Rabu malam, di bawah cahaya kota dan hangatnya cinta. Aku dan suamiku berjalan sore, menyusuri jalanan untuk mencari kontrakan yang cukup nyaman dan bisa menjadi tempat berolahraga kaki. Kegiatan sederhana itu ternyata menyegarkan—bukan cuma tubuh, tapi juga hati.
Kami tiba di Ramayana. Tanpa rencana, kami mampir ke XXI karena film SORE: Istri dari Masa Depan sedang ramai dibicarakan. Kami shalat Maghrib bersama. Lalu makan malam berdua. Sembari menunggu film, kami berjalan santai melihat-lihat baju. Waktu seperti melambat—semuanya terasa tenang, damai, dan penuh kebersamaan.
Saat film dimulai, suamiku tertidur. Tapi aku tidak marah. Aku memaklumi—dia lelah setelah seharian bekerja dan ikut berjalan mencari tempat tinggal. Mungkin film ini bukan genre favoritnya. Dan aku? Aku bahagia. Karena kebersamaan tidak selalu harus tentang “melakukan hal yang sama.” Terkadang, cukup dengan berada di sisi satu sama lain… itu sudah cukup.
💭 Yang Aku Pelajari dari Film “SORE”
Karlo berkata:
Ada tiga hal yang tidak bisa diubah: masa lalu, rasa sakit, dan kematian.
Aku merenung… 🔹 Masa lalu: aku tak bisa kembali ke sana, tapi aku bisa memilih untuk berdamai. 🔹 Rasa sakit: tidak bisa kuhindari, tapi aku bisa memilih untuk tumbuh melaluinya. 🔹 Kematian: tidak bisa kutolak, tapi justru karena itu aku ingin hidup lebih sadar dan bermakna.
Film ini mengajarkanku bahwa kita tidak bisa mengubah seseorang—sekeras apapun kita berusaha, jika orang itu tidak mau berubah dari dirinya sendiri. Maka yang bisa kulakukan adalah mencintai dengan bijak, memahami batas, dan menjaga hatiku sendiri.
💖 Penutup Hati
Malam ini, aku tidak hanya menonton film. Aku berdamai. Aku memaafkan. Aku menerima. Dan aku bersyukur—untuk waktu bersama suami, untuk kesadaran baru dalam hati, dan untuk cinta yang terus belajar menjadi dewasa














