Mengawali tulisan ini, bolehkah aku tertawa?? Lalu bolehkah aku... menangis setelahnya??
Karena ya.. seharusnya yang mengakhiri hari ini harusnya kamu kan? Dulu kamu selalu bilang ke orang-orang kalau akhir Agustus nanti bukan kamu lagi yang pegang disini. Tapi kenapa sebaliknya? kenapa aku yang harus berakhir? HAHA benar-benar lucu bukan?
Dan maaf karena aku mendongeng lagi. Maaf karena tulisan panjang ini seharusnya dikirim ke kamu, tapi sayangnya, kita harus berakhir hari ini juga tanpa harus ada perdebatan lagi setelahnya. Jadi ya takutnya aku beneran mengirim ini malah semakin panjang masalah ini. Sedang kamu benci perdebatan padahal ini bukan perdebatan sebenarnya, ini hanya sesuatu yang masih ingin kuluruskan. Karena aku tidak mengirimnya, maka aku cuma berharap ini akan menjadi memori aku untuk hari ini. Aku simpan disini di beranda yang penuh perjalananku.
Hi, kamu J, orang yang sangat baik. Tapi ternyata baikmu tidak ke aku saja. Melainkan ke semua orang. Itu yang aku salah artikan dari awal. Mengira kamu ada maksud lebih dengan semua nya. Tapi aku salah besar. Daripada memperpanjang kebaikan kamu, mending aku minta maaf saja karena melawati batas.
Hi, kamu J. Mari sama-sama mengingat kejadian 2 hari ini. Bahwa, kemarin, di tanggal 29 Agustus 2025, tanpa perasaan bersalah, tiba-tiba kamu memanggilku keruangan lagi. Aku duduk di hadapanmu. Kamu langsung to the point. Mempertanyakan kembali kenapa aku begini? kenapa aku berulah lagi? bahkan mengungkit semua perkataan mu beberapa bulan yang lalu, perkataan dan penjelasan yang masih saja tidak bisa aku cerna. Ah sial! Kenapa aku menangis menulis ini! Lanjut. Jadi maaf karena tidak pernah mengerti dengan ribuan kata yang sudah kamu jelaskan itu. Yang tidak pernah aku renungi. Yang tidak pernah aku pahami. Ya karena itu semua memang tidak penting. Karena yang penting cuma "aku ingin kerja apa yang kuinginkan saja" tapi sayangnya, itulah yang membawaku ke posisi sekarang, jatuh.
Aku ternyata sudah sejauh itu bersikap egois menurutmu. Oke anggap saja 80% salahku, sisanya lagi salahmu yang tidak kamu sadari. Tapi aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya. Karena tetap aku yang jahat. Intinya, dengan semua ego yang kita miliki hari itu (aku dan kamu) resign hasil akhirnya. Kamu menyuruhku resign sesuai janjiku sendiri, "aku mau kamu buat surat resign terus letak meja, besok gak usah masuk lagi" aku ingat jelas kalimat itu. Kalimat yang menjadi sejarah panas perjalanan hidupku. Aku sempat memohon untuk berikan kesempatan lagi. Tapi nihil, benar-benar sudah tidak ada. Kamu sudah benar-benar kecewa padaku. Maka aku kembali mencoba menjelaskan, bahwa aku tidak akan begini ke orang baru kecuali ke kamu. Tapi jawabmu.. aku tidak boleh memilih. Aku tidak boleh seenaknya ini itu. Akupun mulai ragu, tapi egois juga sedari tadi menguasai ku. Sehingga dengan semua perasaan egois itu yang masih belum bisa ku kontrol. Aku mengiyakan. Aku melepaskan ini. Padahal ini adalah kerjaan pertama yang paling aku cintai bersama orang-orang yang meski dulu annoying tapi berubah menjadi penyemangatku ke kantor, ya team kita. Ah sial! Aku menangis lagi! Aku masih ingin mengobrol dan bercanda dengan mereka. Tapi kamu memutuskan hubungan ku dengan mereka. Sungguh jahat!. Dan juga orang yang dulu menjadi penyemangat ku ke kantor berubah menjadi orang yang membuat ku harus berakhir disini, ya kamu. Kamu yang mempersilahkan ku dengar hormat untuk segera angkat kaki dari tempat ini.
Asal kamu tahu saja, seberapa usaha pun aku ingin mengubah sikap, aku bakal langsung lepas kendali ketika melihatmu. Dan ternyata kamu sulit sekali menerima kalau aku cuma slow respon itu ke kamu saja. Padahal alasannya cuma satu, ya karena masih ada perasaan bersalah atas kejadian itu yang masih belum bisa aku lupain. kenapa kamu tega lakuin itu ke aku kemarin? Kenapa??? Itu adalah kesalahan mu 20%.
Dan kemarin kamu bilang.. "andai kamu mau sabar sebentar saja karena aku udah mau resign" oke... sekarang boleh kah aku yang tanyakan kembali? Kenapa bukan kamu saja yang sabar lebih sedikit lagi menghadapi aku?? Seperti katamu tadi. Artinya, tadi kamu panggil aku karena sudah tidak sabar juga kan menghadapi aku ? ya aku juga sama. Aku kembali bertingkah karena sudah tidak sabar menghadapi kamu yang dikantor mulu. Melihat kamu.. semua kejadian itu selalu terlintas. Aku tidak mau mengingatnya tapi selalu saja teringat sendiri. Jujur, sebenarnya kamu sendiri yang buat aku seperti itu. Ah andai saja semua kejadian itu bisa ditulis disini aku akan menulisnya.
Ya mungkin seperti ini saja baiknya. Salah satu diantara kita meninggalkan. Dan aku yang pertama mengambil peran itu.
Oh satu lagi, padahal faktanya, se slow respon nya aku, aku bakal tetap kerjain kan yang kamu suruh? Seberapa banyaknya pesan kamu yang tidak aku jawab, oke in, pun iyain, tapi aku tetap kerjain kan? Tapi kenapa kamu merasa tidak terima? Dan sudah berulang juga kan aku jujur. Aku masih butuh kerjaan ini, tapi entah kenapa melihat wajah kamu saja rasanya aku muak. Alasannya juga masih sama karena aku belum bisa lupain apa yang sudah kamu perbuat ke aku. Kejadian itu! itu yang belum bisa terhapus dari ingatan ini. Walaupun aku minta pertanggungjawaban pun tidak akan bisa karena aku tidak ada hak. Dan kamu pun merasa ini sesuatu yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. Bahkan kamu hanya bilang harus profesional ? Lucu sekali! Kamu gampang bilang itu karena bukan kamu yang punya rasa. Andai kamu yang di posisiku, bagaimana sakitnya.
aku baik J, tapi kamu yang buat aku berakhir menjadi tidak baik.
Pada akhirnya, hari ini kita sama sama kecewa. Aku kecewa karena kamu benar benar membiarkanku pergi, dan kamu kecewa karena aku tak lagi berubah. Hingga semua sudah selesai ku kerjakan, tidak ada pertemuan mata untuk terakhir kalinya. Aku lebih memilih menunduk. Kamu sempat berkata hati-hati, dalam hatiku aku kecewa. Aku tidak butuh kata itu. Aku tidak butuh apapun lagi darimu. Mari benar benar asing saja sampai aku baik dengan sendirinya.
Moncong Loe, 30 Agustus 2025