Bias matamu terpancar sendu,
Seakan ada rindu.
Raut wajahmu terpancar duka,
Seakan ada luka.
Namun senyummu terpancar pesona,
Seakan tak ada hina.
Sandiwara tanpa pura-pura,
Seakan nyata dalam realita.
Penantian tanpa kiasan,
Seakan aktif dalam fiktif.
Ingin kenal lebih dalam,
Tapi kaumenutup terlalu dalam.
Ingin lihat lebih jauh,
Tapi kaubersembunyi terlalu jauh.
Apa daya kuasaku ?
Tak dapat menahan kauberlaku.
Apa daya tindak ini ?
Tak dapat menahan hasrat ini.
Cinta datang terlalu cepat,
Tapi kauberlalu lebih cepat.
Rasa pun semakin kuat,
Tapi kautetap tak menguat.
“Kasih, kali ini saja
Terima aku dengan sahaja.
Kasih, tunjukkan lakumu
Aku akan hapus lukamu.
Beri aku sedikit celah
Untuk hatimu yang lelah,
Beri aku sedikit ruangmu
Untuk mengisi waktumu
Luka, sedih, dan kecewamu
Hanya bayang semu untukmu.
Suka, kasih, dan bahagiamu
Akan hadir dariku, untukmu.”
Usah kauketahui
Bayangmu telah menghantui
Acuhku akan engkau
Bukti nyata diriku candu
Beginilah diriku
Begitulah dirimu
Ku ingin menyatu
Kau tak ingin bersatu
Luka apa lagi di memorimu yang perlu kuhapus?
Ingat masa lalumu, hanya masa lalu !
Disini harapanku akan dirimu tak pernah pupus,
Menunggu sampai rasa ingin sendirimu berlalu.
Mungkin semesta tak beraksi,
Namun akan menjadi saksi
Perjuangan meluluhkan relung sukma
Yang bagaikan kisah tak bertema.