“Close your eyes, and imagine your beloved one, someone who you really want to be here on your special day but can’t make it.”
Kemarin saat wisuda Harvard Medical School, ada momen saat salah seorang mahasiswa memberi speech dan meminta kami menutup mata dan pikirkan siapa yang tidak dapat hadir di hari spesial ini… yang kamu ingiiin sekali datang dan dapat berjumpa.
Aku meneteskan air mata. Alhamdulillah walau keluargaku hadir.. aku teringat sosok yang selama ini kukagumi, kurindukan, dan kucintai..
Sosok yang menemaniku di saat hari berubah keras, malam winter Boston mencapai -30C, dan terasing dari keramaian. Sosok yang nyatanya bulan purnama pun kalah benderangnya, kalah indahnya. Sosok yang aku harap mengenaliku di hari akhirat nanti.
Sosok ini.. adalah sosok yang selama ini aku panjatkan dalam doa: agar karyaku, usahaku, terhitung menjadi amal shalih dan pemberat amal kebaikan. Hingga kelak sosoknya tersenyum melihat jerih payah kita dan usaha kita. Tersenyum, lalu hilanglah semua kelelahan itu. Hingga kelak sosoknya berkata dengan berbinar dan bangga bahwa kita menapaki jalan hidupnya sebaik mungkin sebisa mungkin. Walau tentu masih teramat jauh.
Sulitnya meluruskan niat setiap hendak kali masuk ruang kelas, seberapapun sering merasa impostor syndrome.
Kuharap kekasih Allah (saw.) akan berbinar ketika kita bercerita: yaa Rasul, kami selalu berusaha shalat tepat waktu. Kadang menghubungi teman lain agar bisa shalat berjamaah. Menyiapkan selalu dalam tas: sebuah sajadah lipat yang tahan air untuk shalat di pojok manapun. Selalu membawa wadah untuk dapat bersuci di saat tempat tidak memadai. Meminta teman menjaga ketika kami shalat di taman. Kadang berargumen ketika tiga hp berbeda arah kiblatnya kok berbeda? (GPS pls? Should we go back to traditional compass? And learn arah mata angin?)
Kuharap sosoknya (saw.) akan ikut tersenyum melihat kami berjuang: Yaa Rasul al-Mustofa, kami menulis karya-karya di bidang kami siang dan malam dengan niat menjadi seorang cendekiawan yang menegakkan kalimat tauhid. Menjadi wajah islam dalam pos-pos kami masing-masing. Kami menjaga kejujuran dan integritas, seperti yang Engkau contohkan dan teladankan. Kami mencoba cara-cara yang berkah sekalipun ada banyak godaan, dan sambil berucap banyk doa keistiqomahan.
Kuharap sosoknya (saw.) akan tersenyum melihat kami berinteraksi dengan teman dari seluruh dunia dan bangga dengan identitas sebagai muslim. Berkata dengan santai bahwa saya hanya dapat makan halal. Yaa Rasul kadang kami dianggap asing, sebagaimana Engkau dulu sampaikan bahwa Islam agama yang akan kembali menjadi asing.
Di hari wisuda ini, Allah menitipkan gelar baru. Empat huruf baru yang kuharap: meluaskan jalan kebermanfaatan, mendekatkan kepada ketaqwaan, dan membukakan pintu lapis keberkahan. Dan kelak, membayar segala kerinduan.