Saya Nggak Bisa jadi Pacarmu, Kita Sahabatan Aja
Saya adalah seorang perempuan yang punya sahabat laki-laki. Laki-laki betulan, meskipun kemampuan olahraganya sedikit lamban. Laki-laki betulan yang suka perempuan. Kusebut laki-laki betulan, sebab stereotip terhadap laki-laki yang punya banyak sahabat perempuan adalah laki-laki yang sebenarnya bukan laki-laki. Semoga kamu paham maksud saya.
Saya sering makan berdua dengan sahabat saya itu. Sebut saja namanya Kunyuk. Sesungguhnya makan berdua kemudian tertawa-tawa adalah hal yang biasa kami jalani sehari-hari. Nggak hanya makan siang atau malam, kami bahkan kerap berduaan hanya untuk sahur dan makan pagi.
Suatu hari salah satu senior saya (sebut saja Yanto) memergoki kami sedang makan berdua. Saya dan Yanto nggak terlalu dekat. Kami beda fakultas. Kami kenal gara-gara sama-sama terlibat dalam satu kepanitiaan di kampus sendiri. Selama ini, Yanto kadung mengenal saya sebagai jomblowati yang terlalu malas melakoni drama pendekatan dengan lelaki. Kebersamaan saya dengan Si Kunyuk pun membuat Yanto berspekulasi. Esoknya, Yanto bertanya, “Siapa tuh yang kemarin makan berduaan sama kamu?”
Tentu saja dengan jujur saya menjawab, “Sahabat saya.”
Lucunya, saat itu mata Yanto malah menggerling sambil sok-sok menggunjing, “Yakin nih cuma sahabat?”
Spontan, jidat saya kerung. Harus banget ya saya jawab pertanyaan ini?
Tiba-tiba saya membayangkan tangan saya menjulur menyalami Yanto. Kami saling menjabat selayaknya penghulu dan seorang calon suami. Kami pun berijab kabul, “Anda yakin bahwa dia hanya sahabat Anda, tidak lebih?” “Saya yakin!” “Sah?” “Sah!”
Yah, sejujunya saya juga nggak ngerti sih apa yang dimaksud dengan ‘lebih’ dari hubungan persahabatan. Pada masa jahiliyah ketika saya sempat punya pacar, saya toh tetap minta ditemani oleh sahabat perempuan saya daripada (mantan) pacar saya ketika belanja celana dalam dan ciput untuk lebaran.
Saya kira, label sahabat dalam hubungan saya dan Si Kunyuk sudah cukup jelas. Saya kira, karena hampir semua orang punya sahabat, kedekatan saya dengan Si Kunyuk menjadi hal yang wajar. Namun, sepertinya propaganda friendzone yang pernah populer gara-gara film Perahu Kertas dan Refrain masih melekat di kepala barudak hits Instagram.
Yang lebih mengherankan lagi, label ‘sahabat’ acap kali dijual murah oleh perempuan-perempuan yang berusaha menolak pernyataan cinta lelaki. Katanya sih jadi sebuah cara yang halus. Tentu saja saya nggak pernah melakukan ini, pun sahabat perempuan saya nggak ada yang melakukannya (sejauh pengamatan saya). Obral label ‘sahabat’ saya temukan di sebuah buku motivasi islami yang berisi pahit-manis pencarian jodoh sang penulis.
Dalam buku tersebut, sang penulis bercerita tentang kisah pribadinya menemukan pendamping hidup. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah menolak seorang lelaki dengan mengikuti saran sang ibu. Ibunya berkata, “Tolak dengan baik-baik aja. Bilang kalau kamu nggak bisa pacaran, kamu maunya sahabatan aja.”
Jangan lupa, saya sudah bilang sebelumnya kalau buku tersebut adalah buku motivasi islami. Maka, kamu sah-sah saja membayangkan sang penulis adalah perempuan berkerudung lebar berkaus kaki, berperangai santun, dan nggak pernah menatap mata kalau ngobrol dengan lelaki. Sekarang, bayangkan jika perempuan itu benar-benar bersahabat dengan lelaki yang ditolaknya itu. Beliau jadi seperti saya; punya sahabat lawan jenis.
Cara saya bersahabat dengan lawan jenis nggak jauh berbeda dengan persahabatan antarperempuan. Saya dan Kunyuk sering jalan bareng, belanja bulanan bareng, nonton bareng, main ke timezone bareng, karaoke bareng, curhat soal gebetan, sampai curhat soal masalah keluarga. Kadang-kadang cuma berdua, kadang-kadang bersama sahabat-sahabat lainnya. Bedanya, (1) di depan Si Kunyuk saya nggak pernah membuka penutup kepala dan (2) berusaha sebisa mungkin nahan tangan biar nggak gampang rangkul-rangkul dia.
Oh iya, saya lupa bilang kalau saya punya kemiripan dengan si penulis buku motivasi islami: berkerudung lebar dan (kadang) berkaus kaki. Bedanya, saya versi tomboy yang kerap menjitak kepala kawan lelaki. Maka, saya tak bisa membayangkan perempuan se-akhwat beliau bisa berperilaku sama seperti saya (dalam hal bersahabat dengan lelaki). Keheranan saya dilandasi oleh tulisan-tulisan super-subhanallah beliau yang cukup memusingkan bagi seorang pembaca buku-buku Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu seperti saya.
Sudah bisa membayangkan bagaimana caranya perempuan seperti beliau bersahabat dengan seorang laki-laki?
Terlebih lagi lelaki yang beliau ajak bersahabat itu adalah lelaki yang pernah beliau tolak cintanya. Hadeuh… sahabatan gundulmu, Mbak. Baca dulu semua istilah dalam KBBP, deh. Kamus Besar Bawa Perasaan. Belum ada sih kamusnya. Nanti saya bakal bikin ketika populasi manusia baperan di Indonesia sudah mulai berkurang.
Propaganda friendzone ini rupanya lebih mendarah daging di otak orang-orang yang punya pacar atau calon pacar atau minimal gebetan atau…. Ah, bodo amat. Buat perempuan (nyaris) kebal-romansa seperti saya, hubungan pacar maupun calon pacar toh nggak ada bedanya. Sama-sama nggak tahu cara cebok pasangan betul-betul bersih atau nggak.
Suatu waktu, saya pernah berkesempatan main ke Dunia Fantasi (Dufan) Ancol bersama Si Kunyuk dan satu sahabat perempuan, sebut saja Kucing. Selama kami bermain, Si Kunyuk kerap terlihat berkonsentrasi dengan ponselnya, terlihat siaga bertukar pesan dengan seseorang di seberang sana.
Begitu kami bertiga selesai bermain, mantan Si Kunyuk (yang sedang revisi masa pendekatan) menghubungi saya dan Si Kucing lewat pesan Instagram. Log in pakai akun Si Kunyuk pula, bukan akun pribadinya. Isinya? Bayangkan saja seperti apa isi pesan dari seorang perempuan yang nggak percaya sama sahabat perempuan pacarnya.
Pikir saya; oalah, sedari tadi Si Kunyuk sedang bertengkar dengan (mantan) pacarnya, toh. Hmmm, nggak apa-apa lah sedikit terlibat dalam drama percintaan mereka. Hiburan. Sudah terlalu sering saya menonton drama kolosal Korea, inilah saatnya menghadapi drama betulan.
Kesimpulannya, sekarang saya paham esensi menjaga hubungan dengan lawan jenis biar nggak kena fitnah. Barangkali, gunjingan-gunjingan serupa “Yakin cuma teman?” “Cuma sahabatan?” sudah lama tercatat di shiratal mustaqim jauh sebelum Adam memakan buah khuldi. Dalam agama saya, (kata buku PAI) hubungan antara lelaki dan perempuan selain dalam konteks profesional atau pekerjaan sebaiknya dihindari. Apalah saya yang menafsirkan ayat tentang ‘menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan’ dengan ‘Kalau mau kentut mah kentut aja. Nggak usah jaim-jaim deh, kalau baper repot!’.
Buat para perempuan, catat: bersahabat dengan lelaki hanya bagi mereka yang bernyali.
© Asmi Nur Aisyah, Sukabumi 22 Oktober 2017