Untuk hidup kita perlu dua nyawa. Satu dari Tuhan, satu lagi adalah harapan.
Sofyan AT
Keni
macklin celebrini has autism
Show & Tell
will byers stan first human second
Cosmic Funnies

PR's Tumblrdome
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
TVSTRANGERTHINGS

pixel skylines

❣ Chile in a Photography ❣
almost home
Three Goblin Art
we're not kids anymore.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
todays bird
dirt enthusiast
Stranger Things

oozey mess
he wasn't even looking at me and he found me

shark vs the universe
seen from Saudi Arabia

seen from Uzbekistan
seen from Spain

seen from Saudi Arabia
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from Philippines
seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from Australia
seen from India
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh
seen from Germany

seen from South Korea
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from India
seen from India

seen from Germany
@sofyanat-blog
Untuk hidup kita perlu dua nyawa. Satu dari Tuhan, satu lagi adalah harapan.
Sofyan AT
Hamka sebagai Ikhwan TQN Suryalaya
Yang paling mahal dari kebebasan adalah tanggung jawab.
Sofyan AT
Nasihat terbaik adalah keteladanan.
Sofyan AT
Romantisme kerap berada di antara keindahan dan kesedihan.
Sofyan AT
Diam adalah mahaguru semenjak mula zaman.
Sofyan AT
Sebaik-baik kebaikan adalah yang dirahasiakan. Sejelek-jelek keburukan adalah yang dikabarkan. Beruntunglah mereka yang pandai menjaga lisan.
Sofyan AT
Orang lalu lalang, singgah lalu pergi. Sebagian mati adalah rutinitas sehari-hari.
Sofyan AT
Kilas Balik G30S
Saya setuju dengan sejarawan Australia, Robert Cribb, bahwa kita tidak bisa menjamin seandainya komunisme berkuasa mereka tidak akan berbuat brutal, tetapi saya ingin menyatakan bahwa pembantaian terhadap 500.000 manusia pada tahun 1965 adalah tragedi kemanusiaan yang terbesar dalam sejarah Indonesia (Adam, 2010).
Publikasi Jurnal Ilmiah di Indonesia
Google menjelaskan bahwa artikel jurnal ilmiah dan teknis mengacu pada jumlah artikel ilmiah dan teknik yang diterbitkan dalam bidang fisika, biologi, kimia, matematika, kedokteran klinis, penelitian biomedis, teknik dan teknologi, dan ilmu bumi dan ruang angkasa.
Berikut grafik perbandingan tersebut. Kita, Indonesia, kalah jauh dibandingkan Singapura dan Malaysia.[]
IPA atau IPS?
Dari mana IPA dan IPS datang? Kita mengenal Biologi sudah dari SD, tahu Sejarah semenjak bangku SMP. Tapi atas dasar apa kategorisasi itu dilakukan?
Peka Zaman
Jadilah presentasinya seperti berikut, sengaja saya buat pernuh warna tanpa banyak teks.
Dalam pandangan saya, remaja sekarang adalah generasi yang terdigitalisasi dan penuh keterbukaan. Lihat saja, menggengam ponsel pintar bagi siswa SMP atau bagi sebagian siswa SD kini telah menjadi pemandangan yang lumrah. Pertanyaannya, sudahkah ada kontrol yang baik dari orangtua?
Sebagai (calon) orangtua, kita perlu peka zaman dan mengingat pesan Sayyidina Ali KW: didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka adalah anak zaman. []
Keping Sedjarah Soerabaja
"History is the witness of the times, the torch of truth, the life of memory, the teacher of life, the messenger of antiquity", ujar Cicero.
Ucapan Cicero di atas menjadi pembuka buku Surabaya Di Akhir Tahun 1945. Diterbitkan Bina Pustaka Tama, buku tersebut berisi kumpulan karangan ihwal perjuangan bangsa Indonesia di Surabaya pada akhir tahun 45 (hal. iii).
Moestadji menyajikannya secara runtut. Runut. Sebagai kronik sejarah, di sinilah kekuatannya. Pembaca dapat mengetahui rekaman demi rekaman peristiwa penting Kota Pahlawan pasca kemerdekaan. Mulai peralihan kekuasaan dari tangan Jepang, insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (kini hotel Majapahit) sampai perlawanan terhadap tentara Sekutu, Inggris.
Ada tiga fase penting yang dikaji.
Fase pertama dimulai semenjak tersiar kabar Proklamasi, pengibaran bendera merah putih, dan pembentukan alat kekuasaan Republik Indonesia di Surabaya. Dipelopori Moestopo, Soegiri, Doel Arnowo, Soedirman, dan Surjo, fase kedua diawali dengan perlucutan senjata dari militer Jepang. Fase ketiga ditandai dengan perlawanan rakyat Surabaya terhadap militer Sekutu dalam pertempuran tiga hari: 28, 29, dan 30 Oktober 1945. Lalu, disusul pertempuran 10 Nopember (hal. 2-3).
Perjuangan rakyat Surabaya penting untuk digelorakan. Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan, terkandung nilai-nilai patriotisme, persatuan, semangat gotong royong, berjuang tanpa pamrih, rela berkorban, berani membela kebenaran dan kedaulatan bangsa dan negara. Nilai-nilai ini diharapkan terus lestari supaya generasi penerus dapat mengenal, menghayati, dan menerapkannya sesuai kebutuhan zaman (hal. iii).
Tak Cermat
Tipis, bersampul lukisan Bung Tomo berlatar belakang merah darah. Sepintas tak istimewa, seperti umumnya buku ajar. Bahkan, cenderung kehilangan "ruh" buat sebuah buku sejarah. Itu tak lepas dari pemilihan lukisan foto sebagai desain sampul. Agaknya, pribadi Bung Tomo nampak lebih "gagah" dan berwibawa ketika berada dalam potret foto asli.
Saya tak paham, kenapa cukup banyak terjadi kesalahan redaksi. Juga, mengandung inkonsistensi di sana sini. Apakah penggarapan buku tak teliti? Saya enggan berspekulasi.
Pertama, pada daftar isi tertulis "Terbunuhnya Jendral Mally" (hal. vi). Yang benar "Terbunuhnya Jenderal Mallaby", sesuai dengan sub judul pada halaman 38. Bukan "Ratu Belanda Wihelmina" (hal. 8), tapi "Ratu Belanda Wilhelmina".
Kedua, pemakaian huruf kapital. Terkadang, dijumpai "DONALD" dan GORDON SMITH (hal. 26). Tapi, pada kalimat berikutnya berubah jadi "Donald" dan "Gordon Smith" (hal. 26). Bahkan, pada saat tertentu, huruf balok itu masih harus dicetak tebal. Mungkinkah cerminan penegasan? Entah. Namun jika benar begitu, perihal demikian patut dikoreksi.
Ketiga, soal ejaan. Suatu waktu, penulis menggunakan "Soekarno" (hal. 2). Berikut, berubah menjadi "Sukarno" (hal. 58). Ada kala, memakai "Sudirman" (hal. 14), lain kali: "Soedirman" (hal. 14). Sekadar pengumuman kecil, Soedirman disini bukanlah Jenderal Soedirman atau Pak Dirman. Tapi, Soerdirman yang lain, yaitu tokoh pergerakan nasional di bawah pimpinan Soetomo. Satu nama, sosok yang berbeda. Pembaca pemula perlu waspada.
Keempat, terkait foto. Terdapat foto Ruslan Abdulgani (hal. 38). Padahal, halaman terdekat tak pernah sekalipun mengulas sosok Abdulgani. Hal serupa terjadi pada foto Ktut Tantri. Dia seorang Amerika kelahiran Inggris yang ikut mengobarkan perlawanan lewat siaran radio revolusioner (hal. 36). Sebuah gambar, pada akhirnya, tak lagi ilustratif.
Di sisi lain, sungguh etis jika penulis mempublikasikan sumber dokumentasi sejarah yang dipakai. Selain itu penulis tak menerangkan secara konsisten sumber karangan. Misalnya, pada bab Babak Kedua. Diceritakan tentang rapat-rapat raksasa mendukung Proklamasi, kronologi perobekan bendera Belanda, hingga perlucutan senjata militer Jepang (hal. 12). Tak ada informasi rujukan. Sedang di halaman lain, bisa ditemui penjelasan bahan kepustakaan yang digunakan: Documenta Historica karya Osman Saliby (hal. 57).
Menyoal validitas data, lebih bijak jika pembaca coba menelusuri tiap sumber referensi. Saya sendiri, dengan agak susah payah berusaha mencari. Tapi sampai resensi ini ditulis tak ada hasil. Nihil. Meski demikian, tercatat ada beberapa hal yang patut dilengkapi, bahkan jika perlu diuji lagi kebenarannya.
Kesatu. Digambarkan, setelah terjadi "insiden bendera", ada rencana untuk menyerbu dan mengambilalih senjata dari tangan Jepang (hal. 19). Berikut kutipannya:
Maka, direncanakan perebutan kekuasaan dari tangan Balatentara Dai Nippon oleh penguasa Republik di Surabaya. Pertama, tangsi Don Bosco diserbu dan penyerahan dilakukan. Kemudian, diselesaikan pengoperan kekuasaan serta pengoperan alat-alat dari Pusat Organisasi Bermotor Balatentara Dai Nippon di Jawa Timur. Radio Surabaya, Rumah Sakit Angkatan Perang di Karang Menjangan dan lain-lain diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hanya Kenpetai yang masih merasa punya kekuasaan. Mereka tak mau menyerah. Mereka dihantui oleh kekejaman-kekejaman yang pernah mereka lakukan terhadap rakyat Indonesia (hal. 19).
Semua kesatuan tentara Jepang menyerah. Semua senjata diserahkan termasuk kapal-kapal Jepang yang ada di pelabuhan Tanjung Perak (hal. 22).
Affair Huyer tak disinggung, yaitu penyerahan senjata Jepang secara besar-besaran di Surabaya akibat kekeliruan Kapitein-ter-zee Belanda Huyer. Pemimpin militer Sekutu di Jawa, Christison, Panglima Sekutu di Asia Tenggara, Mounbatten, menyalahkan Huyer sebagai orang yang bertanggung jawab. Markas besar Tentara ke-16 pun mengamini. Waktu itu, Huyer dalam sebuah upacara di Surabaya menerima kapitulasi komandan angkatan laut, Yaichiro Shibata, dan komandan angkatan darat, Iwabe. Huyer, dengan demikian, mengoper tanggung jawab keamanan dan ketertiban di Jawa Timur. Padahal, Huyer tak punya pasukan. Pada penyerahan resmi itu pula, berlaku penyerahan senjata. Dititipkan pada KNI (Komite Nasional Indonesia) –selanjutnya, KNI meneruskan senjata itu kepada para pemuda.
Sedang menurut Huyer, penyerahan senjata itu akibat perubahan sikap Iwabe. Iwabe melakukannya atas perintah telepon dari markas Jepang di Jakarta. Perintah itu berkaitan dengan pernyataan Christison: menyerahkan tanggung jawab keamanan dan ketertiban di daerah yang dikuasai Republik Indonesia kepada Pemerintah RI.
Versi lain menyebut kalau Huyer hanya dijadikan kambing hitam oleh Inggris. Tak lain untuk menutupi kegagalan akibat pernyataan Christison di Singapura yang mengakui kemerdekaan Indonesia de facto.
Kedua. Disebutkan pengambilalihan senjata Jepang diikuti oleh rakyat Jawa Timur (hal. 22). Ini cuplikannya:
Keadaan Surabaya untuk sementara menjadi aman. Tindakan arek-arek Surabaya ini diikuti oleh saudara-saudara di seluruh pelosok Jawa Timur (hal. 22).
Menurut Dr. J.J.P. de Jong dalam bukunya Diplomatic of strijd-Het Nederlands beleid tegenover de Indonesiche revoutie 1945-1947, fakta tak berkata begitu. Misalnya, di Madiun, Jepang menimbulkan kesan terpaksa untuk menyerahkan senjata. Di bawah tekanan rakyat Indonesia. Terjadi serangan pura-pura. Sandiwara semata.
Ketiga. 16 September 1945, Patterson yang merupakan wakil South-East Asia Command (SEAC) di Singapura, mendarat di Tanjung Priok menggunakan kapal Chamberland (hal. 23). Informasi ini tak lengkap. Sebab, masih ada satu kapal lain, yaitu kapal Tromp.
Sejarah Tak Hidup di Dunia Sinetron
Sebagai penyampai pesan, Surabaya Di Akhir Tahun 1945 agak provokatif. Sebagai contoh, penggunaan diksi tertentu; berkeliaran, galak, untuk menggambarkan karakter tentara Jepang (hal. 4). Atau, ambil saja ini:
Residen Sudirman langsung masuk ke ruang resepsionis. Orang-orang Belanda menyambut Residen Soedirman dengan sikap sombong. Mereka tidak menghargai Residen Soedirman sebagai seorang pembesar Republik Indonesia di Surabaya (hal. 14).
Pada halaman lain diceritakan:
Mereka yang berkekuatan 6000 tentara hampir-hampir saja musnah seandainya mereka tidak minta bantuan Bung Karno dan Hatta di Jakarta. Untuk minta bantuan pada para pemimpin di Surabaya sudah sulit dipercaya, akibat perbuatan licik mereka melanggar perjanjian yang mereka setujui. Mereka betul-betul dilanda kebingungan untuk mengendalikan kemarahan banteng ketaton di Surabaya (hal. 33).
Saya kira, sejarah tak hidup di dunia sinetron. Dimana tokoh protagonis adalah lakon malaikat; serba baik dan benar, tampan, cantik, sopan, kaya, sempurna! Sebaliknya, tokoh antagonis berbeda 180 derajat; kejam, buruk, ambisius, dan setumpuk kepribadian jelek lain.
Sederhana. Teks sejarah semestinya mengungkapkan fakta tanpa bumbu-bumbu yang (bisa jadi) kontraproduktif dengan nilai patriotisme –menjadi chauvinisme buta. Tentu saja ini tak mendewasakan. Apalagi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan wilayah Jawa Timur merekomendasikan buku ini sebagai bahan ajar tingkat SMP dan SMA.
Baiklah, mari kita beranjak ke perkara lain.
Moestadji melengkapi karyanya dengan foto-foto monumen sejarah di kota Surabaya. Ambil contoh Tugu Pahlawan, Monumen Bambu Runcing, Monumen Wira Surya, Monumen Pahlawan Mayangkara, dll. Tak ketinggalan, penjelasan yang berorientasi kekinian menjadi nilai tersendiri. Misalnya, terkait Monumen Bambu Runcing, penulis menjelaskan:
Di jalan Panglima Soedirman, kita jumpai Monumen Bambu Runcing. Suatu perlambang bahwa bambu runcing merupakan senjata mayoritas para pejuang kita di tahun 45 (hal. 97).
Lepas dari kekurangan, buku terbitan 1994 ini bisa menjadi panduan praktis, terutama untuk anak didik ditingkat sekolah menengah. Pembaca dapat menjadikannya sebagai koleksi pustaka sejarah.
Demikian. Sejarah "dicipta" dari goresan pena. Dan Moestadji menjadi salah satu pelakunya. Merdeka! []
_____
Informasi perihal buku ini dapat ditelusuri lewat Google Books.
Perjudian
- tentang kemungkinan di ujung jalan
Menyusuri Jejak-Jejak Pemikiran
Takhayul membakar dunia, filsafat memadamkannya (Voltaire)
Bulan
langit-langit malam
yang lengang
tak bosan dihinggapi hiasan
bulan yang riang kini tak lagi cemerlang: suram
berlindungkan awan
malu memandang wajah sunyiku
yang senantiasa
menunggu
bulan,
maukah kau datang?
_____
Puisi ini telah dimuat di majalah sastra Horison, Maret 2007.
Mengembalikan Peran Esensial Pustakawan yang Hilang
Ya, barangkali ilustrasi diatas tak ada yang aneh atau janggal. Semua berjalan dengan baik. Tidak ada yang salah memang, baik mahasiswa -yang bertanya dengan sopan- maupun pustakawan atau petugas perpustakaan -yang setia melayani dan menjawab pertanyaan mahasiswa dengan hati terbuka-. Namun, jika dicermati lebih dalam, akan tampak bahwa ada hal esensial yang hilang. Apa itu? Hal esensial itu adalah peran pustakawan yang bergeser dan direduksi (hanya) menjadi seorang petugas penjaga ruangan dan administrasi perbukuan. Padahal, peran dan fungsi seorang pustakawan tidak sesederhana itu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Edisi III, 2001), pustakawan adalah orang yang bergerak dalam bidang perpustakaan. Bisa juga diartikan sebagai ahli perpustakaan. Jika merujuk pada definisi kedua, maka seorang pustakawan haruslah seorang yang benar-benar paham seluk-beluk dan isi sebuah perpustakaan. Lebih dari itu, seorang pustakawan adalah ujung tombak perpustakaan karena dari pustakawan-pustakawan inilah sumber pengetahuan berupa buku, majalah, jurnal, dan bahan kepustakaan lain dikumpulkan, dikategorisasi, diadministrasi, dan dijaga untuk kemudian disebarluaskan kepada pengunjung perpustakaan.
Dengan fakta bahwa job desc pustakawan sangat terkait erat dengan perbukuan, maka penguasaan terhadap materi dan isi koleksi bahan kepustakaan menjadi keniscayaan. Pada tataran praktis, pustakawan pada Psycho Corner misalnya, seyogyanya paham dan menguasai materi dan isi koleksi buku dan bahan kepustakaan tentang disiplin ilmu psikologi. Begitu juga pustakawan pada ruang Koleksi Khusus, seyogyanya paham dan menguasai materi dan isi bahan kepustakaan pada daerah kerjanya.
Dengan demikian, jika pada praktiknya buku yang dicari pengunjung tidak tersedia, maka pustakawan dapat mengarahkan pada “buku lain yang tepat” yang dapat dijadikan alternatif sumber referensi (hal yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi atau software manapun karena cara kerja software yang hanya mengandalkan algoritma pemrograman). Mungkin, peribahasa tidak ada rotan, akarpun jadi dapat menggambarkan deskripsi diatas. Jika hal demikian dapat diwujudkan, seorang pustakawan pada akhirnya memegang peranan kunci dalam pemanfaatan dan pemberdayaan semua koleksi bahan kepustakaan (termasuk buku-buku lama yang selama ini jarang tersentuh) karena dari sinilah pengunjung mendapatkan “akar” sebagai pengganti “rotan” yang tidak didapatkannya di perpustakaan.
Akhirnya, ilustrasi yang mengawali tulisan inipun dapat dihindari.
Jangan Terjebak pada Teknologi
Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Tanpa ada kesadaran bahwa teknologi adalah alat (tools), teknologi bisa jadi akan memperbudak manusia itu sendiri.
Perpustakaan Universitas Airlangga (penulis menggunakan Perpustakaan Unair Kampus B sebagai acuan) dari tahun ke tahun terus meningkatkan pelayanan dan fasilitasnya untuk “memanjakan” pengunjung. Mulai dari penambahan koleksi buku, pemutaran film (Cinemax), komputer gratis untuk pengetikan, akses internet gratis (Wifi Zone) yang buka hingga pukul 03.00 dini hari, renovasi ruangan, tanda cinta, dan pemanfaatan katalog online untuk mengecek ketersediaan bahan kepustakaan.
Sebuah usaha sekaligus pencapaian yang patut diapresiasi ditengah realitas rendahnya budaya baca, bahan kepustakaan yang terbatas, dan akses pada sumber informasi akademis yang tidak mudah, semisal akses jurnal ilmiah luar negeri.
Tanpa bermaksud mengecilkan usaha yang telah dilakukan, kiranya berpikir kritis tetap diperlukan untuk menjaga agar segala penyediaan fasilitas tersebut tidak menjadi sia-sia dan (justru) menggeser peran pustakawan dan perpustakaan dari peran dan fungsi dasarnya.
Sederhananya, teknologi semestinya ditempatkan sebagai pembantu tugas-tugas manusia (baca: pustakawan). Seorang pustakawan harus tetap menguasai materi dan isi bahan kepustakaan pada daerah kerjanya.
Solusi Jangka Pendek: Melibatkan Mahasiswa
Tidak mudah memang mendapatkan kondisi ideal perpustakaan seperti yang dideskripsikan sebelumnya -dengan pustakawan yang paham dan menguasai bahan kepustakaan- meskipun usaha menuju kesana tetap harus dilakukan jika sebuah perpustakaan ingin benar-benar menjadi pusat peradaban yang tangguh. Hemat penulis, hal demikian dapat dimasukkan dalam pembangunan jangka panjang perpustakaan karena penulis menyadari kondisi ideal tersebut diatas memerlukan waktu yang tidak singkat untuk diwujudkan.
Maka, penulis mencoba memberikan alternatif solusi jangka pendek -walapun harus dimengerti bahwa solusi ini memerlukan beberapa penyesuaian pada praktiknya kelak-, yaitu melibatkan mahasiswa untuk magang menjadi pustakawan.
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa rendahnya budaya baca bangsa ini tidak berarti tidak ada lagi yang peduli atau memiliki minat baca yang tinggi. Tetap ada putra-putri ibu pertiwi yang dengan setia dan tekun menjadikan buku sebagai “teman hidup” mereka. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk meneguk tetesan pengetahuan dari buku yang mereka baca.
Lalu, mengapa manajemen perpustakaan Universitas Airlangga tidak memanfaatkan “generasi buku” (penulis menyebutnya demikian) ini? Hemat penulis, generasi buku ini relatif tidak kalah dengan pustakawan yang ada sekarang dalam hal penguasaan bahan kepustakaan meskipun dalam hal kemampuan pelayanan dan administrasi perbukuan masih perlu upgrading.
Dengan bekal yang mereka miliki sebelumnya -yaitu khazanah kepustakaan yang mereka dapatkan dari hobi membaca buku ditambah dengan usia mereka yang relatif muda sehingga masih menggeloranya “darah muda” dan semangat untuk belajar-, insentif yang cukup (tidak harus berupa uang), dan kewajiban menyediakan waktu sekian jam tiap harinya (terkait jam kerja ini, bisa disesuaikan dengan alur kerja perpustakaan sebelumnya) penulis optimis, solusi ini mampu memecah kebuntuan dalam peningkatan kualitas pustakawan selama ini.
Keuntungan lainnya jika memanfaatkan generasi buku untuk magang menjadi pustakawan adalah komunikasi yang lebih mudah dan mengalir dengan pengunjung karena usia mereka yang tak jauh berbeda. Bahkan, dimungkinkan pengunjung perpustakaan dapat menemukan sahabat berdiskusi yang baik dari mereka yang diberi kesempatan untuk magang.
Manajemen Perpustakaan Airlangga hanya perlu menemukan “generasi buku yang tepat” dan luwes karena pada praktiknya nanti mereka juga harus siap melayani pengunjung dengan tangan terbuka. Dan mencari mereka, bukan sesuatu yang sulit.
Semoga motto perpustakaan Universitas Airlangga, yaitu senyum, sapa, bantu tetap menjadi ruh dalam setiap aktivitas pelayanannya. Lebih dari itu, penulis berharap perpustakaan Unair dapat tetap menjaga peran dan fungsi dasarnya sebagai sumber pengetahuan. []
_____
Esai ini meraih peringkat kedua dalam lomba Ide Pengembangan Perpustakaan Universitas Airlangga, 2010. Beberapa hal memang hanya relevan untuk lingkungan perpustakaan Unair, namun secara umum masih dapat dijadikan pijakan untuk pengembangan perpustakaan lain.