Mungkin Kita Perlu Berhenti Menikah Saat Lagi Jatuh Cinta
Jangan menikah saat jatuh cinta karna saat itu otak kita tidak berfungsi normal.
Menurut penelitian, orang yang sedang jatuh cinta punya aktivitas otak yang mirip dengan orang yang kecanduan. Kita mabuk oleh dopamin, bahagia oleh fantasi, dan buta oleh harapan. Semuanya terasa mungkin, semuanya tampak sempurna.
Ibarat di bandara kalau detektor logamnya mati, semua orang bisa lewat tanpa diperiksa, bahkan yang bawa bahaya sekalipun. Begitu juga dengan otak kita kalau “detektor kewaspadaan” kita rusak karena cinta, siapa pun bisa masuk, bahkan yang seharusnya tidak kita izinkan.
Cinta bisa jadi alasan untuk memulai, tapi tidak cukup untuk bertahan.
Butuh kesadaran, kedewasaan, dan kesiapan untuk tetap memilih ketika semuanya tidak lagi berjalan sesuai bayangan.
Kita seringkali beranggapan kalau jatuh cinta itu ya menikah.
Jatuh cinta itu mengabaikan Redflag
Jatuh cinta membuat kita terlalu fokus pada hal yang manis, sampai lupa memperhatikan tanda bahaya kecil yang muncul. Kita pikir, “Ah, dia bakal berubah setelah nikah.” Tapi ternyata mengubah karakter atau sifat seseorang sangatlah susah.
Red flag yang dulu kita abaikan sebelum menikah, akan jadi masalah besar setelah menikah. Sifat kasar, komunikasi yang buruk, kontrol berlebihan, atau sikap tidak menghargai semuanya jadi lebih terlihat dan terasa menyakitkan ketika cinta mulai reda.
Dan saat itu, barulah kita sadar kalau yang dulu kita kira “bisa ditoleransi”, ternyata nggak semudah itu.
Tapi kalau kamu ingin menikah, pastikan detektormu sudah berfungsi lagi.
Sampai kamu bisa melihat dengan kepala dingin dan hati tenang.
Karena pernikahan butuh kesadaran penuh bukan perasaan yang sedang mabuk.
Berhenti menikah saat jatuh cinta memang tidak menjamin pernikahan tidak akan bercerai tapi setidaknya kamu memberi ruang untuk mengenal seseorang tanpa dibutakan oleh euforia cinta yang sementara.
Karna menikah dalam keadaan sadar memberi kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan ❤