Haiiii, aku kembali menuangkan semua yang ada di kepalaku akhir-akhir ini.
Dan untukmu yang telah pergi dan takkan pernah kembali. Terimakasih sudah selalu menemani dalam setiap masaa sulit. Ku kira banyak dari kita yang belum selesai, tapi terimakasih sudah menjadi penyemangat serta pengingat bahwa hidupku harus tetap berjalan.
Sudah hampir sebulan aku kembali merantau dengan predikat mahasiswa kembali. Yaaa keinginanku bersekolah lagi bukan ajang pelarian diri dari rumah kok, aku ingin mempunyai "nilai" lainnya yang dapat dibanggakan oleh ayah dan ibuku. Walaupun sampai saat ini sepertinya aku belum cukup memuaskan.
Jika ditanya keadaanku, aku bilang aku cukup tak baik-baik saja. Tenggorokanku semakin menjadi, nafsu makanku yang dulunya hebat kini ntah lari kemana. Tak jarang aku mengeluarkan seluruh isi perutku setelah makan. Hahahahahh sedih ya, baru ku sadari nikmat sehat adalah segalanya.
Untuk kelasku, aku mengambil peran sebagai koordinator kelas. Ntah apa yang merasuki mengambil peran itu, tapi aku bahagia karena teman-teman kelasku sejauh ini sangat beragam dan sangat baik. Sekarang aku lumayan pusing mengikuti mata kuliah yang lumayan asing dari pengetahuanku, pusing tapi aku masih semangat.
Malang, lagi-lagi menjadi kota yang tak tergantikan olehku. Malang menemukanku dengan keluarga baru, Mba Jehan yang seperti malaikat. Terlalu baik jika hanya kuanggap sebagai teman kosan, bahkan aku menganggapnya sebagai kakak sambungku di perantauan. Lalu ada Dede, temanku mencurahkan emosi dan kegilaan yang terpendam, berisik dan keanehan kami menjadi satu. Ada ibu kos yang tetap saja sama, jarang menangih tunggakan kosan sampai kami yang merasa sungkan. Ada Mimi dan Mawad, dua teman SMA ku inii menjadi tempat ketika suasana kos terlalu membosankan untukku. Oiyaaa akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengikuti tarbiyah, aku tau imanku sangat tipis dan aku butuh asupan yang mengingatkan ku tentang Kuasa Allah.
Sebenarnya banyak sekali yang akhir-akhir ini membuatku sedih, tentang previlege yang dimiliki sebagian orang disekitar ku adalah salah satunya. Hahahahah konyol memang, siapa yang tahu dia akan lahir dari keluarga terpandang, terkenal, dan berkecukupan lebih. Tapi namanya juga manusia, iri selalu menjadi racun. Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku juga punya previlege. Ayah yang selalu ada dan mengusahakan segala hal untukku. Cinta pertamaku yang tak pernah mengeluh ini menjadi penyemangat ku, aku yakin Ayahku adalah orang hebat sangat hebat. Kehebatannya yang luar biasa tak bisa cukup ku tuliskan disini.
Ayah adalah alasanku kembali menjadi mahasiswa. Aku ingin ayah bangga, bahwa salah satu anaknya bisa menjadi magister hebat. Ayah ingin sekali menapaki kakinya ke Bumi Arema, mendatangi wisudaku secara langsung di kampus. Katanya selagi "punya umur" dan "kesehatan". Ayah ingin tahu bagaimana kota malang, dan bagaimana kehidupan anaknya disana. Percayalah aku menangis saat menulis ini.
Untuk ibu, aku tak cukup dekat dengan ibu. Ntah kenapa, tapi ku yakin ibu menyayangiku dengan caranya. Kalau boleh aku jujur, aku sedikit lelah jika ibu memintaku mencari pekerjaaan sampingan mengingat aku hanya kuliah di hari Jumat dan Sabtu. Bukannya aku tak mau, sudah ku lakukan namun jarak yang jauh tak menutupi penghasilanku. Tapi aku paham, ibu tak mau aku hanya bosan diam di kosan disamping itu aku bisa mengurangi beban ayah dan ibuku. Hehehhe
Akhir-akhir ini sudah ku katakan kondisi kesehatanku tidak cukup baik. Tiba-tiba kematian membuatku selalu teringat. "Bagaimana jika aku mati, apakah ayah akan kehilangan anak kesayangannya"
"Bagaimana jika aku mati, sementara kuliahku belum rampung dan aku hanya akan menjadi beban bahkan "ujian" bagi keluarga"
"bagaimana jika aku mati, aku sadar amalan ku masih belum cukup untuk ku pertanggungjawaban"
Ahhh kematian lagi-lagi menjadi topik yang sering sekali aku pikirkan selain tugas kuliahku ahahahaha. Aku takut waktuku tidak cukup untuk menikmati dan mensyukuri semua yang terjadi dalam hidupku.
Belum lagi, tadi subuh aku bermimpi "Kamu" kembali menghampiriku. Melempar-lempar bola seakan mengajakku bermain, kamu bertanya kepada ku "Apa bedanya setelah aku tak ada. Apa yang terjadi dengan Umi ku". Rasanya cukup jika aku kembali bercerita tentang mu. Ada perasaan takut terhadap mimpiku sendiri. Dan kamu adalah kenyataa dari mimpi burukku.
Nanti jika aku dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tolong temani aku ya, beri aku kekuatan dan pencerahan agar hidupku kembali "hidup". Izinkan aku untuk menikmati indahnya dunia, mempunyai keluarga kecil yang menjadi sumber kehangatan.