Nice to meet you, suami..
tumblr dot com
todays bird
taylor price
d e v o n

Product Placement
YOU ARE THE REASON
RMH
dirt enthusiast

roma★
he wasn't even looking at me and he found me

No title available

titsay
occasionally subtle
Lint Roller? I Barely Know Her
Keni
KIROKAZE
hello vonnie
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

shark vs the universe
TVSTRANGERTHINGS

seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Argentina

seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from France
@sianglalusenja
Nice to meet you, suami..
Make sure you marry someone who laughs at the same things you do.
J.D. Salinger (via wordsnquotes)
BERSYUKUR ITU LEBIH BERAT DARI BERSABAR Firman Allah SWT di dalam sebuah Hadis Qudsi yang menyebut mengenai sifat syukur, iaitu terjemahannya; “Kalau Aku uji kamu dengan kesusahan, kamu tidak mahu bersabar, dan kalau Aku uji kamu dengan nikmat, kamu tidak mahu bersyukur, maka nyahlah kamu dari bumi dan langit Allah ini dan pergilah cari Tuhan yang lain.”
Kalau kita perhatikan hidup manusia ini dengan teliti, kita akan dapati bahawa manusia ini sedetik pun tidak terlepas dari diuji. Manusia diuji dengan ujian kesusahan ataupun ujian nikmat yang silih berganti datangnya. Kemudian manusia dituntut supaya bersabar dalam menerima kesusahan serta bersyukur dalam menerima nikmat. Jadi, pada hakikatnya, apa sahaja pergolakan dan perubahan yang berlaku dalam hidup manusia ini, ia hanya mempunyai dua sifat atau dua bentuk. Sama ada ia ujian kesusahan atau ujian nikmat. Atas kedua-dua bentuk ujian ini, hati kita perlu menerimanya dengan betul, iaitu bersabar apabila menerima kesusahan dan bersyukur apabila dikurniakan nikmat. Di antara kedua-dua tuntutan ini, sekali imbas kita lihat, bersabar itu lebih susah dan lebih berat untuk dipraktikkan.Ini kerana dalam bersabar, hati manusia perlu melalui kesusahan, keresahan, tekanan dan penderitaan. Emosi, fikiran dan ketenangan jiwa terganggu. Kebahagiaan hilang. Bersyukur pula, pada sekali imbas, nampak lebih senang dan mudah kerana hati manusia berada dalam keadaan tenang dan gembira; tidak ada tekanan atau penderitaan. Apakah ini benar? Adakah bersyukur itu lebih mudah dari bersabar? Kalau benar kenapa tidak ramai orang yang mampu bersyukur? Kenapakah orang-orang yang benar-benar bersyukur itu sedikit sekali bilangannya. Kenapakah Allah ada berfirman di dalam Al Quran: Maksudnya: “Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Surah As-Saba’: 13) Bersyukur itu sebenarnya berperingkat-peringkat. Ramai orang, apabila mendapat nikmat, lantas mereka memuji Allah. Mereka ucapkan ‘Alhamdulillah’. Ini bersyukur cara biasa. Ramai yang boleh bersyukur dengan cara ini. Akan tetapi, kalau setakat ucapan sahaja, ia belum lagi dikira bersyukur yang sebenarnya. Kalau setakat ucapan sahaja, tetapi tuntutan tuntutan lain dalam bersyukur itu tidak dilaksanakan, maka ditakuti ucapan ‘Alhamdulillah’ itu hanyalah untuk mempermain- mainkan atau mempersendakan Allah sahaja. Ramai juga orang, apabila menerima nikmat atau diselamatkan dari bala bencana, lantas mereka memuji Allah dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Di samping itu hati mereka benar-benar merasakan Allahlah yang telah memberi mereka nikmat itu, atau Allahlah yang telah menjauhkan mereka dari bala bencana tersebut. Mereka diberi pahala kerana merasakan syukur itu di dalam hati mereka. Ini bersyukur peringkat kedua. Adapun syukur yang sebenar itu ialah syukur yang diucapkan oleh lidah, yang dirasakan atau ditasdikkah di dalam hati, dan yang dilaksanakan dalam perbuatan. Di samping mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan di samping merasakan di hati bahawa Allahlah yang mengurniakan nikmat tersebut, nikmat itu mesti digunakan atau dikorbankan ke jalan Allah. Inilah hakikat kesyukuran yang sebenarnya. Kalau kita kaya contohnya, kekayaan itu perlu digunakan ke jalan Allah untuk membantu fakir miskin, untuk jihad fisabilillah dan untuk kemaslahatan umat Islam keseluruhannya. Begitulah juga dengan segala bentuk nikmat Allah yang lain. Semuanya perlu dimanfaatkan ke jalan Allah untuk mendapat keredhaan-Nya. Firman Allah : Maksudnya: “Kalau kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, Aku akan tambah lagi nikmat-nikmat-Ku. Tetapi kalau kamu kufur nikmat, ingatlah sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim: 7) Syukur seperti inilah yang Allah suka dan yang Allah mahu. Dia akan tambah lagi nikmat-Nya, untuk ‘cover’ balik apayang dikorbankan ke jalan Allah itu. Justeru itu, kita dapati dalam bersyukur itu ada tugas, ada kerja dan ada tanggungjawabnya iaitu kita terpaksa mengguna dan mengorbankan segala nikmat yang Allah kurniakan itu ke jalan Allah. Nikmat Allah itu perlu ditadbir, diurus dan digunakan pada jalan yang betul. Amat mudah bagi manusia lupa diri dan menggunakan nikmat Allah itu kepada jalan yang sia-sia atau lebih berat lagi kepada jalan maksiat. Kalau ini berlaku maka nikmat itu akan bertukar menjadi bala dan mendapat laknat daripada Allah. Dalam bersabar, kita tidak ada kerja atau tanggungjawab tambahan selain dari menahan perasaan. Tidak ada bahaya menyalahgunakan nikmat kurniaan Tuhan. Apa yang perlu hanyalah menjaga dan mendidik hati supaya dapat menerima ketentuan Allah itu dan berbaik sangka dengan-Nya. Barulah kita faham kenapa Allah berfirman bahawa sedikit sekali hamba-hamba-Nya yang bersyukur kerana bersyukur itu sendiri bukanlah suatu perkara yang mudah. Fahamlah kita sekarang, bersyukur itu rupanya lebih berat dari bersabar.
Sungguh, ketika kita tak meninggikan syarat terhadap apa yang kita reguk dari dunia ini, semakin mudah kita rasakan kebaikan. Bahagia, misalnya.
Byron Bay home of artist Rosetta Santucci
Follow Gravity Home: Blog - Instagram - Pinterest - Facebook - Shop
Nasehat Ayah Untuk Anak Perempuan dan Laki-Lakinya
Nak, duduklah disini sebentar. Ayah ingin berbicara pada kalian dari hati ke hati, bukan dari kepala ke kepala apalagi dari layar ke layar. Tidak akan lama, tapi ini akan bermakna.
Ayah paham, zaman telah berubah sedemikian rupa. Kalian yang mulai sibuk sendiri, pergi pagi dan pulang di malam hari. Ayah tak pernah cemburu pada kesibukan kalian, Ayah mendoakan agar kalian bisa mendapatkan apa-apa yang memang dengan sungguh-sungguh kalian perjuangkan. Tapi satu hal, jangan lupakan keimanan.
Nak, dunia dan segala isinya terkadang tak ramah. Banyak orang berlalu-lalang dalam hidup kalian tanpa pernah menghidupi kebersamaan. Tapi, jangan merasa sendirian. Kebersamaan itu kita yang ciptakan. Maka, ramah dan berbuat baiklah kepada semua orang. Bukankah tolong menolong dalam kebaikan adalah perintah Allah?
Nak, banyak kejadian yang akan datang dan pergi hadir di hidup kalian. Tak hanya membahagiakan, tapi juga menyedihkan, mengecewakan atau bahkan menggelisahkan. Bagaimana pun juga, anak-anak Ayah harus cerdas mengelola perasaan, harus kuat dan tidak boleh gampang menyerahkan diri pada keadaan. Bukankah ada Allah sebagai sebaik-baik penolong setiap umat-Nya?
Nak, sebentar lagi kita mungkin akan saling meninggalkan. Entah sementara atau selamanya. Ayah tak sanggup menuliskan banyak hal di Surat Kematian, pun tak tega menyebutkan nama-nama kalian pada kesempatan terakhir. Jika batas waktu tersebut hadir, saat itu kalian akan belajar bahwa mencintai dan menyayangi adalah juga perihal melepaskan.
Semangatlah menjemput masa depan, karena perubahan adalah sesuatu yang dapat kalian upayakan. Satu yang pasti, jangan lupakan keimanan!
Ayah, kangeeeen :“)
jalan terus
kebanyakan orang menyesal dengan berujar, “seandainya saja saya waktu itu…” kata-kata ini sekiranya sering sekali muncul dari hati dan pikiran kita–saat menurut kita, kita gagal.
padahal, pengalaman itu yang paling mahal. Edison senang setiap bohlamnya tak berhasil menyala sebab dia semakin tau apa saja yang tidak bisa bekerja. Jack Ma begitu mengistimewakan kegagalan sehingga cita-citanya adalah berbagi kisah gagal, bukan kisah sukses. lagi, idiom gagal dengan cepat sudah sangat sering kita dengar.
ada kalanya kita bertemu dengan jalan buntu, tetapi bukan berarti jalannya tidak ada. tidak ada jalan (jalannya belum ditemukan) berbeda dengan jalannya tidak ada (jalannya memang tidak ada). jalan memang nggak selalu lurus, tetapi kita selalu bisa jalan terus: jalan terus karena tujuannya sudah kita miliki, kita yakini.
pada akhirnya, cara menyesal terbaik bukanlah ujaran “seandainya saja”, melainkan terus melangkah sambil terus memperbaiki diri. pada akhirnya, kejujuran dan ketekunan adalah kemenangan.
RTM : Anak dan Zaman
Setelah berkeluarga, saya dan istri seringkali berdiskusi tentang kids jaman now dan segala rupa tantangannya. Sampai-sampai, tanpa sadar saya sendiri membandingkan bagaimana dulu masa kecil saya dengan anak-anak kecil zaman sekarang. Dan kami pun cemas, bagaimana kelak di zaman anak-anak kami ketika sudah lahir ke dunia ini.
Rasanya, perbandingkan itu tidak pernah selesai. Kami merasa, zaman kecil kami jauh lebih aman di bandingkan zaman sekarang, dalam banyak hal. Saat itu, kami juga lupa kalau setiap generasi pasti akan menimbulkan tantangannya sendiri berdasarkan zamannya. Dan sebagi orang tua/calon orang tua, sudah seharusnya kita bersiap untuk itu. Membekali diri dengan pengetahuan, dengan keterampilan, dengan keimanan, ketika kelak mendidik anak agar mereka bisa tumbuh menjadi baik, mau seperti apapun zamannya.
Tugas kita, sebagai generasi yang akan melahirkan generasi berikutnya, tidaklah mudah. Dalam membangun dan membina rumah tangga, semuanya berawal dari sini.
Pertama, dari saat kita memilih pasangan hidup. Proses ini bisa dikatakan gampang-gampang susah. Dan setiap orang yang ingin menikah akan melalui fase-fase kritis tsb, fase dimana merasakan betapa sulitnya membuat pilihan. Di usia berapapun, fase tersebut datang. Sebab, salah satu hak anak adalah dipilihkan orang tua yang baik, dan hak anak kita nanti tentu saja ia berhak memiliki ayah/ibu yang baik. Dan itu adalah pilihan kita, jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan.
Kedua, memilih lingkungan tinggal yang baik. Selepas menikah, biasanya akan memutuskan untuk tinggal. Memilih tempat tinggal pun gampang-gampang susahnya, mirip seperti mencari jodoh. Kita bisa memilih untuk tinggal di rumah yang tertutup, berpagar tinggi, di lingkungan yang antar tetangganya tidak saling kenal. Bisa juga di daerah perkampungan, di tempat-tempat urban, di apartemen, dsb. Semuanya adalah pilihan. Dan bisanya, tempat tinggal yang kita pilih menyesauikan dengan tempat dimana kita bekerja. Dan, memilih lingkungan yang baik, itu memang sulit. Adalah sebuah anugerah yang luar biasa bila kita memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang saling menjaga dan terjaga. Jadi, memilih tempat tinggal memang tidak hanya urusan bentuk fisik rumah, tapi juga bentuk sosialnya.
Ketiga, memilihkan pendidikan yang baik. Tentu saja pendidikan pertama adalah dari orang tua, wajib bagi orang tua memiliki bekal ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Terutama pendidikan karakter. Sebagai orang islam, saya dan istri sepakat bahwa urusan tauhid harus diajarkan dan selesai sejak di rumah. Sebelum nanti anak-anak pergi merantau, pergi jauh menuju cita-cita atau impiannya. Urusan tauhid menjadi tanggungjawab kami. Karena itulah bekal yang bisa menjaga anak-anak, dimanapun ia berada, di lingkungan manapun nanti ia tumbuh di luar rumah.
Ada banyak hal lain. Dan sudah waktunya untuk bangun dan berhenti untuk khawatir. Kita tidak akan bersikap adil bila menginginkan anak-anak nanti tumbuh seperti bagaimana dulu ketika kita masih kecil. Zaman sudah berganti, sudah berkembang jauh, dan pikiran kita harus maju. Kita bersiap dan harus siap untuk menghadapi tantangan zaman untuk anak-anak kita nanti bertumbuh. Menjadi orang tua, juga gampang-gampang susah. Semoga, kita diberikan anugerah anak-anak yang baik dan berbakti dan kita dimampukan dalam menjalankan amanah sebagai orang tua yang baik.
Yogyakarta, 10 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
When you love someone, you say their name different. Like it’s safe inside your mouth.
Jodi Picoult, Handle With Care (via wordsnquotes)
I never realized what a big deal that was. How amazing it is to find someone who wants to hear about all the things that go on in your head.
Nina LaCour, Hold Still (via wordsnquotes)
Tanda Orang Jatuh Cinta
Biasanya ia selalu menghujamkan pandangan matanya pada orang yang dicintainya.
Malu-malu jika orang yang dicintainya memandangnya.
Dia akan banyak mengingat, membicarakan dan menyebut nama orang yang dicintainya.
Kemudian ia tunduk pada perintah orang yang dicintai dan mendahulukan kepentingannya daripada kepentingannya sendiri.
Lalu orang yang mencinta bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai, memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya, mencintai tempat dan rumah sang kekasih, segera menghampiri yang dicintai bila dipanggil.
Selanjutnya ia akan ikut mencintai apapun yang dicintai sang kekasih.
Jika akan mengunjungi orang yang dicintai jalan yang dilalui terasa pendek meskipun jaraknya jauh sekali.
Dan biasanya ia akan salah tingkah jika sedang mengunjungi atau sedang dikunjungi orang yang dicintai.
Lalu ia akan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.
Jika ada orang lain yang membahasnya ia akan merasa cemburu.
Menyenangi apapun yang menyenangkan orang yang dicintai meskipun sebenarnya kita tidak menyukainya. Ini merupakan salah satu keharusan karena sedikit berkorban untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintai, rasanya merupakan kewajiban.
— Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
Sumber: review buku Taman Orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu karya Ibnul Qayyim Jauziyyah, oleh akun Aisyah Humaira - Kompasiana
Ketika membaca setiap tanda-tandanya, siapakah yang terpikir pertama kali, dia atau Dia?
— Taufik Aulia
Jangan Terbiasa
Jangan jadi terbiasa disakiti. Sehingga kau merelakan dirimu menjadi korban. Lagi dan lagi. Disakiti terus menerus. Oleh seorang yang pernah mengaku mencintaimu.
Jangan pula jadi terbiasa baik-baik saja saat tidak dipedulikan. Kau pasti tahu, yang sungguh mencintaimu akan peduli. Dan yang memedulikanmu, sayang padamu.
Jangan sampai kau terbiasa dibohongi. Merasa itu adalah salah satu jalan berdamai dengan satu sama lain. Lalu enggan membicarakan semuanya dengan hati terbuka dan kepala dingin.
Jangan sampai kau jadi pribadi yang tidak menghargai diri sendiri. Merasa telah terbiasa disakiti. Kemudian tak tahu bagaimana cara mengizinkan cinta yang baik masuk ke dal hati.
Jangan sampai lupa bahwa pada satu titik dalam perih hidupmu, kau selalu bisa untuk memilih pergi. Barangkali itu bisa jadi langkah besar dalam prosesmu menuju bahagia yang hakiki.
-
© Tia Setiawati | Palembang, 13 Oktober 2017
Tunggu Dulu
Ketika seorang pria berani mengajakmu berkenalan, hargai usaha dan keberaniannya.
Namun tunggu dulu, tunggu sampai ia berani meminta izin ayahmu untuk mengajakmu makan malam atau keluar rumahmu. Saat itu, hargai kepercayaan dirinya dan niat baiknya.
Lalu setelah itu, tunggu lagi…
Tunggu sampai ia layak dikenalkan pada keluarga besar. Lihat reaksinya. Apakah ia menghargai niat baikmu atau malah menghindar karena alasan-alasan yang dia buat sebagai pemakluman.
Yang terpenting dan menjadi pintu layaknya dia bagimu, adalah menunggu sampai ia berani melamar.
Setelah itu, barulah kau layak memberinya sepenuh hatimu.
Sebelum itu semua, jangan pernah memberi cinta sepenuh hati. Nanti kamu rugi.
Repot?
Percayalah, itu tak lebih repot daripada mengobati sakit hati karena hati yang dilukai tanpa kejelasan sebuah kepastian.
Ah, ini hanya sekedar berbagi. Tak setuju, tak usah diambil pusing, apalagi sampai dimasukkan ke dalam hati
:P
- Tia Setiawati
Thanks kak @karenapuisiituindah
Do not allow him to consume you. If he does not call, go to sleep. If he does not message, put your phone away and have a fantastic day anyway. If he acts distant when you are with him and refuses to tell you what is wrong, don’t wait for him, go home and do something you love. If he tries to insinuate you do not need your friends now that you have him, spend more time with your friends. If he tries to teach you a lesson through the silent treatment, ignore him completely. If he plays with your feelings constantly, walk away from him. If he acts like your body is his entitlement when you are not ready, walk away from him. If he says terrible, unforgivable things and threatens to leave you after every argument, walk away from him. If he forbids you from doing anything you love, walk away from him. If he claims ownership of your accomplishments, walk away from him. If he demeans you or disrespects your being a girl and refuses to stop when you tell him it hurts, walk away from him. I cannot stress this enough, you live for yourself first. He is a secondary character in the story of your life. Do not allow him to turn you into a secondary character in your own book
Nikita Gill, Advice for Teenage Girls Finding Their Way Through Love (via thelovejournals)
Mencintaimu aku tak bisa berhemat. Kucintai kau dengan rasa yang paling kaya.
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
Perempuanmu Bukan Perempuan Sekadarnya.
Ketika kau mencintai perempuan, cintailah ia melebihi cintamu pada fisiknya. Serupa nilainya yang lebih dari sekadar apa yang mata kalian pandangi; segala hal yang menempel pada tubuhnya.
—
Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Jangan anggap ia tak punya mimpi. Sehingga kau tak pernah menghargai segala jerih payahnya berproses ke depan. Jangan menganggapnya rendah. Hanya karena kau merasa berderajat lebih tinggi.
Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Menemanimu, ia ingin. Membersamaimu, ia mau. Hidup dan menjadi pasanganmu, ia bersedia. Namun jangan jadikan itu alasanmu untuk tidak memberinya pilihan yang lain. Tentu saja, pilihannya perlu untuk kaupentingkan juga.
Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Memerhatikanmu, ia akan sukarela. Berceloteh perihal mengkhawatirkanmu, ia tidak akan jera. Maka jangan menyuruhnya tidak lagi bersuara. Duniamu akan sepi, seperti tak berpenghuni lagi.
Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Ia bukan hanya perihal lekuk pada dirinya. Ia bukan perihal dada dan segala bagian pada tubuhnya. Ia istimewa. Lebih jauh dari apapun yang pernah kau pikirkan tentang cantik dan mulia.
Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Ia ratu dalam sebuah kerajaan, di mana kau adalah pemimpinnya. Maka selayaknya seorang raja yang hendak dianggap raja, perlakukan ia selayaknya seorang ratu, bukan pembantu.
Perempuanmu bukan perempuan sekadarnya. Cintanya tak akan cukup kau tampung dalam lautan mimpi masa depanmu. Karena itu lebih luas dan lebih dalam, kau bahkan tak akan sanggup membayangkan.
—
Tangerang, 19 Agustus 2017
Untuk hadiah yang tak pernah dapat aku gantikan, dengan apapun... terimakasih untuk selalu menyayangiku
-090417