Merenungi Nasyid Raihan, "Antara Dua Cinta"
Alasan kenapa kita banyak ngeluh di hidup ini digambarkan Raihan dalam nasyidnya, "apa yang ada jarang disyukuri. Apa yang tiada sering dirisaukan."
Mengawang-awang kita dalam khayalan; ingin ini itu hingga sesak dada. Padahal detik inipun kita dalam limpahan nikmat tiada tara.
"Nikmat yang dikecap baru kan terasa bila hilang", lanjut Nazrey menyenandungkan. Dan betul nyatanya, kita banyak abai pada banyaknya kebaikan Allah di sekitar kita. Lalu tetiba merasa jadi orang paling menderita setelah nikmat itu hilang, padahal sebelumnya ia tak kita anggap.
Senandung sederhana Raihan sejak dulu selalu memberikan gambaran dan ringkasan yang bernilai tentang kehidupan.
Satu lagi kutipan liriknya, "apa yang diburu timbul rasa jemu, bila sudah di dalam genggaman."
Dan jlebb... Pemandangan itu terasa sekali seiring dewasa. Mencari, memburu, belajar serius demi ini itu. Setelah impian tercapai, setelah apa yang kita anggap sebagai sukses telah diraih. Ada rasa jemu setelah ia digenggam. Tentu ini terjadi pada hati yang jarang bersyukur.
Hanya cinta-Mu, ku harap tumbuh...
Kemudian orang-orang tak berpuas diri. Buat ladang baru lagi, eksploitasi sumber-sumber kekayaan lagi. Makanya lirik Raihan selanjutnya menjadi sebuah doa...
"Tuhan, leraikanlah dunia
Yang mendiam di dalam hatiku
Karena di situ tidak ku mampu
Mengumpul dua cinta...
Hanya cinta-Mu ku harap tumbuh...
Dibajai bangkai, dunia yang ku bunuh..."
(Raihan, Antara Dua Cinta)












