Kadang, ingatan masa sekolah datang seperti bayangan yang samar—tidak terlalu jelas, tapi cukup kuat untuk membuat hati bergetar. Begitu pula dengan peristiwa yang masih kuingat dari tahun pertamaku di SMA. Satu kejadian kecil, sederhana, namun membekas seperti bekas goresan tipis yang sesekali terasa ketika disentuh.
Saat itu aku baru berusia lima belas tahun, usia dimana dunia terasa begitu luas dan gengsi kakak kelas bisa terasa seperti undang-undang yang tak tertulis. Sebagai anak kelas 1 SMA—kasta terendah dalam rantai makanan sekolah—aku hanya ingin melewati hari demi hari ala anak SMA yang sedang mulai menapaki usia remaja.
Aku bukan tipe gadis yang sibuk memoles wajah setiap pagi pada masa itu. Kulitku cenderung sensitif. Pengalaman buruk dengan sebotol Olay yang kubeli sembunyi-sembunyi di warung kelontong desa Kramatsari karena terinspirasi dari kakak iparku ketika kelas 3 SMP masih sangat kuingat. Pipiku memerah ketika terkena panas pada jam istirahat 1 dan 2. Mungkin karena masa puber pikirku, dulu hanya diledek saja dibilang kalo aku mentel (baca genit). Dan sejak itu kubuang Olay itu di kebun samping rumah. Bedak bayi dan lipgloss menjadi teman setiaku. Sederhana, aman, murah.
Tapi Tuhan selalu punya cara menghadirkan kejadian tak terduga dalam hidup yang tenang.
Siang itu, matahari memantulkan teriknya ke halaman sekolah, membuat wajahku memanas—flushing, istilah yang baru kutahu bertahun-tahun kemudian. Aku berjalan menuju kamar mandi, menunduk, sekadar ingin membasuh diri. Namun langkahku terhenti ketika sekelompok kakak kelas muncul, seperti adegan slow motion yang tak pernah kuinginkan.
Dari rombongan itu, seorang gadis berpostur besar dan penuh percaya diri maju selangkah, menghampiriku dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Masih kelas satu, ya? Jangan sok cantik pakai blush on! Mau nggatel sama siapa kamu?”
Dunia serasa berhenti. Kata-katanya seperti tamparan. Dadaku sesak, dan untuk beberapa detik aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku yang terbiasa menahan perasaan hanya mampu berbisik lirih, suara tercekat di tenggorokan yang menjawab bahwa aku hanya memakai bedak bayi.
Tapi setelah kalimat itu keluar, seluruh pertahananku runtuh. Air mata menetes begitu saja—di depan mereka. Sungguh memalukan bagi diriku yang ingin masa putih abuku happy-happy saja.
Tanpa menunggu penjelasan lebih jauh, mereka pergi, meninggalkan aroma ego yang menggantung di udara. Aku buru-buru masuk ke kamar mandi, menutup diri dari dunia luar. Ingin hilang saja rasanya.
Namun rupanya dunia luar sedang menungguku.
Ketika aku kembali ke kelas, suara ribut-ribut segera menyambutku. Teman-temanku mengerubungiku seperti wartawan yang meminta klarifikasi. Rupanya kejadian itu sudah menyebar lebih cepat daripada langkahku menuju pintu.
Ada yang kasihan. Ada yang mencandai. Ada yang tertawa karena merasa itu lucu. Dan seperti gadis lima belas tahun yang rapuh tapi keras kepala, aku hanya berusaha menahan sisa-sisa air mata sambil tersenyum kecil.
Belakangan aku tahu bahwa kakak kelas itu sempat memastikan ke salah satu temanku apakah benar aku tidak memakai blush on. Ketika temanku membenarkan, mereka pergi tanpa kata maaf. Seolah aku hanyalah halaman yang bisa dilipat, bukan dibaca.
Bertahun-tahun setelah itu, setiap kali teman lamaku mengingat cerita ini, mereka akan menertawakannya. Dan sungguh, meski dulu menyebalkan, sekarang aku pun ikut tertawa. Ternyata kesalahpahaman kecil bisa menjadi cerita lucu ketika kita sudah berdamai dengan diri sendiri.
Kini aku mengerti bahwa wajahku memang mudah memerah ketika tertawa, menangis, atau terkena matahari. Sensitivitas kulit yang dulu membuatku malu, kini menjadi ciri khas yang justru kusyukuri. Meski tetap saja aku tidak bisa memakai banyak jenis makeup seperti orang lain, aku menerima itu sebagai bagian dari diriku.
Aku tetap memakai sunscreen, serum, dan lipstik. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuatku merasa seperti versi paling jujur dari diriku sendiri.
Dan pada akhirnya, meski pernah merasa kecil karena satu kalimat dari orang asing, kini aku tumbuh menjadi seseorang yang bisa berkata:
"Syukurlah aku terlahir sebagai Aku"