Luka dari Penyesalan
Hari itu, genap tiga bulan aku bekerja di sebuah pabrik sepatu komoditi ekspor. Bukan waktu yang lama, memang. Tapi cukup untuk membuatku mengenal aroma khas lem dan karet yang menempel di dinding-dinding ruangan, cukup untuk membuatku hafal suara dengung mesin jahit yang berputar seperti mantra panjang yang tak pernah selesai.
Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin tampak membosankan. Duduk, memilah, menunduk, mengulang. Tapi bagiku, justru di situlah letak ketenangan yang tak pernah kutemukan sebelumnya. Ada irama di balik keteraturan. Ada kebebasan yang aneh dalam sesuatu yang sama setiap hari. Mungkin karena tak banyak yang harus kupikirkan—aku hanya harus membedakan mana sepatu yang layak dikirim, dan mana yang harus disisihkan sebagai rijek.
Tanganku bergerak otomatis. Mata menilai, hati tenang. Kadang aku merasa seperti sedang menari dalam diam. Di tengah suara-suara mesin, suara-suara tertawa dari rekan kerja, dan suara langkah mandor yang lewat tanpa suara. Semua seperti menjadi bagian dari satu simfoni keseharian yang menenangkan.
Aku tak pernah menyangka akan sampai di titik ini. Aku, lulusan SMEA, pernah berharap jadi pegawai kantoran. Bahkan sempat mencicipi bangku kuliah jurusan komputer. Tapi setelah dua semester, aku menyerah. Jurusan itu terasa begitu kaku, seperti belajar menyusun rumus dari hal-hal yang tak bisa kusentuh. Sementara dunia pabrik, meski kasar dan berdebu, justru terasa lebih nyata. Di sinilah aku merasa hidup. Di sinilah aku bisa tertawa sambil bekerja.
Mungkin karena aku tak lagi sendiri. Dulu, saat masih kuliah, aku tinggal di sebuah kamar kos kecil yang sempit dan sunyi. Dindingnya tipis, tapi tetap saja aku merasa seperti hidup di dalam kepompong yang tak bisa kupecahkan. Sekarang, aku tinggal di rumah kontrakan bersama beberapa teman kerja. Kami berbagi dapur, berbagi beras, berbagi cerita. Pulang kerja, kami duduk di teras sempit sambil menyeruput teh, bercerita tentang cinta yang tak sampai, gaji yang tak cukup, dan mimpi yang masih terlalu jauh untuk digapai.
Kadang kami tertawa terbahak-bahak hanya karena satu sendok sambal jatuh ke lantai. Kadang kami menangis diam-diam saat rindu rumah begitu pekat menghantam dada. Tapi di antara segala keterbatasan, ada sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tak pernah kupelajari di sekolah atau kampus: rasa cukup.
Entah sejak kapan aku mulai mencintai hidup yang seperti ini. Hidup yang sederhana, tapi terasa penuh. Hidup yang mungkin tak punya rencana besar, tapi setiap harinya punya alasan untuk bersyukur.
Di pabrik ini, aku belajar bahwa hidup tak selalu harus mengejar. Kadang, cukup dijalani. Kadang, cukup dihayati.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa... merdeka. Merdeka dari ambisi yang tak kupahami. Merdeka dari tuntutan yang bukan milikku. Merdeka dari suara-suara luar yang dulu selalu memaksaku menjadi sesuatu yang bukan aku.
Mungkin, di sinilah aku mulai mengenal diriku sendiri.








