Sepertinya ada perubahan masa dari engko sek ke semua serba tergesa-gesa
Kultur shok
Stranger Things
art blog(derogatory)
macklin celebrini has autism

tannertan36

JVL
Sade Olutola
sheepfilms
Show & Tell
d e v o n

Kiana Khansmith

ellievsbear

No title available
𓃗
Monterey Bay Aquarium
almost home
YOU ARE THE REASON

No title available
wallacepolsom
🪼

pixel skylines
seen from Peru

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from France
seen from South Korea
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Taiwan
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Colombia
@septianaz
Sepertinya ada perubahan masa dari engko sek ke semua serba tergesa-gesa
Kultur shok
Lama tak buka tumbler, mumpung free anak-anak lagi libur nulis ah
Nanti kesannya jadi lupa sama tumbler karena ndak ingat dulu galau-galau larinya kesiapa
Lagi ditahap dimana saya bosan dengan hiruk pikuknya kota dan ingin pulang ke desa saja
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .
Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.
Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.
Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya . Seperti Ummu Habibah . Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya .
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu . Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu . Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya . Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin !”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .
~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu .
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak .
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan .
Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani .
Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸
Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses . Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu . Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu .
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri . Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor . Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia.
Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
Semoga terinspirasi…
✍🏻 WA BIS ( Belajar Ilmu Syar'I Akhwat )
🍂🍃Untuk para ibu dan calon ibu
“Yang tersulit adalah meyakinkan diri, bahwa rahmat Tuhanmu begitu banyak atas dirimu. saat mungkin kini kau sedang dalam keadaan ingin sekali menyerah saja atas pilihan hidup yang sedang kau jalani.”
—
Manusia membuatmu ingin mengambil keputusan menyerah. namun jauh dilubuk hatimu, engkau tetap ingin melangkah meski dengan tertatih sekalipun. sebab menyerah bukanlah pilihan yang tepat dalam hidupmu.
kini, saat semua manusia lari dari hidupmu. barangkali engkau lebih memilih riuh sendiri sembari menatap langit yang birunya dapat meredakan tangismu. Allaah ada lebih dari apapun. Ia ada bahkan disaat perasaanmu sedang hancur-hancurnya.
menata harapan yang telah hancur berkeping-keping itu tidaklah mudah. namun lihatlah sekali lagi langit yang kau tatap lekat-lekat itu. ia luas, seperti perasaan tabah yang berkali - kali menerima pedih. dan demikianlah seharusnya dirimu. engkau harus tabah dan tak menyerah atas kepahitan yang telah kau seka berkali-kali.
perasaanmu tidak akan berjalan sendirian sayang, dalam balutan sedih yang kau tabahkan dengan sabar. akan berbalas surga yang telah dijanjikan. mintalah pertolongan Allaah dengan sabar dan sholat. bukankah ayat itu selalu menjadi penguatmu? lalu, ketika ujian itu datang lagi, mengapa engkau lupa akan ayat yang membuatmu kembali mempunyai harapan?
percayalah sayang, wahai hati yang sedang berharap. harapanmu sungguh akan berwujud nyata dalam waktu yang tepat dan dengan orang-orang yang tepat. sebentar saja, bersabarlah. sabar. bersabarlah dengan sabar yang baik, wahai diri…
Pernikahan yang sesungguhnya
Aku tidak tau, harus cerita apa enggak, dan memang benar kita harus menemukan laki-laki yang baik agamanya
😭😭😭
Patah
Fitrah Seksualitas
Punya suami yang kasar? Kaku? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka
inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
(Ustad Harry Santosa)
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10213353357258539
Menjadi Perempuan
Subuh-subuh tadi gue dapet pasien anak yang datang dengan keluhan demam dan muntah-muntah. Dia datang diantar dua perempuan, satu agak muda, satu lebih tua dan kayaknya seumuran nyokap gue. Saat menjelaskan hasil lab dan kesimpulan diagnosis gue ke mereka berdua, gue baru tau ternyata tidak satupun dari mereka adalah ibu kandung si pasien. Yang nampak lebih muda adalah tantenya, yang nampak seperti nyokap gue adalah neneknya. Menurut si tante, ibu si pasien sudah meninggal sejak si pasien masih bayi. Ayahnya di luar kota.
Saat akan berpamitan pulang, si tante cerita sedikit kalau dia harus sampai rumah sebelum jam 6, karena ada 3 anak lagi yang harus dia siapkan untuk berangkat sekolah; 1 orang kakaknya si pasien, dan 2 lagi anaknya sendiri. Katanya, yang mengurus mereka berempat ya hanya dirinya dan si nenek. Saat dia dan nenek ke rs, ketiga anak tadi dititipkan ke tetangga.
Gue menatap kepergian mereka keluar dari pintu UGD dengan mixed feeling. Ingatan gue terlempar pada perempuan-perempuan dengan bermacam tanggungjawab dan memutuskan mandiri--yang pernah gue temukan dalam hidup gue.
Menjadi perempuan itu mungkin sama saja dengan menjadi manusia pada umumnya. Tapi (maafkan untuk opini-opini sexist setelah ini), entah kenapa rasanya menjadi perempuan makin hari makin banyak term and condition-nya, dan makin banyak yang...how to say it, take them for granted?
Well, mungkin karena gue juga perempuan, jadi gue lebih melihat bagaimana dunia sekitar gue memperlakukan perempuan. Gue tau pasti menjadi laki-laki juga ada saja problematikanya. Sayangnya, gue belum pernah menjadi laki-laki, jadi sulit untuk membayangkan rasanya menjadi laki-laki.
Gue melihat bagaimana teman-teman gue yang memberanikan diri menggugat cerai suaminya yang toxic, lalu setelah dia merdeka sebagai janda, lingkungan sekitar tidak berhenti menyalahkannya, dibilang egois dan tidak memikirkan nasib anaknya. Gue bahkan pernah menyaksikan salah satu dari mereka dijadikan olok-olok dengan guyonan mesum di sebuah pertemuan formal, hanya karena caranya memegang mikrofon ketika sedang menjadi pembicara. Ntar giliran mereka dress up properly, merawat diri dengan passionate, dibilang janda gatel potensi jadi pelakor.
Gue melihat bagaimana perempuan sekitar gue melawan stigma atau terjebak stigma harus begini dan begitu, tidak boleh begini tidak boleh begitu. Gue tau masih banyak kerabat gue yang tidak peduli dengan gelar dokter gue selama gue masih belum menikah, dan gue akan selamanya jadi perbandingan dengan sepupu entah berantah gue yang anaknya sudah tiga padahal dulu kami bermain di selokan depan rumah kakek bersama-sama. Gue bahkan pernah mendengar adik gue yang perempuan dikasihani karena lensa kacamatanya makin tebal, sedangkan adik laki-laki gue yang silinder-nya lebih parah malah dibilang tampan.
Gue menyaksikan sendiri bagaimana nyokap sering dibahas rakyat sekitar karena bekerja dan sekolah lagi, padahal punya anak yang masih kecil-kecil. Sedangkan senior gue yang jadi spesialis bedah dan belum menikah dighibahin perawat dibilang perawan tua, ngga akan ada lakik yang mau sama perempuan yang sekolahnya ketinggian. Sama halnya kayak tante gue yang mau ambil S3. Sudah nikah mau sekolah lebih tinggi, salah. Belum nikah mau sekolah tinggi, salah juga.
Gue pernah sekolah di tempat yang jauh dari kota besar. Sebagian besar teman-teman gue saat itu, tidak melanjutkan sekolah sampai kuliah. SMA saja sudah mewah. Ada yang akhirnya hanya di rumah, menikah sebelum usia dua puluh, dan beranakpinak. Katanya, perempuan ya mau bagaimana juga hakikatnya adalah dapur-sumur-kasur. Sudah begitupun masih ada saja mulut bangsat yang terus berkomentar, kapan menambah anak, kenapa belum ada anak laki-laki, kenapa tidak ASI, kenapa tidak lahiran normal, kenapa bayinya tidak dibedong, kenapa ari-arinya ngga langsung dikubur, dll dsb dst.
Oh belum lagi kalau mau membahas bagaimana dunia mengatur cara perempuan berpenampilan. Sudah pakai jilbab, disuruh pakai cadar. Tidak pakai jilbab, dibilang dosa jariyah. Pakai bikini di pantai, dihujat tidak sudah-sudah. Pakai make up sedikit, dibilang menor dan tidak alami. Tidak pakai make up, dibilang tidak merawat diri.
Padahal katanya perempuan selalu benar. Tapi seringnya malah perempuan serba salah.
Pedihnya lagi, yang menyalahkan ya perempuan-perempuan juga.
Udah pernah nonton Kim Ji-Young, Born 1982? Salah satu film tentang perempuan yang sangat membuat gue patah hati. Se-patahpatahnya. Bahkan abis nonton itu, gue menangis sepanjang credit, sampe lampu bioskop menyala. Terlalu relate, terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
(bentar, spoiler alert dulu)
Ceritanya tentang ibu muda anak satu yang akhirnya mengidap mental issue serius karena stress dengan tekanan sekitar sejak dia menjadi ibu. Bagaimana dia harus berkutat dengan rutinitas mengurus anak, mengorbankan karir cemerlang, siang malam menghabiskan waktu demi suami, anak dan rumah. Sudah begitu, all the credits still go to the husband.
Ini bagian paling perihnya. Menjadi perempuan, kadangkala, adalah menjadi bayang-bayang. Ketika berhasil mencapai sesuatu, jika sudah menikah, yang disebut adalah suaminya. Jika belum menikah, yang disebut orang tuanya. Perempuan seperti tidak boleh dipuji sebagai dirinya sendiri, dihargai sebagai dirinya sendiri tanpa imbuhan orang-orang lain. Seolah-olah perempuan tidak mungkin berdiri sebagai entitas sendiri.
Sebagain besar perempuan di sekitar gue yang sudah menikah, panggilannya bukan lagi namanya, tapi nama suaminya dengan tambahan kata Bu. Misal, Bu Bambang, Bu Broto. Atau kalau sudah punya anak, yang disebut nama anaknya. Misal, Mamanya Aisyah, Bundanya Keanu. Padahal si Bambang sama Broto ngga bakal bisa punya Aisyah atau Keanu kalo ngga ada si perempuan ini sebagai entitas nyata. Aisyah sama Keanu juga ngga bakal ada di dunia kalo ngga ada rahimnya si perempuan ini sebagai sosok spotlight.
Dulu, nenek gue pernah nasihatin gue pas gue abis sumpah dokter. Katanya, gue harus ngerasain dulu jadi perempuan mandiri yang tau harus apa dengan diri sendiri, mencapai apa yang mau gue capai selagi gue belum menikah. Karena ketika sudah menikah, kehidupan gue sebagai diri gue sendiri, akan berakhir.
Gue akan jadi Bu-(nama laki gue), atau Mamanya- (nama anak gue). Gue akan menjadi imbuhan, bukan lagi kata dasar. Segala apapun yang gue capai, credit-nya akan diberikan kepada mereka, bukan kepada gue. Bahkan ketika anak gue melakukan sesuatu yang membanggakan pun, yang akan disebut pertama kali adalah bapaknya.
Gue dulu mungkin ngga paham dengan itu, sampe akhirnya gue makin tua dan teman-teman sekitar gue satu persatu menikah. Nasihat nenek gue mulai masuk akal.
Mungkin maksud nenek gue bukan mendiskreditkan peranan istri dan ibu. Nenek gue hanya memberikan bitter pill yang sebaiknya gue ketahui sebelum menjalaninya. Karena toh dalam hal apapun akan ada menyenangkan dan tidak menyenangkan-nya.
Pada akhirnya, gue cuma mau bilang ke sesama perempuan dulu aja deh. Muluk-muluk banget kalo gue berharap semua orang paham.
Tolonglah, perempuan, kita tuh sama-sama perempuan. Sedikit banyak, kita lebih mudah memahami sesama, dibanding yang beda. Jadi, apa susahnya berhenti saling mengintervensi keputusan dan pilihan hidup satu sama lain, apalagi dengan kata-kata pedih menyayat hati, hanya atas nama "peduli"? Ngga ada peduli yang melukai, sayang.
Tolong biarkan perempuan mau menikah atau tidak, mau punya anak atau tidak, mau melahirkan caesar atau normal, mau asi langsung atau asip, mau beli baju anak di mothercare atau itc, mau bekerja atau tidak, mau sekolah sampai phd atau sampai smp, mau pakai skincare drugstore atau high end, mau rambut dicat atau dibotak cepak, mau pakai backless atau gamis, mau jadi escort atau biarawati, mau bela Kale atau bela Awan, mau mpasi instan atau masak sendiri, mau pulang malam atau pulang pagi, mau suka Hindia atau BTS, mau jadi janda atau perawan sepanjang usia, mau tinggal sama mertua atau tinggal di kontrakan sempit, mau jadi gojek atau dokter perusahaan tambang lepas pantai, mau pakai balenciaga atau produk miniso, mau gaya make up tasya farasya atau bare face kemana-mana, dll.
Mari saling peluk, saling tepuk pundak, saling rangkul, saling genggam--atas apapun keputusan dan pilihan hidup masing-masing. Mari menjadi lingkungan yang nyaman untuk sama-sama ditinggali. Mari saling menjadi kekuatan disaat dunia sedang jahat-jahatnya.
Mari berhenti sok tau, sok paling benar. Hidup nelangsa lo ngga akan lebih baik dengan opini-opini "sekedar mengingatkan" lo ke sesama perempuan, dan hidup bahagia lo juga ngga akan berkurang nilainya dengan menerapkan standar bahagia lo ke sesama perempuan lainnya.
Mari sibukkan diri dengan berbagi kabar baik, memuji dengan bahasa baik, berbagi info diskon skincare di online shop, saling mengingatkan jika ada flash sale popok atau tempat thrift shop atau spa yang enak atau makanan yang murah meriah kenyang, bertukar kabar kalau ada shade lipstik terbaru atau warna cat rambut atau merk catokan yang reccomended.
Mari menjadikan perempuan sebagai dirinya sendiri, sebagai kata dasar, bukan imbuhan.
ada rezekinya
tiap orang punya rezekinya sendiri-sendiri. ada yang rezekinya didekatkan dengan jodohnya. ada yang rezekinya dimudahkan dalam menuntut ilmu. ada yang rezekinya diberi jalan untuk berkarir dan bekerja. ada yang rezekinya dicerahkan untuk berkarya.
ada yang rezekinya punya uang banyak. ada yang rezekinya punya waktu luang. ada yang rezekinya punya energi penuh, sehat utuh.
ada juga yang rezekinya belum menikah, bisa di rumah merawat orang tua. ada juga yang rezekinya belum lanjut sekolah, bisa bekerja dan menabung. ada juga yang rezekinya belum bekerja, bisa santai sambil berkarya apa saja.
kalau kita mengukur rezeki dengan apa yang sudah didapatkan oleh orang lain, alih-alih apa yang kita miliki dan capai, kita akan terus merasa kekurangan. padahal di saat yang sama, ada orang lain yang berharap memiliki hidup seperti yang kita punya.
sesuatu yang belum itu bukan cobaan apalagi musibah, melainkan rezeki kalau dilihat dari sisi yang lainnya.
kekurangan atau keterbatasan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa bersyukur.
kehilangan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa mengikhlaskan.
kesulitan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa bersabar.
dan kita tahu bahwa bersabar yang sesungguhnya bukanlah menanti dalam ukuran waktu, melainkan menunggu dalam ukuran usaha. kita tidak berputus asa karena kita tahu bahwa setiap langkah akan mendekatkan kita kepada tujuan.
dan kita juga tahu, bahwa musibah yang paling besar adalah ketika kita tidak bisa menjalani hidup yang tenang, ketika kita tidak bisa merasakan nikmatnya beribadah, ketika berbuat dosa terasa biasa saja.
semoga kini kita tak lagi menyebut yang belum sebagai ujian, cobaan, apalagi musibah. sebab kita tahu bahwa rezeki kita lain. sebab kita tahu bahwa musibah yang sejati jauh lebih mengerikan daripada itu.
“…..bersabar yang sesungguhnya bukanlah menanti dalam ukuran waktu, melainkan menunggu dalam ukuran usaha.”
🍂
Tuhan terimakasih sudah membuat saya resah, terimakasih untuk diriku yang bisa bangun tahajud walaupun mepet subuh, terimakasih juga sudah berangkat kerja pagi, sambil berlari dengan senyum yang sangat ceria, terimakasih bisa bersapa ria dengan anak2, terimakasih masih mampu sabar meskipun diawali mengerutu dan mengomel
Tuhan saya mohon jangan biarkan muncul rasa iri dengki sedikitpun untuk hari ini dan seterusnya, Tuhan berikanlah hati yang lapang dan kesabaran yang tanpa batas
#semangat membahagiakan diri sendiri tanpa bergantung orang lain
Mengungkapkan untuk hal yang tidak kita sukai itu harus, karena itu salah satu cara membahagiakan diri sendiri yang berdampak pada mampunya diri untuk membahagiakan orang lain, tapi minta maaf juga harus, siapa tau orang lain memperlakukan kita kurang baik karena diwaktu lalu atau sampai sekarang kita belum bisa memperlakukan orang lain dengan baik
Semangat intropeksi, tapi maunya di ingetin kalo lagi salah😀😷
Terimakasih sudah resah yang berdampak pada mau nulis💃💃💃
Hah
Maaf Tuhan, aku banyak mengeluh kurang bersyukur
Tempat Pulang
Jurnal Emosi : Kepada diriku dan perempuan yang membaca ini
Kau harus terus belajar melapangkan hati, mungkin dulu hanya sejengkal hingga mudah rasanya tersulut marah, sekarang ia bertambah beberapa jengkal, dan esok ia harus terus kau lapangkan sampai tak terlihat lagi batasnya. Sebab kelak kau akan selalu menjadi tempat pulang. Tempat laki – laki yang kau cintai pulang dan menceritakan betapa berat harinya di luar sana, betapa banyak peluh ia peras untuk menegakkan tanggung jawabnya padamu, juga pada Tuhan. Seperti bumi yang selalu jadi tempat pulang ribuan tetes hujan.
Sebelum bibirmu bercerita deras menceritakan keluhanmu tentang harimu, tentang rumah yang bingung kau urus, tentang tetangga yang mungkin menyebalkan, atau tentang teman – temanmu yang tidak mengerti dirimu. Juga tentang burung – burung di luar sana yang terus terbang tinggi sementara kamu terkurung dalam tanggung jawab yang memintamu untuk tak terbang dahulu bersama mereka. Kau perlu terus berlatih untuk menjadi pendengar lebih dulu sebelum menjadi pencerita ulung. Di hatimu nanti segala letih dan lelah bermuara untuk disembuhkan tanpa perlu diminta.
Kau harus terus belajar bahagia. Bahagianya benar – benar bahagia, bukan pura – pura, bukan tersenyum tapi menahan sakit. Karena hati yang tidak bahagia takkan bisa membahagiakan. Dengan menjadi orang bahagia kamu akan terus mendapatkan energi untuk memberi kekuatan pada hati laki – laki yang kau cintai, juga anak – anakmu yang sedang tumbuh menjadi kuat. Dengan kebahagiaan yang kamu punya, kamu mengajarkan pada puteri kecilmu untuk menjadi perempuan yang bahagia, pada putramu untuk menjadi orang yang kuat tanpa perlu merasa terluka lebih dulu. Untuk benar – benar bahagia kamu perlu melatih diri, latihan yang mungkin sekali dua kali gagal hingga kamu harus bersembunyi di balik senyuman semu yang kamu tampakkan. Tapi itu tak boleh berlangsung lama, kamu harus banyak – banyak bersyukur dengan dirimu. Agar kamu bisa menjadi penjaga pintu yang senantiasa tertawa menyambut petualang – petualang kesayanganmu pulang ke rumah dan menimba energi untuk esok kembali berpetualang.
Untuk menjadi tempat pulang yang nyaman dan hangat bukan perkara mudah yang bisa kau upayakan sehari dua hari, kau harus terus belajar dan melatih diri. Supaya kelak bisa meneladani seorang Ibunda Khadijah yang sosoknya takkan pernah bisa tergantikan oleh siapapun di hati Muhammad. Ia yang bersama Muhammad di saat manusia lain mendustainya, ia yang memeluk Muhammad ketika manusia lain mencacinya, ia yang memberikan senyuman dan kasih sayang yang begitu hangat ketika perjuangan terasa begitu dingin.
Kepada diriku dan perempuan yang membaca ini, belajarlah selalu hingga kamu benar – benar siap agar tidak mengecewakan orang – orang yang kau sayangi :)
—–
Serial jurnal emosi saya buat untuk menumpahkan segala hal yang berhubungan dengan hati dan emosi - emosi yang saya rasakan. Saya memilih prosa karena prosa bisa menjaga jiwa seorang penulisnya agar tetap tenang seperti gelombang samudera yang pelan - pelan menyapa pasir pantai :) hari ini saya sedang merasakan bahagia yang menenangkan serta perasaan harap yang meneduhkan. Saya berharap perasaan ini selalu terjaga..semoga kamu pun juga begitu ya ..
sumber gambar : pinterest.com
Selamat terus belajar menjadi tempat pulang terbaik, yang konsekuensinya, kau harus terus melapangkan hatimu hingga tanpa batas. Juga harus selalu berdamai dengan letih dan keluhmu setiap detik ia menggodamu.
Kalau kau tanya, “lalu, kepada siapa tempat pulang terbaikku?”, ingatlah selalu bahwa ada Allah yang terus setia mendengar ceritamu. Hingga kau puas, hingga tak ada lagi yang mampu kau sampaikan, hingga hanya air mata yang lirih mengeskpresikan seluruh perasaan, Dia tetap tahu, dan terus mendengarmu tanpa menyela, diam-diam menelusupkan ketenangan.
Kak, temenku muslim. Akhir2 ini dia sering mempertanyakan kebenaran agama Islam. Aku bingung ngejawabnya gitu kak. Dia bilang kan kita islam juga turun temurun. Kemudian dia bilang jg "untukku agamaku, untukmu agamamu", berarti Allah jg bilang kalau agama itu lebih dr satu kan bukan islam doang? Dia cerita juga kalau kayak2 pastur yg bs sembuhin org sakit itu dpt kuasa drmn? Atau ada buku mengenai pertanyaan2 begini ga kak? Aku takut temenku ini nantinya mudah kegoda agama lain kak :(
lanjutan) Tapi dia percaya kalau islam agama yg benar. Tapi kata dia, semua agama pasti berpikir agamanya yg benar jg kan? Gitu katanya. Dia kayaknya gampang goyah gitu kak—
Wow, pertanyaan yangsangat dalam. Saya jawab tapi mungkin agak panjang karena menyeluruh, karenakalau dijawab setengah-setengah, akan kurang baik, siapkan 3 menit untuk baca ini. Dan semoga ini juga menjadihidayah, baik bagi anon, maupun semua muslim di jagat tumblr
—
BAGAIMANA MEMASTIKAN ISLAMITU BENAR?
Apakah 2 + 2 = 4?Jawabannya iya, benar. Kenapa? Ya, karena kita paham akan dasar ilmunya, bahwa1 + 1 = 2.
Tapi apakah benar kalauturunan pertama dari ƒ(x) = 3x2 + 4 adalah 6x? Tentu tidak semudahpertanyaan diatas, karena kita harus memahami dulu dasar dari ilmu tersebut.
Sama halnya denganmemastikan islam sebagai agama yang benar, apakah kita sudah memelajari tentangislam itu sendiri? Indonesia adalah negara islam, tapi berapa banyak orang yangterlahir sebagai agama islam, belajar tentang agamanya sendiri?
Banyak dari kita yang raguakan kebenaran islam, karena kita tidak memelajari seluk beluk tentang islam, dan alasan bahwa islam diturunkan oleh Allah untuk menyempurnakan agama yang sebelumnya telahturun.
Banyak dari kita tahu namaTuhan kita Allah, tapi tidak banyak yang bergantung padanya. Banyak dari kitatahu nama Rasul kita Muhammad SAW, tapi tidak banyak yang tahu perjuangannyamenyampaikan islam. Banyak dari kita tahu kita diperintahkan shalat, zakat,puasa, haji, sedekah, tapi tidak banyak yang mengetahui makna di dalamnya.Kurangnya pemahaman kita terhadap agama kita sendiri lah, yang membuat kitajustru memertanyakan kebenaran islam.
Maka sebelum memastikansesuatu itu benar atau salah, kita harus mengetahui hal tersebutsebenar-benarnya dari sumber-sumber terpercaya. Karena banyak orang yang menjalaniislam sebagai agama yang sudah “terlanjur” diberi oleh orangtua, bukan sebagaiagama yang benar.
Maka, saran saya pertama,agar tidak goyah terhadap islam, pelajarilah seluk beluk tentang agama islam,agama kita sendiri.
Salah satu cara terbaikyang hingga kini membuat saya meyakini bahwa islam adalah agama yang palingsempurna adalah dengan memelajari sejarah lahirnya islam dari sirah nabawiyah(kisah kehidupan nabi). Dari sini, kita belajar bagaimana islam turun, kenapasebuah ayat bisa turun, dan bagaimana islam diterapkan.
Sudahkah teman-teman jugabelajar islam?
—
SEDIKIT SEJARAH YAHUDI,NASRANI, DAN ISLAM
Berikut saya sharesedikit, hal yang saya dapatkan dari kajian ust. Khalid basalamah yang sayaikuti, sehingga bisa memberi penjelasan, tapi untuk detailnya, silahkan bisamengikuti kajian lebih lanjut (nanti saya share link mp3 nya agar bisa didownload).
Setiap Nabi itu diperintahkanAllah untuk mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, karena mereka berada didalam kesesatan, diantaranya adalah menyembah berhala, patung-patung ataubahkan manusia, padahal Allah lah yang memberikan segala nikmat di dunia, sedangkan Allah tidak suka kepada orang-orang yang syirik.
Berikut saya shareperistiwa secara singkat, dari munculnya ajaran Nabi Ibrahim hingga ditutupnya ajaran nabi-nabi oleh agama islam.
Nabi Ibrahim a.s. diutusoleh Allah untuk membenarkan kaumnya yang sesat, karena pada zaman tersebut, Namrud,raja orang-orang tersebut, menyebut dirinya tuhan, sehingga menyuruhorang-orang untuk menyembah dirinya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim menghentikanNamrud, dan membuat orang-orang akhirnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s.,yakni menyembah Allah dan juga melaksanakan syariat haji, seperti tawaf,qurban, dsb.
Selepas meninggalnyaNabi Ibrahim a.s., maka kaumnya kembali menyembah berhala. Dan ini ternyatasudah menjadi sebuah kebiasaan, tatkala sebuah kaum ditinggalkan Nabi mereka,maka mereka kembali sesat karena tidak ada tempat untuk bertanya.
Lalu, Allah mengutusNabi Musa a.s , membawa kitab taurat, untuk membenarkan orang yang telahmelenceng dari ajaran nabi Ibrahim a.s.
Pernah suatu ketika,Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya selama 40 hari untuk menerima taurat dariAllah SWT, namun ketika kembali dari penerimaan taurat tersebut, Nabi Musa a.s.mendapati kaumnya yang sebelumnya sudah menyembah Allah, kini menyembah patungsapi. Ketika ditanya oleh Nabi Musa a.s., maka jawabannya “Karena kau tidak ada, dan kami merasa ini benar”. Lantas Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk bertaubat sehinggakaumnya diberi nama yahudi yang artinya Taubat. Dan sejarah Nabi Musa a.s. ini juga menjadi alasanturunnya surat al-Baqarah (sapi betina). Lantas, sepeninggalan Nabi Musa a.s.,kaumnya kembali melenceng dan kembali menyembah berhala.
Lalu, Allah mengutusNabi Isa a.s., dengan kitab injil, untuk membenarkan kaum yahudi yang sudahmelenceng dari ajaran yahudi yang sebenarnya. Dan kala itu, yahudi yang menolakinjil juga disebut kafir, karena tidak mau beriman kepada Allah SWT, tapi lebihmemilih menyembah berhala.
Nasrani sendirimemiliki arti penolong, karena Nabi Isa bertanya dan meminta kepadakaumnya untuk menjadi penolong agama Allah SWT (kembali menegakkan orang-orangyang melenceng).
Namun, ketika NabiIsa a.s. diangkat oleh Allah, banyak kaumnya yang melenceng dari ajarannya dan menjadikanNabi Isa a.s. sebagai Tuhan.
Maka, untuk kembalimeluruskan yang telah menyimpang, Allah menurunkan agama Islam melalui NabiMuhammad SAW. Untuk kembali meluruskan, bahwa tuhan yang harus disembah adalahAllah SWT, bukan patung, bukan berhala, bukan orang yang mengaku-ngaku sebagairaja. Itu kenapa, Allah SWT menyebutkan bahwa islam adalah agama yangmenyempurnakan ajaran sebelumnya, karena memang agama sebelumnya juga benar,namun banyak orang yang melenceng, sehingga kembali diluruskan dengan adanyaQur’an.
Dan bagaimanaperjalanan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat menegakkan kembali islam,menjadi pelajaran besar bagi saya dan membuat saya yakin, bahwa jika kitamemang menginginkan syurga, maka kita harus mengikuti ajaran islam. Denganmengikuti islam, maka kita juga sudah menjalankan Nasrani yang benar yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s., juga yahudiyang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s., dan juga ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya untuk menyembah AllahSWT.
Ya, memang agamadari Allah itu tidak hanya Islam, dan turunnya agama itu untuk membenarkan kaumyang melenceng dari agama-agama yang telah turun sebelumnya.
—
TENTANG “UNTUKKUAGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMU”
Terkait memahamisebuah ayat, penting sekali untuk memahami “sebab” turunnya ayat,sehingga paham konteks dari ayat tersebut dan bukan lahir dari tafsiran sendiri.
Ayat di atas adalahpenggalan dari Al-Kafirun, singkatnya, ayat ini turun ketika Nabi Muhammaddipaksa untuk menyembah berhala, padahal saat itu sudah ada perintah untukmenyembah Allah SWT.
Orang kafir Quraisy memintanabi Muhammad SAW menyembah berhala selama 1 hari, lantas merekabergantian menyembah Allah selama 1 hari, lalu Nabi menolak. Kafir itu terus menego sampai akhirnyaberkata “Cukup katakan bahwa tuhan kami (berhala) itu ada, dan kami akan menyembah Allahseumur hidup kami”
Maka kala itu, NabiMuhammad SAW mendapat wahyu dari Allah, dan beliau ucapkan kepada kafirtersebut “aku takkan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu takkan menyembahapa yang aku sembah. Untukku agamaku, untukmu agamamu” sebagai penegasan,bahwa seorang muslim yang baik, tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT,sebagaimanapun orang kafir menggodanya, dan ayat tersebut bukan sebagai pernyataan bahwa agama lain benar sehingga penyembahanberhala tersebut dianggap benar.
—
TENTANG PASTUR SEMBUHIN ORANG SAKIT
Ini bukan pendapatsaya, tapi ini saya dapatkan dari Ust. Mathius, atau dikenal KH. Syarif Hidayat, mantan jendral misionaris Indonesiayang kini menjadi mualaf, dan kebetulan juga teman dekat ibu saya sehingga saya sering mengobrol.
Beliau bilang kalauitu memang kegiatan yang dibuat oleh teman-teman misionaris, untuk membuatorang percaya.
—
PEMAHAMAMAN “SEMUAAGAMA ITU SAMA”
Kalau ada orang yangbilang “Gapapa kok nganut agama lain, semua agama juga sama kok, bisa masuksyurga” maka orang islam adalah orang yang paling bodoh.
Kenapa juga kita harus cape-cape solat5 waktu, berpakaian ada aturannya, harus sedekah, harus ngaji, gak boleh minumdan makan yang haram, terus harus haji, banyak larangan dan perintah? Mendingpindah ke agama yang ibadahnya gak berat, pakai baju boleh buka-bukaan, gausahbangun subuh atau tahajud, bebas minum dan makan, pokoknya bebas deh, tohsama-sama masuk syurga. Bener ga? Tapi nyatanya engga kan? Apalagi jika kitabelajar tentang kenapa islam turun, maka kita akan paham.
Karena pemahaman “gapapakok semua agama sama” itu adalah pemikiran orang liberal, agar orang bisanyantai dan gak perlu belajar islam dan bisa mudah berpindah ke agama lain.
—
SEBAGAI PENUTUP
Sekali lagi, sayahanya mengingatkan dengan tulisan ini, agar kita semua mau belajar mendalamiagama kita sendiri. Sejarah sudah menjelaskan, tatkala suatu kaum ditinggalkan Nabinya, maka mereka akan melenceng. Tak hanya yahudi, nasrani, bahkan kita umat muslim pun banyak yang melenceng. Bukankah banyak yang berdalih jihad tapi melakukan bom bunuh diri? Apakah jika Nabi Muhammad SAW hidup sekarang, hal tersebut diperintahkan? ya, kita perlu belajar, agar tidak melenceng.
Karena bisa jadi, mualaf yang baru masuk dari agama lainjustru lebih mencintai islam, karena mereka memelajari agama islam secarakeseluruhan, sedang kita hanya menjalani secara seadanya karena kitamendapatkan agama ini bukan karena hidayah, melainkan mendapatkan agama inidari orangtua kita.
Dan tulisan diatasbertujuan bukan untuk menyerang agama lain, bukan untuk bilang “agama islampaling benar” karena agama bukanlah untuk dibanding-bandingkan, tapi tulisanini mengajak teman-teman untuk lebih memahami tentang agama islam, agamapenutup, agama penutup yang menyempurnakan agama sebelumnya, agama yang membawa kitakepada syurga, tempat sebaik-baik kembali.
—
Tentu tulisan diatas hanya sebagian, silahkan teman-teman bisa mengikuti kajian lanjutan, bisa di youtube dsb, juga membaca berbagai sumber lainnya.
wallahua’lam bisshawab. Jika ada yang salah, mari saling mengingatkan.
Semoga bermanfaat,punten panjang banget. Semoga berkenan. Silahkan share untuk mengingatkanteman-teman lainnya.
Terima kasih
Pasrah
"Tuhan aku pasrah kepada Engkau atas takdir apapun yang terjadi kepada hamba, dan aku percaya bahwa Engkau tidak akan pernah mengujiku melebihi kemampuanku"
Apapun yang berawal cepat menurut sebagian orang salah dan aku kekeh bahwa itu benar, dan ini terjadi berkali-kali, terimakasih atas perjalanan baiknya Tuhan tapi mohon maaf aku tidak baik melaksanakannya, aku melampaui batas dan aku banyak berbuat dosa
Aku percaya bahwa Engkau sangat menyanyangi hamba, engkau rindu saat hampa dulu sering menangis disepertiga malam, maafkan hamba Tuhan telah banyak melupakanmu, dan terimakasih Engkau tetap baik seberapapun aku pergi menjauh dan mendekat hanya ketika ada masalah, aku malu Tuhan, aku malu atas semua yang aku lakukan, aku malu di 25 tahun yang sangat membahagiakan aku banyak menjadi pendosa