Yang bikin kecewa setengah mati tidur dengan aman dan nyaman di sebelah.

No title available

★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
TVSTRANGERTHINGS

Love Begins
One Nice Bug Per Day

No title available
AnasAbdin

shark vs the universe

Product Placement
Monterey Bay Aquarium
taylor price
Claire Keane
Peter Solarz

Origami Around
Cosmic Funnies
$LAYYYTER

❣ Chile in a Photography ❣
Game of Thrones Daily
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Syria
seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from Guernsey
@separuhbulan
Yang bikin kecewa setengah mati tidur dengan aman dan nyaman di sebelah.
Merasa Berjasa
Setelah melewati sebuah peristiwa yang sangat memberikan pembelajaran besar, ada satu hal yang menurutku terasa sangat besar pelajaran dan pemahamannya. Meski dulu pernah kupikirkan, tapi sekarang rasanya lebih terinternalisasi dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, kita mungkin terlibat dalam hidup orang lain. Dan melalui keterlibatan kita, orang tersebut bertumbuh, berkembang, menjadi lebih baik, menjadi lebih makmur, dan hal-hal baik yang menyertai orang ini. Nah, apakah ada muncul di hatimu perasaan merasa berjasa? Merasa karena kamu-lah, orang tersebut bisa semakin baik hidupnya? Nah, perasaan inilah yang sekarang kuwaspadai. Sebab menyadari bahwa diri ini hanyalah perantara. Menjadi perantara sendiri adalah sebuah anugrah yang luar biasa, karena kita turut mendapatkan kebaikan dari apa yang kita kerjakan terhadap orang lain sebagai amalan baik.
Akan tetapi, segala hal yang berhasil seseorang capai dalam hidupnya itu semua adalah karunia Allah. Bukan karena kita. Bahkan, mudah juga bagi-Nya untuk mengganti "cara dan jalan" agar orang tersebut tetap mencapai rezekinya tanpa melalui kita. Untuk itu, diikut sertakannya diri kita dalam proses hidup orang lain adalah anugrah tersendiri bagi kita yang patut kita syukuri. Karena ada amal baik yang kita kerjakan di sana.
Untuk itu, saat kita menjadi pengusaha dan menggaji karyawan hingga puluhan juta per bulan. Sejatinya kita sedang menjadi perantara rezeki orang lain. Maknai hal itu sehingga kita lebih bersyukur serta amanah dalam memerantarai rezeki tersebut, tidak mencuranginya. Saat kita sedang menjadi pengajar dan menyalurkan ilmu pengetahuan kepada seseorang. Sejatinya kita sedang menjadi perantara ilmu-ilmuNya. Jika seseorang bisa menjadi sangat pandai karena kita ajar, itu juga karena karunia Allah. Keterlibatan kita di sana sudah menjadi amalan bagi kita, ilmu yang nanti orang lain gunakan untuk kebaikan, juga akan jadi pahala bagi kita. Itu sudah merupakan karunia yang amat besar.
Banyak hal lainnya yang nanti kita akan terlibat dalam hidup orang lain. Bahkan mungkin, di masa-masa sebelumnya, orang lain pun terlibat dalam hidup kita. Orang-orang yang menjadi perantara rezeki-Nya, kebaikan-Nya, takdir-Nya yang akhirnya membentuk dan menjadikan kita seperti hari ini. Mereka layak untuk mendapatkan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya dari kita dan jika ada rezeki, maka berpikirlah lagi bahwa jangan-jangan kita juga bisa menjadi wasilah rezeki dan hal-hal lain bagi mereka saat ini.
Dulu kapasitas kita adalah menjadi perantara bagi mereka untuk mereka bisa berbuat baik. Kini, kapasitas kita mungkin juga sudah bisa menjadi perantara yang lebih besar lagi. Kita membalas kebaikan mereka, selain dengan mendoakan, juga menjadi perantara rezeki-Nya, pertolongan-Nya, dan hal-hal lainnya. Atas karunia-Nya jugalah, kita yang dulu diperantarai, bisa menjadi perantara. (c)kurniawangunadi
"Jadi pelaku tapi mengaku korban; kamu manusia atau penyakit menular?"
-
Ferliana Harman
Jatuh Cinta dengan Rasa Percaya
Aku tak bisa menebak apa yang hatimu ucapkan, apa rasa yang sedang berkelindan di hidupmu, pikiran yang membuat larut tidurmu.
Aku hanya kenal marahmu begitu. Bahagiamu seperti itu. Dan sedihmu demikian. Tak mengapa tak bisa memahamimu dengan baik, biar itu jadi urusanku seumur hidup.
Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tahu jika aku tidak ada ketakutan sedikitpun untuk berada dalam pikiranmu yang berkecamuk, pada perasaanmu yang pasang surut.
Maukah kamu percayakan padaku?
Untuk segala sesuatu yang seringkali kita pertanyakan, barangkali hanya perlu dilakukan, dilakukan, dan dilakukan saja. Karena terus mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa malah membuat pikiran dan diri menjadi semakin rumit. Cukup lakukan saja, jangan bertanya, dan biarkan Allah yang memberikan kejutan baiknya untukmu di suatu hari nanti.
Caca
Aku : mas kalau jadi ibu rumah tangga tuh perangnya sama perasaan ga berharga
Suami : .....
Aku : kalau ibu bekerja perangnya sama perasaan bersalah. Jadi syukuri yang dijalani sekarang aja yaaa... sama lakuin yang terbaik yg kita bisa.
Suami : .......
Ttd aku yang ngomong sendiri, jawab sendiri wkwkwkwk
Emang cuma butuh didengerin aja🤣
🙂🙂🙂🙂🙂⚡️⚔️
Sepertinya memang dia. Tapi sepertinya bukan. Mari mencoba menerima. Mari mencoba menemukan lagi pelan-pelan. Ah, riuh dan bising sekali isi kepalaku akhir-akhir ini.
Kamu adalah keraguan dan keyakinan yang menjelma jadi satu waktu. Di satu sisi aku ingin memeluk isi pikiranmu, di sisi yang lain ingin kudorong kau menjauh. Apa benar kau yang selama ini ku minta pada Tuhan?
Hati-Hati di Jalan
Rindu berguguran dari pohon kenangan:
Serupa jati di musim kemarau. Melepas beban. Menjelang hidup yang lebih ringan.
Ada hal-hal yang memang harus dilepaskan:
Gambar-gambar sentimental, temu-temu insidental. Kesepakatan yang sempat membahagiakan. Sederet rencana dua manusia lugu yang sok tahu dan banyak mau.
Barangkali sudah saatnya merayakan perpisahan. Tersenyum dalam kesunyian masing-masing. Bahagia walau tak lagi bersama.
Melangkah meski tak searah.
Menapaki jalan hidup yang penuh misteri dan teka-teki: pustaka yang tak pernah khatam dibaca.
...
© nurun ala | gara-gara album baru Tulus
Sulit rasanya untuk membalik lembaran dalam sebuah buku dan meneruskan membacanya, saat kamu mengetahui bahwa seseorang yang kamu cintai tidak akan ada di bab berikutnya, tetapi ceritanya harus terus berlanjut.
Lanjutkan dan jalani saja hidupmu saat ini dengan baik, entah nanti ditakdirkan dengan yang kamu impikan atau tidak. Kamu hanya bisa marancang dengan baik, dan Allah akan memberikan jawaban dan hasil yang terbaik untukmu.
Selamat menikmati hidup dengan syukur, hari dan seterusnya.
@jndmmsyhd
Jika aku menjadi bunga, aku ingin jadi bunga matahari. Sebab ia selalu tahu kemana harus menghadap. Tak harus kebingungan mencari arah, mencari tujuan, mencari petunjuk. Hanya ada satu. Dan satu benda menakjubkan itu tak pernah mengingkari janji—selalu datang dari timur.
Jika aku diminta menyebutkan bunga yang lain, aku tetap ingin jadi bunga matahari. Tersusun darinya ratusan bahkan ribuan bunga kecil dalam satu bongkol. Sebab kuyakini, ada banyak pengalaman, kebaikan, kesedihan, penderitaan, kesyukuran, kebahagiaan dari masa lalu dan masa kini yang menyatu membentuk utuh diri seseorang.
Yang membuatnya selalu mampu tumbuh dan berkembang tanpa ragu-ragu. Seperti bunga matahari yang bisa memiliki tinggi 3 hingga 5 meter. Cukup tinggi untuk ukuran setangkai bunga.
Meski pun aku tahu, aku tak secantik bunga mawar. Lebih dicari, lebih dikagumi. Rona warnanya membuat siapapun jatuh cinta. Tak juga seharum bunga melati. Yang lebih digunakan untuk menyemarakkan rasa dan suasana melalui aromanya. Siapa hati yang tak akan suka.
Apalah bunga matahari? Bagimu mungkin aneh, tapi untukku, Ia membawa keceriaan dan kehangatan bagi siapapun yang melihatnya.
Hmm aku jadi teringat lirik lagunya Shannon Purser, "But I'm a sunflower, a little funny. If I were a rose, maybe you'd want me. If I could, I'd change overnight. I'd turn into something you'd like." Sejujurnya aku tidak sependapat dengannya. Mengapa harus menjadi sesuatu yang orang lain inginkan hanya karena ingin diterima, dicintai dan dimiliki seseorang?
Biarlah mereka yang lebih menyukai mawar ketimbang bunga matahari. Ada jutaan milyar penduduk bumi saat ini, pasti salah satunya ada yang menyukai bunga matahari. Jangan khawatir.
🌻🌻
Jika tidak perlu menimbang, yogya masih jadi kota pertama yang diinginkan untuk tinggal.
Melepaskan orang-orang yang emang nggak bisa dipertahankan itu keputusan yang tepat sih. Nggak semua orang cocok dengan kita. Kitanya mau berbuat baik tapi kalau ngurusin satu orang itu abis energi dan pikiran muter otak : mau merubah, mau adjust sama polahnya dia wkwk
Contoh : dalam pertemanan kadang pengen membina hubungan baik, tapi doinya baperan bgt, banyak nggak cocoknya dan bener-bener butuh energi besar buat merawat pertemanan ini. Ya dia baik sih, cuma ga cocok aja kali ya... Daripada makan hati, menjauh/biarin aja dah, itu kadang bikin lega🥲
Contoh lagi: berteman di dunia maya, doi mah byk yg jadiin panutan. saling follow, tapi kontennya menyindir, udahlah kadang ngomennya nggak enak, unfollow adalah pilihan tepat👍🏻👍🏻👍🏻
Kaya lepas aja satu-dua beban wkwkwkwkwkwkwk
Alhamdulillaah~~
Kamu semakin jauh. Aku tidak lagi mampu mengejarmu.
Melepaskan yang harus di-ikhlaskan, meluaskan penerimaan, menata kembali arah ke depan.
-di malam yang lembab. Ketika segala sesuatu terlihat lebih jelas.
Mengemasi Segala Kenangan Baik
Sabtu lalu usai pulang kerja saya memutuskan mendekor ulang kamar. Cukup random memang, tapi saya merasa butuh suasana baru. Terlebih wallpaper yang sudah lama dibeli menganggur begitu saja di bawah meja.
Tentu saja dekor mendekor itu tak selesai dalam satu hari. Esoknya hingga siang hari saya memutuskan melanjutkan pasang memasang wallpaper, menempel nempel hiasan lalu menggeser posisi tempat tidur. Terakhir memutuskan mengemasi sisa-sisa kado sidang dan wisuda di atas rak buku, termasuk beberapa figura, selempang bahkan beberapa benda yg saya tak tau dari siapa.
Saat sidang dan wisuda alhamdulillah saya mendapat cukup banyak kado, beberapa diantaranya memang tak bernama dan sudah terlanjur bercampur saat itu. Entahlah apa yang dulu saya pikirkan saat menaruh kado-kado itu disana. Rasanya baru kemarin, ternyata sudah dua tahun berlalu. Beberapa diantara bahkan belum saya buka bungkusnya. Sebagai seorang yang punya bahasa cinta "gift", saya memang teramat menghargai pemberian dari orang lain. Surat-surat yang diberi bersama hadiah-hadiah tadi pun saya simpan dengan rapi. Terkadang saya baca sesekali.
Dulu saya pikir melihat barang-barang yang mengingatkan saya pada Semarang bisa membuat saya semakin bersemangat untuk kembali kesana. Namun tanpa sengaja menyimpan barang-barang itu membuat saya terjebak di masa lalu. Dalam ingatan lampau. Kenangan yang akan pernah bisa saya raih lagi, ga perduli seberapa indah dah menyenangkannya. Saya paham ga bisa selamanya bergantung pada kenangan baik itu. Saya harus kembali ke masa sekarang. Menghadapi masa depan. Menyusun kembali harapan di depan.
Seindah-indahnya masa lalu, dia akan selalu ada dibelakang. Keberadaannya hanya untuk dikenang, sebab tak bisa kembali diulang. Ada masa depan yang butuh diperjuangkan.
Setelah membersihkan banyak barang, kamar saya terasa lebih lapang. Semoga hati saya pun demikian.