“Jika inilah yang terakhir kalinya kau dan aku bisa bertemu. Terimakasih untuk pernah mencoba menerimaku dengan segala beda. Jika inilah akhir cerita kita, tak perlu khawatirkan aku. Bila kau bahagia, akupun bahagia. Jaga dirimu disana.”
Begitulah reff dari lagu Ujung Pertemuan dari band The Rain. Sebuah lagu yang pertama kali saya dengar langsung membuat saya membuka semua memori kenangan masa lalu tentang seseorang. Tentang bagaimana peliknya menyikapi sebuah perpisahan. Memang tak ada yang abadi, namun meninggalkan atau ditinggalkan seseorang yang sudah teramat dirimu sayangi sama sekali bukan hal mudah. Seberapa lama nya kita bisa bersama dia, tetap saja tinggal menunggu waktu untuk berpisah. Dalam lagu ini diceritakan bagaimana akhir kisah cinta Jono & Mira. Akhir dari sebuah cerita dengan tawa, suka, duka, air mata, akhir sebuah perjuangan. Tak berakhir manis memang, tapi justru ada hal yang lebih penting dari sebuah perjuangan yakni kebahagiaan orang yang paling kita sayang. Bila memang bahagianya dia bukan dengan kita, apakah bisa dipaksa? Andai memang bisa, hilang sudah kesucian arti cinta itu sendiri.
Mungkin kisah Jono dapat menginspirasi banyak kaum lelaki bagaimana caranya untuk melepas dengan ikhlas. Termasuk saya, yang belum sepenuhnya sanggup bangkit dari kegagalan cinta masa lalu. Kegagalan yang membuat saya seperti enggan memulai dan menganggap semua cinta hanya periode waktu yang kapanpun bisa berubah. Saya hanya pernah satu kali pacaran sampai saat ini, mungkin juga yang terakhir. Dulu memang saya berimajinasi mungkin pacar pertama saya akan menjadi pacar terakhir saya. Karena tipikal yang memang tidak mudah dekat dengan seseorang, sejak dulu sulit bagi saya menemukan sosok yang pas untuk berbagi cerita. Namun saat menemukan seseorang yang saya sebut soulmate ini, rasanya tak ada yang bisa menggantikannya. Hubungan yang cukup manis namun berakhir miris. Akhir yang merupakan wujud nyata dari sekumpulan ego remaja tahap akhir menuju awal kedewasaan. Keegoisan yang berpikir bahwa diri sendiri lah yang paling penting dan berharga tanpa melihat perasaan seseorang di depan matanya. Ya begitulah, namun yang berakhir belum tentu benar-benar berakhir. Ada masa peralihan setelahnya, kemudian masa berdamai, dan masa rekonsiliasi sampai masa yang benar-benar hilang. Saya pun mengalaminya. Setelah putus, kami tidak berkomunikasi sampai akhirnya saling memaafkan dan memiliki cerita kembali. Menguapkan kembali kisah indah yang pernah kita lalui, menceritakan kembali alasan dulu mengapa kami saling menaruh hati. Hanya itu, kami hanya sekedar mengelilingi cerita masa lalu dan berputar-putar disana. Kami mengakhiri sesuatu yang memang belum berakhir. It’s so funny & pity guys. Ternyata, ada yang sudah benar-benar hilang dan tidak ada diantara kami berdua. Kami tak pernah bercerita tentang masa depan, sulit rasanya menerima kenyataan ini tapi memang seperti itu adanya. Jadi, memang harus ada yang diakhiri. Sampai pada akhirnya saya menyerah dan memaksa diri untuk pergi, hilang. Ambyar but life must go on. Ujung pertemuan kami diakhiri dengan sebuah kalimat “hati-hati dijalan”.
Tak ada yang benar-benar bisa melupakan dan meninggalkan bahkan bagi yang dilupakan dan ditinggalkan sekalipun. Semua kisah memiliki ujung nya masing-masing, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah hargai apa yang saat ini kita miliki termasuk pasangan kita. Pun bila saat ini kita masih belum move on, teruslah belajar memperbaiki diri. Mungkin Tuhan sedang mempersiapkan kejutan dan rencana besar dalam hidup. Tak perlu menghakimi apapun yang telah terjadi dan membenci siapapun yang membuatmu kecewa. Ujung pertemuan akan berakhir indah bila sudah melepas dengan ikhlas. Dan, percayalah ujung pertemuan merupakan awal kedatangan sesuatu yang baru. Terimakasih Ujung Pertemuan, Terimakasih The Rain, Terimakasih Mahkota.