yang pasti otak saya gagal mengirimkan signal perintah supaya bibir ini ikut tertawa.
Saya juga sama sekali gak berpandangan sinis pada sepupu saya. Seperti berpikir mereka tidak benar-benar bersedih atas kepergian orang yang kami sayang. Saya juga gak berpikir bahwa mereka benar-benar ikhlas, karena saya sangat yakin, di dalam hati masing-masing masih menyimpan luka yang benar-benar masih basah. Yang menjadi pertanyaan saya adalah diri saya sendiri.
Saya mencoba menebak, sebenarnya apa yang saya rasakan saat kami mengingat-ingat atau sekedar menceritakan kembali kenangan-kenangan yang pernah kami jalani bersama mereka yang telah pergi. Seperti beberapa minggu lalu waktu kesulitan mencari tempat parkir, Ibu saya bercerita kalau alm. bapak pernah hampir menerbangkan mobilnya dan menghancurkan toko orang saat baru saja bisa menyetir mobil, dan waktu itu sedang mencari lokasi parkir. Atau saat memakan makanan tertentu yang termasuk makanan kesukaan almarhum, spontan saja bagaimana reaksinya saat memakan makanan itu menjadi topik yang tak terelakkan. Dan hampir di semua obrolan itu, saya merasakan apa yang yang saya rasakan saat mendengar guyonan yang dilontarkan oleh teman dan sepupu saya.
Sulit menerima kenyataan
Akhirnya saya menemukan jawabannya. Apa yang saya rasakan setiap kali mendengar orang lain bercerita mengenai orang-orang tersayang mereka yang telah pergi, entah dengan bercanda atau pun berduka. Termasuk setiap kali anggota keluarga di rumah ini bercerita atau mengingat-ingat apa yang pernah dilalui dengan almarhum bapak kami. Kenyataannya adalah saya menutup diri dari kebenaran yang ada, bahwa bapak telah tiada. Perasaan mati rasa atas guyonan Muslim dan sepupu saya, serta obrolan-obrolan ringan tentang betapa baiknya bapak dulu, betapa jahilnya beliau selalu, betapa bijaksananya bapak sebagai seorang ayah, suami dan pria. Dan betapa orang memuji tidak ada yang bisa menyaingi kebaikan dan kesabaran yang dimiliki ayah kami.
Semua itu merupakan reaksi penolakan yang secara tidak sadar telah sengaja saya bangun untuk menjadi benteng pelindung, dari kenyataan yang memaksa saya untuk menerima bahwa bapak tidak lagi disini bersama kami. Secara tidak sadar–yang sekarang sudah saya sadari–saya menolak semua aksi yang mengingatkan saya bahwa bapak sudah pergi.
Bisa dikatakan almarhum bapak sedikit konservatif dalam menjalin hubungan antara ayah dan putri-putrinya. Beliau dengan tegas melarang anak gadis yang sudah masuk usia akil baligh untuk melendot-lendot manja dengan ayahnya. Bapak juga bukan seorang ayah yang sering menunjukkan apa yang dirasakannya. Tapi beliau sangat sabar. Bahkan terlalu sabar. Sehingga terkadang membuat kami menjadi anak tak tau diri, menganggap ayah kami pasti tidak akan pernah marah. Karena ketika ayah marah, dia hanya menghembuskan nafas menyerah, terdiam lalu duduk di kursi favoritnya di teras atau masuk ke kamar. Merugi-nya kami sebagai anak, hal itu baru kami sadari setelah beranjak dewasa.
Bapak juga seorang yang sangat giat mencari nafkah. Terlalu giat, di mata kami. Dan profesi berpenghasilan selangit tidak lah diemban ayah kami. Makanya beliau bekerja 3x lebih keras supaya tidak pernah mengucapkan ‘tidak’ pada permintaan kami. Sehingga rekreasi jalan-jalan sekeluarga merupakan barang mewah tak bernilai harganya bagi kami. Sekedar pergi arisan mengunjungi kerabat jauh, tapi karena bisa bersama-sama di dalam mobil sambil bercerita, merupakan peristiwa yang sangat dinanti-nanti. Walaupun sebenarnya berdebat lebih banyak kami lakukan ketimbang bicara santai.
Dan ketika melihat salah satu teman memasang foto dengan ayahnya dengan pose mencium pipinya dengan latar belakang daerah wisata, terlebih caption foto yang menjelaskan mereka sedang dengan bahagianya merayakan ulang tahun sang ayah, benar-benar membuat saya cemburu. Saya bukan berpikir, coba dulu bapak mau diajak sedekat itu, atau, kalau saja dulu bapak rajin ajak jalan-jalan atau berekreasi. But, what envies me is that girl is still having her dad by her side. It’s as simple as that.
Sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari. Latihannya setiap saat dan ujiannya sering mendadak.
Egois. Mementingkan diri sendiri
Apa ini yang namanya ikhlas? Apa ini yang namanya sabar? Ketika sibuk dengan urusan pribadi, kita seperti secara sengaja atau tidak, mengabaikan kesedihan dan bersembunyi dengan menyatakan kalau kita sudah mengikhlaskan segala kehilangan. Dan ketika masalah, perasaan duka, kecewa dan menyerah menghampiri, kita mencari-cari celah untuk merasakan penyesalan dan berandai-andai yang telah pergi bisa kembali. Bukan kita, tapi saya.
Lalu, kapan sebenarnya kita bisa dikatakan telah lulus uji keikhlasan atas kehilangan? Mungkin sederhananya ketika kita tengah dalam keadaan tenang dan sangat ingin bersedih dengan mengingat-ingat yang telah pergi, tapi hati kita justru gagal dipengaruhi. Dan hal serupa juga terjadi ketika hati ini teguh untuk tidak menjadikan mereka yang tersayang sebagai alasan untuk bersedih yang menjadi-jadi, saat permasalahan, kekecewaan, keinginan untuk menyerah dan kesedihan datang menghampiri.