Ketika Dunia Tak Pernah Benar-Benar Sunyi
Dunia gak pernah benar-benar sunyi, selalu bising dengan dinamika dan kompleksitas dari kehidupan. Walau sebenarnya kebisingan ini pun disebabkan oleh manusia itu sendiri dan hanya dirasakan oleh kita sebagai makhluk dengan kesadaran diri.
Terutama hari ini ketika dunia bergerak dalam modernitas, yang lajunya terasa semakin cepat. Belum lagi masifnya informasi, ketika pengetahuan, hiburan dan chaos bercampur jadi satu. Berita yang saling bersahutan, opini yang bersilangan, ambisi yang saling bertabrakan, dan peristiwa yang terus mengalir tanpa memberi jeda.
Kebisingan ini tidak hanya terdengar di luar, tapi juga masuk ke kepala, menumpuk dalam hati, bahkan menggema di dalam batin. Satu hal yg perlu kita pahami diawal, berisiknya dunia adalah tanda bahwa manusia terus hidup dan bergerak—ini hanyalah salah satu ritme dari kehidupan yang sewajarnya dijalani.
Bagi seorang ibu, dunia berisik bisa mungkin kekhawatiran tanpa ujung tentang anaknya: keselamatan anaknya, masa depannya, lingkungannya.
Bagi seorang anak, dunia berisik adalah aturan, larangan, dan suara-suara dewasa yang kadang tidak ia pahami.
Bagi seorang guru, dunia yang berisik ada dalam bentuk tuntutan untuk membentuk masa depan generasi baru—disamping seringkali harus menyelaraskan dirinya dengan dilematika yang menghantam guru dalam penghidupannya.
Sementara bagi murid, dunia yang berisik ketika harus bergulat dengan suara-suara tentang nilai dan moral, kompetisi akademik, dan tuntutan dalam pencarian jati diri.
Bagi penjual berisiknya dunia mungkin ada dalam suara kebutuhan, persaingan, dan desakan untuk bertahan hidup.
Sedangkan bagi pembeli berisiknya dunia ada dalam bentuk pilihan yang tak ada habisnya, harga yang berubah, belum lagi standar sosial yang seringkali ikut menentukan apa yang “harus” dibeli.
Bagi seorang bos atau atasan berisiknya dunia mungkin ada pada bagaimana harus memikirkan arah perusahaannya—tentang target, angka dan strategi yang harus dikejar.
Adapun bagi seorang pekerja atau bawahan, dunia terasa berisik karena tekanan dan instruksi, persaingan antar kolega, dan kekhawatiran lain tentang pekerjaannya, termasuk penghidupannya.
Bagi seorang aktivis yang berisik baginya adalah suara ketidakadilan. Mereka yang paling peka mendengarkan kegelisahan dan paling keras pula menyuarakannya—menjadi panggilan jiwa yang menggugahnya untuk bergerak dan berdampak. Sekaligus juga berarti membebaninya dengan luka-luka sosial yang mungkin tak kunjung selesai.
Sementara bagi seorang politisi dunia berisik baginya mungkin adalah opini publik, suara oposisi, tekanan jabatan, dan dinamika kekuasaan—ketika setiap bisikan bisa saja menjadi ancaman atau peluang.
Bagi pemuka agama berisiknya dunia ketika adanya benturan antara nilai-nilai dunia dan spiritual yang diyakini. Tentang ketauhidan, ibadah dan moral yang harus dijaga.
Bagi seorang pecinta berisiknya dunia mungkin ada dalam bentuk pencarian kenyamanan, perhatian dan kekhawatiran dari sesuatu atau seseorang yang mereka cintai.
Bagi seorang pejuang berisiknya dunia hadir dalam bentuk tekad, tantangan dan luka yang terus diobati.
Bagi seorang overthinker berisiknya ada pada dunia batinnya, terlihat hening di luar tapi didalam kepalanya menyimpan banyak suara yang tiada jeda.
Pun kita sebagai seorang muslim pun, berisiknya dunia hadir dalam bentuk pergulatan batin kita ketika iman diuji dan menjadi pendosa.
Begitulah berisik. Ada banyak bentuk-bentuk lainnya. Bagi tiap orang, kebisingan dunia bisa menjadi tekanan yang tak terlihat, ada suara yang hadir dari hal-hal yang gak idealis yang mungkin menjadi luka dan trauma. Pikiran dipenuhi tuntutan, ekspektasi, dan ketakutan tentang berbagai hal. Ketenangan pun kemudian menjadi sesuatu yang mahal.
Berisiknya dunia adalah tanda bahwa kita masih peduli. Kegaduhan itu adalah bukti bahwa ada hal yang penting, ada sesuatu yang ingin kita jaga, ada hal yang ingin kita genggam.
Ya! dunia memang berisik. Tapi setiap orang mendengarnya secara berbeda. Ada yang melebur di dalamnya, ada yang tenggelam, ada yang berusaha berdamai.
Rasanya terasa mustahil untuk menemukan hening selalu atau terus menghindari berisik itu. Mungkin yang kita kita butuhkan hanyalah hati dan jiwa yang lebih mampu mendengarkan semuanya dengan tenang.
Tulisan ini pun mungkin kedengaran berisik kan, ya? 😅