Hari Ke Dua
Day 2#
Ini entah hari ke berapa sejak resulusi ini di mulai tapi sebutlah saja hari ke dua. Ada yang menarik pada hari ini, saat itu jam kerja saya memang sudah berakhir tetiba pak Ade (kepala bagian mentri luar negri di instansi tempat saya bekerja) memanggil.
"ada klien nih ngedadak minta meet up bs ngga?"
"meet up?" balik nanya dengan penuh rasa ragu.
Males sih sebenernya, di saat fisik sudah minta haknya untuk istirahat, fikiran suda di rumah kumpul dengan keluarga, lelah dengan kesibukan ruangan yang high concentrated dan quick respon. Mendapat tawaran ketemu klien yang juga cukup makan waktu itu udah spend energy. Tapi saat itu yang terlintas dalam benak adalah perkataan nabi yang bunyinya kurang lebih "jika rizki datang jangan di tolak".
Benak sayapun langsung bergejolak. Bukankah selama ini yang saya panjatkan itu rizki yang melimpah, kesejahteraan di dunia dan di akhirat lalu setelah kesempatan itu datang di lewatkan begitu saja. Dengan Tegas saya putuskan dengan kondisi lelah saya ucapkan "Bismillah rizki saya jemput, Lillah..."
Sejurus kemudian propertipun di siapkan dan maha benarlah Alloh jika memang rizki sudah milik kita maka segala sesuatu apapun akan di mudahkan dan di siapkan. Karna pada dasarnya untuk ketemu klien ini ada penanganan dan persiapan khusus yang juga cukup lama prosesnya. Qodarulloh semua selesai dan saya hanya tinggal meluncur.
Sebelumnya, pagi sebelum berangkat kerja, saya di amanahi istri untuk mengantarkan pesanan kue susu yang saat itu lagi happening banget, kue itu di tujukan untuk beberapa orang tapi entah kenapa saya ingin membawa lebih dari jumlah kue yang di amanahi istri. Sesampainya di kantor Alhamdulillah ternyata kue itu banyak di minati orang sekantor tentu saja beberapa ada yang tertarik dengan animo ketenaran kue itu ada juga cuek berlalu begitu saja. Tapi yoweslah ra mikirin, sing penting barang dagangan saya laku. Setelah beberapa lama di jajakan akhirya si kue tersisa satu. Alhamdulillah ga kefikiran itu kue bisa laku juga di kantor. Singkat cerita, saya bawalah sisa kue susu yang tinggal satu itu ke tempat klien setelah penjelasan meeting yang penjang bahkan perkara remeh temehpun saya sampaikan tibalah saatnya saya berpamitan.
"baiklah, saya rasa untuk persentasi hari ini cukup Insyaalloh dua hari ke depan kita akan bertemu lagi". Saya julurkan tangan kanan untuk bersalaman dan tangan kiri yang masih menenteng kantong isi kue susu, Tak fikir panjang.
"bu, maaf barangkali ibu mau beli kue istri saya yang kebetukan tinggal satu. Ngga apa-apa untuk penghabisan saya jual 35 ribu saja"
FYI itu kue harganya memang segitu tapi entah kenapa itu lidah bisa bersilat seperti itu. Alhamdulillah, lagi-lagi Alloh kasih kemudahan bagi hambanya yang mau berikhtiar.
So, yang menarik adalah saya dan istri ini basically adalah praktisi kesehatan yang jauh dari paparan perdagangan ataupun kewirausahaan jadi pengalaman yang mungkin oleh kebanyakan orang itu di anggap biasa saja tapi bosku, buat saya ini semacam turn off point.
Saya yang ngga memiliki pengalaman berjualan itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Ternyata bagi orang yang ngga biasa, berjualan itu gengsi juga loh.
Ternyata yang di ucapkan pak wahyu dosen saya itu benar orang kalo pengen sukses itu harus putus urat malunya, hehe.














