Hidup bukan arena perlombaan
Setiap kita tidak terlahir untuk dipersiapkan menjadi petarung. Tidak terlahir untuk menginjak orang lain demi menjadi pemenang.
Selama ini dunia yang kita huni layaknya arena lomba. Siapa yang lebih cepat lebih baik, siapa yang bisa mengejar yang lain lebih baik, siapa yang pertama sampai lebih dulu lebih baik.
Selama ini dunia yang kita huni tidak mengajari kita untuk mengalah, tidak mengajari kita untuk menerima kegagalan, tidak mengajari kita untuk memaafkan keterlambatan. Tetapi melatih kita untuk mengalahkan jutaan manusia lain.
Bagaimanapun caranya kita harus terlahir menjadi seorang pemenang. Harus menjadi yang paling pintar, paling cantik, paling terkenal, paling hebat, paling sukses, dan paling memiliki segalanya.
Kita tidak boleh lembek, kalau kita lembek jutaan orang akan menginjak kita dan mendahului kita. Kita harus berlari sekencang mungkin, menghalangi siapa saja yang berusaha mengejar kita.
Bertahun-bertahun hingga usia kita sekarang, barangkali kita mendefinisikan hidup seperti ini. Hidup dalam bayang-bayang sebuah perlombaan yang tak kunjung henti.
Kita selalu merasa kalah cepat dari yang lain, merasa tertinggal, merasa semua yang kita lakukan terburu-buru karena kita ingin mengejar yang lain.
Padahal satu-satunya orang yang perlu kita kalahkan di dunia ini hanyalah diri kita sendiri. Kita tidak sedang berlomba melawan siapapun.
Pemenang yang sebenarnya adalah ia yang mampu menerima segala kekurangannya, kelambanannya, ketertinggalannya, kegagagalannya, dan kemarahanya.
Pemenang yang sebenarnya adalah ia yang mampu melatih kesabarannya, saat dunia yang ia huni tidak sedang berjalan sesuai dengan yang ia harapkan.
Pemenang yang sebenarnya adalah ia yang mampu menyadari prosesnya, ikhlas menjalani jatuh bangunnya, dan memaafkan diri sendiri atas setiap hal yang tidak mampu ia miliki.
Pemenang yang sebenarnya bukanlah soal siapa yang paling cepat, tetapi soal siapa yang sudah mempersiapkan diri ketika gilirannya nanti sudah tiba.